Jelajah Sudut-Sudut Rute Gowes di Bantul - Nasirullah Sitam

Jelajah Sudut-Sudut Rute Gowes di Bantul

Share This
Bersepeda pagi di Wonolelo Bantul
Bersepeda pagi di Wonolelo Bantul
Tiga sepeda melintasi jalan Pleret. Aku terus membuntuti dua kawanku yang ada di depan. Pagi ini rute yang kami sambangi cukup dekat, hanya ingin melemaskan otot karena akhir pekan kemarin sudah bersepeda ke Plunyon.

Destinasi yang kami tuju adalah Angkringan Migit. Ulasan di Google Guide, tempat ini buka pada pagi hari untuk akhir pekan. Aku sendiri lupa jika bersepeda ini bukan di akhir pekan, tapi tetap menjadikan destinasi tersebut sebagai tujuan.

Beberapa minggu yang lalu, aku sempat menyusuri jalanan di Wonolelo. Setidaknya aku sudah tahu jalan meski tak jarang harus melihat peta di gawai. Di Wonolelo jalanan mulai menanjak, lantas turunan panjang. Aku masih mengingat jalan tersebut.

Angkringan Migit yang hendak kudatangi berada di area petakan sawah. Sudah ada plang petunjuk arah. Melintasi gang kecil dekat rumah warga, lantas di hadapanku merupakan petakan sawah. Pagi ini, awan tipis masih menyelimuti perbukitan nun jauh di sana.

Di tengah perjalanan, aku menepi. Pemandangan sawah berlatarkan perbukitan sayang untuk dilewatkan. Kuambil kamera, menunggu pesepeda melintas, lantas memotretnya dari kejauhan. Suasana syahdu tertangkap kamera.
Memotret pesepeda di area persawahan Bantul
Memotret pesepeda di area persawahan Bantul
Jauh di depan sana, tampak sekumpulan pesepeda sedang duduk santai di tepian jalan. Pikiranku mulai kurang yakin, apakah angkringan ini buka ataupun tutup. Sementara kursi-kursi kosong tanpa ada satupun pesepeda yang duduk.

Semakin dekat, kulihat semakin jelas jika bangunan semi permanen di ujung tak ada penunggunya. Sudah dipastikan hari ini angkringan tutup. Aku tertawa ketika melihat kawan penuh raut wajah bingung, destinasi yang kuusulkan ternyata tidak buka pagi ini.

Sebenarnya ini salahku. Angkringan Migit buka pagi hari ketika hari minggu, sementara ini adalah hari libur di tengah pekan. Sedari awal aku tidak menyadari hal tersebut, yang kuingat tiap bersepeda jarak dekat dengan dua kawan ini artinya sekarang hari minggu.

Tidak hanya aku, lebih dari sepuluh pesepeda yang datang mengalami hal yang sama. Kami sama-sama tertawa mendapati warung kosong dengan berbagai jenama kopi kemasan terpajang bergelantung tanpa penutup.

Angkringan Migit di Wonolelo ini buka tiap sore sampai malam di hari kerja, serta buka pagi ketika akhir pekan. Salah satu yang membuatku ingin menyambanginya tentu karena lansekap pemandangan di sini cukup indah saat pagi.
Menepi di Angkringan Migit Wonolelo Bantul
Menepi di Angkringan Migit Wonolelo Bantul
Pun dengan pagi ini, kabut tipis menyelimuti punggung perbukitan sekitaran Muntuk. Suasana pagi yang sejuk berkombinasi dengan hamparan sawah menghijau. Tentu bagi sebagian pesepeda mengabadikan pemandangan pagi ini dengan kamera yang dibawa.

Konsep Angkringan Migit lebih terbuka. Deretan bangunan semi permanen adalah warung tempat kasir, hingga fasilitas umum. sementara untuk pengunjung, mereka fokuskan pada tempat duduk yang tersebar di area terbuka dengan pemandangan sawah.

Kontur tanah di sini semacam berundak, sehingga meja dan kursi panjang dibuat tersebar. Di bagian ujung tentunya deretan gazebo tertutup. Seperti saung di tengah-tengah persawahan. Pagi ini, kami mengabadikan sepeda di sudut-sudut tempat ini yang terlihat indah.

“Kita pindah ke Bukit Pongol Indah saja, di sana pasti buka,” Ujarku memastikan.

Sebagai orang yang merekomendasikan tempat ini sebagai tujuan, aku harus mencari destinasi tujuan lain yang pastinya buka. Niat hati ingin mengeteh sambil memandang pemandangan di Angkringan Migit tertunda sesaat.

Tak hanya rombonganku, pesepeda yang lain pun berputar balik karena angkringan tutup. Mungkin Angkringan Migit bisa menambahkan buka pagi ketika hari libur di tengah pekan, siapa tahu pengunjung lebih banyak yang berdatangan.

Sepeda kami kembali melaju, melintasi sebagian rute yang sama dengan waktu berangkat. Tepat di pertigaan menuju arah Bukit Pongol Indah, aku membelokkan sepeda ke kiri. Mengikuti jalanan yang didominasi persawahan milik masyarakat.
Singgah di Bukit Pongol Indah Bantul
Singgah di Bukit Pongol Indah Bantul
Perbukitan di depan itu yang kami tuju. Ada Bukit Pongol Indah, lantas Bukit Ngleseh (katanya sudah tutup), dan salah satu bukit yang sedang dalam proses dibuka destinasi baru. Lokasinya tak jauh dari Bukit Pongol Indah.

Mendekat perbukitan, jalur kembali menanjak. Suara gemericik air sama persis dengan waktu awal tahun ketika aku melintasi jalur ini. Sampai di atas, arah panah belok kanan kulintasi. Dua orang bapak sedang berbincang, aku meminta izin lewat.

Dua dari enam warung sudah buka, artinya aku bisa menikmati minuman di sini. Tiga gelas minuman, seporsi mendoan, serta indomie rebus kami pesan. Waktunya menunggu pesanan, dua kawanku menyempatkan untuk memotret sepeda.

Bukit Pongol Indah pernah aku ulas di blog, sewaktu itu aku meyakini tempat ini bakal menjadi destinasi yang dikunjungi wisatawan karena rute menuju sini cukup terjangkau, lahannya pun luas. Terlebih jika seluruh warung dikoordinasi satu orang agar harganya sama.

Salah satu yang membuat destinasi seperti ini bisa bertahan lama dan menarik bagi pesepeda adalah harga minuman dan makanan seragam, selain itu para pemilik warung membebaskan pengunjung untuk memesan di warung manapun.
Mengeteh santai di Bukit Pongol Indah Bantul
Mengeteh santai di Bukit Pongol Indah Bantul
“Mas, esnya belum ada. Warung sebelah ada esnya mas, pesannya di sana saja ya,” Ucap ibu warung yang kusambangi.

Tentu kerjasama antar warung seperti ini meyakinkanku para pemilik warung di sini mempunyai komitmen bersama dan kompak. Menariknya, ibu yang tadi masih mengenaliku karena waktu awal dibuka tempat ini aku membeli minuman di warung beliau.

Kami menikmati minuman, salah satu kawan melahap mie rebus. Kawan berkomentar mie rebusnya hambar, setelah ditelisik ternyata bumbunya belum dimasukkan ibu warung. Ibu warung bergegas memberikan bumbu sambil meminta maaf.

Pagi ini tawa kencang kembli meledak. Berkali-kali ibu meminta maaf. Beruntung kawan memang tidak protes, karena menurutnya bukan sebuah masalah besar. Kami sendiri tertawa mengingat mie rebusnya sudah tinggal sedikit, dan bumbunya baru datang.

Bantul mempunyai banyak sudut indah untuk dijelajah menggunakan sepeda. Tergantung kita yang memilih jalur. Ingin jalur penuh tanjakan ataupun jalur blusukan dengan pemandangan persawahan. Ada yang suka blusukan bersepeda seperti ini? *Bantul; 26 Mei 2022.

16 komentar:

  1. keren sekali view tempat duduk Angkringan Migit
    tanah nya semacam berundak gitu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, sayangnya buka pas sore saja di sini

      Hapus
  2. Itin yg utk ke Jogja ntr aku udah siapin, tapi kalo melihat tempwt2 gini lagi, kadang jadi galau, mau dimasukin tapi udh padat ahahhaahhaa. Tapi pengen datangin 🤣. Suka liat lansekap angkringan migit nya mas. Kebayang sih pasti cantik pagi2 kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata warga kalau di sini bukanya sore, mbak. Jadi sayang kalau ke sini pagi ahahahah

      Hapus
  3. sebagai orang yang pernah tinggal di Bantul meski di ujung (Banguntapan) asli emang harus diakui bangga banget daerah ini banyak spot menarik
    mulai gunung sampe pantai lengkap
    terus warung-warung murahnya melimpah astaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mas, tinggal kita sendiri mau cari tempat yang seperti apa

      Hapus
  4. Wah, ternyata di Bantul ini banyak wisatawan yang gowes ria ya. Banyak angkringan juga dengan menu gorengan, teh atau kopi dan masih banyak lagi dengan harga yang muraaah bingits mas. Koack juga makan mie rebus kok hambar. Ternyaa si ibu lupa masukin bumbunya ke mangkok wakakakakakak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai pecinta gowes kuliner pagi, banyak destinasi seperti ini membuatku semangat gowes, mbak

      Hapus
  5. mantab banget walau sempet mie nya hambar lupa lom dimasukkan bumbu ya mas itam, untunge abis itu dikasih bumbu...pancen sih kalau angkringan letak daya tariknya penganane cilik cilik harga seragam sesuai kantong...tapi kalau njupuk lauke banyak ya totalnya bisa banyak juga sih ahhahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahha, begitulah keseruan kami, mbak. Penting gowes dan guyup

      Hapus
  6. destinasi warung atau kuliner dengan view alam begini biasanya bisa bertahan lama ... daripada buat wisata selfie ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. tepat sekali, adanya warung biasanya menggaet pengunjung. Khususnya para pesepeda

      Hapus
  7. keren banget konsepnya, terbuka, bener bener alami
    terus kalau pas pagi dan berkabut, wahhh cakeppp
    di Bantul banyak banget sebenernya ya jalur gowes yang asik asik kayak gini, explore dua hari kayaknya kurang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bantul tak pernah kehabisan spot yang bisa disambangi para pesepeda, mbak

      Hapus
  8. Tempat yang nyaman dan harga yg terjangkau emang jadi destinasi bersepeda.
    Nilai tambah kalau punya sepeda jenis gravel dan mtb kayak gini. Berani blusukan ke jalanan sawah dan berbatu. Apalagi kalau sepedaan bareng. Tambah seru dan punya banyak stok tertawa..hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya kabupaten Semarang pun sama, mas. Tinggal bagaimana nanti bikin konsepnya hehehehh

      Hapus

Pages