Mengopi dan Berbincang Santai di Kedai Monokopi Jepara - Nasirullah Sitam

Mengopi dan Berbincang Santai di Kedai Monokopi Jepara

Share This
Pengunjung bersantai di Monokopi Jepara

Seminggu yang lalu, aku sudah mulai mendata kedai kopi yang ada di Jepara. Pilihanku sebenarnya secara acak. Hanya memilih berdasarkan banyaknya ulasan pengguna di Local Guide. Selain itu, aku juga memilih yang berlokasi di tengah kota Jepara. 

Tiga kedai kopi sudah di tangan. Akhir pekan ini aku menghabiskan waktu di Jepara. Kukunjungi salah satu kedai kopinya. Jumat malam ini jatahnya Monokopi. Sebuah kedai kopi yang berlokasi di Jalan Pemuda nomor 9A, Jepara. 

Ojek daring mengantarku hingga depan. Beliau juga menginformasikan jika kedai kopi ini dekat dengan Bank BNI. Aku memang sempat bertanya lokasi ATM BNI terdekat. Nyatanya keduanya hanya sepelemparan batu. 

Hampir saja aku keliru masuk restorannya, beruntung kulihat tulisan Toko Kopi Monokopi Jepara. Di sini selain kedai kopi juga terdapat resto. Kubuka pintu dan melihat daftar kopi yang disediakan. Kebiasanku tiap di kedai kopi. 

Sejak hari senin, aku belum menyesap kopi. Sebenarnya ada kesempatan menyeduh kala menginap di d’Emmerick Hotel Salatiga, di sana ada kedai kopinya. Sayang, aktivitas padat membuatku pulang tengah malam, sementara kedai di sana sudah tutup pukul 22.00 WIB. 

Pengunjung belum banyak. Kulihat sekumpulan muda-mudi duduk di kursi luar. Gelas-gelasnya sudah kosong. Mereka sedang asyik berbincang. Ada juga yang sibuk memainkan permainan dari gawai. Tempat di luar memang asyik untuk bersantai. 
Toko Kopi Monokopi Jepara sejak tahun 2016
Toko Kopi Monokopi Jepara sejak tahun 2016

Dua kertas laminating melekat di meja barista. Di sini berbagai menu tersedia. Harga kopi di sini tidak lebih dari 15000 rupiah. Sementara minuman nonkopi selisihnya tidak besar. Aku sudah melirik biji kopi dalam kemasan. 

Ada tiga biji kopi yang tersedia. Seingatku dari Enrekang dan Gayo. Sementara satu biji kopi yang ditampilkan aku lupa namanya. Satu biji kopi ini dari luar negeri. Terkait harga, biasanya berbeda. Biji kopi dari manca lebih mahal. Ini juga berlaku di Jogja. 

“Manual seduhnya ada, mas?” Tanyaku memastikan. 

“Ada mas. Mau biji kopi yang mana?” 

Aku tertarik menyesap biji kopi dari Enrekang. Entah kapan terakhir menyesap kopi dari pulau Sulawesi tersebut. Dari kemasan kopinya, aku tidak asing dengan logonya. Aku sempat berbincang dengan barista, dia menyebutkan stok kopi dari Rahayu Roastery. 
Daftar menu dan harga di Monokopi Jepara
Daftar menu dan harga di Monokopi Jepara

Terang saja, Rahayu Roastery memang familiar di Jogja. Aku pernah melihat Mas Gilang menyetok biji kopi untuk banyak kedai kopi di Jogja. Selain itu, di sini juga ada kemasan biji kopi dari Space Roastery. Kedai kopi yang sering aku kunjungi di Jogja tapi belum ada waktu untuk mengulasnya di blog. Menunggu dapat jatah cupping untuk pengunjung. 

Dua barista mulai sibuk. Menjelang malam, pengunjung makin ramai. Dari obrolan dengan barista, kedai kopi ini mulai ramai saat pukul 20.00 WIB ke atas. Jika tidak salah ingat, kedua baristanya adalah Yahya dan Dwi. 

Waktu senggang, kami duduk bertiga di kursi panjang luar. Mereka bercerita jika Monokopi sudah ada sejak tahun 2016. Saat itu kedai kopi berlokasi di sekitaran Stadion Kamal Djunaidi. Lantas di tahun 2017 pindah ke Jalan Pemuda. 

Dari mereka juga aku tahu jika pemilik kopi ini pecinta kopi. Mas Azzam namanya, beliau diceritakan salah satu barista pernah sempat membantu barista di kedainya sendiri. Uniknya, Monokopi mulai buka pukul 18.00 WIB hingga 24.00 WIB. 

Tentu buka menjelang petang ini ada alasan tersendiri. Aku tidak tahu secara pasti, mungkin lebih pada pelanggannya. Di Jepara, rata-rata pelanggan kedai kopi anak-anak sekolah. Ada juga pekerja kantoran. 
Barista melayani pengunjung
Barista melayani pengunjung

Sesuai dengan perkiraan barista, menjelang pukul 20.00 WIB mulai banyak pengunjung yang berdatangan. Jejeran empat meja bulat lengkap dengan delapan kursi tertata di dalam. Lalu sebuah rak buku dengan koleksi berbagai novel. 

Di balik rak buku terdapat sofa kecil. Tadi tempat ini diduduki dua remaja putri yang sedang berbincang. Aku meletakkan tas kecil di salah satu meja bulat. Di sisiku semua meja mulai terisi. Empat orang sedang asyik menikmati minuman dingin sembari berbincang santai. 

Selain meja di belakang barista, kedai kopi yang bangunannya sedikit memanjang ini memanfaatkan ruang kosong di depan barista. Satu meja panjang melekat pada dinding kaca dan menghadap ke jalan. Sedari tadi, di sana sudah diduduki lelaki dari manca yang memesan minuman espresso double shot. 

Melihat komunikasi pengunjung bule ini dengan barista, aku menyimpulkan dia adalah salah satu pelanggan kedai kopi. Disesap kopi pekat seraya membuka gawai. Menarik juga ini, turis manca di sini mulai menikmati waktu di kedai kopi. 

Ruangan di dalam terdapat stop kontak. Ini sebenarnya menunjang bagi orang pekerja lepas untuk bekerja. Untuk pengunjung muda-mudi, mereka menjadikan tempat seperti ini untuk berkumpul dengan kawan, membuka permainan di gawai. 
Pengunjung bersantai di area dalam kedai kopi
Pengunjung bersantai di area dalam kedai kopi

Ruangan terbuka di luar kedai lebih luas. Halamannya dibagi dengan area parkir. Sofa tertata di teras arah masuk resto, pun dengan stop kontak serta asbak. Selain itu, di depannya tertata pula meja-meja kecil dilengkapi kursi. 

Pengunjung yang duduk di luar jauh lebih banyak. Meja panjang tepat di bawah tulisan “Monokopi” sudah penuh. Empat remaja putri sedang berbincang santai seraya menyesap minuman. Mereka adalah pelanggan-pelanggan Monokopi. 

“Boleh saya izin ambil fotonya?” Pintaku sebelum mengabadikan. 

“Silakan, mas,” Jawab mereka tersenyum. 

Aku mengucapkan terima kasih, lantas mencari sudut yang tepat untuk mengabadikan keseruan mereka. Selang setengah jam, empat remaja putri ini kedatangan dua kawannya. Mereka berenam riuh memainkan kartu Uno. 

Selain berbincang tentang Jogja, dua barista ini yang bertugas pun menceritakan jika di Jepara memang belum banyak orang mengopi manual seduh. Rata-rata kopi susu masih menjadi pangsa pasar yang melejit. Fenomena ini sama dengan di kota-kota Indonesia yang lainnya. 
Pelanggan Monokopi di luar kedai
Pelanggan Monokopi di luar kedai

Salah satu barista berujar, jika 25% pengunjung kedai kopi di sini memilih minuman manual seduh. Sementara yang paling dominan tentu minuman-minuman yang lainnya. Aku sendiri tidak terkejut hal ini. Bagi pengusaha kedai, yang penting adalah pelanggan dan ramai. 

Kusesap kopi Enrekang, tadi sudah dibuatkan dengan metode V60. Sebenarnya ingin menggunakan Kalita, sepertinya tidak ada alatnya. Malah yang kulihat di sini ada alat Aeropress. Tidak terasa satu gelas sudah tandas. 

“Americano ya mas. Panas,” Pintaku lagi. 

Salah satu barista tertawa mendengar teriakanku. Entahlah, setelah cukup lama mengopi, sepertinya hari ini aku ingin menyesap dua gelas kopi. Waktu memang sudah ramai, pesananku menunggu antrean. 

Aku kembali duduk di dalam. Mengambil gawai yang sedang mengisi baterai. Kulihat dua barista sibuk melayani pembeli. Memang benar, Monokopi ini mulai ramai ketika sudah menginjakkan pukul 20.00 WIB. 

Tanpa ingin menguping pembicaraan dua perempuan di sampingku, tetap saja suara mereka lantang. Aku tidak enak berlama-lama di sini. Kutinggalkan kembali gawai dan kamera di bawah kursi, lalu duduk di meja panjang bersandarkan tembok pembatas kedai kopi dengan bank. 
Menyesap kopi dengan biji dari Enrekang
Menyesap kopi dengan biji dari Enrekang

Tepat pukul 22.00 WIB aku beranjak dari tempat duduk. Kutandaskan tegukan terakhir. Gelas kosong ini kutenteng ke dalam kedai. Lantas menaruhnya sendiri di wastafel. Semua barang kukemasi, lalu pamitan pulang ke penginapan. Besok pagi masih ada perjalanan panjang memotret air terjun. 

“Terima kasih mas, kopinya enak. Terima kasih juga sudah memberi info kedai kopi yang nantinya kukunjungi. Semoga semuanya bisa kudatangi.” 

Monokopi Jepara, kedai kopi yang mungkin bisa kalian kunjungi kala berlibur di Jepara. Berlokasi dekat dengan hotel-hotel ternama, dan hanya berjarak tidak lebih 1 KM dari alun-alun Kota Jepara. Aku menunggu ojek daring, lalu meminta turun sebentar di minimarket yang masih buka. 

Satu kedai kopi sudah kukunjungi di Jepara. Masih ada daftar dua kedai kopi lagi yang nantinya ingin kudatangi sebelum balik Jogja. Jika ada waktu kembali ke Jepara, aku pasti datang ke kedai kopi ini lagi. Menyapa baristanya, dan mungkin ada biji kopi baru. *Monokopi Jepara, 13 Maret 2020.

12 komentar:

  1. Saya belum pernah berkunjung ke jepara sih, belum ada gambaran bagaimana lokasi dan situasi kota disana. Tapi mencari tempat untuk bisa mengobrol atau berbincang dengan orang lain memang hobiku, mulai dari kedai kopi atau lesehan, dan lain sebagainya. Disinilah yang sangat saya sukai, karena saat masuk melalui pintunya kita bisa mengenal daerah itu melalui pengunjung atau langsung baristanya.

    saya pernah mencoba americano sekali, rasanya sangat dalam sekali yah. Mungkin karena baru pertama kali mencoba, saya sempat kasih gula yang tersedia di kedai yang saya kunjungi tidak ada efek sama sekali.. haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga di waktu depan bisa berkunjung ke Jepara.
      Kalau memang belum bisa kopi semacam americano atau manual seduh. Lebih nyaman tanyakan dulu ke barista yang direkomendasikan untuk orang biasa. Untuk sementara tahan dulu jika ingin ngopi di kedai atau di manapun :-)

      Hapus
  2. Waaah langsung 2 gelas :D.aku bisa lgs sukses kliyengan kalo sampe 2 gelas kopi gitu :D. Krn ga biasa kali, kopi hitam pula :D.

    Tp memang kalo udh pecinta kopi, apsti bakal mencoba sebanyak mungkin kopi2 dari berbagai cafe ya mas :). Beda Ama aku, yg biasanya DTG ke kafe kopi bukan Krn tertarik ngopi, tp Krn tertarik suasana tempatnya :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, dalam 24 jam aku batasi maksimal minum kopi 3 gelas, mbak.
      Rata-rata hanya 2 gelas, itupun pagi dan malam. Di sini kemarin memang dua gelas dalam waktu tidak lama. Soalnya opsi minuman yang lainnya rata-rata manis :-)

      Hapus
  3. Aku belum pernah ke Jepara. Tahunya kota ini sebagai kota kelahiran Kartini. Btw, minam-minum kopi begini lambungnya gak ada masalah ya bro? Biasanya diselingi apa kalau minum kopi gitu? Kopi aja atau ada kue-kue

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nanti pandemi sudah berakhir, boleh lah dolan Jepara mas.
      Atau kalau ada niat dolan ke Karimunjawa, mas bisa menghubungi saya. Nanti saya bantyu urusan penginapannya ahhahahahah.

      Mengopi hingga sekarang tetap terjaga takarannya mas. Jadi masih aman kok. Biasanya camilan yang ada pastry ataupun keik. Kalau di tempat biasa pisang goreng ataupun tempe cocol

      Hapus
  4. kedai kopi ada dimana mana ya Mas Sitam ... di Jepara aja desain kedai kopinya keren begini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang beberapa tahun terakhir kedai kopi di setiap tempat signifikan kang.

      Hapus
  5. Kalo aku dua gelas gitu saat malam, bisa nggak tidur sampe pagi tuh Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, beruntung saya masih aman, bang. Bisa tidur nyenyak dan tetap bangun pagi

      Hapus
  6. udah ada sejak 2016 ya, bisa dibilang lumayan lama juga , karena banyak kedai kopi maupun cafe yang pernah kudatangi dan kutulis di blog yang lokasinya di lombok dan kupang udah pada tutup..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, ini sudah lumayan lama. Di Jogja pun sama, banyak yang tutup. Risiko emang, hehehhehe

      Hapus

Pages