Diajak Kawan Blogger Mengopi di Noble Coffee Jogja - Nasirullah Sitam

Diajak Kawan Blogger Mengopi di Noble Coffee Jogja

Share This
Mengopi di Noble Coffee Jogja
Mengopi di Noble Coffee Jogja

Semalam aku sudah mengunjungi kedai kopi Noble, kusesap Hot Americano sembari bersantai di ruang dalam. Awalnya aku ingin bekerja, hanya saja laptop yang kubawa habis dayanya dan aku sendiri lupa tak membawa charger. 

Di sini aku bersua dengan Mak Indah Juli. Rumah beliau tak jauh dari kedai. Kami sempatkan untuk berbincang terkait penulisan. Lebih khusus lagi terkait konten yang nantinya kita posting di blog masing-masing. 

“Nanti aku ke Noble Coffee lagi.” 

Lagi-lagi, belum lebih dari 24 jam, kami kembali bersua di Noble Coffe. Kali ini tak hanya berdua, Aqied juga menyempatkan gabung mengopi. Kukayuh pedal sepeda pukul 12.30 WIB, hari ini Jogja sangat terik, sehingga membuatku sedikit terengah-engah. 

Bangunan Noble Coffee minimalis. Kedai kopi yang berlokasi di Jalan Cendrawasih Condongcatur ini memang baru buka. Menurut informasi yang kudapatkan, bulan Juni mereka baru dibuka, itupun sebenarnya belum benar-benar resmi. 

Lokasi kedai kopi berada diapit petakan lahan perkebunan kecil. Seberang kedai kopi ada warung soto serta kedai kopi dengan konsep terbuka. Di depan pintu masuk tersedia tempat cuci tangan sebelum pengunjung memasuki ruangan. 

Halaman Kedai Noble Coffee Jogja cukup luas
Halaman Kedai Noble Coffee Jogja cukup luas

Dua pintu masuk harus dibuka, ini malah mengingatkanku saat aku masuk ke laboratorium kala sidak bersama orang kantor. Hawa sejuk menerpa kulit, kontras dengan hawa panas sepanjang perjalanan. Aku sesaat meneduh sembari mengumpulkan tenaga. 

Dua barista sedang berjaga. Alex dan Taruli, semalam aku juga sudah bersua dengan mereka. Sebelum memesan minuman, aku menyempatkan diri untuk mengambil konten vlog. Di bulan ini, aku sedikit demi sedikit merambah vlog kala mengopi. 

Kedai kopi mulai buka pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB. Rentang waktu yang lama ini biasanya pada waktu-waktu tertentu ramainya. Seperti kedai kopi yang lainnya, grafik pengunjung ramai rata-rata selepas asyar. 

Siang ini hanya ada kami bertiga yang berkunjung. Hal ini membuatku leluasa mengambil konten foto ataupun video. Konsep minimalis kedai kopi Noble ini mengingatkanku dengan Aegis Coffee. Sekilas memang mirip, bisa jadi ini hanya perasaanku. 

Usai mengambil beberapa rekaman untuk vlog, aku menuju meja barista. Kulirik daftar menu minuman yang tersedia. Semalam, aku sudah menyicip Hot Americano, kali ini ingin mencoba yang lainnya. Pilihanku jatuh pada Cappucino. 

Daftar menu dan harga di Noble Coffee Jogja
Daftar menu dan harga di Noble Coffee Jogja

Pada meja barista terdapat informasi minuman harganya 15.000 rupiah kala pagi hingga siang. Pada waktu normal, kisaran untuk espresso based antara 20.000 ke atas. Sedangkan minuman frappe, harganya 33.000 rupiah. 

Sistem pembayaran bisa menggunakan uang tunai ataupun kartu kredit. Pun tersedia kode batang yang bisa dijadikan sebagai opsi pembayaran. Ini memudahkan orang-orang yang suka bertransaksi menggunakan non tunai. 

Biasanya aku memilih minuman manual seduh, tapi memang hari ini sedang tidak ingin menyesapnya. Kulirik biji kopi untuk manual seduh, ada beberapa biji kopi, salah satunya biji kopi impor dari Ethiopia. 

Untuk minuman es kopi hanya disediakan dua menu, tidak banyak layaknya kedai-kedai kopi di sekitaran sini. Minuman yang menjadi andalannya dan paling banyak dipesan pengunjung adalah Strawberry Kofie Frappe. Aku belum pernah menyicipnya. 

Barista kedai kopi sedang sibuk
Barista kedai kopi sedang sibuk

Tak hanya minuman, di sini pun tersedia berbagai keik. Bermacam-macam keik yang disediakan, seingatku kisaran harga mulai dari 27.000 rupiah. Nantinya, sembari berjalan bakal ada menu makanan berat yang ditawarkan. 

Tatanan meja dan kursi di dalam sudah paten. Sisi kiri dan kanan pintu masuk terdapat meja agak tinggi, di sini biasanya para pengunjung menyesap kopi sambil melihat lalu-lalang orang berjalan. Meja ini asyik bagi orang yang sekadar mengopi tanpa bekerja. 

Deretan tujuh meja kecil selaras Bersama kursi panjang dilapisi busa melekat pada dinding. Meja ini difungsikan untuk pengunjung yang ingin bekerja sambil mengopi. Satu meja bisa digunakan dua orang. Jaraknya juga tak begitu berjauhan. 

Meja-meja di sini tidak bisa digeser. Penyanggahnya sudah dipatenkan, sehingga pengunjung tidak bisa leluasa menggeser meja untuk lebih dekat dengan kursi ataupun sebaliknya. Untuk sebagian orang, ini menjadi kurang ergonomis. 

Di ruangan terbuka, tempatnya jauh lebih luas. Berbagai kursi panjang tampak di salah satu sudut. Pun dengan petakan panggung kecil untuk kegiatan live music. Kursi-kursi tersusun rapi, tinggal nantinya digunakan sesuai pengunjung yang datang.

Ruangan tertutup nyaman untuk bekerja
Ruangan tertutup nyaman untuk bekerja

Dari ruangan terbuka di belakang, aku bisa mendengar suara burung saling bersahutan. Kedai kopi ini tak begitu jauh dari bangunan rumah wallet, sehingga suara burung wallet terdengar kencang. Tempat di luar ini asyik untuk berbincang sambil mengopi. 

Sewaktu aku datang, kedai kopi ini masih terus berbenah. Bagian dapur belum sepenuhnya jadi. Fasilitas seperti kamar mandi sudah tersedia. Ada dua kamar mandi dan wastafel di depannya. Mungkin di dekat dapur sekalian dibuatkan satu ruangan kecil untuk musola.

Menurutku, sebagian orang yang mengopi terkadang mempertimbangkan ruang untuk salat. Terlebih di sekitaran sini agak jauh dari musola. Setidaknya, dengan ada petakan kecil untuk salat, orang makin nyaman kala bersantai. Tempatnya bisa di dekat ruangan khusus staf. 

Aku terlalu asyik berbincang dengan baristanya di area terbuka. Topik berbincang pun sampai membahas sepeda. Ada keinginan dari pihak kedai kopi membuat tempat parkir khusus sepeda. Ini menjadi inovasi menarik, setidaknya menggaet pesepeda pagi yang suka mengopi. 

Halaman luas di depan pada dasarnya bisa dimanfaatkan. Di tahun ini banyak kedai kopi yang membuat konsep terbuka. Seingatku, di Bitterway Coffee ada kursi-kursi yang dikhususkan pengunjung di depan kedai, dekat parkir bersantai. Konsep ini bisa ditiru. 

Menyesap Cappucino sembari menulis artikel blog
Menyesap Cappucino sembari menulis artikel blog

Tuntas berkeliling kedai kopi dan memotret sudut-sudut tertentu, aku kembali duduk di meja ruangan dalam. aku bergelut dengan aktivitas membaca tulisan-tulisan kawan blogger dan memberi komentar yang relevan sebagai aktivitas blogwalking. 

Di sisi yang lain, Mak Indah serta Aqied juga larut dalam kesibukan masing-masing. Ruangan yang dilengkapi tiga mesin pendingin ini nyaman untuk bekerja. Seingatku, selain kami bertiga, sampai menjelang sore hanya ada dua pembeli lain yang membungkus minuman. 

Membuka kedai kopi kala masyarakat baru mulai persiapan adaptasi baru memang mempunyai tantangan tersendiri. Ini artinya Noble Coffee harus berinovasi dalam kurun waktu tiga bulan ke depan. Setelah itu, mereka nantinya bisa meraba-raba calon pelanggan potensialnya. 

Kusesap cappucino yang mulai dingin hingga tandas. Menjelang pukul 17.00 WIB, aku meminta undur pulang. Tiga jam lebih bersantai di Noble Coffee, harusnya bisa lebih lama, hanya saja aku belum menunaikan salat asyar. 

Noble Coffee bisa menjadi opsi kalian kala sedang ingin mencari kedai kopi yang buka pagi di sekitaran Condongcatur. Di sini juga menyediakan keik serta minuman beragam. Aku pastikan, di waktu mendatang pasti ke sini lagi. Tiba-tiba penasaran dengan Strawberry Kofie Frappe-nya. *Noble Coffee; 19 Juli 2020.

21 komentar:

  1. desain bangunannya dari depan terlihat minimalis, tapi mencolok warna putih dengan background ijo ijo kebon...

    pas nonton vlognya, itu parkirannya luas banget ya, heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, parkirannya benar-benar luas. Bisa dimanfaatkan untuk tempat duduk terbuka kalau ada kursi tambahan

      Hapus
  2. Bangunannya yang minimalis membuat tampilan dari Noble Coffee menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi banyak orang, terlebih jam operasional yang panjang cocok untuk dijadikan tempat nongki berlama-lama bersama kawan-kawan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk sementara pengunjung ramai di sore hari. Soalnya kalau pagi yang ke sini belum banyak

      Hapus
    2. enak ya di jogja pagi-pagi udah banyak kedai kopi yang buka, di Bekasi rata-rata dari jam 12 baru buka

      Hapus
  3. Aku juga kurang suka sama kursi yang gak bisa dipindah2in mas hahaha... Kurang fleksibel

    djangki | Avant Garde

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, ini memang menjadi permasalahan tersendiri bagi sebagian orang. Rasanya memang kurang leluasa

      Hapus
  4. Di situ cafe boleh buka ya mas? Di Jakarta mana ada yang berani minum di tempat. Ada razia dari Satpol PP. Kalau ketauan melanggar cafe-cafe gitu kena denda 100 jt (-__-'). Boleh pesen tapi take away. Gak boleh minum di tempat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh masa sih mas? Yg aku tau bukannya boleh, tapi meja2 nya hrs di ksh jarak. Jd ga bisa semua meja berisi. Ada meja2 yg disilangin, bukannya gitu ya?

      Hapus
    2. Apa sekarang masih seperti itu? Sepemahamanku tidak semuanya begitu, pada daerah-daerah tertentu yang ditutup. Kalau untuk sampai kena denda malah saya belum tahu

      Hapus
  5. Saking banyaknya kedai kopi yg pernah kamu ulas, aku jd kebingungan mau datangin yg mana :D. Pertengahan Agustus, insyaallah kalo jd aku mau ke Jogja soalny mas. Sbnrnya tujuan utama solo sih, tp memang mau nyempetin nginep sebentar di Jogja juga :D.

    Aku pengen nih ada 1 kedai kopi yg setidaknya aku coba :D. Tapi Noble ini menarik juga, menu strawberry frappenya bikin penasaran. Dan aku liat ada menu non coffee yaaa. Suamiku ga bisa ngopi soalnya :D.lgs pusing kepalanya :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, nanti cari yang dekat dengan hotel aja mbak. Biar aman dan nyaman.
      Pertengahan Agustus itu pas libur panjang ya hahahhhaa

      Hapus
  6. Serius nanya nih, Mas Sitam, jenengan sebagai pecinta kopi punya tips ga gimana menghindari begah/kembung kalau abis ngopi gitu? Biasanya dalam satu hari maksimal minum berapa cangkir kopi mas?

    Oiya, ini di foto tampak depannya si Kedai Noble ini atapnya keliatan datar. Aslinya itu emang dibikin dag beton gitu atau sebenernya ada atapnya yang miring ke belakang ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sendiri tidak punya aturan baku, mas. Setidaknya kalau saya membatasi maksimal 3 gelas minuman kopi dalam 24 jam. Tidak hanya kopi, intinya sekalin air mineral, saya kasih batas maksimal 3 gelas. Lebih banyak air hangat.

      Banguannya dag beton, sepertinya bakal dilanjut untuk atasnya. Tapi belum tahu juga mas

      Hapus
    2. Noted. Berarti tetap diimbangi air putih (terutama yang hangat) ya. Makasi banyak infonya, Mas. Soalnya beberapa kali pengen ngopi tapi perutnya ngelawan haha..

      Oo dag beton ya itu, siaap.

      Hapus
  7. Tampak depan mungil bgt tempatnya ya. Nah iya bener, ku juga lebih suka ke kopisyop yg ada musalanya walaupun hanya sepetak. Ehehe
    Yuhuy udah mrembet ke vlog nih, mo nonton ahhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini juga sudah dibuatkan musolanya. Masih dalam tahap pengerjaan

      Hapus
  8. Mantap ulasannya mas. Kapan kapan kalau bisa ke Yogya lagi, saya tinggal melipir ke blog ini untuk cari referensi tempat nongkrong yang pas di Yogya dan sekitarnya.

    Good luck menjadi vlogger mas, semoga banyak subscribers

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, biar ada inovasi. Hehehehehe, jadi asal ngevlog aja

      Hapus
  9. Kayaknya aku kepengen maen ke Jogja deh bulan2 besok. Hotelnya lagi murah semua sih hehehehe :D AKu belum pernah sih ngopi2 syantik selama berkunjung ke Kota Gudeg ini. Bawa bocah kira2 ngopinya enak ga hahaha.... Tempatnya mungil ya Noble Coffee tapi kelihatan nyaman.

    BalasHapus
  10. wah bareng mbak Indah ya?
    salam ya kalau ketemu lagi. sudah lama banget gak ketemu beliau, kalau gak salah terakhir ketemu tahun 2012 apa ya?

    BalasHapus

Pages