Menyesap Kopi di Blackbean Coffee House and Roastery Jepara - Nasirullah Sitam

Menyesap Kopi di Blackbean Coffee House and Roastery Jepara

Share This
Pengunjung di Blackbean Coffee House and Roastery Jepara

Sepatu masih lembab, aku tetap memakainya malam ini. Daftar kunjungan kedai kopi di Jepara mengarahkanku pada Blackbean Coffee House and Roastery. Dari Homestay 89 Jepara, titik yang kutuju berlokasi di Saripan. 

“Kok tidak ada, mas?” Celetuk ojek daring yang mengantarku. 

Aku bingung, kulihat sekali lagi di gawai. Ada juga nama kedai kopi Blackbean di Pengkol. Kuminta ojek daring mengantarku ke sana dengan tawaran tambahan tip layaknya memesan ojek. Beliau berkenan, dan mengikuti peta gawai. 

Di Maps, tulisannya “Blackbean Roastery and Coffee House” sementara di plang yang terpasang di kedai tulisannya “ Blackbean Coffee House and Roastery”. Untuk penulisan di blog, aku menggunakan keterangan yang sama di plang. 

Berlokasi di Jalan Kayutangan II No.2, Pengkol I, Pengkol, kedai kopi ini menurutku lokasinya agak tersembunyi. Meski begitu, tetap saja mudah dicari karena sesuai dengan rute yang dipandu aplikasi peta di gawai. 

Bangunan kedai ini sepertinya awalnya rumah, sehingga tidak ada desain khusus. Semua ruangan mengikuti bangunan, ada satu ruangan yang tersekat dinding kaca, di sana dua orang sedang menyibukkan diri dengan laptop. 
Kedai kopi Blackbean Coffee House and Roastery Jepara
Kedai kopi Blackbean Coffee House and Roastery Jepara

Tiga barista bekerja di malam minggu. Mereka menyapaku sewaktu datang. Satu perempuan dan dua lelaki. Untuk sesaat, aku melihat koleksi kopi yang terpajang. Kusimpulkan Blackbean Coffee House and Roastery ini menawarkan kopi beragam. 

Lantunan lagu lumayan kencang, sementara pengunjung yang datang kali ini sudah cukup banyak. Mereka terpisah di ruangan depan, di meja depan barista ada dua remaja yang sibuk memegang gawai. Di belakang pun sekelompok muda-mudi bersantai. 

Dua papan tulis terpasang pada tembok, di sana semua menu minuman tersaji. Mataku fokus melihat manual seduh. Untuk manual seduh, mereka mempunyai opsi biji kopi beragam dan harga berbeda. Full wash, natural, dan honey. 

Saking banyaknya biji kopi yang ditawarkan, aku malah bingung sendiri. Tetiba pandanganku jatuh pada kemasan kopi yang bertuliskan Black Honey of Girimekar. Sepintas Girimekar adalah nama wilayah di Jawa Barat. Bisa jadi kopi yang dimaksud dari tempat tersebut. 
Daftar menu dan harga Blackbean Coffee House and Roastery Jepara
Daftar menu dan harga Blackbean Coffee House and Roastery Jepara

“V60 saja, mas,” Pintaku. 

“Baik mas. Mau dibuat tebal atau bagaimana?” Tanya barista. 

“Medium mas.” 

Di kumpulan tim mengopi Jogja, kami memang beragam. Ada kawan yang suka kopi tebal ada juga yang suka medium seperti aku. Meski begitu, sesekali aku juga meminta dibuatkan tebal. Tapi lebih sering medium. 

Pertanyaan dari barista terkait pembuatan kopi ini sebenarnya memang perlu. Sehingga barista secara tidak langsung paham selera pengunjung yang datang. Tidak sering kudapatkan pertanyaan seperti itu di Jogja. Ada sih, tapi tidak semua kedai kopi. 

Sembari menunggu minumanku datang, aku duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan meja barista. Di sini sempat beberapa kali bertanya tentang kedai kopi ini. Di Jepara, Blackbean ada tiga grup. Di Pengkol, Bawu, dan Saripan (tempat awal yang kutuju tapi tidak ketemu). 
Meminta dibuatkan kopi manual seduh
Meminta dibuatkan kopi manual seduh

Tidak dijelaskan secara spesifik apakah pemiliknya sama atau berbeda. Pun tentang konsepnya. Minimal di sini tentu kedai kopinya sekaligus tempat untuk roasting, sesuai dengan namanya. Konon kedai kopi ini sudah ada sejak tahun 2012, hanya saja kala itu berlokasi di sekitaran Unnes. 

Tahun 2014, Blackbean pindah ke Jepara. Waktu itu kedai kopi baru ada sedikit. Selain Blackbean juga ada Enjang Coffee. Sesuai dengan namanya, Blackbean Coffee House and Roastery mempunyai alat roasting dan menjual biji kopi dalam kemasan. 

Jika tidak salah, satu bungkus kemasan seberat 200 gram dijual seharga 115.000 rupiah. Aku melihat kemasan biji kopi terpajang pada rak yang ada di dekat meja barista. Kemasannya dominan berwarna gelap. 

Malam minggu ini sepertinya pengunjung bakal membludak. Tiga dari empat barista sudah siap dengan rutinitasnya. Kedai kopi ini buka dari pukul 10.00 WIB dan tutup pukul 01.00 WIB. Waktu yang lumayan panjang. 

Kuamati setiap ruangan yang ada di sini, tidak ada pendingin ruangan. Hanya kipas yang menjadi sirkulasi udara didukung denah ruangan terbuka. Semua tempat di sini diperbolehkan merokok. Siklus kunjungan ramai pada siang hari dan pastinya malam seperti ini. 
Keramaian pengunjung di kedai kopi Blackbean Coffee House and Roastery Jepara
Keramaian pengunjung di kedai kopi Blackbean Coffee House and Roastery Jepara

Meja dan kursi letaknya tidak berjejeran. Terkesan berpencar agar tetap ada jarak kosong antar meja. Elain itu, tidak semua tempat duduk terdapat fasilitas stop kontak. Menurutku, spot duduk paling nyaman adalah ruangan belakang, jika untuk kongkow. 

Tiap kursi mulai dipenuhi pengunjung, mereka datang rombongan. Tidak sedikit yang menyapa barista. Bisa jadi mereka adalah pelanggan tetap ataupun lingkaran pertemanan. Aku masih duduk santai sembari mendengarkan keriuhan para pengunjung. 

Konsepnya memang lebih pada tempat kongkow. Sebanyak ini mereka memang asyik bermain gawai seraya menikmati minuman. Orang yang fokus dengan laptop hanya yang terlihat dari halaman kedai, dua orang di ruangan berdinding kaca. 

Minuman V60-ku sudah disiapkan. Tidak ketinggalan satu gelas air mineral sebagai menawar rasa. Kusesap Black Honey of Girimekar, rasanya agak sedikit tebal menurutku. Bisa jadi memang seperti itu. Toh tiap biji kopi mempunyai rasa yang beragam. 

Semacam menyesap minuman tanpa berhenti, kutuang sedikit lantas meneguknya. Seperti itu terus selama masih hangat. Sesekali berbincang dengan salah satu barista yang dulunya pernah tinggal di Jogja. 
Para pengunjung rata-rata kenal barista
Para pengunjung rata-rata kenal barista

Di Jepara sudah banyak kedai kopi, konon lebih dari 100 kedai kopi yang ada. Tentu ini menjadi menarik bagiku, fenomena kedai kopi hampir merata di semua kabupaten di Indonesia. Pun dengan kopi susu, di sini pun ramai peminatnya. 

Di sini juga dapat memesan kopi tubruk. Atau malah ingin menyicipi biji dari luar pun tersedia. Lebih dari 10 kemasan biji kopi yang berjejer di meja barista. Untuk pemesanan biji kopi manca, harganya tentu berbeda. 

Tidak lebih dari satu jam aku di sini. Pengunjung kedai kopi makin ramai. Muda-mudi berkumpul menikmati malam minggu bersama kawan ataupun yang lainnya. Kedai mulai riuh, salah satu barista ingin mengabadikan keramaian ini dengan kameranya. 
Menyesap kopi di Blackbean Coffee House and Roastery Jepara
Menyesap kopi di Blackbean Coffee House and Roastery Jepara

Kutuntaskan sesapan terakhir, lantas menghabiskan air mineral. Setelah itu pamitan pulang ke tiga barista yang berjaga. Besok masih ada agenda yang kulakukan sebelum pulang ke Jogja. Tak pula kuucapkan terima kasih kepada barista yang berjaga. 

Dari ramainya Blackbean Coffee, serta obrolan barista tentang masih sedikitnya peminat kopi manual seduh, aku percaya lambat laun para pecinta kopi manual seduh di sini bertambah. Di mana-mana, kedai kopi selalu ramai kala akhir pekan. Itu menyenangkan. *Blackbean Coffee House and Roastery Jepara; 14 Maret 2020.

21 komentar:

  1. tebal, medium.. wah,, sungguh istilah baru bagiku yg bukan pecinta kopi hehe..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya ini sama saja sih mas. Hanya saja memang nanti rasanya beda banget ahahhahaha

      Hapus
  2. Bacain cerita Mas Sitam membuatku pengen nyobain kopi yang manual seduh, jadi penasaran juga.

    Wah.. banyak banget sampe 100 kedai kopi, artinya penikmat kopi di Jepara cukup banyak ya Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Rata-rata di Jawa sekarang kedai kopi meningkat pesat. Memang sedang ramai-ramainya di beberapa tahun terakhir

      Hapus
  3. Bagus sekali mas ulasannya... kedai kopi favorit nih kalo pas dijepara...ceritanya itu blackbean coffee saripan dan bawu itu franchise mas dari blackbean coffee house and roastery😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tercerahkan, hehehehheh.
      Saya awalnya ingin ke Saripan, tapi tidak tahu tempatnya. Jadi pindah ke Pengkol

      Hapus
  4. Wah, 100-an kedai kopi? Semarak juga dunia kedai kopi Jepara sekarang ini ya, Mas? Dulu, sekitar 2011-2012 apa ya, ada kawan yang bikin kedai kopi di Jepara. Tapi sepertinya nggak bertahan lama karena pasarnya belum terbentuk.

    Masa pembatasan sosial begini, saya mesti puasa dulu mencicipi kopi seduh manual di tempat temen. Tiap hari nyeduh sendiri pakai moka pot aja hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun 2011-2012 mungkin seperti kopi tubruk yang bisa diterima pasaran. Di Jogja sendiri, untuk mauanl seduh baru beberapa tahun yang paham. Dulu susah banget mencari biji kopinya

      Hapus
  5. Mas, tebel itu mksdnya rasanya lebih pekat yaa?? Baru dgr nih istilah tebal dan medium dlm kopi :D. Maklumlah, aku mah pecinta kopi manis hahahahaha.

    Td baca namanya, black honey, aku lgs kebayang madu hitam yg srg aku minum. Rasanya manis pahit. Apa kopinya begitu jg?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kopi memang seperti itu rasanya. Ada sisi manisnya walau pahit.
      Tebal dan medium berpengaruh pada rasanya, tebal itu biasanya rasanya tersa banget. Kalau medium lebih sedikit lembut

      Hapus
  6. wah wes suwe aku ora seruput kopi manual seduh... gak sabar pengen mudik jawa, keliling kedai kedai kopi, tapi kayake gak mudik nih, serem, heuheuheu.

    baru pertama denger tentang kopi girimekar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk sementara waktu memang harus ditangguhkan mudiknya mas. Cari kedai di Timor hahahhahaha. Menarik loh diulas

      Hapus
  7. ouw, pernah di Unnes yaa. Pantesan beberapa kali lewat bekas tempat blackbeen di unnes selalu tutup. Kirain bangkrut, ternyata sudah pindah ke jepara. Tahun 2013 pernah ke blackbeen unnes.

    persebaran warung kopi sepertinya sangat merata di Indonesia. Di kabupaten sudah banyak ditemui warung kopi. kalau pas di kabupaten bisa cari tempat ngopi sekaligus nongkrong :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah penghuni Unnes ini mengamati sekali. Aku cukup tersesat saja di labirin gang-gang dekat Unnes ahhahahahha

      Hapus
  8. harganya oke juga nih... ga mahal banget. kalau touring ke sini bsa mampir deh hehe

    BalasHapus
  9. Tempat ngopinya memang nggak special macam kedai kopi yg kekinian ya tp ramai juga.. Btw paragraf terakhir itu Kopi manual sedih? Atau kopi manual seduh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak orang yang butuh tempatnya, jadi biasanya ramain ahahhahaha

      Hapus
  10. Gitu ya, mas. Kedai kopi sudah merata di seluruh kabupaten Indonesia. Aku pun kaget di Jepara ternyata sudah ada sebanyak itu, bahkan sampai ada franchise seperti Blackbean ini. Tapi gapapa sih, mendingan ramai kedai kopi daripada mall :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhahaha, benar mas. Ramai banget sekarang. Aku malah belum kesampaian mau ngopi di Bandung dan sekitarnya

      Hapus
  11. Hahahaha aku awam banget ternyata dalam dunia perkopian yang kekinian begini. Dulu waktu masih tinggal bareng ortu dan nenek, ngopi ya ngopi aja. Gak ngerti istilah-istilah macam V60, tebal, medium, dan teman-temannya.

    Terus terang, aku lebih suka ngopi-ngopi ceria aja. Kalau di kampung, ya ngopi item itu. Klo pas lagi traveling, apalagi ke luar negeri, biasanya suka bawa beberapa kopi sachet buat diseduh pas malam di penginapan. Siapa tau gabut dan udara lagi dingin-dinginnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya aku juga kangen mengopi ala tubruk, mas. Tapi belum dapat tempat yang pas. Pengennya nanti mau ke Sumatera atau ke Kalimantan untuk menikmati kopi hiyam. Macam di Belitung

      Hapus

Pages