Mencicipi Soto Batok di Pasar Brumbung Banggi, Rembang - Nasirullah Sitam

Mencicipi Soto Batok di Pasar Brumbung Banggi, Rembang

Share This
Berkunjung ke Pasar Brumbung Rembang
Berkunjung ke Pasar Brumbung Rembang
Rencana mengunjungi Pasar Brumbung sudah kuutarakan sepekan yang lalu. Kulihat lokasinya, lumayan jauh dari tempatku saat ini. Untungnya, istri sudah beberapa kali berkunjung ke destinasi ini bersama kawannya. Aku tinggal mengikuti arahannya.

Menjelang akhir pekan ini lumayan cerah. Belum ada tanda-tanda mendung. Sepeda motor yang kunaiki melaju sedang. Melintasi jalur yang sudah mulai kuhapal hingga Stasiun Rembang. Setelahnya, rute ini tampak baru bagiku.

Stasiun Rembang adalah semacam sub terminal yang digunakan tujuan akhir bus-bus kecil. Jalan yang kulintasi saat ini sedikit berlubang. Lalu cukup mulus dengan bentangan persawahan. Setelahnya, kembali rusak parah. Ini tandanya sudah mendekati destinasi tujuan.

Pasar Brumbung Banggi berlokasi di Randugosong, Banggi, Kaliori. Pasar ini diresmikan bulan Januari 2019. Konsepnya seperti pasar digital yang kala itu berkembang di banyak tempat. Di sini para pengelola melibatkan karang taruna setempat.
Pasar Brumbung di Kabupaten Rembang
Pasar Brumbung di Kabupaten Rembang
Sekumpulan pemuda sudah menjaga jalan, mereka mengarahkan pengunjung yang hendak memarkirkan kendaraannya. Sepeda motor kuparkirkan di belakang stand warung. Remaja setempat memberikan secarik kertas parkir.

Sore ini belum begitu ramai pengunjung Pasar Brumbung. Suara musik sangat kencang. Sepertinya sumber suara dari pelantang yang ada di bagian panggung belakang. Deretan warung belum semuanya buka. Ada beberapa stand yang masih kosong.

Seperti konsep pasar digital yang sempat ramai. Proses pembelian makanan di sini pun dengan cara menukarkan koin. Mulai dari seribuan hingga nominal lebih besar. Penukaran uang dengan koin ini mirip dengan yang ada di Pasar Papringan Temanggung. Seingatku, di Indonesia penukaran uang dengan koin diprakarsai Pasar Papringan.

Kuikuti langkah istri, dia sudah hapal betul tempat penukaran koin. Aku tidak tahu berapa yang ditukarkan. Tahu-tahu, dia sudah membawa sekumpulan koin dengan nominal beragam. Sempat kulirik ada yang nominalnya 5, artinya 5.000 rupiah.
Tempat penukaran uang dengan koin yang digunakan pembayaran
Tempat penukaran uang dengan koin yang digunakan pembayaran
Satu persatu stand dilewati, dia ingin membeli makanan yang bisa kami santap di tempat duduk yang sudah disediakan. Aku meminta izin memotret sekitar pasar, dia hanya menanganggukkan kepala. Bergegas aku menuju tepi jalan. Memotret gapura tulisan Pasar Brumbung.

Semua stand berukuran sama, sepertinya memang sudah dikonsep sejak awal. Di dekat gerbang masuk utama, tampak berbagai tulisan menu atau jajanan yang disajikan. Sayangnya sore ini tidak semua buka. Sehingga pilihan jajanan cukup terbatas.

Plastik transparan dijadikan pembatas. Penjual berinteraksi dengan pembeli melalui satu arah. Berbagai jajanan yang dijual tertata rapi. Sementara itu di bagian pojok atas depan sudah ada nama pemilik stand atau warung agar memudahkan untuk diidentifikasi.

Papan informasi menu pun dibuat seragam. Pun dengan imbauan untuk membungkus makanan dan warung yang ada di sini sudah dinilai layak berjualan karena menjaga kebersihan. Di masa seperti ini memang tidak sedikit dari pengunjung yang membungkus makanan.
Memesan makanan di salah satu stand warung
Memesan makanan di salah satu stand warung
Suara musik bersahutan dengan suara wahana permainan anak-anak. Tak jauh dari area parkir sepeda motor, tampak wahana permainan anak-anak menjadi tujuan para anak kecil. Mereka menaiki kereta mini yang berputar menggunakan mesin genset.

Selain itu, di tengah keramaian pengunjung, kulihat seorang bapak sibuk menyapu area sekitar pasar. Beliau sepertinya mempunyai tanggung jawab atas kebersihan sekitar pasar agar pengunjung lebih nyaman untuk menikmati makanan di tempat yang sudah disediakan.

Meja dan kursi sudah tersebar. Lebih banyak tempat duduk menghadap panggung besar yang biasanya digunakan sebagai spot untuk pertunjukan. Pengunjung mulai duduk bersantai sembari menyantap jajanan yang sudah dipesan.

Tak jauh di sana juga ada spot untuk berfoto. Spot ini kadang dijadikan tempat berfoto para pengunjung pasar. Lantas mengunggahnya di media sosial dan menandai akun media sosial Pasar Brumbung. Semacam sarana mempromosikan dari pengunjung untuk khalayak lebih luas.

Istri sudah berdiri tepat di salah satu stand paling ujung. Kulihat tulisan menu menyediakan soto brumbung. Penyajiannya menggunakan batok kelapa. Sebagian besar menyebutnya dengan nama Soto Batok. Penyajian menggunakan batok kelapa ini sekarang memang sedang ramai di banyak tempat.

Sedari awal ingin berkunjung, istri sering menceritakaan kelezatan soto tersebut. Dia selalu menjadikan pilihan utama saat berkunjung ke sini. Intinya, datang ke Pasar Brumbung yang dicari pertama kali tentunya Soto Batok. Selebihnya tinggal nanti.

Salah satu yang membuatku senang dengan konsep Pasar Brumbung ini adalah transparansi harga jajanan. Semua warung sudah menyertakan menu beserta harga jajanan yang disediakan. Sehingga, pengunjung dengan mudah dan nyaman memesan tanpa takut salah harga.
Soto Batok yang di Pasar Brumbung Rembang
Soto Batok yang di Pasar Brumbung Rembang
Jajanan sudah dipesan, kami menuju tempat duduk yang memanjang di belakang stand soto. Dua soto batok brumbung tersaji. Berbeda dengan soto bening yang biasa kusantap. Soto Brumbung ini jauh lebih pekat, rasa bumbunya terasa kental.

Tempe goreng, perkedel, dan sate serepeh pun dijadikan satu dalam mangkuk soto. Tidak ketinggalan teh panas yang sudah kupesan. Minuman di sini menggunakan gelas plastik. Mungkin bakal jauh lebih keren jika berinovasi menggunakan gelas yang tidak menghasilkan banyak sampah.

Rasa soto memang pekat, lidah ini agak sedikit aneh ketika menikmati sotonya. Maklum, ini kali pertama aku menyantap soto batok di Pasar Brumbung. Beruntung ada sate, perkedel, dan tempe goreng yang membuat rasa sedikit berubah.

Bagi masyarakat Rembang, soto seperti ini memang sudah lazim. Untuk yang biasa menikmati soto bening, mungkin awalnya sedikit aneh, tapi rasanya tetap nikmati. Harga makanan di sini terjangkau, bahkan menurutku memang murah. Soto ini saja harganya 4.000 rupiah.

Menjelang sore, aku memutuskan pulang sebelum magrib. Langit mulai mendung, takutnya di perjalanan terhadang hujan. Uang hasil menukar kami belikan Otak-Otak, Sosis, Getuk, dan jajanan pasar yang lainnya untuk dibawa pulang.

Pasar Brumbung buka mulai pukul 15.00 WIB, biasanya menjelang pukul 16.30 WIB mulai tampak ramai. Bahkan keramaiannnya sampai malam. Bagi kalian yang liburan di Rembang mungkin bisa sekalian berkunjung ke Pasar Brumbung untuk mencicipi jajanan pasar yang disajikan. *Rembang; Sabtu, 26 Maret 2022.

14 komentar:

  1. wih murah banget harga sotonya
    dengan adanya daftar harga setiap makanan, pengunjung tidak perlu bingung dan ragu lagi untuk membelinya, mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasar ini jadi salah satu destinasi bagi wisatawan lokal. Ramai yang datang buat kulineran

      Hapus
  2. Dua kali ke rembang dibilangin warga lokal buat main ke pasar ini kalau mau cari kuliner di rembang, tp waktunya g pernah pas hha.
    kalau nyari soto batok sepertinya ga ada di luar pasar y

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dari Lasem jauh ini, mas. Hahahahha. Sekilas mirip pasar papringan di Temanggung tapi lebih kecil, sih. Kulinernya jajanan pasar

      Hapus
  3. Aghhhhhhhh aku pasti sukaaa soto bersantan macam ini mas 😄😍😍😍. Karena sebenernya di Medan tempat asalku, rata2 soto itu santan kayak gitu. Makanya pas ke Jawa aku awalnya ga cocok Ama soto bening. Tapi lama2 oke aja sih.

    Trakhir ke Medan sempet juga nyobain Soto yg ditaro dalam batok gini. Berarti kalo ke Rembang, aku hrs icipin sih soto Brumbung nya 😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rempahnya lebih pekat, agak kaget lidahku yang biasa soto bening heheheh. Tapi enak kok

      Hapus
  4. menarik banget sistem pembayarannya pakai koin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini di banyak tempat banyak yang menerapkan heheheh

      Hapus
  5. Pasar Brumbung uda konsep digital ya pake penukaran koin juga...kayak yang di mall kota kami mas itam

    mantab nih berdua dengan istri tercinta mampir nyoto batok. Kami juga pecinta soto sotoan...tapi kalau dimakan dari wadah batok kelapa belum pernah hehehe..sate serepeh ini baru sih di telingaku...tempe gorengnya modelan tempe goreng di kampung halamanku..enak tempe gitu...biasanya digoreng gitu aja ga pake tepung...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang banyak kok soto batok, di Jogja pun ada. Seru loh sambil kulineran kalau pas dolan hahahahha

      Hapus
  6. Waah keren ya pasar ini, stand tertata rapi banget, pembayarannya juga pakai penukaran koin, tp sadar atau ga konsep penukaran koin seperti ini membuat orang jadi spend more money, karna kalau nuker dikit malu hahahha.

    Tapi soto 4rb itu porsinya seberapa mas? itu batoknya mini ya mas? untung ada perkedel, sate ama tempe gorengnya ya, jadi menolong bgt, pasti lebih enak dan kenyang hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Porsinya menurutku banyak. Di tempat seperti ini memang harga makanan sangat terjangkau, mbak. Seru pokoknya

      Hapus
  7. Baca judulnya aku kira pasar tradisional. Setelah baca isinya ternyata mirip pasar digital yang dulu pernah ramai di berbagai daerah. Dulu di pasar digital yang dekat semarang juga ada menu soto batok, hanya saja kuahnya bening. Beda dengan soto brumbung seperti foto mas sitam.

    Pasar papringan jadi inspirasi tumbuhnya pasar-pasar digital yang ada di berbagai daerah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Semarang dulu ada di Karetan dan Tinjomoyo kalau gak salah mas. Tahun 2017 pernah ke sana buat lihat. Memang Pasar Papringan adalah pelopor

      Hapus

Pages