Petakan Sawah dan Sunset di Karimunjawa - Nasirullah Sitam

Petakan Sawah dan Sunset di Karimunjawa

Share This
Sunset di sudut sawah Karimunjawa

Setiap pulang memotret sunset di pesisir pantai Ujung Gelam, sempat tebersit dalam benakku untuk memotret mentari terbenam di petakan sawah Legon Cikmas. Berkali-kali aku melintasi daerah ini dan melihat cukup indah untuk diabadikan. 

Tidak jarang sekelompok remaja setempat duduk santai di atas motor sembari menghadap ke barat. Lokasi petakan sawah ini sebaris dengan Hutan Mangrove Karimunjawa. Salah satu destinasi andalan di Karimunjawa. 

Ada juga yang sedang menggeber sepeda motor. Entahlah, tempat ini sepertinya identik dengan jalur balapan liar. Acapkali kulihat dua pemuda tanggung yang menggeber mesin motor dan menarik tuas hingga tandas. 

Jalanan di mangrove memang panjang. Selain itu jalur yang lurus pun beberapa ratus meter. Ini yang menyebabkan para remaja tanggung menyalahgunakan jalan untuk mengetes kecepatan motor tanpa dilengkapi alat keselamatan. 

Kuputuskan sore ini memotret di pematang sawah. Sudah kupersiapkan tripod dari Jogja dan melihat titik mana nantinya yang ingin aku datangi. Bentangan padi menguning siap panen. Ini menjadi lahan persawahan terakhir yang ada di Karimunjawa. 
Persawahan di Legon Cikmas Karimunjawa
Persawahan di Legon Cikmas Karimunjawa

Rutinitas petani di Karimunjawa tampak jelas. Mereka saling berbincang di tempat istirahat semacam gubuk kecil terbuka dan beratap anyaman daun kelapa. Tidak banyak petani di sini, bisa dihitung dengan jari. 

Legon Cikmas nama lokasinya. Dusun yang berbatasan langsung dengan Desa Kemujan masih menyisakan sawah. Di tempat lain di Karimunjawa, persawahan tinggal sebuah cerita masa lampau. Hilang dengan berbagai alasan. 

Dari cerita yang dituturkan secara turun menurun, dulunya di Karimunjawa terdapat beberapa tempat yang menjadi persawahan. Nyamplungan dan Legon Lele sempat ada petakan sawah. Kini semua sudah tidak ada. Di Nyamplungan sendiri berganti dengan Tambak Udang. 

Legon Lele meninggalkan kenangan dengan banyak cerita. Aku pertama kali menginjakkan kaki di sana tahun 2001 dulu sangat subur. Buah-buahan seperti Nanas, Krai, dan yang lainnya subur, kini semacam tempat tanpa penghuni. 

Mataku terus menatap ke barat. Kuabaikan kedaraan yang berlalu-lalang. Bahkan mata para warga setempat yang mungkin mengeryitkan dahi, melihat satu orang lebih memilih mengabadikan sunset di petakan sawah daripada di mangrove atau pesisir. 

Di Karimunjawa, sunset di tepian pantai memang pemandangan yang indah. Bagi wisatawan, momentum tersebut tidak boleh dilewatkan. Berbeda halnya dengan aku, sudah banyak fotoku di tepian pantai, sehingga ingin memotret di tempat yang lainnya. 

Kupilih sawah ini memang berdasarkan pengalamanku pemandangan di sini indah saat cerah. Jika benar-benar mendapatkan momen yang bagus, tentu tidak sedikit yang bingung apakah foto ini di Karimunjawa atau tidak. 
Padi menguning dan siap panen
Padi menguning dan siap panen

Untuk orang asli Karimunjawa yang sudah hafal daerah sini, mereka dengan mudah dapat menebaknya. Berbeda halnya dengan orang yang belum pernah ke Karimunjawa. Tentu mereka ada yang tidak tahu jika di sana terdapat petakan sawah. 

Pernah mendengar atau melihat foto sawah di Kulon Progo yang viral? Seperti itulah kenyataannya. Petakan sawah yang pada dasarnya pemandangan biasa menjadi langka karena banyak bangunan menjulang tinggi. 

Seekor sapi menikmati waktu sore menjelang petang. Mulutnya terus menguyah rerumputan di depan tanpa ada saingan. Badannya tidak gemuk, pun tidak kurus. Dia terus mengunyah, memenuhi cadangan sebelum malam. 

Semburat baskara masih menyilaukan. Deretan nyiur menjulang tinggi laksana tiang-tiang bangunan. Tersebar memenuhi sudut-sudut petakan sawah. Sesekali kulihat arloji. Senja belum menyapa. Masih beberapa waktu. 

Kamera sudah terpasang, tripod sudah tegak berdiri. Kuabadikan sekali pemandangan kala sore. Lantas kembali larut dalam obrolan WAG. Kami berbagi foto, menceritakan aktivitas sore yang menunggu sunset

Cahaya mentari mulai menguning. Masih agak silau, tapi sudah bisa diabadikan dengan baik. Tidak kusia-siakan waktu memotret. Sebanyak mungkin mengambil gambar. Urusan memilah, biar nanti saja. Penting abadikan. 
Pemandangan menjelang matahari tenggelam
Pemandangan menjelang matahari tenggelam

Suara motor di jalan mendekat. Mesin mati tepat di belakangku. Kutoleh, sepasang turis manca tidak mau ketinggalan. Keduanya mengeluarkan gawai dan turut mengabadikan sunset. Entah apa yang diucapkan. 

Dari beberapa kata yang terucap dengan cepat dan aksennya tidak terekam baik olehku. Kata yang tertangkap pendengaranku dengan jelas adalah “amazing”. Dia mengisyaratkan jempol ke arahku, lantas berkomunikasi dengan pasangannya dengan aksen yang berbeda. 

Suara turis manca tersebut serasa tersendat di tenggorokan. Aku balas dengan tersenyum, lalu menyibukkan diri kembali memotret. Kami bertiga menjadi penghuni tepian sawah. Sementara warga setempat berlalu-lalang ingin menghentikan aktivitasnya. 

Benar adanya, cuaca cerah berpihak padaku. Lamat-lamat sang baskara hendak tenggelam. Semburat jingga menyebar. Daun nyiur yang hijau berubah menjadi temaram. Lama-lama hanya hitam membentuk siluet. 
Rona jingga di persawahan Karimunjawa
Rona jingga di persawahan Karimunjawa

Dua turis yang tadi turut memotret bergegas pergi. Mungkin dia tidak kuat dengan nyamuk yang mulai menyerang. Aku sendiri mash bertahan. Sesekali melihat hasil foto di kamera. Tidak mengecewakan hasilnya. 

Petakan sawah sudah tidak terlihat. Langit masih terang. Matahari sudah tenggelam, semburat jingga mulai berlalu. Pada momentum ini, pemandangan tidak kalah indah. Langit biru selepas mentari tenggelam memanjakan mata. 

Banyak orang bilang cahaya biru after sunset menarik diabadikan. Apalagi yang ingin mencari wallpaper baru untuk gawai ataupun laptopnya. Mumpung langit cerah, aku menunggu momentum tersebut. 

Langit di ujung barat Karimunjawa berpadu warna jingga dan biru. Bayangan-bayangan nyiur membuat suasan lebih dramatis. Aku terus menekan tombol shutter. Memotret tanpa lagi melihat objek. 
Blue Sky After Sunset in Karimunjawa
Blue Sky After Sunset in Karimunjawa

Di Karimunjawa, di tepian jalan, kita bisa melihat matahari terbeman dengan indah. Adakalanya tempat-tempat seperti ini terabaikan. Hanya segelintir orang yang dapat menikmati keindahan menjelang petang di tepian sawah Karimunjawa. 

Suara iqomah terdengar dari pelantang masjid Legon Cikmas. Aku beranjak mengemasi barang. Sudah kuniatkan berhenti di masjid Legonipah untuk menunaikan salat magrib. Hari ini sudah kutuntaskan rasa penasaran memotret sunset di tepian sawah Karimunjawa. *Karimunjawa, Juni 2017.

18 komentar:

  1. Aku pikir di Karimun cuma ada pantai doang Mas, ternyata ada persawahan juga dan sunset di sawahnya juga cakep.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sawahnya sekarang tinggal sedikit bang, memang dari dulu ada tapi tidak banyak foto di sini

      Hapus
  2. Masya Allah, jadi inget kampung halaman. Pemandangan kekgini yang paling di cari pasti :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali. Kalau di perkotaan, kita rindu dengan alam hijau. Mendapatkan petakan sawah adalah hal yang menyenangkan

      Hapus
  3. Kalau ibarat perempuan hamil, udah ngidam ini pengen ke Karimun Jawa.
    Anak-anak sudah pada tanya kapan liburan ke Karjaw.
    Pengennya sih liburan Lebaran ini, tapi nggak mungkin selama corona masih ada.
    Blue skynya cakep banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nunggu jadwal tetap kapal Pelni saja, mak. Nanti biar lebih gampang kita ke sana rombongan

      Hapus
  4. Kalau persawahan semakin sedikit, berarti kebutuhan berasi Karimunjawa makin banyak yang dipenuhi dari luar pulau, Mas Sitam? Pertama kali ke sana tahun 2011, kayaknya sempat lihat beberapa petak sawah di Legon Lele. Sekarang sudah habiskah?

    Btw foto-fotonya keren. Bener-bener kayak wallpaper Windows. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Legon Lele sekarang sudah habis mas, padahal itu tempat salah satu daerah subur. Pengennya kalau punya duit mau beli tanah di sana ahahhahhaa

      Hapus
  5. Emg ya Karimunjawa ini sunsetnya menggoda. Duuuh besok kl kororo dh pergi pengen main ke Karimunjawa lagi :(
    Eh tp takut mabok laut🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naik pesawat saja biar nggak kena mabuk laut

      Hapus
  6. Wah, di pulau kecil kek Karimun Jawa ternyata masih ada sawah juga yaa.. Nice sunsetnya,, sunset gak harus di pantai..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih ada bang walau hanya sedikit. Menyenangkan bisa memotret sunset di sini

      Hapus
  7. enggak nyangka sih di karimunjawa ada sawah, karena setiap artikel atau video tentang karimunjawa pasti isinya pantai , heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sawah ada tapi memang tidak luas mas.
      Sedikit ini saja sih, stok tetap dari Jepara

      Hapus
  8. Karena belum pernah ke Karimunjawa, saya belum tahu persis tipikal bentang alam di sana (selain pantai tentu saja). Tapi baca tulisan dan lihat foto-fotonya, kiranya mirip dengan Bawean, kampungnya Jun. Ada berpetak-petak sawah juga, mulai dari yang dekat pesisir hingga di kaki perbukitan tertinggi.

    Nah, pertanyaanku, apakah petani di sini juga nyambi jadi nelayan atau sebaliknya? Karena mencari ikan kan juga melihat musimnya. Di Bawean, saat musim badai, sebagian dari mereka beralih ke petani atau bekerja lainnya.

    Catatan lain:
    Suka sama momen-momen sunset yang terekam kameramu, Mas! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagian tetap nyambi jadi nelayan mas. Petakan sawah di sini tidak banyak kok

      Hapus
  9. Keren! Hanya sayang kurang awannya ya? Kalau ada awan, hasilnya jadi lebih dramatis pasti.
    anyway, menarik untuk tahu kenapa jumlah sawah di Karimun Jawa jadi makin sedikit. penyebabnya apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehhehehheh,
      Sawah di Karimunjawa makin sedikit karena regenerasi yang tidak ada. Selai itu, semua stok sembako dari Jepara

      Hapus

Pages