Bukit Giri Sembung dan Lansekap Alam Perbukitan Menoreh - Nasirullah Sitam

Bukit Giri Sembung dan Lansekap Alam Perbukitan Menoreh

Share This
Bukit Giri Sembung yang dijadikan tempat paralayang di Kulon Progo
Bukit Giri Sembung yang dijadikan tempat paralayang di Kulon Progo
Berawal dari unggahan kawan pesepeda di media sosial, aku menjadi tahu di Kulon Progo ada spot untuk paralayang. Namanya Bukit Giri Sembung. Salah satu puncak yang berada di perbukitan Menoreh. Bahkan, beberapa waktu yang lalu sudah ada gelaran Festival Paralayang-nya.

Secara singkat, aku tahu untuk menuju ke puncak Giri Sembung melewati tanjakan. Tapi entah kenapa rasa penasaranku jauh lebih besar. Aku mencari informasi di berbagai tulisan dan bertanya ke kawan terkait jalurnya.

Jalan menanjak curam, itu poin penting yang kuingat. Pagi ini segera kukayuh sepeda melintasi jalan ramai hingga sepeda melintasi persawahan. Aku berhenti di tepian jalan. Hamparan sawah menghijau sejuk di mata. Kutepikan sepeda dan mengabadikannya.

Tidak hanya aku, sebuah mobil plat luar Jogja pun berhenti. Mereka mengambil gawai, lantas memotret sekitar. Tak jauh dari tempatku berhenti, segerombolan anak kecil berjalan santai. Mereka kusapa dengan sedikit teriakan. Riang sekali raut wajahnya.

Rute di gawai mengarahkan jalanan setapak di tengah persawahan, di ujungnya aliran Selokan Mataram. Kulirik gawai, jarak dari sini hingga puncak 1.6 kilometer. Berarti destinasinya di perbukitan ini, batinku. Bergegas aku mengayuh lebih cepat.
Suasana pagi sejuk di sepanjang perjalanan
Suasana pagi sejuk di sepanjang perjalanan
Kurang dari 50 meter kukayuh pedal, seekor anjing melintas. Segera mungkin aku menepi agar tidak merasa mengganggu. Dua orang bapak kutanyai perihal “Giri Sembung”. Keduanya terdiam dan menggeleng kepala waktu kuinfokan rute dari sini cukup menyingkat waktu.

“Saranku lewat desa Boro, mas. Aku tidak yakin kalau mas lewat sini.”

Awalnya aku ingin tetap melintas dengan rute di gawai. Tapi kudengar informasi dari kedua bapak tersebut membuatku yakin jika rutenya masih samar. Lebih baik agak memutar tapi jalannya jelas dan nyaman. Dari obrolan pagi ini, salah satu bapak ternyata pernah kerja di Jepara selama 39 tahun. Beliau melirik kaus yang kukenakan bertuliskan The Reds Jepara.

Perjalanan berlanjut, aku mengikuti rute di gawai. Rute jauh lebih panjang, aku harus memutari perbukitan dari jalan Boro – Dekso. Lagi-lagi di jalanan acapkali bertemu dengan anjing. Jalan ini lumayan ramai dilintasi kendaraan roda dua. Aku belum bertemu pesepeda.

Sebuah mobil bak terbuka berhenti, rombongan ibu-bapak masyarakat setempat menaikkan batu yang tertumpuk di tepian jalan. Untuk memastikan jalur ini benar, kutanyakan perihal Bukit Giri Sembung. Beliau mengatakan jalanku sudah benar.

“Nanti sampai ketemu pertigaan, kalau naik arah ke Suroloyo, mas ambil yang turun,” Ucap salah satu orang sambil menasehatiku berhati-hati.

“Mau terbang, mas?” Timpali ibu yang satu.
Pertigaan arah ke Bukit Giri Sembung dan Suroloyo
Pertigaan arah ke Bukit Giri Sembung dan Suroloyo
Aku menerangkan jika keperluanku hanya untuk bersepeda. Dari pertanyaan ibu tersebut aku sadar jika destinasi Giri Sembung sudah dikenal oleh masyarakat setempat sebagai tempat untuk terbang (paralayang). Perjalanan kulanjutkan.

Tanjakan beragam mulai tampak. Hingga di satu titik, sebuah tanjakan panjang dan tajam. Dari berbagai informasi kudapatkan jika nama tanjakan yang kulewati adalah Tanjakan Tiban. Menikung dan panjang. Tentu menguras tenaga.

Laju sepeda pelan, aku mengatur nafas agar tidak tersengal-sengal. Dua tikungan tajam terlewati. Kulirik jalan depan masih menanjak. Tepat di dekat tikungan lainnya aku berhenti. Waktunya mengatur nafas dan mengisi perut dengan roti.

Sekitar 10 menit, aku melanjutkan perjalanan. Masih tikungan dengan tanjakan tak curam. Hingga akhirnya pertigaan yang menjadi patokanku tampak. Baliho besar bertuliskan Kopi Menoreh Pak Rohmat bersanding dengan plang Giri Sembung kecil.

Sekian lama penuh tanjakan, akhirnya aku melintasi turunan dengan jalan lebar dan mulus. Belum juga bernafas lega, sudah ada tanjakan di depan. Laju sepeda disetel santai. Penting bisa sampai atas dengan nyaman dan aman.
Area pintu masuk Bukit Giri Sembung dalam proses pembangunan
Area pintu masuk Bukit Giri Sembung dalam proses pembangunan
Sampai di atas, jalanan menyebar. Semacam perempatan kecil yang membuatku sedikit bingung. Untungnya plang tulisan Giri Sembung menjadi penanda. Aku mengikuti jalan cor di dekat Gereja Katolik Stati Gorolangu. Memasuki perkampungan yang sepi dengan jalur relatif datar.

Sudah tidak ada tanjakan tajam, rumah-rumah masyarakat setempat tersebar. Ini artinya ada tantangan baru. Berkali-kali kulihat anjing bersantai di pinggir jalan. Ada pula yang tiduran di tengah jalan. Beruntung tidak ada yang galak.

Sepertinya anjing di sini sudah akrab dengan orang asing. Hanya satu atau dua anjing yang menyalak dari kejauhan. Tidak sampai mengejar seperti yang kualami waktu bersepeda di Klaten. Di tengah perjalanan, aku bersua dengan anak kecil sedang naik sepeda.

Kami berbincang sambil mengayuh pedal sepeda. Ketika kusebut nama Giri Sembung, anak itu mengatakan masih jauh. Tepat di pertigaan, arah Giri Sembung naik dengan jalan bebatuan. Kembali lagi seekor anjing menyalak dan sempat mengikuti kakek yang berjalan.

Jalan dominan bebatuan, kuputuskan menuntun sepeda. Aku menemani kakek jalan kaki sambil berbincang-bincang. Mendekati rumah warga, aku meminta izin mengayuh sepeda. Jalan cor naik, lalu turunan tajam. Kembali ketemu pertigaan kecil yang di tengahnya ada pohon.

Di peta gawai, arahnya ke kanan. Sementara plang menunjukkan belok kiri. Aku mengikuti plang, dan sekitar 100 meter dari pertigaan tersebut terlihat gerbang yang sedang dibuat dari kayu bertuliskan Giri Sembung. Inilah destinasi yang hendak aku tuju.
Lahan di Giri Sembung tidak terlalu luas
Lahan di Giri Sembung tidak terlalu luas
Gerbang sederhana terbuat dari batang kayu, di tengahnya tulisan Giri Sembung. Destinasi ini berlokasi di Sumbersari, Banjarasri, Kalibawang. Sebuah reklame bertuliskan festival paralayang sudah berlangsung lebih dari sepekan yang lalu.

Belum ada banyak fasilitas yang dibuat. Bahkan pembangunannya saat ini masih berlangsung. Sebuah gubuk terbuka di dekat reklame bisa jadi dimanfaatkan sebagai tempat untuk menaruh konsumsi dan minuman. Pun dengan bangunan toilet di ujung sana.

Progress pembangunan di sini masih berjalan. Belum ada warung, dan masih sepi. Titik tempat terbang pun petakan tanah dengan lebar yang tak panjang. Sisi-sisi lainnya dibatasi pagar bambu. Tempat ini masih benar-benar harus dibangun untuk fasilitas penunjangnya.

Kucari informasi tentang kegiatan paralayang di Giri Sembung. Olahraga khusus ini memang pernah dilakukan dan berpotensi untuk dikembangkan. Setidaknya, menjadi pengalaman baru bagi pecinta paralayang. Jika biasanya pemandangannya laut seperti di Parangtritis, di sini lebih pada lansekap alam.

Pertengahan tahun 2021, sudah ada yang mencoba terbang dari Bukit Giri Sembung dan turun di Lapangan Desa Boro. Dari informasi yang kubaca, keindahan dari atas bisa melihat beberapa embung, perbukitan menorah, hingga candi Borobudur.
Pemandangan alam bentangan sawah dan perbukitan
Pemandangan alam bentangan sawah dan perbukitan
Aku bukan pecinta minat khusus seperti Paralayang, tapi keberadaan spot ini di Kulon Progo menurutku menjadi potensi bagus untuk pariwisata di sini. Setidaknya, kita tahu di Kulon Progo ada banyak desa wisata dan mungkin bisa saling bersinergi.

Salah satu yang mungkin penting adalah kecepatan angin. Semoga saja bukit Giri Sembung ini bisa tetap stabil untuk penerbangan. Aku sendiri menepi, melongok sisi bawah yang langsung jurang dan jauh di sana hamparan sawah.

Waktu masih lumayan pagi, tak ada satupun pesepeda yang datang ke sini. Ada beberapa pesepeda yang hendak ke sini tapi tidak tahu jalurnya, sehingga ditangguhkan. Kembali kumakan roti untuk mengganjal perut, lalu berencana pulang cepat. Gerimis mulai menyapa.

Kulihat jalan di gawai memang ada jalan pintas sampai di selokan mataram. Jalan hanya satu, melewati Kopi Puser dan mengarahkan sampai Sorotanon. Semua peralatan seperti kamera kumasukkan tas dan kubungkus dengan plastik.

Kuikuti jalan cor, lantas berhenti bertanya ibu-ibu. Sepeda terus menyeruak pada jalur cor yang licin. Kemudian berhenti karena di tengah perjalanan ada truk yang menaikkan kayu mahoni & sengon. Informasi dari mas supir memang ada jalan, tapi turunan tajam.

“Jalannya licin dan turunan tajam. Hati-hati, mas.”

“Terima kasih, pak. Saya pasti menuntun kok.”

Benar saja, jalan di sini curam. Banyak tikungan tajam dengan turunan yang menakutkan bagiku. Aku turun menuntun sepeda, lalu menaiki lagi di jalur yang nyaman. Kumainkan tuas rem, memastikan tetap berfungsi dengan baik.
Jalur pulang cukup ekstrim melintasi jalan cor
Jalur pulang cukup ekstrim melintasi jalan cor
Turunan masih panjang, melintasi perkebunan, hutan bambu, hingga akhirnya sampai rumah warga. Laju sepeda lumayan kencang, berhenti tepat di pertigaan dekat aliran selokan mataram. Kubaca papan plang ada yang mengarahkan ke Pronosutan. Aku kenal daerah sini.

Hujan makin deras, kulewati sebagai jalan yang sama. Pakaian sudah basah kuyup. Dalam hati beruntung ketemu dengan dua bapak waktu awal berangkat, sehingga jalur yang kutempuh lebih ringan tanjakannya meski harus memutar. Jika tidak, tentu lebih banyak jalan kaki seperti waktu ke Bukit Gondopurowangi.

Bukit Giri Sembung kuharapkan cepat berproses pembangunannya. Lantas ada beberapa warung, sehingga nantinya tidak hanya dikenal sebagai tempat paralayang, tetapi juga sebagai destinasi tujuan para pesepeda. Tentu jika ada warung, perekonomian masyarakat setempat bisa menggeliat.

Jika kalian ingin ke Bukit Giri Sembung dengan jalan lebih ringan. Aku arahkan kalian melintasi jalan Desa Boro, seperti jalurku berangkat. Jika ingin cepat dan penuh tanjakan curam, jalan dari desa Sorotanon bisa menjadi opsi yang pas. Tanjakan dan tikungan curam bonus licin menjadi kejutan.

*Catatan; perjalanan ke Bukit Giri Sembung pada hari Sabtu, 27 November 2021. Semoga sudah ada perkembangan bangunan di destinasi tersebut.

4 komentar:

  1. wih baru tahu di kulonprogo ada spot paralayang, keren
    lihat foto fotonya, tanjakannya curam curam yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini di sekitaran giripurwo, mas. Rutenya memang cukup menyenangkan. Tanjakannya gak habis-habis

      Hapus
  2. Aku kalau lagi bersepeda terus lihat pemandangan yang bagus atau sesuatu yg unik selalu berhenti sebentar untuk foto..hehehe

    Tanjakannya lumayan yaa mas. Aku pasti nuntun kalau lewati tanjakan tersebut. Pemandangannya bagus, ga sia-sia bersepeda jauh kemudian dapat pemandangan, ketemu warga lokal, dan pengalaman yang berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah seperti otomatis berhenti, kan mas hahahahah. Pokoknya dinikmati selama perjalanan. Tanjakan di Kulon Progo emang bikin ngos-ngosan

      Hapus

Pages