Laksana Kolam Terbuka di Pancuran Tuk Bulus, Sleman - Nasirullah Sitam

Laksana Kolam Terbuka di Pancuran Tuk Bulus, Sleman

Share This
Pancuran Tuk Bulus di Sleman
Pancuran Tuk Bulus di Sleman
Waktunya menikmati jalanan menurun. Dua kawan sudah melaju kencang, aku mengikuti di belakang sembari menghidupkan kamera gopro. Jip-jip yang membawa wisatawan seperti konvoi beriringan, ruas jalan tak luas membuat pengguna jalan sedikit bersabar sebelum menyalip.

Petugas yang menjaga gerbang pintu masuk Plunyon pun disibukkan bus-bus besar yang hendak naik. Belum juga pukul 09.00 WIB, tapi kunjungan wisatawan yang menggunakan bus ataupun sudah menikmati sensasi Jip sudah banyak.

Kedua tuas rem kutekan bergantian, laju sepeda benar-benar kuperhatikan. Adakalanya melaju kencang dan menyalip kendaraan roda empat, tak jarang juga membuntuti kendaraan lain karena jalanan padat merayap.

Agenda kali ini berubah, tadi sempat menikmati sarapan soto, dan sekarang kami ingin mengunjungi destinasi baru di Tegal Balong, Jaten, Binomartani. Di sini ada kolam sumber air bersih yang dikelola oleh masyarakat setempat. Namanya Pancuran Tuk Bulus.
Spanduk informasi lokasi Pancuran Tuk Bulus
Spanduk informasi lokasi Pancuran Tuk Bulus
Sepeda kami parkirkan di rumah kawan yang jaraknya hanya 150 meter dari lokasi. Kami bertiga jalan kaki, dua kawan niatnya mau bermain air. Sementara aku masih bimbang, apakah ikut bermain air atau hanya memotret sekitar.

Spanduk informasi lokasi Pancuran Tuk Bulus masih terlihat baru, suasana di sini lengang. Pukul 09.00 WIB ini, yang datang hanya kami bertiga. Tidak ada warga yang berjaga, tapi sudah ada ban-ban yang disewakan untuk pelampung.

Anak tangga sudah dibuat hingga sampai bawah. Sisi kanan dibatasi pagar yang terbuat dari ranting kayu ataupun bambu. Bangunan di sini sudah mumpuni, sudah ada beberapa gazebo serta fasilitas kamar mandi.

Pada plang informasi pun ditulis untuk mandi kita harus membayar 3.000 rupiah, dan jika menyewa pelampung hanya 2.000 rupiah. Tentu harga ini sangat terjangkau. Aku antusias melihat kolam terbuka di Pancuran Tuk Bulus.
Kolam terbuka Pancuran Tuk Bulus
Kolam terbuka Pancuran Tuk Bulus
Pancuran Tuk Bulus ini lebih dikenal oleh masyarakat sekitar. Setiap akhir pekan biasanya dimanfaatkan anak-anak kecil untuk bermain air. Mereka bisa berenang dengan nyaman, meski kedalamannya sekitar 1.5 meter.

Jika dilihat dari berbagai ulasan di Google Maps, dalam kurun waktu lebih dari satu tahun Pancuran Tuk Bulus ini sudah dibangun. Destinasi ini sengaja dibuat lebih baik agar mudah dalam perawatan ataupun membersihkan kolam air dari pasir.

Tuk dalam Bahasa Jawa artinya sumber air. Penamaan ini bisa jadi dikarenakan kolam Pancuran Tuk Bulus ini merupakan mata air yang dialirkan menggunakan potongan bilah bambu untuk memenuhi kolam buatan. Sumber mata air sendiri ada di bawah pohon besar.

Di sekitar Pancuran Tuk Bulus masih cukup rindang. Berbagai pohon besar menjulang tinggi, pun dengan rimbunnya pohon bambu di bagian atas. Di tempat seperti ini, air tentunya masih terjaga debitnya dan juga bersih.
Dua kawan siap berenang di Pancuran Tuk Bulus
Dua kawan siap berenang di Pancuran Tuk Bulus
Adanya Pancuran Tuk Bulus ini diharapkan bisa menggaet pengunjung, khususnya mereka yang sudah bermain air. Kolam di Pancuran tuk Bulus lumayan besar. Perkiraanku lebar kolam antara 5 meter dengan panjang kurang lebih 11 meter.

Tempat ini belum banyak dikenal, bahkan aku sendiri tidak tahu adanya tempat pemandian Tuk Bulus jika tidak dikasih tahu kawan yang rumahnya di sini. Pagi ini, hanya ada kami bertiga. Beberapa warga sekitar sibuk memangkas pohon bambu agar tampak lebih rapi.

Pancuran Tuk Bulus memang belum ada warung, mungkin ke depannya bisa dibuatkan warung agar pengunjung yang ingin berenang bisa menikmati minuman ataupun gorengan. Pembayaran tiket masuk sementara hanya dimasukkan pada kotak yang sudah disediakan.

Setiap hari minggu siang, katanya Pancuran Tuk Bulus dikuras warga setempat. Tujuannya agar pasir-pasir yang mengendap di dasar kolam dapat dibersihkan. Tentu ini salah satu bagian dari perawatan pancuran, dan untuk kenyamanan para pengunjung.

Aliran air dari sumber sangat bening. Airnya pun lumayan dingin. Dua kawan sibuk berenang, aku tergoda untuk mandi. Tanpa menunggu waktu lama, kami bertiga sudah berenang di kolam terbuka. Selepas bersepeda dan langsung mandi air dingin itu pilihan yang tepat.
Mata air di Pancuran Tuk Bulus
Mata air di Pancuran Tuk Bulus
Dilihat dari lokasinya, Pancuran Tuk Bulus cukup strategis bagi para sepeda yang balik dari sekitaran Kaliurang. Untuk pesepeda yang suka dengan jalur gravel, mungkin blusukan terlebih dulu baru berkunjung ke sini saat waktu pulang.

Harapannya tentu Pancuran Tuk Bulus dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat. Sehingga ada pemasukan lebih banyak. Kita tahu, di sekitar sini ada beberapa tempat pemandian, tapi menurutku Pancuran Tuk Bulus lebih luas.

Satu jam lebih berenang di sini, hanya kami yang berkunjung. Sebelum pulang, tak lupa mengisi kotak pembayaran yang sudah tersedia. Menjelang agak siang, mulai beberapa anak kecil berdatangan. Sepertinya mereka juga ingin bermain air di Pancuran Tuk Bulus.

Selepas berkunjung ke Pancuran Tuk Bulus, aku mengunggah satu foto di media sosial. Unggahan ini mendapat banyak respon dari pesepeda yang penasaran dengan lokasinya. Benar saja, hari minggu sudah ada kawan yang mengirimkan foto melalui WA. Rombongannya berenang di Pancuran Tuk Bulus.
Waktunya berenang di Pancuran Tuk Bulus
Waktunya berenang di Pancuran Tuk Bulus
Sepertinya, tempat ini bakal aku kunjungi lagi jika bersepeda ke arah utara. Selepas capek melintasi jalanan menanjak, lantas pulang, dan singgah untuk berendam di sumber air Pancuran Tuk Bulus. Tentu segala rasa letih menghilang.

Harapannya, Pancuran Tuk Bulus ini bisa menjadi salah satu destinasi menarik dan ramai dikunjungi pengunjung. Target awal biasanya masyarakat terdekat. Setelahnya mungkin orang-orang pesepeda yang ingin bermain air. Tentu, ditunggu ada warungnya. *Sleman; 21 Mei 2022.

Di pertengahan bulan Juli, aku kembali ke sini berenang bersama kawan-kawan blogger. Masyarakat yang mengelola Pancuran Tuk Bulus sedang membuat kolam untuk anak-anak dengan kedalaman 70 cm. Tentu ini terobosan yang menarik.

Selain membuat kolam untuk anak-anak, masyarakat setempat juga memperbaiki akses jalan kecil yang menuruni anak tangga. Dilihat dari pengelolaan kolam, sepertinya masyarakat di sini memang menjadikan kolam Pancuran Tuk Bulus sebagai destinasi tujuan masyarakat lokal. *Sleman; 16 Juli 2022.

18 komentar:

  1. wah bener2 hidden gem nih, masih banyak yg belum tahu.
    semoga kedepannya lebih lengkap fasilitasnya, ada warung dan kolam anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, ini sedang proses pembangunan yang kolam anak. Semoga makin ramai

      Hapus
  2. Cara nguras kolam begitu gimana ya mas? Apa sama kayak menguras kolam renang? Tapi berarti sumber airnya ditutup dulu kan Yaa.

    Aku suka sih kolam2 yg airnya bersumber dari mata air alami gini. Kliatan juga tempatnya masih asri babgettttt . Udah kebayang segeeer mandi di sini. Anak2ku mah udh pasti doyan, apalagi ada ban nya yg bisa disewa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditutup atau dialirkan ke tempat lain dulu, mbak.
      Di sini tiap seminggu atau dua minggu sekali pasti dikuras. Tujuannya agar pasir tidak banyak di dasarnya.

      Hapus
  3. sensasi kolam dengan alam terbuka sepertinya sangat rilex.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, jadi ingat waktu di kampung ahahhaha

      Hapus
  4. Wah seger banget tuh berenang di kolam siang-siang. Apalagi kolamnya juga kelihatan bersih gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, biasanya kalau menjelang sore banyak yang mandi

      Hapus
  5. wah kolam renangnya berpaduan dengan alam, jadi ikutan pengen berenang, hehe

    BalasHapus
  6. cocok banget jadi destinasi goweser .... habis cape2 keringetan ... terus nyebur 😁

    BalasHapus
  7. sumber airnya bener bener alami, udah pasti segerr banget ini
    dulu waktu aku kecil nggak asing mandi ditempat kayak gini meskipun belum bisa renang, sekarnag pas gede udah jarang renang atau berendam di tempat kayak gini
    pernah sih waktu itu di wilayah Jember ada pemandian alami kayak gini, tapi pas airnya keruh banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kolam mata amir begini biasanya bening, misale kayak air terjun rata-rata beningnya malah pas bulan kemarau

      Hapus
  8. Di pertengahan pas bersepeda makan, lelah sepeda terus berendam atau renang. Setelah capek renang terus makan lagi. Emang olahraga sama makan tdak bisa dipisahkan...hehhehehe

    Aku suka renang di tempat terbuka seperti ini. Di kolam yg sumber airnya alami. Kalau ada angin, berasa banget dinginnya. Jadi lebih seger.

    Semoga aja tambah ramai kolamnya. Kmufian desa bisa jadi lebih hidup dan warga sekitar memiliki penghasilan tambahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, setidaknya rasa capek sedikit hilang, dan masyarakat setempat bisa menjalankan perekonomian dari pengunjung

      Hapus
  9. Waaaaawwww.....itu kolam pancurannya gemesin sekaligus nakutin buat akuh hahaha :D Gelaaaappp yach mas wkwkwkw. Jadi total bayar 5K ya sekalian sama bannya kan? Enak ini berasa kolam renang pribadi ya. Bangun tidur main air di sini pasti segar trus lapar. Eh, gorengannya jangan sampai ketinggalan hihihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, pokoknya tempat seperti ini menjadi hal yang menyenangkan.

      Hapus

Pages