Sala Lauak, Masjid Raya Sumatera Barat, dan Rumah Makan Lamun Ombak - Nasirullah Sitam

Sala Lauak, Masjid Raya Sumatera Barat, dan Rumah Makan Lamun Ombak

Share This
Sala Lauak di depan Masjid Raya Sumatera Barat
Informasi dari bapak-bapak yang sedang jogging tentang tempat membeli Sala Lauak di dekat Pantai Padang menarik perhatianku. Mobil transportasi daring datang menjemput, kami lantas meminta izin berhenti sejenak di warung. 

Di warung, sudah banyak orang yang berniat sarapan. Pada gerobak tertera tulisan “Katupek Gulai” pun lengkap dengan menu-menu yang disediakan. Seorang perempuan berjilbab menyapa kami saat sampai di warung. 

Begitu tahu kami ingin membeli Sala Lauak, beliau langsung memberikan plastik kecil yang transparan sebagai wadah. Bang Edwin mengambil Sala Lauak dari atas meja. Bentuknya bulat seperti onde-onde yang ukurannya lebih kecil. 
Warung penjual Sala Lauak di area Pantai Padang
Warung penjual Sala Lauak di area Pantai Padang
“Berapa harganya, bu?” Tanyaku pada penjualnya. 

“Gopek,” Jawab beliau. 

Aku mangut-mangut, sebenarnya sedikit kaget juga waktu beliau mengatakan “Gopek” dibanding bilang “lima ratus”. Jangan-jangan beliau mengira saya wisatawan dari Ibu Kota. Sembari terus melayani pengunjung, ibu ini cukup ramah menjawab pertanyaanku. 

Di Sumatera Barat, gorengan Sala Lauak merupakan kuliner yang bisa kita nikmati. Terlebih bagi kita yang suka makan gorengan. Aku membeli beberapa jenis gorengan. Namun, dominan Sala Lauak. Nantinya ingin kami nikmati di area Masjid Raya Sumatera Barat. 

Sala Lauak ini berbentuk bulat, bahan yang digunakan tepung beras, ikan, serta bumbu seperti bawang merah, bawang putih, garam, serta ada semacam aroma kunyit pas aku nikmati. Awalnya aku mengira seperti perkedel, tapi ini beda. Lebih gurih dan campuran ikannya lebih dominan. 

Warna kuliner yang sebenarnya khas dari Pariaman ini kekuningan. Rata-rata pengunjung menjadikan kuliner ini sebagai camilan saat sedang makan. Aku kembali mengambil satu dan menikmatinya di selama perjalanan menuju Masjid Raya. 
Sala Lauak, kuliner khas Pariaman
Sala Lauak, kuliner khas Pariaman
“Ada aroma terasi dan kunyitnya,” Ujarku sambil berusaha mengidentifikasi rasa kuliner tersebut. 

Kuhabiskan satu potong kuliner khas Pariaman ini sepanjang perjalanan. Sesekali mengambil beberapa cabai biar lengkap berbaur menjadi satu rasanya. Gurih dan pedas. Kombinasi yang tepat bagi pecinta gorengan. 

***** 

Salat Duhur di Masjid Raya Sumatera Barat 

Perjalanan cukup singkat, kami sudah berada di perempatan dekat area Masjid Raya Sumatera Barat. Mobil berhenti sesuai permintaanku. Kami menyeberang jalan, melangkahkan kaki tepat pada spot tulisan Masjid Raya Sumatera Barat. 

Sebenarnya masjid ini menjadi rencanaku semalam untuk salat subuh. Sayangnya, aku sendiri bangun agak kesiangan. Sehingga belum sempat salat di sini. Sembari bersantai, aku sudah merencanakan untuk salat duhur di tempat ini sebelum melanjutkan perjalanan. 

Tulisan ini berada di area Masjid Raya Sumatera Barat, tepatnya di tepian perempatan. Genangan air tersisa. Tengah malam tadi memang hujan deras. Sebelum mendekat di masjid raya, aku menyempatkan diri memotret. 
Tulisan Masjid Raya Sumatera Barat
Tulisan Masjid Raya Sumatera Barat
Lahan luas Masjid Raya Sumatera Barat ini nyaman untuk bersantai. Tidak sedikit orang yang berlalu-lalang sekadar mengabadikan diri ataupun duduk santai. Aku sudah memutuskan pagi ini tidak masuk masjid, tidak elok rasanya datang hanya untuk berfoto. 

Di halaman masjid, tepat di tepi jalan terdapat tempat duduk. Aku mengemil Sala Lauak sembari melihat pagi yang cukup lengang. Sepertinya belum banyak aktivitas masyarakat. Hanya sesekali kendaraan orangtua yang mengantarkan anaknya sekolah. 

Aku mengitari sedikit sudut dari luar masjid. Area parkir kala pagi masih sepi. Dari sini pula aku mengambil foto. Kaligrafi tiap sudut masjid ini indah. Aku cukup lama terdiam di depan sambil melongok ke arah atas. 

Dari kejauhan, kelihatan warna kombinasi kuning emas dan coklat tua ini seperti sebuah motif. Namun, tatkala terlihat dari dekat, sangat jelas kalau itu adalah kaligrafi. Hampir seluruh tempat melekat kaligrafi yang indah. 
Mengabadikan diri di sekitaran Masjid Raya Sumatera Barat
Mengabadikan diri di sekitaran Masjid Raya Sumatera Barat
Mengabadikan diri di sekitaran Masjid Raya Sumatera Barat
Menarik memang menelisik sejarah masjid ini hingga sekarang. Konon pembangunan belum selesai hingga aku menjejakkan kaki di tempat ini. Sebenarnya lantai dua yang nantinya digunakan untuk salat, sementara masih tertutup. 

Seperti janjiku untuk menunaikan salat duhur di Masjid Raya Sumatera Barat, tepat saat waktu duhur tiba, aku sudah berada di masjid ini. Dua orang satpam berjaga, aku hanya menyapa dengan senyuman seraya terus berjalan. 

Tempat wudu di lantai satu lumayan ramai. Laci-laci tempat menaruh barang sudah tertata rapi, hanya saja belum sepenuhnya digunakan para pengunjung. Untuk sejenak aku berada di tempat wudu. Menyempatkan berganti pakaian dan lanjut mengambil wudu. 

Layaknya bangunan yang masih dalam proses pengerjaan, tentu aku tidak bisa melihat bagaimana megahnya masjid ini. Di lantai satu, hamparan sajadah panjang berwarna merah membentang. Aku mencari tempat untuk salat duhur. 
Orang-orang yang salat di Masjid Raya Sumatera Barat
Orang-orang yang salat di Masjid Raya Sumatera Barat
Ruangan di lantai satu cukup luas. Para rombongan tersebar. Ada yang sedang menunaikan salat, tidak sedikit pula yang melepas lelah sekadar berkumpul atau malah berbaring. Mereka mencari tempat yang sekiranya tidak mengganggu pengunjung lain yang ingin salat. 

Menurut berbagai informasi yang beredar. Sejak awal tahun 2019 pembangunan masjid ini sudah rampung. Tempat salat yang biasanya di lantai dasar sudah pindah ke lantai atas. Proses dipindahnya tempat salat ini ditandai dengan salat jumat. 

***** 

Santap Siang di Warung Makan Lamun Ombak Padang 

“Kita ke Lamun Ombak saja. Kalau ke Warung Sederhana, rasanya agak mirip dengan yang di Jalan Kaliurang,” Canda seorang mitra yang pernah menempuh kuliah S2 di Jogja. 

Kami tertawa bersama. Di Jogja makanan nasi Padang memang banyak. Salah satu yang cukup mentereng adalah Warung Sederhana. Di Padang sendiri ada banyak tempat makan, satu di antaranya adalah Lamun Ombak. 

Di Jogja sepertinya tidak ada warung makan ini. Aku malah melihat warung makan yang sama saat berada di Batam. Kami bergegas masuk, lantas aku tinggal duduk menunggu menu yang disajikan. Urusan makan di Padang, aku hanya manut saja. Toh kali ini gratis. 
Makan siang di Rumah Makan Lamun Ombak
Makan siang di Rumah Makan Lamun Ombak
Cukup ramai warung makan Lamun Ombak, bahkan menariknya di sini aku bersua dengan pramugari dan pilot Lion Air yang semalam terbang dari Jogja menuju Padang. Meski seragam yang dikenakan berbeda, wajah pramugari tersebut masih kuhafal. 

Tumpukan berbagai menu tersaji. Piring-piring tertata rapi menumpuk. Tiap piring menunya berbeda. Tinggal comot lauknya saat makan. Memang agak menyusahkan bagiku yang terbiasa makan satu menu. Di sini, aku dibebaskan mengambil lauk manapun. 

“Jangan hanya dilihat, mas. Ayo kita santap bersama.” 

Mitra yang kusebutkan tadi adalah orang-orang penting di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Tatkala kami singgah di Padang, beliau-beliau ini langsung sigap menghampiri. Aksi yang sama ketika pagi hari Bang Edwin rela menculik untuk bisa bersantai kala pagi di pantai. 

Satu persatu lauk berpindah tempat. Dari sajian di depan, menuju piringku, lantas lenyap di dalam perut. Meski aku tidak ada agenda berkeliling kuliner di Padang, setidaknya makanan ini mewakili rasa kuliner di Ranah Minang. 
Sajian makan siang di Rumah Makan Lamun Ombak
Sajian makan siang di Rumah Makan Lamun Ombak
Tuntas sudah makan siang. Aku masih menyisipkan satu destinasi wisata yang berada di kota untuk kukunjungi. Layaknya saat berkunjung di tempat lain yang waktunya terbatas. Aku sudah menyiapkan catatan kecil terkait destinasi wisata yang kemungkinan besar bisa terkunjungi. 

Kutinggalkan rumah makan Lamun Ombak, kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalur ramai Kota Padang. Benar kata Bang Edwin saat pagi. Jalanan kala siang cukup ramai dan sedikit tersendat saat berada di sekitaran pasar. 

Belum banyak tempat yang aku kunjungi di Padang. Terlebih daerah-daerah yang lokasinya cukup jauh dari Kota Padang. Semoga ini baru permulaan dan nantinya ada waktu untuk menjejakkan kaki di kota ini kembali. *Kota Padang, 24 Oktober 2018.

22 komentar:

  1. baca nama nya, kirain lauk yang terbuat dari buah salak,

    disana gak ada rumah makan padang ya? heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu semacam gorengan khas sana. Enak hehehehhe. Kukira awalnya berkedel

      Hapus
    2. Semenjak ada restoran sederhana yang buka cabang disana, candaan itu jadi berubah, sekarang sudah ada satu rumah makan padang yaitu sederhana :P

      Hapus
    3. Ahahahhaa, candaannya ngerihh

      Hapus
  2. Beberapa kali lewat ke masjid raya ini tapi lom kesampaian mau foto2 ut blog. Dalamnya emang luas dan nyaman yah. Saya sekali sampe tertidur hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mumpung pas dolan ke sana, jadi saya sempatkan untuk berkunjung dan menulisnya di blog

      Hapus
  3. Waktu kecil dulu, sala lauak harganya cuma Rp50,-. Kaget juga mendapati sekarang harganya gopek. Hehehe.

    Btw, sala enak banget buat dijadiin topping katupek atau sate Mas. Biasanya sih disuwir-suwir. Makin jos kalau lagi hangat-hangatnya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku lihat yang makan katupek itu sambil nyuir-nyuir sala lauak hhehhehehhe. Gurih rasanya :-D

      Hapus
  4. Bayangin perkedel ikan jadinya nih. Wkwkwk
    Btw arsitektur masjidnya kece bgt ya allah.. Noted kl main ke padang mesti sempetin salat di sana

    BalasHapus
  5. Kuliner Padang di tempat aslinya itu beda memang dengan Padang yg banyak di JKT. Aku jujurnya ga cocok Ama nasi Padang di JKT, Krn terlalu asin kebanyakan. Tp pas ke Padang, uwaahhhh rasanya pas, ga keasinan, dan sedikit pedas. Lamun ombak aku prnh coba, suka Ama lauk2nya. Makanya aku sampe niat mau ke Padang LG ajakin keluarga. Trakhir ksana Ama kantor soalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas di Padang, untung mitra yang ngajakin ke sana. Jadi kulibas semua, mbak. Mumpung di lokasinya langsung ahhahahahha

      Hapus
  6. Waktu ke Padang tahun 2017, saya belum sempat masuk ke masjid itu.
    cuma di depan saja, itupun belum semua beres. masih sementara dikerjakan.

    dan pas waktu itu juga sempat makan di Lamun Ombak. kayaknya itu yang paling terkenal di Padang hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha, berarti kita mengunjungi dua tempat yang sama

      Hapus
  7. Dari dulu ingin sekali ke Sumbar, jelajah padang, mencicipi kulinernya yang menasional dan mengenali budayanya. Masjid Raya Sumbar ini juga bucketlist saya. Seru sekali, mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sumbar cukup luas, tapi memang mengasyikkan.
      Aku sendiri hanya di sekitaran Kota Padang, waktu ke sini hanya sebentar

      Hapus
  8. Terbayang nikmatnya Sala Lauak, mas. Apalagi saat masih hangat, sebagai kawan menyesap kopi talua.

    Masjid Raya Sumatera Barat adalah salah satu struktur arsitektur yang mau kusinggahi kalau bertandang ke ranah minang. Semoga segera ada kesempatan ke sana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang kurang mas hahahahah.
      Pas di Padang aku gak kesampaian buat mengopi :-(

      Hapus
  9. Aku bayangin Sala lauak kok nikmat ya, apalagi ada campuran ikannya. Dicocol sambal gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Membayangkan di salah satu warng kopi ada ya mbak akakakkakaka

      Hapus
  10. pernah beberapa kali ke padang tapi belum pernah tahu apalagi mencoba sala lauak ...
    Resto Lamun Ombak itu memamg selalu ramai ... tapi saya belum pernah makan disana .... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dicoba, kang. Menyenangkan pokoknya ahhahahah

      Hapus

Pages