Gedung Agung dan Museum Istana Yogyakarta - Nasirullah Sitam

Gedung Agung dan Museum Istana Yogyakarta

Share This
Gedung Wisma Negara di Yogyakarta

Geliat keramaian sudah tampak di Pasar Beringharjo. Aku menyusuri tiap lorong pasar. Mencari apapun yang bisa diabadikan. Seperti inilah aktivitas kala berkumpul dengan teman-teman fotografer. Mau tidak mau, aku harus turut berlatih memotret di tengah keramaian. 

Kawan yang lain sudah menyebar. Titik pertama memang di Pasar Beringharjo. Selain memotret, aku juga sudah menyempatkan sarapan Empal Bu Warno. Kuliner yang kondang di Pasar Beringharjo. 

Aku terdiam di salah satu lantai pasar. Mataku tertarik dengan lorong yang cenderung sepi. Sedari tadi kutunggu belum ada orang yang melintas. Tentu aku berharap ada orang yang melintas di lorong dan berhasil kuabadikan. 

Penantianku tidak sia-sia. Seorang simbah yang mungkin berjualan di sekitaran los di sini melintasi dekat lorong. Aku sudah menyiapkan kamera dan membidiknya. Foto ini yang nantinya kuunggah. Oya, ini adalah rangkaian acara #NyetritBareng yang diadakan oleh kawanku. 
Lorong Pasar Beringharjo Malioboro
Lorong Pasar Beringharjo Malioboro

Lokasi pertama tujuan latihan memotret sudah selesai. Perjalanan selanjutnya menuju Gedung Agung Kepresidenan Yogyakarta. Gedung ini berlokasi di seberang Benteng Vredeburg. Jika kalian berkunjung ke KM Nol Yogyakarta, dibalik pagar itulah bangunannya. 

Gerbang yang berada di dekat Mirota Hamzah terbuka. Kami sudah mendapatkan izin kunjungan. Sebelumnya, tidak banyak orang yang tahu jika Gedung Agung Yogyakarta sebenarnya boleh dikunjungi. Kita harus meminta izin terlebih dulu beberapa waktu sebelumnya, dilengkapi dengan surat dan tujuan kunjungan. 

Semua barang kami tinggal di laci yang tersedia. Tiap tas diperiksa petugas sebelum kita diperbolehkan memasuki area Gedung Agung. Barang yang boleh dibawa adalah kamera dan gawai. Selebihnya semua ditinggal dalam loker. 

Rombongan diantar petugas menuju Gedung Agung. Sebelumnya, kami foto bersama tepat di depan gedung tersebut. Lantas menunggu pemandu internal yang bertugas menemani rombongan selama berkeliling. 

Semua orang mengenakan pakaian yang sopan. Jika menggunakan kaus, minimal yang ada kerahnya. Semua sudah berkumpul di teras. Sambutan dari pemandu internal mulai terdengar. Aku mendengar dengan seksama. Sesekali tanganku mengetik catatan di gawai. 
Ruangan besar di dekat meja makan keluarga presiden
Ruangan besar di dekat meja makan keluarga presiden

Di teras depan Gedung Agung, mulailah kami diterangkan perihal sejarah bangunan ini. Tahun 1824, Belanda membangun Gedung Agung. Proses pembangunan terhenti pada tahun 1826 karena adanya gempa bumi. 

Cerita itu terus mengalir hingga menyebutkan jika tempat ini pernah menjadi Ibukota. Kita semua tahu bahwa Yogyakarta pernah menjadi Ibukota Indonesia meski hanya sebentar. Khusus untuk Presiden, lokasinya di Ruang Garuda. 

Bangunan khusus Ruang Garuda ini tidak semuanya boleh dipotret. Aku terus mendengarkan cerita sejarah yang dituturkan. Sesekali melirik pemandu apakah tempat ini boleh diabadikan atau tidak. Bahkan, tatkala aku ingin foto saja, kusempatkan bertanya pada salah satu Paspampres yang berjaga. 

“Di sini boleh, pak,” Jawabnya tegas. 

Aku berfoto tepat setelah pemandu menerangkan ruang Sudirman dan yang lainnya. Tepatnya di ruangan terbuka setelah meja makan bersama. Kulihat kawan-kawan yang lainnya juga berfoto di sini. Berlatarkan pewayangan. 

Terkadang pemandu menyebutkan Ruang Garuda atau malah Gedung Garuda. Di sini juga kami diantarkan melihat sisi timur, Ruang Sudirman. Tempat ini digunakan untuk para tamu delegasi yang datang di Jogja. 
Salah satu pintu di Gedung Agung Yogyakarta
Salah satu pintu di Gedung Agung Yogyakarta

Berhadapan dengan Ruang Sudirman, di sisi barat terdapat ruangan yang disematkan nama Ruang Diponegoro. Konon di ruang inilah presiden secara langsung berdialog empat mata dengan tamu ataupun delegasi yang datang. 

Di belakang Ruang Sudirman terdapat kamar Presiden. Kamarnya luas, hanya saja setiap pengunjung tidak diperkenankan untuk diabadikan. Kumatikan kamera, lantas melongkok sejenak melihat isi kamar. 

Selain kamar khusus Presiden, ada juga kamar yang digunakan untuk keluarganya. Perjalanan berlanjut masuk menuju ruangan makan. Ada khusus untuk presiden dan keluarganya. Tatanan meja sudah diatur sedemikian rupa. Pun meja yang digunakan untus Paspampres serta dokter. 

Di tempat inilah aku tadi meminta izin berfoto. Selama perjalanan menyusuri Gedung Agung, sudah ada petugas khusus yang ikut dalam mini tour gedung. Dari mereka, kami tahu mana saja tempat yang boleh dilewati, boleh dipotret, dan yang lainnya. 

Nuansa Gedung berwarna putih. Interior yang ada di sepanjang rute pun minimalis namun bagus untuk dipandang. Kami terus menyusuri sudut demi sudut bangunan. Hingga tidak terasa sampai di tanah lapang dengan patung di depannya. 
Pintu dan ornamennya
Pintu dan ornamennya

Tempat ini lumayan rindang dan terbuka. Dari sini terlihat orang-orang yang berlalu-lalang di luar pagar. Di tempat-tempat tertentu, kami dibebaskan berlama-lama. Petugas yang memandu senantiasa sabar melihat kami yang cenderung ingin berlama-lama. 

Mataku sekilas melihat perpustakaan di pojok. Sayangnya perpustakaan tersebut bukan menjadi salah satu tempat yang dimasuki saat menjelajah gedung. Terlebih sekarang hari sabtu, mungkin saja petugasnya sedang berlibur. 

Aku hanya penasaran dengan koleksi yang ada di dalamnya. Mungkin banyak naskah-naskah kuno atau potret lawas yang tersimpan di sana. anganku hanya menerawang serta menerka-nerka isi perpustakaannya. 

Masuk ke Museum Istana Yogyakarta 

Petugas pemandu sudah menunggu di dalam bangunan yang lainnya. Sebagian dari kami terpisah. Ada yang bergabung dengan pemandu, ada pula yang masih di belakang. Di bangunan putih ini tersemat tulisan Museum Istana Yogyakarta. 

Selain perpustakaan, di sini ternyata ada museumnya. Aku baru tahu ini, pun dengan teman rombongan. Bergegas aku masuk, dekat pintu masuk sudah ditunggu pemandu. Beliau sengaja menantikan rombongan kami berkumpul. 
Aneka lukisan tentang IR Soekarno di Museum Istana Yogyakarta
Aneka lukisan tentang IR Soekarno di Museum Istana Yogyakarta

Sesuai dengan Namanya, Museum Istana Yogyakarta ini tentu koleksinya berkaitan dengan Indonesia. Lebih khususnya lagi terdapat banyak potret maupun lukisan tentang Presiden Indonesia dari masa ke masa. 

Pembangunan museum ini pada masa kepemimpinan SBY. Dari pintu masuk, kami diarahkan menyusuri ruangan ini sesuai dengan arah jarum jam. Berbagai pernak-pernik gerabah tertata di bawah. Bagian dinding sudah tersemat berbagai koleksi foto dan lukisan. 

IR. Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY. Terpasang berbagai foto mereka di tiap sisi. Alurnya pun sesuai dengan masa pemerintahan siapa terlebih dahulu. Diawali dengan Soekarno dan diakhiri kolase foto SBY. 

Ada pula berbagai lukisan wakil presiden. Lukisan wakil presiden memang tidak sebanyak lukisan ataupun potret mantan presiden. Dari sini setidaknya kita tahu siapa-siapa wakil presiden Indonesia. Selama ini sosok wakil presiden rasanya tidak banyak yang mengingat, hanya beberapa sosok saja yang familiar. 

Museum ini cukup luas. Koleksinya juga ada di lantai atas. Di area pintu masuk koleksinya berkaitan dengan Presiden. Tiap mantan Presiden ada di sana, lengkap dengan serba-serbi yang berkaitan dengan sosok tersebut. 
Lukisan Presiden dan Wakil Presiden
Lukisan Presiden dan Wakil Presiden

Seperti pada kolase foto lawas IR Soekarno. Di sana banyak dokumentasi selepas masa kemerdekaan. Pun dengan pose sewaktu beliau berpidato di depan masyarakat Indonesia. Tidak ketinggalan berbagai jenis uang yang menggunakan gambar beliau. 

Soeharto pun demikian. Mulai dari Soeharto muda hingga dua foto ikonik beliau. Satu foto tentu dengan tangan kiri memegang padi selepas dipanen. Foto yang satunya sudah ada dibayangan kalian. Pose beliau melambaikan tangan kanan kala beliau sudah sepuh. 

BJ. Habibie tentu dengan ikon pesawat N250, Gus Dur lukisan beliau sewkatu tertawa dan belakangnya berlatarkan berbagai tempat peribadatan, tentu melambangkan pluralisme. Megawati di belakangnya bersimbol RA. Kartini, tentu mengambil pesan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. 

Aku terus mengikuti dinding tembok yang menampilkan berbagai foto dan lukisan mantan prsiden. Di ujung satunya tentu Presiden SBY. Pose menyapa mirip dengan Soeharto dengan bagian belakang penuh alutsista. Pesan tersirat dari seorang TNI. 
Lukisan Gus Dur di Museum Istana Yogyakarta
Lukisan Gus Dur di Museum Istana Yogyakarta

Tidak berhenti di lantai satu. Kami menaiki tangga menuju lantai dua. Di tembok tangga terdapat lukisan perempuan yang menggunakan mahkota dengan ciri khas pakaian berwarna hijau. Sebagian kawan rombongan tidak berani menatap mata lukisan tersebut. 

Di lantai dua ada banyak lagi lukisan dan pernak-pernik yang dipajang. Kami terus menyusuri ruangan demi ruangan. Ada yang kecl dan tertutup, ada pula yang besar. Kita juga bisa swafoto di ruangan tertentu menggunakan peralatan yang tersedia. 

Aku sedikit lupa rute di dalam museum ini. kami naik dari area koleksi presiden, lantas turun di ruangan lebih kecil. Di sini juga tersimpan karya lukisan sang maestro Raden Saleh Syarif Bustaman. 

“Ada yang janggal di lukisan ini?” Tanya pemandu sembari tersenyum. 

Kami melihat detail sebuah lukisan karya Raden Saleh yang berjudul Perburuan Banteng. Sepemahamanku yang awam tidak ada yang salah dengan lukisan tersebut. Hingga akhirnya pemandu menerangkan kejanggalan lukisan tersebut. 

Pastinya kita takjub dengan seluruh karya Raden Saleh. Beruntung di sini aku bisa menyaksikan langsung salah satu lukisan yang legendaris. Selama ini hanya kulihat gambarnya saja yang bertebaran di media sosial. 
Para pengunjung di Museum Istana Yogyakarta
Para pengunjung di Museum Istana Yogyakarta

Jelajah Gedung Agung belum sepenuhnya berakhir. Kami diarahkan keluar dari museum menuju teras bangunan yang agak rindang. Di sini sudah disediakan air mineral serta teh hangat. Tiap rombongan dibebaskan memilih minuman tersebut. 

Tidak jauh dari tempatku duduk, seorang TNI berjaga menyapa kami. Kami berbincang santai, dari sini aku tahu jika tiap beberapa hari sekali mereka dirotasi. Tatkala beliau tahu aku dari Karimunjawa, dia bilang sudah lama ingin berlibur ke Karimunjawa. 

Kami bertukar narahubung, siapa tahu nantinya bisa membantu beliau saat berlibur di Karimunjawa. Rombongan kembali menuju tempat penitipan barang. Kami mengambil seluruh barang dan izin keluar bangunan. 

Sebuah pengalaman yang menyenangkan dapat mengunjungi Gedung Agung di Yogyakarta. Tentu pengalaman ini aku tulis dan kusebarkan hingga sekarang kalian membacanya. Ada yang tertarik berkunjung? Silakan tanyakan dulu prosedurnya ke petugas di pintu masuk, dan kalau bisa secara rombongan. *Yogyakarta; 02 Februari 2019

21 komentar:

  1. oh ternyata dibuka untuk umum juga toh, cuman ada protokol nya ya.

    aku pernah baca di artikel, gedung agung ini ternyata Tempat Lahir Megawati Soekarnoputri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibuka mas, kalau bisa rombongan dan ada surat pengantarnya lebih dulu biar asyik.

      Hapus
  2. Kemarin saat ke Yogya, cuma bisa liat gedungnya dari luar, karena gerbangnya udah tutup, udah kesorean.

    Akhirnya sekarang bisa liat juga gimana bagian dalamnya. Mantap banget mas. 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah gak berkabar, tau gitu kan bisa kopdar kita, bang

      Hapus
  3. suasana jawa nya masih sangat kental ya ini.. keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus loh kalau menyempatkan diri berkunjung di museum ini.

      Hapus
  4. Ngga akan bosan memang menilik tempat-tempat bersejarah di Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada banyak tempat di Indonesia macam museum ini, hanya saja pengunjungnya tidak terlalu banyak.

      Hapus
  5. belum pernah saya masuk ke gedung Agung .... begitu bersih dan rapi ... sayang tempat2 fotonya terbatas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kang, bagus bagus tempat ini. Meski terebuka untuk umum, tapi banyak orang yang belum tahu

      Hapus
  6. Beruntung banget Mas bisa masuk Gedung Agung walaupun dibuka buat umum tetep gak bisa dimasukin kalo gak mengajukan izin kunjungan. Sekarang Gedung Agung khusus untuk museum aja ya Mas? Btw, aku jadi penasaran sama kejanggalan lukisan Raden Saleh itu sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada banyak ruangan di Gedung Agung, mbak. Hanya saja tidak semua boleh kita akses. Kadang cuma melongok aja pas lewat daerah yang tidak diperbolehkan memotret.

      Hapus
  7. Wah selama ini cuman bisa melihat dari luar saja Gedung Agung ini. Ternyata begini ya dalamnya. Makasih lho udah share Mas Sitam.

    Jadi kebayang dulu pas jadi kantor Kerala negara kita walau dalam waktu yang singkat.

    Btw kalau pengajuan Surat ya harus dari instansi atau gimana? Rakyat biasa kayak Aku boleh ndak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak harus dari instansi. Kami ke sini atas nama komunitas motret. Jadi di sini diperbolehkan memotret sesuai dengan tempatnya.

      Hapus
  8. Wah ini toh dalemnya mas? megah banget yah. Aku sering banget lewatin karena sekarang tinggal di Jogja. Tapi belum pernah masuk ke dalamnya hehe. Next kalau Coronanya sudah berlalu mau nyobain masuk hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, ini di dalamnya. Bisa itu diagendakan mengunjungi saat pandemi sudah mereda.

      Hapus
  9. Rullah, kok dari tadi saya scrolling nggak tertulis ada foto Joko Widodo di antara foto-foto presiden pada Museum Istana Yogyakarta ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sewaktu kami ke sini memang belum ada. Ini menarik mbak, siapa tahu ke depannya bisa ditambahkan. Terlebih beliau sekarang periode kedua.

      Hapus
  10. Aku beberapa kali main2 ke Jogja eh kok ga nyempetin waktu berkunjung ke Gedung Agung dan Museum Instana ini ya. AKu juga senang menggunakan jasa guide supaya sambil dengerin cerita sejarahnya kita jadi nambah wawasan tempat tersebut. Lukisannya ada yang mistik2 ya? Hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rata-rata wisatawan asyik foto di sepanjang Malioboro ataupun di KM Nol-nya. Kalau ke sini jarang banget. Ada deh kalau terkait lukisannya heheheheh

      Hapus
  11. suasana gedungnya klasik banget, ada gaya-gaya arsitektur eropanya. coba pas ke Jogja bisa mampir ke sini, apalagi aku juga suka diajak ke tempat2 bersejara. eh tapi harus dengan perizinan kan mas? kira2 rumit nggak sih ngurusnya?

    BalasHapus

Pages