Kala Jembatan Suropanggah Menjadi Spot Foto Pesepeda Jogja - Nasirullah Sitam

Kala Jembatan Suropanggah Menjadi Spot Foto Pesepeda Jogja

Share This
Jembatan Suropanggah di Dusun Turgo
Nama jembatan Suropanggah mulai melejit di kalangan pesepeda. Berbagai unggahan warganet di media sosial memamerkan foto bersepeda di jembatan kecil yang bertuliskan dusun Turgo, Jembatan Suropanggah 22 November 2011. 

Lokasi jembatan ini berada di Kawasan Rawan Bencana karena dekat dengan puncak Merapi. Beberapa puluh meter sebelum sampai destinasi ini, di sisi kanan ada bangunan kecil yang menjulang agak tinggi. Ini adalah pos pantau gunung Merapi. 

Kayuhan pedal sepeda masih konsisten. Melintasi UII, kami terus mengayuh ke arah utara. Seharusnya Warung Ijo Pakem sudah dekat, hanya saja Ardian belok kiri. Ini adalah jalan Degolan. Katanya, dari sini rutenya lebih datar. Hanya saja agak memutar. 

Di tepian jalan, kami berhenti. Tempat ini tidak asing bagi pesepeda. Spot yang berupa kebun cabai milik warga tampak ikonik berlatarkan gunung Merapi. Dome-dome plastik transparan yang difungsikan sebagai penutup tanaman menjadi menarik. 
Perkebunan warga berlatarkan gunung Merapi
Perkebunan warga berlatarkan gunung Merapi
Dome tersebut membentang luas, sehingga tampak indah diabadikan. Dari kejauhan, gunung Merapi megah. Tadi pagi sempat erupsi, bekasnya putih. Kontras dengan warna dominan kebiruan. Jalur aliran erupsi tampak jelas. 

Kawan yang lain sudah menunggu di warung Ijo Pakem. Sesampai di warung Ijo, aku menyapa. Lantas menikmati teh hangat beserta kudapan. Kuambil pisang rebus sebagai pengganjal perut. Sabtu pagi, warung Ijo cukup ramai. 

Kuatur ritme nafas, masih ada waktu untuk melepas lelah. Aku bersua dengan kawan-kawan federal. Kawan pesepeda yang dulu sering kumpul bareng di Bunderan UGM maupun di salah satu angkringan Jalan Margo Utomo. 

Warung Ijo menjadi lokasi transit. Nantinya kami melanjutkan perjalanan ke Jembatan Suropanggah. Sebelumnya, mas Radit sudah tahu lokasi. Dia turut bergabung diblusukan ini. Pun dengan Andar yang beberapa kemarin lusa sudah survei lokasi. 

“Tanjakannya tidak ada yang curam, hanya saja panjang,” Begitulah informasi dari Andar beberapa hari yang lalu saat kubilang ingin menaiki sepeda lipat. 
Bersepeda ke Dusun Turgo
Bersepeda ke Dusun Turgo
Mendengar informasi tersebut, aku menangguhkan naik sepeda lipat. Sepeda yang belum aku upgrade takutnya malah membuat tenagaku jauh lebih capek. Untuk sementara waktu, sepeda lipat kugunakan di jalur yang datar. 

Gunung Merapi terlihat gagah. Sepanjang perjalanan, aku menikmati pemandangannya. Jalur beragam, mulai dari jalan raya halus, melintasi jalan kampung, hingga rute cor yang di setiap sisi bentangan kebun warga. 

Petakan kebun cabai mencolok. Tanah di sekitaran gunung Merapi terkenal subur. Ini pula yang menjadikan masyarakat bercocok tanam. Generasi yang mulai tergerus oleh zaman. Tidak banyak anak muda yang melirik sektor pertanian di daerah yang begitu subur. 

Secara bergantian aku dan mas Radit berada di belakang. Rombongan ini berlima. Aku, Ardian, Yugo, Andar, dan Mas Radit. Tiga kawan ini yang pekan lalu bersepeda ke Puncak Sosok. Sementara Mas Radit baru bergabung. 

Rombonganku saling bersalipan dengan sepasang pesepeda. Suami istri ini berasal dari Klaten. Mereka juga ingin bersepeda ke Jembatan Suropanggah. Tanjakan tak ada habisnya, memang tidak tajam, tapi menguras tenaga. 

Menuju Jembatan Suropanggah, kita harus bisa mengatur tenaga dengan baik. Ritme kayuhan sepeda harus konsisten, hemat tenaga, sehingga tidak kehabisan di tengah jalan. Ketika dirasa capek, istirahat secukupnya dan lanjutkan perjalanan. 
Gunung Merapi sedang erupsi
Gunung Merapi sedang erupsi
Kedua gir sudah mentok, sisi kanan dan kiri menunjuk angka satu. Kayuhan memang ringan, tapi harus tetap dijaga ritmenya agar konsiten. Aku terus menguntit Ardian, sesekali kami berhenti, berbincang, lalu kembali mengayuh pedal. 

Mendekati perempatan, jika tidak salah di dusun Ngepring, Purwobinangun, warga memenuhi jalanan. Mereka menatap puncak gunung Merapi. Pagi ini, gunung Merapi sedang ada hajat. Mengeluarkan lahar, alirannya di tempat yang sama, gumpalan asap membumbung ke arah barat. 

Empat atau lima motor yang dinaiki bapak-bapak mengenakan kaus SAR bergegas naik. Rombongan kami berhenti di tepian warung. Aku membeli minuman dingin dan roti. Kembali kami istirahat sembari menunggu arahan dari warga untuk melanjutkan perjalanan atau balik turun. 

Tak kuwajibkan sampai lokasi, terlebih Merapi sedang erupsi. Setengah jam kami duduk santai, informasi dari warga setempat memperbolehkan perjalanan dilanjut. Kami kembali menyusuri jalur menanjak sepenuh hati. 

Selain para pecinta tanjakan, di sekitaran sini sebenarnya tempat favorit para pecinta downhill. Jika tidak salah, di kawasan ini ada Bambooland Indonesia. Trek downhill yang menguji adrenalin para pesepeda dengan minat khusus. 
Gapura Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman
Gapura Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman
“Sebentar lagi gapura!!” 

Tiga sepeda motor yang dikendarai anak SD atau SMP melaju turun. Mereka menginformasikan padaku jika di depan sudah dekat dengan gapura dusun Turgo. Dusun yang menjadi tujuanku bersepeda, lokasi yang sebentar lagi dekat dengan destinasi tujuan. 

Lalu-lalang kendaraan bermesin silih berganti. Pepohonan nangka, ataupun ladang berganti dengan rumah-rumah warga. Aku sumringah saat Andar bilang belokan di depan adalah tujuan. Tinggal 200 meter lagi sampai tujuan. 

Tanjakan memang tidak tajam, tapi tenaga sudah terkuras. Tumpukan batang kayu tertata di tepian jalan. Sepeda kubelokkan kanan, jalanan sedikit menurun. Di ujung sana ada bangunan menjulang tinggi. Mobil hitam sedang terparkir di bawahnya. 

“Weeh Sitam. Ngapain kamu di sini!?” 

Sontak kutekan tuas rem, aku berbalik arah. Tanpa sengaja aku bertemu dengan Mas Cholik, salah satu punggawa Bike to Work Jogja sekaligus petugas yang berjaga memantau aktivitas gunung Merapi. Nyatanya bangunan ini adalah pos pemantauan gunung Merapi. 

Kami berbincang di pinggiran jalan. Kawan-kawanku mendahului menuju jembatan. Di saat hampir bersamaan, sepasang suami istri dari Klaten pun sampai. Silih berganti kami mengabadikan diri. 
Jembatan Suropanggah di Dusun Turgo menjadi tujuan para pesepeda
Jembatan Suropanggah di Dusun Turgo menjadi tujuan para pesepeda
Jembatan Suropanggah tidaklah panjang. Di ujung jembatan jalanan menanjak, di atas sana ada kedai kopi Turgo namun sedang tutup. Semacam tugu kembar di kedua. Dari tulisan yang tertera jembatan ini diresmikan oleh Hamengkubuwono X pada tahun 2011. 

Bagian puncak tugu dua patung berbeda. Tidak kuketahui sosok patung di atas, satu sisi seperti tokoh pewayangan Hanoman, satu lagi mirip Semar. Secara pasti aku tidak tahu kedua patung tersebut, ini hanya mirip sosok yang kusebutkan tadi. 

Ada yang percaya tempat ini sedikit agak mistis, tapi aku tidak membahas tentang hal-hal sakral ataupun berkaitan dengannya. Aku malah tertarik dengan bangunan dari bambu yang ada di sini. Dua orang warga sedang sibuk bekerja. 

Di belakang salah satu bangunan sudah ada toilet umum. Dalam benakku, jika di sini ada warung kopi kecil seperti di Puncak Sosok atau destinasi tujuan sepeda yang lainnya. Pasti bakal menarik, bisa jadi pokdarwis setempat yang mengelola. 
Gazebo kecil sedang dibangun di sekitaran Jembatan Suropanggah
Gazebo kecil sedang dibangun di sekitaran Jembatan Suropanggah
Aku bersama kawan-kawan tak mau ketinggalan mengabadikan sepeda tepat di tulisan jembatan. Satu tujuan tercapai dengan melintasi tanjakan yang tidak ada habisnya. Tidak curam, tapi tiada bonus jalanan datar panjang. 

Puas berfoto serta istirahat, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kali ini tujuan kami adalah warung yang tidak jauh dari lokasi jembatan. Sewaktu lewat, sudah ada beberapa sepeda terparkir dan sarapan di warung tersebut. 

Warung Mbayung, itulah yang tertulis pada spanduk panjang berwarna hijau. Sudah ada tiga mobil beserta sepeda-sepeda downhill yang terparkir. Sepertinya para pecinta downhill menjadikan tempat ini sebagai tujuan selepas memacu adrenalin. 

Menu yang disediakan seperti lodeh maupun sayur bening. Tidak ada menu spesial. Aku melibas ikan nila dengan sayur lodeh. Sayuran seperti ini jarang ditemukan jika kita berada di tengah kota. Sementara kawan malah ada yang memesan mie rebus. 
Warung Mbayung, tempat para pesepeda makan siang
Warung Mbayung, tempat para pesepeda makan siang
Perut sudah kenyang, tenaga mulai berangsur pulih, waktunya pulang. Jalur kali ini menyenangkan. Hanya ada turunan panjang. Justru jalur seperti ini kita harus lebih waspada dalam mengendalikan kecepatan sepeda. 

Nyatanya, kami masih melanjutkan blusukan. Andar memilih jalur melintasi Jembatan Gantung Kaliboyong. Di sini aku menghentikan sepeda dan mengabadikan di tengah jembatan. Lepas itu, tanjakan curam menyambut. 

Berhubung ini adalah tanjakan curam terakhir, aku iseng menaiki sepeda hingga jalan datar. Sementara keempat kawan asyik menuntun sepeda. Kalau bisa menuntun, mengapa mempersulit diri dengan menaiki sepeda, itulah candaan kawan-kawan. 

Jalur yang kami lintasi juga melewati Museum Gunung Merapi, hanya saja kami tidak berhenti. Mengikuti jalanan agak kecil, berbagi jalan dengan jeep-jeep wisatawan, jalan ini tembus sampai jalan Kaliurang. Waktunya pulang. 
Melintasi Jembatan Gantung Boyong
Melintasi Jembatan Gantung Boyong
Setengah hari perjalanan kali ini. Rute yang menyenangkan sekaligus menguras tenaga. Kami menuruni jalan raya. Satu persatu kawan berpisah, mulai dari Andar, Yugo, dan Mas Radit. Sementara aku dan Ardian berpisah di perempatan Mirota Kampus. 

Bagi kalian yang ingin bersepeda ke Jembatan Suropanggah, saranku hemat tenaga. Jangan sampai di tengah jalan kecapekan. Kalau bisa tidak sendirian ke sini bagi pemula. Atur ritme kayuhan dan nikmati setiap jalurnya. *Dusun Turgo; 09 Januari 2021.

24 komentar:

  1. Jadi kangen sepedaan saya Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisalah kalau di Bengkulu nanti sepedaan bang, buat konten ahhhhha

      Hapus
  2. Mantap!
    Asik banget ya bisa sepedaan dengan jalur yang nyaman seperti itu. Ada sawah di sampingnya, ada gunung di depan, udara segar. Jauh lebih nyaman daripada sepedaa di kota besar, di samping mobil dan motor dengan pemandangan gedung tinggi hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rute akhir pekan wajib hijau-hijau dengan diakhiri kuliner, daeng.
      Rute hari kerja sudah berbaur dengan kendaraan yang lainnya di jalanan.
      Beruntungnya di Jogja gedung tingga dibatasi heheheh

      Hapus
  3. Gila, jalurnya nanjak terus. Aku malah pengen sewa motor trus main ke sana. Aku lihat di foto jalanannya mulus yak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hheehhehe, sengaja pilih jalan mulus agar lebih nyaman. Mau blusukan, takut malah lebih jauh rutenya

      Hapus
  4. wah nyerah aku nek nanjak terus, meski enggak curam. heuheuheu

    btw pernah nonton youtuber me-review warung mbayung, tapi siapa lupa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin mas Yoga Pino atau Dhoni Adhika, atau pesepeda jogja lainnya hahahahha.
      Tanjakane asyik loh mas

      Hapus
  5. Wahhh menyenangkan sekali ya mas bersepedaan dari awal start dengan melihat banyak pemandangan dari view gunung merapi, sawah-sawahan, kebun cabai, sampe ketemu teman yang berjaga disana dan akhirnya pulang berpisah-pisah ketempat masing-masing. Diakhir cerita pun berbagi jalan track sepeda untuk bisa menuju kesana, keren mas sitam.. ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terapi setiap kerja selama lima hari ya bersepeda ini hehehehhe.
      Paling penting sih sebenarnya mencari konten blog

      Hapus
  6. Ini lama-lama konten mas sitam isinya sepedaan semua..wkwkwkkwk
    Mantaap mas, entah kenapa kalau blusukan pakai sepeda beri kesan tersendiri. Meskipun tempat itu sebelumnya pernah dikunjungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mumpung masih ramai bahas sepedaan, jadi banyak tulisan sepeda hahahhhaha

      Hapus
  7. Cakep benr mas Sitam..pepotoan persis di jembatan yang bertuliskan Jembatan Suropanggah :) Untung cekrek2 di situ. Kalo ga, mewek deh udah capek2 gowes hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaha, tujuan utama ke sini emang buat foto di jembatannya. Biar sah kalau kata pesepeda di sini

      Hapus
  8. Ohhh ini ngelewatin museum Merapi yaa mas:). Aku sih ga ngeh ttg jembatannya yaaa. Bisa jd ngelewatin pas kemarin tur Merapi , Krn aku juga lewat di museum. Dan sempet jalan2 ke atas sambil nunggu giliran naik Jeep.

    Ngebayangin sepedaan gini, aku lgs mikir sanggub ga yaaa :D. Udh terlalu lama ga naik sepeda. Dulu pas SMP liat2 aja. Apalagi komplek perumahanku berbukit2. Jd banyaaak tanjakan curamnya. Dan itu jd tempat kami main2 sambil naik sepeda. Tp itukan dulu. Kalo skr rasanya nyerah hahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, pulangnya kami melintasi depan museum. Jalurnya emang begini, enak sih kalau dari arah atas. Langsung banyak turunan hahhahaha

      Hapus
  9. waaaah seru banget sepedaan :D stay safe and stay healthy ya kaaaaaak

    BalasHapus
  10. meskipun nanjak terus ... tapi dapet spot foto populer kekinian ...
    zaman sekarang sih cepat banget suatu tempat popular, apalagi jika memang bagus atau unik seperti jembatan Suropanggah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kang, ini menjadi salah satu destinasi tujuan pesepeda di Jogja dan sekitarnya

      Hapus
  11. Mas, spek sepedanya apa ya? nuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pakai sepeda kesayangan Monarch 1, mas. Itupun skrg gak ada keluaran baru.
      Cuma grupset sudah saya upgrade semua. 8 Speed, RD pake Claris, FD Acera, Shifter Alivio, dan crank BB juga ganti hollotech 2 shimano. Pokoknya gado-gado banget mas, itu upgradenya tahun 2015

      Hapus
  12. Saya ikut keringetan baca catatan perjalanan ini, Mas Sitam. :D Pas di bagian turun, saya jadi ikut lega karena Mas Sitam dkk nggak perlu ngayuh lagi. Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhehe, pokoknya yakin aja.
      Pas turunan adalah berkah untuk lebih santai

      Hapus

Pages