Terpukau Wayang Sodo Karya Mbah Marsono dari Gunungkidul - Nasirullah Sitam

Terpukau Wayang Sodo Karya Mbah Marsono dari Gunungkidul

Share This
Mbah Marsono dan Wayang Sodo
Mbah Marsono dan Wayang Sodo

Lelaki tua di hadapanku sangat sabar menjelaskan sejarah pembuatan wayang sodo (lidi). Mengenakan pakaian surjan, lengkap dengan blangkon di kepala, beliau senantiasa menjawab satu demi satu pertanyaan yang kami lontarkan. 

Aku menggamit sebuah tokoh pewayangan hasil karya beliau yang terbuat dari lidi. Takjub rasanya. Lazimnya wayang terbuat dari kulit kerbau, sapi, atau pun kambing. Wayang yang kupegang ini murni terbuat dari lidi. 

Lidi-lidi dililitkan membentuk wujud tokoh pewayangan. Tingkat kerumitannya jelas, namun Mbah Marsono berhasil menciptakan karya yang membuat setiap orang berdecak kagum. Sebelum aku dan teman-teman blogger mengunjungi Mbah Marsono, Mas Arif sudah mengabarkan pada Mbah Marsono jika kami ingin bersua. 

Rumah Mbah Marsono tidak jauh dari Gua Pindul, mungkin hanya berjarak 400 meter. Bertembok batako dilaburi semen kasar. Pintu terbuka lebar saat kami datang. Mbah Marsono menyambut kami, keramahan tampak jelas dari senyuman beliau. 

Selain untuk tempat tinggal, rumah ini juga dijadikan sebuah galeri Mbah Marsono untuk memajang karyanya. Berderet karya beliau di ruang tamu, lengkap dengan figura dan nama tokoh yang dibuat. 
Rumah sekaligus sanggar wayang sodo
Rumah sekaligus sanggar wayang sodo

Terdapat 50 koleksi wayang yang Mbah Marsono miliki. Di tembok beliau, berjejer tokoh-tokoh pewayangan lengkap dengan alat masik sederhana, dan siap dipentaskan. Sanggar Wayang Sodo Mbah Marsono berlokasi di dusun Gunungbang, desa Bejiharjo, Karangmojo ini melayani pemesanan wayang, pembuatan wayang sodo, dan juga pentas kesenian. 

Dituturkan beliau, untuk satu buah tokoh wayang, beliau menjual dengan mahar sebesar Rp 30.000-50.000. Harga tergantung besar, kecil, dan tingkat kerumitannya. 

“Awalnya bukan dari lidi Mas. Saya membuatnya dari rumput. Dulu, anak-anak di sekitar sini sering saya buatkan wayang,” Tutur Mbah Marsono. 

Berangkat dari rasa ingin mempunyai wayang lengkap, ditambah kondisi ekonomi Mbah Marsono tidak baik. Beliau mencari media lain untuk membuat wayang. Bahkan beliau pernah membuat wayang dari rumput. 

Beliau berhasil membuat banyak wayang dari rumput, namun dirasa kurang puas karena hampir semua wayang bentuk wajahnya mirip. Wayang rumput kendala utama adalah sulitnya membuat wajah berbeda. 

Beliau tidak putus asa, berpikir keras media lain yang bisa membuat wajah tersebut terlihat berbeda. Setiap hari Mbah Marsono memikirkan media lain yang diharapkan bisa menutupi kelemahan dalam membuat wajah. 

Hingga tahun 2011 beliau mendapatkan ide menarik. Membuat wayang dari lidi. Toh lidi di kampung banyak dan tidak dimanfaatkan secara besar. Hanya orang-orang setempat yang menjadikan sapu. 

“Saya melihat sebatang lidi basah tergeletak di aliran sawah. Terbesit pikiran saya untuk membuat Arjuna. Tidak saya sangka, wayang Arjuna itu langsung jadi walau masih kasar. Lidi lain saya patah-patahkan agar menjadi tangannya.” 

Mbah Marsono menerawang, mengingat-ingat enam tahun lalu ketika beliau mendapatkan ide membuat wayang dari lidi. Digabungkan tiap bagian wayang dengan senar. Diikat kencang sehingga menyerupai wujud tokoh pewayangan. 
Tokoh-tokoh pewayangan terbuat dari lidi
Tokoh-tokoh pewayangan terbuat dari lidi

Tidak berhenti di situ, Mbah Marsono ingin menggantikan tuas senar dengan unsur pohon kelapa, agar semuanya terbuat dari bahan pohon kelapa. Beliau teringat di kampung halamannya (salah satu desa di kabupaten Purworejo) ada yang menjual tali yang terbuat dari sabut kelapa. Dibeli tuas tali tersebut, lalu menggantikan senar pengikat dengan tali sabut kelapa. 

Jerih payah Mbah Marsono mulai terlihat. Wayang terbuat dari lidi, sendi-sendinya diambil dari tempurung kelapa, tali terbuat dari sabut kelapa, batang pegangan juga berasal dari batang pelepah kelapa. 

Pun dengan dudukan wayang dibuat dari batang kelapa. Cita-cita beliau membuat wayang seutuhnya berbahan dasar kelapa terwujud. Sebuah proses panjang yang terus diingat beliau. Satu tokoh pewayangan, Mbah Marsono membutuhkan waktu 4-5 jam untuk merangkainya. 

Beliau pernah membuat satu hari menghasilkan satu wayang. Tingkat kesulitan membuat tokoh pewayangan berbeda. Tokoh yang mudah dibuat seperti Arjuna, Bima, Kuntadewa, dan tokoh satria lainnya. Tingkat kesulitan tertinggi adalah saat membuat Punokawan. 

Semua lidi bisa digunakan untuk membuat wayang. Hanya saja hasilnya akan berbeda karena kelenturan lidi tiap jenis pohon kelapa berbeda. Dari sekian banyak jenis pohon, Mbah Marsono mengutamakan lidi kelapa gading karena lebih lentur. Pembuatan wayang sendiri menggunakan lidi basah atau masih berwarna kuning. 

Seperti yang dituturkan Mbah Marsono jika di sini beliau juga melatih orang untuk membuat wayang. Terdapat 20 anak yang belajar membuat wayang di tempat beliau. Setiap anak dikenai biaya latihan Rp 30.000/hari. 

“Mereka satu hari berlatih itu sampai bisa membuat wayang dan sudah rapi. Berbeda kalau turis (wisatawan), mereka yang penting buat dan jadi. Tidak mikir masih kasar dan sederhana.” 

Hasil dari pelatihan anak-anak inilah yang beliau gunakan untuk keperluan sehari-hari. Menurut Mbah Marsono sendiri, beliau belum pernah mendapatkan penghargaan apapun dari pemerintah. Lelaki menjelang berumur 70 tahun ini hanya fokus berkarya, tanpa memikirkan lainnya. 

Menariknya lagi, selain nama-nama tokoh pewayangan yang sudah ada. Mbah Marsono membuat berbagai tokoh dan menyematkan nama yang ada kaitannya dengan kelapa. Tokoh-tokoh yang diciptakan seperti Prabu Glugu Waseso serta Patih Blarak Sempal. “Glugu” berarti batang kelapa, dan “Blarak Sempal” berarti daun kelapa yang patah dalam Bahasa Jawa. 
Mbah Marsono menampilkan lakon pewayangan
Mbah Marsono menampilkan lakon pewayangan

Pun dengan pementasan wayang. Mbah Marsono merangkai sendiri alur ceritanya. Beliau membuat dongeng sendiri, penciptaan tokoh pewayangan membuat Mbah Marsono menyempurnakannya dengan sebuah cerita. 

Alur cerita ada yang Mbah Marsono buat cukup banyak. Ceritanya mirip dengan cerita-cerita pewayangan yang sudah ada. Berkisah tentang lamaran, tahta, percintaan, dan lainnya. Lakon cerita yang paling sering beliau pentaskan adalah Pusaka Kiyai Sodo Lanang. 

Mbah Marsono bergeser menghadap wayang-wayang yang memang tertancap di batang pisang, serta siap dipentaskan. Berbagai tokoh pewayangan berdiri gagah, panggung kecil dengan dua papan penyanggah serta kain putih bergasis merah di tiap ujungnya sedikit goyang. 

Mbah Marsono mulai mementaskan cerita pewayangan. Tanpa iringan gamelan, Mbah Marsono mulai pentas. Lisan beliau dengan lancar bercerita menggunakan Bahasa jawa. Diiringi musik geprek kemerincing yang terkait di salah satu kaki. Sementara di tangan beliau, Jempolo/Cempala terbuat dari kayu diapit jari-jari. Ketika digerakkan berbunyi keprak, kepyak. 

Suasana menjadi hening, aku dan teman-teman tertegun. Mbah Marsono dengan lincah mengambil, menukar tokoh wayang, dan berdialog dengan suara yang berbeda. Pemandangan yang spesial. Aku menyaksikan pertunjukan langsung dari sang maestro pencipta wayang lidi di rumahnya. 

Cerita wayang yang aku saksikan sekarang adalah Lakon Kiyai Sodo Lanang. Diceritakan Kiyai Sodo Lanang mempunyai ilmu gaib, memiliki pusaka maha dahsyat. Pusaka tersebut jika dicambukkan pada samudra, air laut seketika surut. Jika dihantamkan pada gunung, gunung pun hancur. 

Benar ini hanya sebuah cerita khayakan. Namun cerita itu dibuat oleh seseorang yang berumur hampir 70 tahun. Cerita yang membuat tokoh pewayangan mempunyai kharsima saat kita menyaksikan secara langsung pementasannya. Lebih dari 15 menit, beliau mementaskan cerita tersebut. 

“Jika boleh tahu mbah. Berapa tarif sekali pentas?” 

“Sekali pentas tarifnya Rp 2.5 juta di wilayah Wonosari. Kalau di tempat lain (luar Wonosari) Rp 3.5 juta lebih. Tergantung jaraknya.” 
Satya Winnie Bersama mbah Marsono mengenal Wayang Sodo
Satya Winnie Bersama mbah Marsono mengenal Wayang Sodo

Mbah Marsono menjelaskan kalau di luar Wonosari lebih mahal karena biaya transportasinya lebih banyak. Durasi pementasan tidak lebih dari tiga jam. Biasanya pentas dimulai sejak pukul 21.00 WIB sampai 00.00 WIB. Kadang juga pentas dilakukan siang hari, tergantung permintaan. 

Di Gunungkidul, dalang seperti ini hanya ada dua. Mbah Marsono dengan Mbah Hendro (lebih muda). Mbah Hendro sendiri merupakan temannya Mbah Marsono. Satu anganan Mbah Marsono yang sampai sekarang belum terpenuhi. 

Beliau sedang berusaha untuk membuat iringan musik dari berbahan kelapa. Bisa jadi batang kepala atau tempurung kelapa, intinya semuanya dari bahan kelapa. Sebuah harapan yang hanya bisa saya iringi kata amin. 

“Lidi kalau dibiarkan saja nanti hanya menjadi sampah. Nyatanya kita bisa manfaatkan lidi tersebut menjadi seperti ini,” Kata Mbah Marsono seraya memegang wayang lidi ciptaannya. 

Aku tertegun mendengar ucapan beliau. Setiap barang yang menurut kita biasa, ketika ada ide menciptakan “sesuatu”. Nyatanya barang yang biasa itu menjadi sebuah karya yang luar biasa. Tak terasa waktu mulai sore, dan kami harus berpamitan dengan Mbah Marsono beserta keluarga. 

“Terima kasih mbah atas setiap karya Njengengan. Semoga tetap sehat, dan terus menciptakan wayang-wayang lainnya dari lidi.” 

*Bertemu dengan Maestro Wayang Sodo pada hari Minggu; 30 April 2017.

20 komentar:

  1. Luar biasa ya dedikasi beliau untuk melestarikan budaya wayang. Ide untuk memanfaatkan berbagai bahan yang ada untuk membuat wayangpun menurut saya menakjubkan. Keterbatasan ekonomi dan kecintaan akan sesuatu membuat orang memang bisa berkreasi untuk menciptakan hal baru yang unik, wayang lidi inilah contohnya. Siapa sangka sebelumnya bahwa wayang ternyata bisa dibuat dari lidi dan limbah pohon kelapa lainnya. Salut atas dedikasi mbak Marsono dan salam hormat untuk beliau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mbak Marsono membuat kita makin cinta dengan kreasi beliau yang terus mempertahankan kebudayaan Nusantara.

      Hapus
  2. Kalau foto-foto wayang yang ada di post ini berarti semuanya dari lidi ya, Mas? Penasaran juga bentuk wayang yang dari rumput seperti apa. Bahan rumput kan harusnya kurang tahan lama ya dibanding lidi atau wayang kulit, terus juga relatif lunak, gimana ngebentuknya biar jadi wayang ya.

    Kalau untuk wayang lidinya sendiri setelah jadi apakah dikasi pernis gitu apa dibiarin alami aja, Mas?

    Luar biasa sih beliau ini. Kalau baca dari tulisan ini kegambar banget kalau dia mencintai wayang dan mendedikasikan hidupnya untuk kesenian ini. Salut. Semoga Mbah Marsono berhasil mengkader banyak anak muda buat jadi penerus beliau kelak, biar keterampilan berharga gini ga hilang begitu saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, semuanya dari lidi. Nah, ini yang menjadi tantangan beliau, karena bahannya tidak bertahan lama, jadi harus benar-benar tekun membuatnya. Untuk wayang lidi, hanya seadanya, tanpa pernis. Semoga beliau tetap sehat dan mewariskan semua keahlian beliau untuk generasi muda.

      Hapus
  3. Luar biasa!
    Ini namanya dedikasi untuk sebuah sejarah dan budaya. Mudah-mudahan saja ada yang meneruskan apa yang beliau lakukan, jangan sampai diambil bangsa lain dulu baru kita ribut hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja, ini menjadi doa kita bersama agar tetap terjaga dan diwarisi oleh Nusantara.

      Hapus
  4. Wow kl mudik ke gunkid pengin mampir ke tempat mbah Marsono ah. Keren bgt wayang2 dr lidinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah, kamu jadi warga Banjarnegara yang baik saja. Kalau ke Gunungkidul nanti lupa arah pulang

      Hapus
  5. karya yang kreatif ... wayang dibuat dari sesuatu yang tidak lazim.
    Kalau satu set wayang kulit harganya mahal ... apakah satu set wayang sodo lebih ekonomis ..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang seperti itu kang, jadi biar nggak lupa dengan budaya asli :-)

      Hapus
  6. Wah apik. Bener-bener semua bagian tubuh tokohnya dari lidi ya. Kirain masih menggunakan kertas atau kulit walau sedikit.

    Aku pernah coba nonton wayang di youtube. Blas ngantuk dan nggak ngerti karena bahasanya haha. Tapi tetap penasaran pengen liat, mungkin versi ada dubbing/translate di monitor dan durasinya dipersingkat. Kayaknya seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Besok kudu lihat asli om, biar nanti lihat keseruan orang-orang lokal saat menyaksikan dengan semangat. Motret-motret beliau seru banget

      Hapus
  7. wah unik sekali ya, ini nih yang namanya kreatif sekaligus melestarikan budaya. harganya juga murah untuk 1 wayang. semoga semakin berkembang dan lestari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn, semoga tetap terlestarikan dengan baik.

      Hapus
  8. Keren banget nih, Mas Sitam. Nanggap wayang kulit kayaknya terlalu berat untuk masyarakat kebanyakan. Wayang lidi ini bisa jadi alternatif. Dan mungkin lama-lama wayang lidi juga punya pakemnya sendiri. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, Wayang Lidi menjadi opsi untuk orang-orang kampung.
      Kalau wayang kulit rasanya tidak semuanya mampu.

      Hapus
  9. luar biasa ya dedikasi mbah Marsono, semoga tetap lestari ya Wayang dari Lidi ini.

    kalau dulu pas kecil, pernah diajari bikin wayang dari batang daun singkong, tapi gak pernah bisa, heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahhhh, apakah pembuat wayang seperti itu masih ada? Sepertinya menarik kalau ikutan membuat

      Hapus
  10. Aku td berharap bisa melihat wayangnya dari foto jarak Deket mas. Mau liat kirinya itu dipilih seperti apa. Blm kebayang sih lidi yg gampang patah bisa dibentuk2 jadi wayang. Hebat ya si Mbah, ada aja idenya :).

    Aku sbnrnya blm prnh nonton wayang. Krn jujur masalah bahasa yg bikin aku ga terlalu tertarik. Pernah diajak mama nonton wayang di solo, tp pas tau bahasa Jawa, lgs mundur hahahaha. Kan ga seru juga kalo aku baru dpt terjemahannya dr suami pas wayang udh selesai :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kemarin pas ke sana aku lupa moto dari dekat, sehingga tidak terlihat detailnya. Nonton wayang kalau pas ramai seru loh mbak, meski sebagian orang tidak tahu artinya hahahahahah

      Hapus

Pages