Kedai Kopi, Galeri Lukisan, dan Penginapan Bersatu di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga - Nasirullah Sitam

Kedai Kopi, Galeri Lukisan, dan Penginapan Bersatu di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga

Share This
Minuman di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga
Satu minggu sebelum mengunjungi Salatiga, aku sudah mencari-cari informasi terkait kedai kopi yang dekat dengan Hotel Grand Wahid. Informasi yang kudapatkan rata-rata kedai kopi berada di sekitar Kampus Universitas Kristen Satya Wacana

Aku masih mengecek satu persatu kedai kopi di ulasan Local Guide. Sampai akhirnya memutuskan untuk mendata beberapa kedai kopi, salah satunya malah berada di seberang hotel. Lokasi yang berbeda dengan di sekitaran kampus. 

1915 Arts-Koffie-Huis namanya. Kedai kopi yang kubaca dari ulasan dan melihat gambar-gambar tersebar berlokasi pada bangunan tua dan tempatnya teduh. Aku langsung tertarik mengunjungi dan menjadikan kedai kopi ini sebagai tujuan utama saat di Salatiga. 

Selepas magrib, aku langsung memesan transportasi daring menuju 1915 Koffie. Ditilik dari peta, lokasinya cukup dekat dari hotel. Tidak lebih dari lima menit, kami sudah sampai di kedai kopi. Nyatanya memang dekat. Jadi terpikirkan pulang nanti jalan kaki. 

Bahkan bapak ojek yang mengantarkanku ke sini sedikit tertawa. Beliau berujar jika ini salah satu pengguna aplikasi yang paling dekat tempat penjemputan dan mengantarkan. Obrolan kami tentang kuliner di Salatiga pun belum tuntas terselesaikan. 

Bangunan tua di depanku seperti peninggalan Belanda. Rerimbunan pohon membuat lokasinya dari luar sepertinya teduh. Tulisan 1915 memancar dari lampu yang tersemat di antara rimbunnya tanaman rambat. 
Kedai 1915 Arts-Koffie-Huis memanfaatkan bangunan tua
Kedai 1915 Arts-Koffie-Huis memanfaatkan bangunan tua
Anak tangga mengantarkanku sampai di depan teras rumah. Tempat ini memang rumah peninggalan Belanda dan bagian teras dijadikan untuk kedai kopi. Beberapa barista sudah berkumpul, pun dengan seorang perempuan yang menikmati santap di meja barista. 

Lelaki berambut agak gondrong menyapaku. Aku mencoba untuk melihat biji kopi yang disediakan. Awalnya kukira lelaki ini adalah salah satu baristanya. Setelah kami berbincang, ternyata beliau adalah Om Tito. Pemilik kedai yang pada malam ini sedang turut melayani pengunjung. 

Seperti di kedai kopi biasanya. Sesaat emlihat biji kopi yang tersedia, setelah itu mencari daftar menu yang ditawarkan. Papan tulisan terpajang di tembok tertera berbagai harga menu dari minuman dan makanan yang disediakan. 

Pilihanku jatuh pada biji kopi Sindang. Menurut Om Tito, biji kopi ini lebih direkomendasikan menggunakan metode Aeropress. Sebelumnya, beliau juga menawarkan untuk menyeduh kopi Java Wine. 

“Kalau yang Java Wine saya rekomendasikan menggunakan Syphon,” Ujar Om Tito. 
Daftar menu dan harga di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga
Daftar menu dan harga di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga
Sembari menunggu racikan kopi, aku lebih sering berbincang santai. Entahlah, menurutku tempat ini kombinasi yang unik. Bangunan tua, banyak lukisan, dan tempatnya cukup rimbun dan teduh. Area luar diberdayakan untuk duduk sambil mengopi. 

Malam ini 1915 Arts-Koffie-Huis dijaga tiga barista. Keseluruhan barista ini adalah perempuan. Kedai kopi 1915 Arts-Koffie-Huis sendiri sudah ada sejak tiga tahun yang lalu. Om Tito sengaja membuat kedai kopi karena beliau paham tentang kopi. 

Sempat kutanya terkait penamaan 1915 Arts-Koffie-Huis. Beliau berujar jika bangunan ini adalah peninggalan eyangnya. Setelah dari Belanda, beliau ingin mencari kesibukan dengan meramaikan tempatnya. Dibuatlah kedai kopi yang sekarang ini aku kunjungi. 

“Tempat ini bukan hanya kedai kopi. Ada galeri di atas,” Ujar beliau sambil tertawa. 

Menariknya, Om Tito membebaskanku untuk menjelajah tiap sudut bangunan ini. Bahkan menganjurkan untuk keliling galerinya di lantai dua ditemani salah satu baristanya. Aku lupa nama barista tersebut. Pokoknya yang kaus merah, barista yang sudah punya sertifikat terkait dunia kopi. 
Barista sekaligus owner di 1915 Koffie
Barista sekaligus owner di 1915 Koffie
Kota Salatiga memang tidak terlalu riuh, suasananya menyenangkan. Meski begitu, geliat pertumbuhan kedai kopi di kota ini sangat pesat. Ada banyak kedai kopi di sini. Terlebih di sekitaran kampus. Konsepnya pun berbeda-beda. 

Aku mengelilingi 1915 Koffie, tanaman rambat menjadikan tempat ini layaknya taman. Di halaman sudah tertata meja dan kursi yang dapat kita tempati saat cuaca cerah. Kedai kopi ini mulai terlihat ramai menjelang pukul 20.00 WIB. 

Menariknya, kedai kopi 1915 Koffie ini tidak buka sejak pagi ataupun siang. Jam bekerjanya mulai sore, tepatnya pukul 16.00 WIB. Berbagai aktivitas biasanya tersaji di tempat ini. mulai dari diskusi hingga performa musik yang memanfaatkan bagian depan rumah. 

Beranjak masuk, ruangan demi ruangan tersaji. Tiap ruangan menjulang tinggi khas bangunan Belanda. Tidak perlu pendingin ruangan, tempat ini sudah sejuk. Tertera keterangan larangan merokok di ruangan terbuka. 

Tiap dinding penuh lukisan berbagai ukiran. Secara tersirat mengirimkan pesan jika pemiliknya adalah seniman. Aku terus menjelajah tiap sudut di lantai satu. Nyaris ruangannya sama luasnya. Hanya di bagian belakang yang ada anak tangga naik berbeda. 

Konsep ruangan di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga terbuka
Konsep ruangan di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga terbuka
Nuansa klasik ditonjolkan, tampak keserasian dari lantai yang bermotif bunga berkombinasi dengan kursi dan meja kayu berwarna gelap dan tersemat anyaman bambu pada sandarannya. Tidak ketinggalan taplak meja putih yang berenda. 

Kusesap minuman di salah satu ruangan. Aku terdiam mendengarkan suara musik dari pelantang. Sesekali memperhatikan salah satu dosen UKSW yang sedikit sibuk di depan laptop. Kami juga sempat berbincang, dan beliau adalah pelanggan setia di sini. 

Melihat Berbagai Lukisan di Lantai Dua 

Aku tertarik dengan tawaran Om Tito yang memperbolehkanku menjelajah lantai dua. Konon di sana ada banyak lukisan. Salah satu koleksi yang terpajang adalah karya Affandi. Aku diantar masuk, lantas menaiki anak tangga yang sedikit memutar. 

Dari anak tangga, terlihat semacam ruangan kerja. Ada beberapa unit computer, pun dengan lukisan serta tumpukan berkas. Aku meniti anak tangga ditemani satu barista perempuan. Kami berbincang tentang dunia kopi sepanjang anak tangga. 

Di lantai dua terbagi menjadi beberapa ruangan. Barista yang menemaniku menghidupkan lampu di lantai dua. Aku melihat berbagai lukisan terpajang di tiap dinding. Tempat ini benar-benar menggambarkan galeri lukisan. 
Tak hanya kedai, di atas 1915 Arts-Koffie-Huis ada galeri lukisan
Tak hanya kedai, di atas 1915 Arts-Koffie-Huis ada galeri lukisan
Lukisan berbagai ukuran tersaji di depanku. Ada yang tersemat pada dinding yang berlabur cat kombinasi antara putih dan coklat. Ada juga yang terpajang pada penyanggah saat masih dalam proses melukis. 

Aku mengitari satu ruangan dan melihat berbagai lukisan yang terpajang. Hasil karya lukisan di sini tidak satu tema. Ada semacam abstrak, tapi lebih dominan melukis aktivitas masyarakat atau tokoh dalam satu bingkai. 

Sekilas, tema yang dilukis mengingatkanku pada lukisan yang ada di Museum Affandi. Aku bukan orang yang paham tentang seni lukis ataupun segala jenis yang ada di dunia lukisan. Hanya saja, sekilas memang mengingatkanku dengan beberapa lukisan milik Affandi. 

“Itu musola?” Tanyaku sambil menunjuk satu tempat yang menghadap jendela di dekat ruang lukisan. Di sana terdapat sajadah yang tergelar. 

Barista ini menggeleng, dia mengatakan jika tempat tersebut adalah ruangannya Om Tito. Bisa jadi beliau menghabiskan waktu di sini untuk menepi sambil menggali ide dalam membuat lukisan. Tempat yang menarik untuk mencari ide. 
Aku melihat lukisan-lukisan yang terpajang
Aku melihat lukisan-lukisan yang terpajang
Tuntas sudah satu ruangan ini aku jelajahi. Di sini, peran barista tidak hanya sebagai orang yang menemani. Dia juga cakap dalam mencari waktu untuk mengabadikanku di tengah-tengah ruangan. Siapa tahu ke depannya ada semacam tour berkaitan dengan lukisan dengan pemandu yang paham terkait karya-karya yang terpasang. 

Pesan Kamar Menginap di 1915 Koffie Melalui Airbnb 

Di pikiranku setelah melihat isi lantai dua adalah tepat ini fokus untuk rumah, galeri, dan kedai kopi. Sesuai dengan namanya jika kita terjemahkan secara umum. Aku iseng mencari terjemahan kata Huis, hingga aplikasi merujuk kata tersebut adalah Bahasa Belanda yang berarti rumah. 

Sesuai dengan informasi awal yang diberikan Om Tito, jika tempat ini sekaligus rumah tingga beliau. Hingga pikiranku berubah drastis kala satu ruangan lagi dibuka, dan barista ini menghidupkan lampu. 

Dua tempat tidur dengan bentuk yang futuristik menurutku. Di bagian belakangnya terdapat jendela lebar dan empat kain gorden yang terikat dengan motif bunga. Bentuk rak buku yang seperti piramida mengerucut menambah unik. 

“Ini kamar beliau (Om Tito) juga?” Tanyaku penasaran. 

“Bukan mas. Ini untuk orang yang menginap, bisa memesan di Airbnb.” 

Om Tito memanfaatkan beberapa kamar untuk penginapan melalui aplikasi Airbnb. Selain kamar di atas, ada juga kamar yang lokasinya di lantai satu. Jika tidak salah, namanya adalah Arundaya Room. Bisa kalian akses di Aplikasi Airbnb. 
Kamar instagramable di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga
Kamar instagramable di 1915 Arts-Koffie-Huis Salatiga
Seperti konsep yang sebagian besar di Airbnb, pelayanannya tidak seperti hotel yang siap dalam 24 jam. Di sini terdapat beberapa fasilitas yang bisa dibaca melalui aplikasinya. Sehingga tiap tamu yang datang paham dengan fasilitas yang disediakan. 

Sayangnya kunjungan ke Salatiga sudah menginap di Hotel Grand Wahid, jika belum ada tempat menginap bisa menepi di sini. Aku bersantai di ruangan tersebut, mengabadikan diri di kamar tersebut. 

Mirip dengan ruangan sebelumnya yang penuh lukisan. Di kamar ini juga terpasang lukisan-lukisan pada dinding. Menurut informasi Om Tito, sebagian besar pengunjung yang menginap di sini adalah bule. 

***** 

Keliling lantai dua 1915 Arts-Koffie-Huis selesai. Kami kembali ke meja bar, menyeduh kopi yang sudah mulai dingin. Di waktu yang hampir bersamaan, Om Tito menyuguhkan kembali secangkir Java Wine yang beliau rekomendasikan. 

Tidak lebih dari tiga jam, dua cangkir kopi ini sudah aku libas hingga tandas. Kalian aku rekomendasikan Java Wine jika memang suka kopi. Rasanya menurutku agak unik. Lebih asyik dari kopi yang kupesan sebelumnya. 

1915 Arts-Koffie-Huis bukan sekadar kedai kopi, galeri, hingga penginapan. Kulihat dari akun instagramnya, tempat ini juga sering digunakan untuk berdiskusi ataupun kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan literasi ataupun budaya. 
Menikmati dua kopi seduh manual dan membawa pulang clodbrew
Menikmati dua kopi seduh manual dan membawa pulang clodbrew
Jika kalian berkunjung ke Salatiga dan butuh tempat untuk mengopi santai tanpa terlalu riuh. Aku rekomendasikan untuk mengunjungi 1915 Arts-Koffie-Huis. Percayalah, kedai kopi itu bukan hanya tentang racikan kopi saja, tapi interaksi dengan barista juga harus ditonjolkan. 

Tidak terasa, waktu sudah mendekati tengah malam. Aku meminta izin untuk pulang, badan sudah memperlihatkan tanda-tanda minta istirahat. Usai pamit, aku berjalan kaki menuju hotel. tidak lupa berhenti di salah satu warung kelontong untuk membeli camilan. *Salatiga; 23 November 2019.

14 komentar:

  1. Sangat unik dan menarik.
    Ada kedai kopi, galeri hingga penginapan dalam satu tempat yang sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bang. Di Jogja sendiri jarang kutemukan konsepnya seperti ini. Di sini sering ada acara mahasiswa UKSW

      Hapus
  2. wuih keren ya
    satu paket, cafe, galeri dan tempat menginap. tapi yang beginian memang konsumsi bule, orang lokal masih jarang yang tertarik hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas ke sini aku kaget, ternyata konsepnya asyik banget. Dan memang, yang menginap rata-rata bule

      Hapus
  3. Waw keren melek air bnb. Asli itu aplikasi helpful banget !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aplikasi yang paling digandrungi bule saat dolan ke Indonesia

      Hapus
  4. sama, aku kalau mau kunjungi tempat makan/kedai kopi di kota lain, aku pasti liat liat dulu review local guide di google maps.

    btw serem juga kalau malam malam keliling galery sendirian, heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rata-rata memang gitu mas. Jadi tahu apa yang nanti kita inginkan pas di sana

      Hapus
  5. Baru kali ini ada kedai kopi ada galeri lukisannya plus menginap juga. Lumayan buat yang lagi main ke Salatiga.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konsepnya menarik, ini mungkin bisa ditiru jika punya hobi yang sama.

      Hapus
  6. Noted nih kl ke salatiga.. Lukisan2nya keren bgt ya ampun.. Pengin nginep dstu juga. Wkwkwj

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ndang dolan ke Salatiga, biar nggak cuma pengen

      Hapus
  7. kedai kopinya unik ... bisa ngopi ... lihat2 lukisan ... bahkan nginap pula ... kerennn
    bisa jadi pertimbangan kalau jalan2 ke salatiga nginap disini :)

    BalasHapus

Pages