Menelusuri Jembatan Merah Hutan Mangrove Pasarbanggi Rembang - Nasirullah Sitam

Menelusuri Jembatan Merah Hutan Mangrove Pasarbanggi Rembang

Share This
Kincir angin ala-ala di Jembatan Merah Mangrove Pasarbanggi
Kincir angin ala-ala di Jembatan Merah Mangrove Pasarbanggi
Di sudut Alun - Alun Kota Rembang, aku menepi dan melihat arloji. Waktu masih cukup pagi untuk beraktivitas. Kubuka gawai dan melihat ulasan Jembatan Merah Mangrove Pasarbanggi, tertera destinasi populer di Rembang ini buka mulai pukul 06.00 WIB. 

Berlokasi di Dusun Sawah, Pasarbanggi, Rembang, hutan mangrove ini hanya berjalak sekitar 5 KM dari pusat kota. Aku memesan ojek daring, lalu melintasi jalan pantura kala pagi. Jalan pantura tak pernah sepi. Lalu-lalang kendaraan berbagai jenis selama 24 jam. 

Spanduk informasi keberadaan destinasi wisata jembatan merah hutan mangrove terpasang di pertigaan jalan. Motor menyusuri jalan lebih kecil, sisi kanan terdapat area parkir. Tak terlihat penjaga parkir, mungkin waktu masih relatif pagi. 

Aku diantarkan hingga depan gerbang mangrove. Imbauan mencuci tangan, menggunakan masker, serta menjaga jarak tersampaikan melalui spanduk di jalur menuju destinasi. Pun dengan tempat cuci tangan serta toilet di dekat gerbang masuk. 

Tiga orang bapak sedang mengangkat bilah bambu panjang. Aku sempat menanyakan apakah tempat ini sudah buka atau belum, beliau tidak tahu. Mungkin mereka adalah orang yang bekerja membangun mangrove ini, pikirku. Karena mereka membawa bambu-bambu panjang ke dalam mangrove. 
Gerbang Jembatan Merah Hutan Mangrove Pasarbanggi Rembang
Gerbang Jembatan Merah Hutan Mangrove Pasarbanggi Rembang
Pos penjaga kosong, aku bergegas masuk. Tidak ada pemungutan tiket kala pagi. Kumasukkan satu lembar uang dalam kotak donasi yang tergembok. Lalu kususuri papan-papan kayu yang menjadi peniti hingga ujung mangrove. 

Entah dari mana penyematan ‘jembatan merah’ pada hutan mangrove Pasarbanggi berasal. Jika aku lihat di lokasi, mungkin nama tersebut diambil dari warna papan-papan jembatan yang awalnya berwarna merah, hingga kini mulai sedikit pudar. 

Papan jembatan ini berbahan baku kayu bengkirai, membuatku teringat papan Hutan Mangrove Karimunjawa yang papannya juga kombinasi kayu ulin dan bengkirai. Di sini, sepertinya hanya kayu bengkirai, kalaupun ada selingan malah kayu biasa karena tujuannya menggantikan yang rusak. 

Pepohonan bakau sangat rimbun, sehingga tumbuhan ini menjadi peneduh selama perjalanan. Tidak jauh dari pintu masuk, disediakan tempat duduk panjang dari potongan bambu serta tong sampah. Harapannya sampah-sampah plastik yang dibawa nantinya tidak dibuang sembarangan. 

Jalur jembatan hanya satu yang utaman, ada juga tambahan jalur lain yang membelok ke sisi kiri. Sepertinya jalur ini mentok, aku mengikuti jalur utama hingga sampai ujung. Sekilas, hutan mangrove ini tidak menyediakan jalur memutar. Hanya satu jembatan saja. 
Pohon Bakau rimbun di Mangrove Rembang
Pohon Bakau rimbun di Mangrove Rembang
Di ujung sana tampak sinar cahaya terang. Ini menandakan bagian ujung tak lagi rimbun seperti di jembatan awal. Aku terus mempercepat ritme jalan kaki. Hingga akhirnya melihat sisi luar mangrove Rembang. Pemandangan hijau mangrove yang masih belum tinggi. 

Gazebo-gazebo tersebar di sudut jembatan. Bangunan inilah yang menarik kunjungan wisatawan berdatangan ke mangrove Pasarbanggi, Rembang. Suasana tenang berpadu dengan sepoinya angin laut. Udara bersih, kontras dengan polusi di jalur pantura. 

Beruntung aku berkunjung pagi hari, setidaknya destinasi ini masih cukup lengang. Ada satu pengunjung yang membawa sepedanya masuk, dia bersantai di salah satu gazebo sambil bermainan gawai. 

Sementara itu, bapak yang sedari tadi mondar-mandir menaiki sepeda dan membawa bambu panjang kembali melintas. Bambu-bambu tersebut tertumpuk di ujung jembatan. Sepertinya sedang ada pengerjaan di sana. 

Bentangan hijau mangrove menjadi pemandangan yang indah. Bakau-bakau kecil sedang lebat daunnya, di ujung tempat masuk mangrove, bakaunya sudah menjulang tinggi. Di sini, air laut terlihat sedang surut. Biota laut terjaga karena adanya bakau yang tak rusak. 
Gazebo-gazebo di Jembatan Merah Hutan Mangrove Pasarbanggi Rembang
Gazebo-gazebo di Jembatan Merah Hutan Mangrove Pasarbanggi Rembang
Selain titian kayu jembatan dan gazebo, pengelola destinasi wisata jembatan merah hutan mangrove ini juga menambahkan bangunan kincir angin berwarna mencolok. Warna hijau dan merah menjadi pilihan untuk baling-balingnya. 

Kala angin kencang, baling-baling tersebut berputar, menimbulkan suara seperti mendesus. Irama ini berkombinasi dengan suara angin laut yang ritmenya berubah-ubah. Di ujung jembatan tersedia spot untuk berfoto dengan latar belakang mangrove serta sepasang kincir angin. 

Aku suka pemandangan di sini. Tak banyak replika foto ala-ala yang tersebar. Setidaknya, bagi orang yang ingin menikmati alam, bisa menepi di sini. Adanya dua kincir pun tak membuat sampah visual, berbeda dengan spot foto ala-ala yang kadang malah menutupi indahnya alam secara langsung. 

Semesta berpihak padaku. Cuaca hari ini sangat cerah, gumpalan awan berbentuk sisik ikan tersebar dengan sedikit memanjang. Embusan angin laut terasa di kulit, pun nyanyian alam berpadu dengan suara kincil. Aku menikmati waktu pagi sembari melepas lelah. 
Kincir tradisional warna-warni di Mangrove Rembang
Kincir tradisional warna-warni di Mangrove Rembang

Dari Pencegah Abrasi, Menjadi Destinasi Wisata Andalan Rembang 

Mataku tertuju pada deretan kapal tak jauh dari ujung jembatan mangrove. Kapal dan perahu tertambat jangkar. Jauh di sana, daratan pasir membentuk gosong. Lalu di ujung daratan seperti deretan pohon cemara laut. 

Suara mesin perahu memecah kesunyian, perahu tersebut mendekat, lalu berbelok mengikuti kedalaman air agar tak kandas. Kulihat dari gawai, sepertinya deretan kapal dan perahu tersebut berdekatan dengan TPI Pasar Banggi. 

Roda-roda ekonomi menggeliat di sana, segala hasil tangkapan nelayan ditambung, lalntas didistribusikan. Pun dengan destinasi wisata mangrove Rembang, lambat laun tempat ini menjadi pemantik bergeraknya ekomoni warga setempat dengan berjualan di sekitar tempat wisata. 

Bilah bambu panjang yang sedari tadi kulihat diangkat bukan untuk merenovasi jembatan, tapi untuk yang lainnya. Di sini, aku bertemu dengan sekelompok bapak yang sedang persiapan untuk melakukan penanaman bibit. 

Bibit-bibit pohon yang ditanam sudah terkumpul di bawah jembatan, tingginya sekitar setengah meter. Akar-akar serabutnya kadang menerobos pot plastik. Meski masih pagi, beliau sudah sibuk memasukkan sebagian bibit tanaman ke atas perahu. 
Perahu nelayan di sekitaran pesisir pantai Mangrove Pasarbanggi Rembang
Perahu nelayan di sekitaran pesisir pantai Mangrove Pasarbanggi Rembang
Aku tidak ikut membantu, hanya berdiri sambil merekam aktivitas beliau. Di sini, kusempatkan untuk menggali informasi terkait Mangrove Pasarbanggi Rembang. Setidaknya, aku bisa sedikit tahu dari cerita-cerita beliau tentang mangrove di sini. 

Di lain kesempatan, aku juga bertemu dengan Pak Ngatijan. Beliau yang bertugas menjaga mangrove ini sedari awal buka. Dari beliau juga kudapatkan informasi tambahan terkait sejarah adanya mangrove Pasarbanggi. 

Konon, jauh sebelum adanya tumbuhan bakau di sini, pantai sekitar Pasarbanggi abrasi. Bahkan tingkat kerusakannya sangat parah. Kikisan-kikisan ombak laut menyisakan lubang yang bisa merangsek hingga jalan raya. 

Tak tahu secara pasti siapa yang memulai penanaman mangrove di sini. Pepohonan bakau yang kulintasi tadi sudah berumur tua, hal ini bisa dilihat dari rantingnya yang tinggi dan melengkung menjadi atap sepanjang jembatan. Berbeda dengan bagian ujung yang mengarah ke pantai. 

Tahun 1970an, mangrove ini sudah ada. Pada awalnya, tumbuhan mangrove tersebut berfungsi sebagai pencegah abrasi. Di waktu bersamaan, biota laut pun makin berkembang dengan masif. Di waktu-waktu tertentu, warga setempat dapat mencari kepiting dengan cara menyuluh pada malam hari, atau memang mencari ketam besar saat pagi hingga sore. 
Bapak-bapak sedang mengangkut bibit pohon untuk penanaman di Mangrove Pasarbanggi
Bapak-bapak sedang mengangkut bibit pohon untuk penanaman di Mangrove Pasarbanggi
Geliat pariwisata di Indonesia gaungnya hingga Rembang. Konsep wisata hutan mangrove sudah di Jawa Tengah mulai melejit. Karimunjawa dan Brebes sebagai contohnya, pun dengan mangrove kecil di Maerakaca Semarang

Sekitar tahun 2014, mangrove ini dikonsep untuk menggaet wisatawan. Pembangunan secara bertahap dilakukan. Berbagai mahasiswa dari kampus pun ikut berpartisipasi dengan melakukan penelitian ekosistem dan sebagainya. Kini, mangrove Pasarbanggi menjadi salah satu destinasi populer di Rembang. 

“Satu! Dua! Tiga!” 

Perahu tak bergeser, sepertinya muatan bibit terlalu banyak, serta air laut sedang surut. Bapak-bapak di sini memutar otak agar perahu dapat didorong sampai ke petakan mangrove yang sedang ditanam. Digoyang-goyangkan perahu, sedikit demi sedikit dapat berjalan. 

Kedalaman air setinggi lutut orang dewasa, arah perahu pun tak bisa lurus ke tujuan. Salah satu bapak mencari jalan agar perahu tak kandas. Beliau membelokkan perahu menuju laut, lalu membalikkan arahannya ke tujuan. 
Perahu nelayan kandas saat membawa bibit pohon mangrove
Perahu nelayan kandas saat membawa bibit pohon mangrove
Dari perbincangan selama bapak-bapak menaikkan muatan bibit ke perahu, serta pertemuan dengan pak Ngatijan di dekat pintu masuk, aku mendapatkan informasi tentang mangrove Pasarbanggi, menyenangkan dapat berinteraksi dengan mereka. 

Pandanganku menyapu segala penjuru, lalu berhenti pada petakan mangrove yang masih kecil. Sepertinya penanaman mangrove ini menjadi ageda rutin, setidaknya terlihat petakan hijau mangrove yang rapi dengan ukuran tinggi seragam. 

Pancang-pancang kecil dari bambu tertancap merata, nantinya pancang tersebut menjadi tempat penyanggah bibit yang sudah ditanam. Bibit yang ditanam nantinya diikat bersama pancang dengan tali rafia agar tidak hanyut kena ombak laut. 

Jika bilahan bambu kecil untuk pancang yang diikatkan ke bibit tanaman. Bambu-bambu panjang sendiri ditancapkan pada bagian batas terluar area penanaman. Nantinya, bambu-bambu tersebut diberi waring (semacam kelambu). 
Pancang-pancang kecil pengikat bibit mangrove
Pancang-pancang kecil pengikat bibit mangrove
Tujuan waring tersebut untuk menyaring sampah-sampah plastik agar tidak menuju mangrove, sekaligus sedikit menahan gelombang agar bibit yang ditanam tetap bisa tumbuh dengan baik. Terjawab sudah pertanyaanku terkait aktivitas bapak-bapak yang mengangkat bambu sedari tadi. 

Usai sudah aku berinteraksi dengan bapak-bapak di sini. Aku meminta izin untuk kembali ke pusat kota. Mangrove Rembang memang menarik dikunjungi. Beruntunya, aku ke sini bertemu dengan bapak-bapak yang sedang melakukan penamanan. 

Di destinasi wisata jembatan merah hutan mangrove Pasarbanggi belum ada tiket khusus pengunjung. Pemasukan mereka murni dari tarif parkir kendaraan serta kotak donasi. Mungkin pihak terkait bisa membuat kertas karcis, sehingga pemasukan bisa bertambah. 

Tatkala keluar dari mangrove, berbincang dengan Pak Ngatijan, beliau berujar jika masih ada oknum yang membuang sampah sembarangan. Harapannya ke depan, pengunjung bisa membuang sampah pada tempatnya. 
Berkunjung ke mangrove saat pagi hari
Berkunjung ke mangrove saat pagi hari
Kuturuti jalur keluar, di pintu masuk mulai ada ibu-ibu yang menjaga gerbang masuk hutan mangrove. Tiap akhir pekan, beliau menjaga pintu gerbang mulai pukul 09.30. WIB. Di hari-hari biasa, tak ada yang menjaga. Wisatawan cukup memasukkan uang ke kotak donasi semampunya. 

Rembang cukup terik, aku berjalan menuju jalan raya. Kucoba mengakses ojek daring, tapi tak ada yang menjangkau. Aku rehat di tepi jalan, lantas melihat ada bus kecil mendekat. Aku naik bus menuju pusat kota Rembang. *Mangrove Rembang; 12 September 2020.

16 komentar:

  1. Di JKT ada wisata mangrove juga, yg daerah PIK, tapi sampe skr belum pernah aku datangin :p. Padahal kata temen2 bagus. Cm karena aku ngebayangin panas ngengat nya mas, makanya blm kesana2.

    Eh itu kincir angin nya, berarti hanya utk hiasan aja yaaa, walopun bisa berputar? Bukan utk menggerakkan sesuatu kan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seingatku ada kawan yang pernah gowes ke mangrove di PIK tersebut, mbak. Iya mbak, hanya untuk hiasan saja memutar, tidak untuk menggerakkan sesuatu, karena ini bahannya juga dari papan biasa yang dibalur cat.

      Hapus
  2. dahulu hutan mangrove hanya dibiarkan begitu saja, sekarang sepertinya hampir semua hutan mangrove dikembangkan jadi tempat wisata, lumayan bisa menggerakkan ekonomi warga sekitar, selain untuk mencegah abrasi

    semoga sih tetap terawat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, dulu hanya sebagai pemanfaatan abrasi dan biota laut. Sekarang fungsi pemanfaatannya bertambah dengan maraknya pariwisata,

      Hapus
  3. Kalimat pada paragraf pembuka yg sangat menarik. Deskripsinya begitu jelas, hingga saya dapat membayangkan gimana keadaan sebenarnya, mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas sudah membaca, semoga bisa berkunjung di mangrove Rembang.

      Hapus
  4. tempatnya memang keren ini sih .... bagus juga untuk spot foto foto
    asyiknya memang pagi main kesini ... kalau siangan dan sudah banyak orang jadi kurang asyik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kang, enak datang ke sini pas pagi hehehehe. Jadi bisa asyik dan agak berlama-lama bersantai.

      Hapus
  5. Aih, Mas SItam ini keren. Jalan2 ke hutan magrove aja sepedaan hihihi :) AKu belum pernah main lihat2 mangrove gini. Padahal di PIK ada, teman2ku udah pada ke sana aku belum. Yang di Rembang hutan dan pemandangan airnya bagus banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang pas ke sini gak sepedaan mbak, hanya ada beberapa orang sepedaa ahahahhaah.
      Pemandangannya memang menyenangkan

      Hapus
    2. Kalau ada penginapan di hitan mangrove ini kayaknya keren ya. Nikmatin alam rembang, makanannya dll. Kalo lihat akar mangrove itu gede2 serem ya wkwkwk. Itu loh yang di PIK ternyata ada villa di dalamnya. AKu pernah baca...tapi agak ngerinya ga ada saluran telepon ke kantor marketingnya jd kudu jalan kaki ke depan kalau ada apa2 wkwkwkw.

      Hapus
    3. Tetap aja agak gimana rasanya, karena tempat seperti ini identik dengan nyamuk hahahaha

      Hapus
  6. Salut sama orang-orang di sekitar hutan mangrove itu. Programnya bisa jalan terus meskipun sudah dari tahun 70-an.

    Btw, kalau ke hutan mangrove, ada satu benda yang selalu saya persiapkan, Mas. Losion nyamuk. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, kalau menjelang sore, Nyamuk biasanya lebih banyak. Cara mengatasinya pakai losion hahahhaha

      Hapus
  7. Cakep juga pemandangannya Mas, apalagi cuacanya cerah gitu, jadi makin cakep.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, kalau pas cerah asyik dan cakep. Kalau sore, tempat seperti ini identik dengan nyamuk

      Hapus

Pages