Enam Jam di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia - Nasirullah Sitam

Enam Jam di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Share This
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Sayup-sayup suara pelantang Kereta Api Sembrani menginformasikan hendak berhenti di Stasiun Jatinegara. Kulirik arloji, sudah pukul 04.00 WIB. Artinya sebentar lagi kereta api sampai tujuan terakhir di Stasiun Gambir. Kantuk mulai hilang, aku mempersiapkan diri untuk berkemas.

Kereta Api berhenti tepat saat subuh. Kuikuti Langkah penumpang yang hendak turun. Kucari toilet, buang hajat sebentar, lantas menuju musola yang berada di area luar untuk menunaikan salat subuh. Waktu masih panjang, aku ada waktu untuk bersantai.

Tugu Monas berdiri kokoh tampak dari sudut Stasiun Gambir. Sebagian orang mengabadikan pemandangan tersebut. Aku sendiri duduk di area terbuka menghadap Monas. Sesekali tangan memukul nyamuk yang hinggap.

Jakarta mulai terang. Kesibukan ibukota terlihat jelas walau masih pagi. Berlalu-lalang para pekerja pagi sudah beraktivitas. Aku masih duduk di anak tangga batas suci musola Stasiun Gambir. Di depanku, deretan kursi disediakan untuk calon pengguna kereta api yang hendak swab antigen.
Menjelang subuh di sudut Stasiun Gambir
Menjelang subuh di sudut Stasiun Gambir
Pukul 06.15 WIB, kutinggalkan stasiun. Kuturuti trotoar yang mengarahkan ke Jalan Medan Merdeka Selatan. Dua kali menyeberangi jalan, lantas belok kanan. Deretan bangunan menjulang tinggi. Pada satu titik, kulihat orang mengantre masuk sebuah kantor. Sepertinya kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Sepanjang jalan, kusempatkan memotret pemandangan yang menarik perhatianku. Salah satunya sudah jelas jalur sepeda. Di ruas jalan ini, jalur sepeda berwarna hijau terlihat lurus dan mulus. Sesekali mobil berhenti pada jalur tersebut.

Pesepeda pagi sudah lumayan banyak, meski belum sepenuhnya melintas pada jalur yang digunakan. Sebelum sampai Perpusnas RI, aku duduk di tepian jalan menunggu pesepeda yang melintas di jalurnya untuk kuabadikan. Terbesit pikiran suatu saat ingin bersepeda di jalur ini.

Selesai memotret, aku berdiri tepat di depan tulisan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ini kali pertama aku bakal mengunjungi gedung menjulang tinggi tersebut. Sebelum ada undangan, sepertinya aku belum tentu menginjakkan kaki di sini.
Jalur sepeda di sekitaran Perpusnas RI
Jalur sepeda di sekitaran Perpusnas RI
Mbak Ajeng pun datang di waktu yang tepat. Pada akhirnya kami berjumpa, setelah beberapa waktu hanya berkomunikasi melalui WhatsApp. Kuikuti langkah Mbak Ajeng masuk ke gedung. Memindai kode batang sebelum masuk Perpusnas.

Gedung di depan penuh dengan berbagai koleksi. Aku hanya melihat sesaat, lantas menuju bangunan Perpusnas yang menjulang tinggi. Dua puluh empat lantai dan menjadi salah satu bangunan perpustakaan yang tertinggi.

Pintu kaca secara otomatis terbuka ketika menerima sensor. Kuputari area lantai satu. Rak buku menjulang tinggi, koleksi berbagai buku dan informasi tentang presiden Indonesia tertata rapi dalam rak. Tidak ketinggalan layar-layar monitor yang bisa dimanfaatkan.

Tepat di depan, sebuah informasi dan denah tentang fasilitas tiap lantai sudah tersaji. Perpustakaan Nasional RI rasanya seperti sebuah mal sebelum buka. Masih sepi, hanya berlalu-lalang mereka yang hendak bekerja di sini. Aku mengambil sedikit rekaman dan foto.
Memasuki Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Memasuki Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Kutuju lantai dua, tempat yang nantinya digunakan untuk diskusi terkait pustakawan. Ruangan yang digunakan cukup luas. Mengingatkanku pada ruangan bioskop. Kursi merah berjejer rapi dengan tambahan simbol silang untuk jaga jarak.

Jika tidak salah, di bagian bawah ini jumlah kursi sebanyak 150 buah. Ini tidak termasuk pada bagian atas yang digunakan tim operator. Tiga buah laptop, dua kamera, serta beberapa monitor sudah ditampilkan. Gladi pagi ini berjalan dengan lancar. Tim dari Perpusnas RI sigap untuk urusan siaran langsung.

Satu persatu narasumber datang, kami berbincang santai. Acara ini kolaborasi antara Perpusnas RI dengan ISIPII. Keduanya juga menggandeng Kominfo RI yang mempunyai visi sama. Sama-sama menjadikan media sosial sebagai sarana menyebarkan informasi positif.
Ruangan di lantai 2 Perpusnas untuk webinar daring
Ruangan di lantai 2 Perpusnas untuk webinar daring
Aku, Bu Klarensi Naibaho (Pustakawan UI), Ajeng Ayu (Pustakawan Telkom), secara daring ada Mbak Enie Ayu Saraswati (Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia), serta jejeran pimpinan Perpusnas yang tak bisa kusebutkan. Kami bersua, berbincang santai.

Petinggi Perpusnas pun datang memberi sambutan. Aku menahan rasa demam panggung. Ini adalah kali pertamanya aku menjadi narasumber dan duduk dengan orang-orang hebat. Jauh sebelumnya, Pak Farli ISIPII dan para sejawat di Perpusnas RI sudah memberi motivasi, tentu hal ini menjadi suntikan yang baik untukku.

Siaran langsung bincang pustakawan berjalan hampir tiga jam. Kulirik di aplikasi Zoom yang mengikuti konsisten pada angka 1.600 akun. Ini belum termasuk siaran langsung di Youtube. Aku percaya, tentu pesertanya jauh lebih banyak.

Perpusnas dan ISIPII berkolaborasi untuk memajukan pustakawan. Ada banyak potensi dari dalam diri pustakawan, hanya saja seperti senyap. Cenderung tak dicitrakan dengan jelas. Padahal, di masa seperti ini, pustakawan bisa berbuat jauh lebih besar perannya.
Berdiskusi tentang pustakwan dan media sosial
Berdiskusi tentang pustakwan dan media sosial
Acara yang dikemas seperti berbincang santai usai. Kami melanjutkan diskusi santai di ruangan kecil. Di sini, aku mendapatkan banyak ilmu dari sudut yang lebih luas tentang perpustakaan hingga pustakawannya. Ilmu yang mungkin belum sepenuhnya kudapatkan waktu kuliah.

Obrolan santai sampai di penghujung. Kami berpisah. Sebelumnya, kami menyempatkan foto bersama di lantai satu Perpusnas. Dari orang-orang yang ada difoto inilah aku mendapatkan banyak masukan tentang peran pustakawan, khususnya di masyarakat.

Sedari tadi, puluhan pesan masuk di gawaiku. Jauh sebelumnya, aku harus mengucapkan terima kasih kepada Bu Labibah (Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga), dosen sekaligus teman sejawat di dunia blogger. Dari beliaulah, akhirnya aku bisa di sini.

Pesan-pesan yang kudapatkan beragam. Terselip pesan dari adik kelas sewaktu kuliah yang sudah bekerja di Perpusnas untuk mengajak kopdar. Di lantai satu, kutunggu kawan tersebut. Dialah yang mengajakku keliling di sudut-sudut ruangan Perpustakaan Nasional.
Berfoto dengan kolega di Perpusnas RI dan ISIPII
Berfoto dengan kolega di Perpusnas RI dan ISIPII
Kami bersua di lantai satu Perpusnas. Berbincang sesaat sembari duduk di kursi luar ruangan. Lantas dia mengajakku berkeliling menemui sesama alumni jurusan IPI di UIN Sunan Kalijaga. Di Perpusnas jalan Medan Merdeka Selatan, ada tiga alumni IPI.

Dari lantai satu, kami langsung menuju lantai 22. Berhubung yang mengajak keliling merupakan pegawai Perpusnas, kami menggunakan lift khusus pegawai. Di lantai 22, kami berbincang santai mengenang waktu kuliah.

Berbincang santai sesaat di lantai 22, aku diajak keliling hingga lantai 24. Lantai 24 berisi tentang layanan budaya nusantara dan ruang tunggu. Pada dinding di lantai 24 ada berbagai informasi serta gambar terkait budaya Indonesia yang beragam.

Lantai 24 di Perpusnas ini semacam spot paling disukai pengunjung perpustakaan. Ketika seluruh keperluannya selesai, mereka asyik menikmati waktu di sini. Ada banyak kursi yang bisa digunakan untuk bekerja hingga menepi dari keramaian.
Lantai 24 tempat berbagai budaya Indonesia
Lantai 24 tempat berbagai budaya Indonesia
Jejeran kursi sudah didenah dengan baik. Pengunjung perpustakaan pun sudah memilh tempat duduk yang dirasa strategis. Sebagian besar lagi malah bersantai di luar. Pemandangan langsung ke Monas menjadi daya Tarik para pengunjung.

Sebelum ke Perpusnas RI, aku memang sudah berniat mengunjungi lantai 24 dan memotret Monas dari ketinggian. Siang ini lumayan berkabut polusi, sehingga pemandangan laut tak tampak. Hanya kabut putih.

Seperti yang sudah kuduga, spot ini pasti menjadi salah satu tujuan pengunjung perpustakaan. Siang ini lumayan banyak pengunjung yang menyempatkan waktu menikmati pemandangan pusat kota dari ketinggian. Mereka mengabadikan diri menggunakan gawai.
Memotret Monas dari Perpusnas RI
Memotret Monas dari Perpusnas RI
Angin lumayan kencang, kuambil kamera dan mengabadikan beberapa foto, lantas berbincang dengan kawan-kawan pustakawan lulusan IPI. Tiga kawan ini seperti kawan lama yang baru bertemu. Ada keterikatan karena kami satu jurusan dari kampus di Jogja.

Waktu istirahat siang sudah selesai, aku meminta izin pulang. Ketika kawan ini kembali bekerja. Mereka mengirimiku foto saat bersama dan meminta maaf tidak bisa menemani sampai sore. Kulangkahkan kaki meninggalkan Perpusnas RI. Satu hari yang menyenangkan bisa berkunjung di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. *Jakarta, 16 Desember 2021.

11 komentar:

  1. iyo ik, kursi abang abang mirip bioskop ya ruangane

    BalasHapus
  2. Udah lama mau ke sini belum kesampaian, padahal dekat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh, kadang yang deket itu malah sering kelupaan disamperin

      Hapus
  3. Dulu sering ke jakarta, tapi ga pernah sempet main ke sini. Padahal aksesnya cukup mudah dan di tengah kota.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga kalau gak ada undangan mungkin belum menginjakkan kaki di sini, mas

      Hapus
  4. Aku malu belum pernah ke sini, padahal udah belasan tahun di Jakarta 🤣. Jauh banget sih sebenernya ga, tapi memang hrs naik kendaraan kalo kesana.

    Mungkin nanti kalo tumpukan buku belum dibaca yg ada skr sudah selesai aku baca, aku bakal cari bacaan dari perpusnas ini mas 😊. Perpustakaan dari dulu selalu jadi tempatku buat pelarian. Betah sih berlama2 di dalam, apalagi kalo Nemu bacaan yg aku suka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, kadang orang ke sini karena penasaran dengan gedungnya loh, mbak :-)

      Hapus
  5. wah kerennn Mas Sitam jadi pembicara tingkat nasional ... salut mas
    saya anggota Perpustakaan Nasional ... tapi jarang banget datang kesana 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehheheh, pas tidak sengaja, kang.
      Seru juga ternyata dolan ke Perpusnas

      Hapus
  6. Nice post. Udah lama pengen ke sini, mau lihat di dalamnya bagaimana tapi belum kesampaian juga.

    BalasHapus

Pages