Menyambangi Destinasi Wisata Watu Lempeng dan Kedung Kemin Kulon Progo - Nasirullah Sitam

Menyambangi Destinasi Wisata Watu Lempeng dan Kedung Kemin Kulon Progo

Share This
Wisata Alam Kedung Kemin dan Watu Lempeng, Kulon Progo
Wisata Alam Kedung Kemin dan Watu Lempeng, Kulon Progo
Dua spot terakhir siap kusambangi. Wisata Watu Lempeng dan Kedung Kemin. Jika kulihat di Google Maps, keduanya berdekatan. Bisa jadi malah satu tempat, tapi harus kupastikan apakah destinasi ini satu tempat atau berbeda.

Tidak banyak informasi yang kudapatkan dari ulasan. Sampai saat ini, aku masih mengira jika destinasi tersebut berbeda. Tetapi, saat kulihat di beberapa foto yang beredar, bentuknya mirip. Entahlah. Aku biarkan rasa penasaran ini menyeruak.

Di Wanadesa Kaliagung aku menikmati waktu istirahat. Destinasi yang sempat dibangun kini mangkrak. Beberapa gazebo sudah rusak, bahkan tempatnya pun penuk semak. Lokasinya tepat di tengah perkebunan Jati.

Aku tidak asing dengan derah ini. Lebih dari satu dasawarsa yang lalu, aku pernah Kuliah Kerja Nyata di dekat sini. Dua belas tahun berselang, daerah ini cukup berkembang pesat. Berbagai bangunan mulai ramai, terlebih masuk area Kaliwilut.

Kuabadikan sepeda di salah satu spot foto, lantas menyiapkan diri untuk mengunjungi destinasi terakhir. Sebelumnya, aku menyempatkan berkunjung ke rumah Pak Dukuh Kaliwilut. Sayangnya rumah sepi, tidak ada orang. Kuputuskan melanjutkan perjalanan.
Spot foto di Wanadesa Kaliagung, Sentolo
Spot foto di Wanadesa Kaliagung, Sentolo
Dipandu Google Maps, rute ini mengarahkan daerah Banyuroto, Nanggulan. Aku belum tahu jalur, jadi sepenuhnya yakin dengan rute dari gawai. Melintasi jembatan besar, aku berhenti. Sepertinya Watu Lempeng ini ada di aliran sungai tersebut.

Benar saja, kulihat di gawai harusnya ruteku belok kanan masuk jalan kampung. Di sini, aku mulai santai. Setidaknya jalurnya hanya ada satu jalan kampung. Di tengah perjalanan, ada plang petunjuk arah belok kiri, turunan agak curam dan jalan cor.

Aku agak bimbang, tapi kulewati. Sebelumnya, kusalip empat anak kecil yang menaiki sepeda. Benar saja, jalur ini semacam tipuan. Hanya melintasi jalan kampung, lalu diarahkan kembali ke jalan utama. Aku tertawa sendiri, harusnya cukup mengikuti jalan aslap dan menyingkat perjalanan.

Plang tulisan Watu Lempeng dan Kedung Kemin ada di sisi kiri jalan. Kusandarkan sepeda sembari mengambil foto. Lempeng Kedung Kemin namanya. Aku mulai ragu jika tempat ini berdekatan. Dibenakku, sepertinya tempat ini memang satu destinasi.

Tak lama berselang, empat anak yang tadi kusalip kembali bertemu. Mereka menuju destinasi yang sama. Aku langsung mengikutinya dari belakang. Mereka hendak bermain air sambil memancing, sepeda yang digunakan pun apa adanya.
Plang petunjuk arah ke isata Watu Lempeng dan Kedung Kemin
Plang petunjuk arah wisata Watu Lempeng dan Kedung Kemin
“Airnya lagi gede loh, mas. Jadi tidak bisa menyeberang,” Terang salah satu bocah yang menaiki sepeda BMX.

Sembari merekam, aku mengajak mereka berbincang. Tidak perlu lagi kucari plang petunjuk arah. Jalanan menjadi lebih kecil, agaknya menyisir tak jauh dari sekitar sungai. Salah satu anak ini menginformasikan di depan adalah area parkir.

Belum juga kutanyai lebih detail, mereka sudah meninggalkanku. Memang sisi kiri tampak area lahan kecil bertuliskan parkir motor. Kutaruh sepeda di sana sembari melongok ke bawah. Nyatanya di bawah ada sepeda motor yang terparkir. Sepeda tak jadi kutinggal di lahan tersebut.

Kutuntun sepeda melewati tanah sedikit licin. Memang di balik pepohonan ini adalah lokasi yang kutuju. Untuk ke sana, aku harus melintasi anak sungai dengan bebatuan licin. Kamera dan tas aku seberangkan terlebih dahulu. Setelah itu baru menyeberangkan sepeda.

Wisata Watu Lempeng dan Kedung Kemin nyatanya satu tempat. Destinasi ini dikelola oleh masyarakat setempat. Aku tertawa sendiri, ketika menuju tempat ini harus menyeberangi anak sungai, nyatanya di jalur lebih jauh sedikit sudah ada jalannya hingga sampai tepi pantai.
Bertemu dengan anak-anak yang menuju Watu Lempeng
Bertemu dengan anak-anak yang menuju Watu Lempeng
Anak-anak yang tadi bersamaku tak memberi informasi lengkap. Mereka makah sudah asyik bermain air di tepian sungai. Bahkan, tempat ini sudah ada toilet dan gazebo. Sepertinya kali ini aku dikerjai sekumpulan anak kecil tersebut.

Suara teriakan keempat anak kecil itu terdengar jelas. Mereka berjalan meniti bebatuan di tepian sungai sembari membawa alat untuk menangkap ikan terbuat dari jaring-jaring diberit tambahan kayu panjang sebagai galah untuk dipegang.

Dari berbagai ulasan yang kubaca di Google Maps, Wisata Watu Lempeng ini cukup ramai dikunjungi wisatawan di tahun 2021, bahkan ada beberapa foto yang mendokumentasikan warung kecil. Sayangnya, ketika aku datang tak ada warung tersebut.

Bisa jadi awalnya Watu Lempeng Kedung Kemin ini dijadikan salah satu destinasi wisata tujuan masyarakat setempat. Hanya saja dalam perjalanan hingga sekarang tak lagi begitu ramai. Terkadang, banyak destinasi yang awalnya ramai, lantas senyap.
Gazebo di destinasi wisata Watu Lempeng Kulon Progo
Gazebo di destinasi wisata Watu Lempeng Kulon Progo
Padahal tempat ini menurutku asyik untuk bermain air sungai tidak deras. Antusias pengunjung di tahun 2021 sangat berkurang drastis dengan sekarang. Sempat kulihat balasan dari Local Guide Watu Lempeng yang menanggapi hingga memberi informasi terkait debit air sungai.

Bangunan yang tampak hanyalah gazebo dan toilet. Niat hati ingin mengeteh langsung pupus. Aku berbincang dengan pemuda warga setempat yang mencuci motor di aliran anak sungai. Beliau menginformasikan ada jalan yang bisa dilintasi tanpa harus mengangkat sepeda.

Aliran sungai di Watu Lempeng ini cukup deras, tidak memungkinkan untuk menyeberang. Aku bersantai di tepian sungai, melihat aliran air yang mengalir. Menariknya, susunan bebatuan di sini seperti tangga. Tersusun berundak dengan bebatuan yang rata.

Dilihat secara saksama, bebatuan yang ada di tepian sungai memang unik. Seperti bebatuan rata serta membentuk anak tangga. Kedua sisi sungai jenis bebatuannya sama. Rumput tumbuh subur di sela-sela bebatuan. Tentu bentuk bebatuan ini ada kaitannya dengan penamaan Watu Lempeng.
Lansekap destinasi wisata Watu Lempeng dan Kedung Kemin Kulon Progo
Lansekap destinasi wisata Watu Lempeng dan Kedung Kemin Kulon Progo
Aku ingat kata anak kecil tadi katanya tidak bisa menyeberang sungai. Ternyata memang tempat di seberang sering dijadikan spot berfoto para pengunjung. Tidak sedikit kulihat di ulasan para pesepeda datang dan foto bersama di tepian sungai, khususnya yang di seberang.

Mengingat debit air cukup deras dan membahayakan jika harus menyeberang, aku cukup berfoto di sini saja. Sepeda yang sedari tadi sudah terparkir di tepian sungai bergegas kuabadikan. Seperti kebiasaanku, nantinya foto ini kuunggah di media sosial.

Kini, destinasi wisata Watu Lempeng dan Kedung Kemin sedang sepi. Semoga pengelola ataupun masyarakat setempat kembali menggeliatkan promosi tempat ini agar kembali ramai. Dibutuhkan inovasi yang baru untuk menggerakkan semangat baru.

Setidaknya, tempat ini bisa menjadi ospi wisata para wisatawan lokal. Atau malah membuat konsep dengan menarik perhatian para pesepeda untuk menyambanginya. Keberadaan warung rasanya bisa menjadi nilai tambah, pun dengan informasi di media sosial. *Kulon Progo,12 Februari 2022.

7 komentar:

  1. unik ya bentuk batuan di tepian aliran sungai, sesuai namanya "lempeng"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mas, mungkin karena seperti itu terus dinamakan waktu lempeng

      Hapus
  2. iya ya mas ... banyak destinasi wisata yang awalannya ramai ... lama2 jadi senyap dan terbengkalai.
    Padahal tempatnya unik .... sepertinya memang butuh pendampingan dari pihak terkait supaya tetap bisa eksis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampir di banyak tempat kasusnya seperti ini, kang. Butuh pendampingan dan komitmen bersama agar bertahan

      Hapus
  3. Selalu salut dengan pesepeda yang semangat memperkenalkan tempat-tempat baru. Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya tujuan bersepeda hanya ingin bersantai sambil gowes hahahahh

      Hapus
  4. G ada jembatan sama sekali mas di sungai ini? greget kalau ga bisa nyebrang karna emang landscapenya bagus

    BalasHapus

Pages