Sudut-Sudut Menarik di Omah Lowo Solo - Nasirullah Sitam

Sudut-Sudut Menarik di Omah Lowo Solo

Share This
Bangunan Omah Lowo Solo
Bangunan Omah Lowo Solo
“Seluruh tegelnya masih asli semua,” Terang pemandu yang menemani kami berkeliling Omah Lowo Solo.

Omah Lowo sebenarnya bukan tujuan awal kami berkunjung ke Solo. Sedari awal, niat kami berdua hanya ingin menikmati Selat Solo, lantas berjalan santai menikmati suasana kota Solo sampai siang. Kami sengaja mencari destinasi yang terjangkau untuk disambangi melalui Google Maps.

Pencarianku sampai pada Omah Solo. Sebuah bangunan kuno yang penuh sejarah, terbengkalai, lantas direnovasi oleh Batik Keris, dan dijadikan salah satu bangunan penuh nilai histori. Mereka menjadikan Omah Lowo sebagai destinasi tujuan para pecinta heritage.

Dari stasiun Purwosari, kami jalan kaki menuju Omah Lowo. Lokasinya cukup terjangkau, berjarak kurang dari 400 meter. Pintu keluar stasiun, kami belok kiri. Mengikuti trotoar hingga sampai lampu merah. Tinggal menyeberangi lampu merah, dan sampai di Batik Keris.

“Bukanya pukul 09.00 WIB, mas,” Ujar satpam yang bertugas.

Kami datang memang lebih pagi, masih ada waktu lebih dari 15 menit menunggu waktu pukul 09.00 WIB. Sepertinya, kami berdua menjadi pengunjung yang pertama di hari ini. Kuhabiskan waktu menunggu santai di tepian jalan.
Lantai Omah Lowo yang masih asli
Lantai Omah Lowo yang masih asli
Pukul 09.15 WIB, akhirnya kami diperbolehkan masuk. Seperti yang sudah kami ketahui, untuk menuju Omah Lowo kita diwajibkan membeli produk yang ada di Batik Keris. Di sini ada banyak aksesoris yang bisa dipilih. Kami sengaja memilih dua pensil boneka.

Tujuannya nanti pensil boneka ini kami berikan ke anak kecil yang ada di kosan. Anak kecil tersbeut sudah masuk SD, jadi bermanfaat baginya. Dua item barang sudah kami beli seharga 70.000 rupiah. Pembayarannya aku menggunakan QRIS.

“Untuk foto hanya diperbolehkan di bagian luar bangunan. Selama di dalam hanya diperbolehkan mengambil foto menggunakan gawai,” Ujar pemandu sebelum kami berkeliling.

Aturan seperti ini memang hal yang lumrah. Jika kita pernah berkunjung ke museum Ullen Sentalu, pastinya sudah tahu dengan aturan tidak boleh memotret koleksi museum. Di Omah Lowo pun sama aturannya. Aku harus mengikuti aturan tersebut.

Perjalanan dimulai dari pintu yang berbatasan dengan batik keris. Kami diberikan waktu memotret bagian teras. Lanta penuh ornament menarik, jendela-jelndela tinggi serta berbagai hiasan tergantung. Kaca besar bisa untuk bercermin dengan ujung berbagi motif.
Sudut pintu di Omah Lowo Solo
Sudut pintu di Omah Lowo Solo
Gopro dan kamera mirrolens sudah kumasukkan tas. Sembari mendengarkan penjelasan dari pemandu, aku terus memotret bagian dalam menggunakan gawai. Sekali lagi, koleksi area dalam Omah Lowo tidak aku publikasikan di blog.

Pintu utama dibuka, hawa sejuk langsung terasa. Tempat ini memang cukup sejuk, berbagai koleksi tertata rapi di setiap sudut ruangan. Lorong rumah dipenuhi pajangan kain batik. Sementara tersemat di foto Omah Lowo masa lampau dengan berwarna. Pagar melintang dan sebuah pohon.

Berbagai koleksi serta rak-rak yang ada di dalam Omah Lowo merupakan benda tambahan dari Batik Keris. Tapi untuk bangunannya masih asli. Pihak Batik keris hanya memugar bagian cat. Lantainya masih asli seperti sejak awal tanpa ada perubahan.

Omah Lowo ini penuh cerita panjang. Bangunan peninggalan masa Belanda yang dulunya sempat terbengkalai, bahkan menjadi rumah kelelawar dalam kurun waktu yang sangat lama, kini dirias menjadi sangat bagus. Mereka membuat semacam galeri atau museum, lantas dikolaborasikan dengan cerita terkait kejadian masa lampau.

“Awal mau direnovasi, lantai bangunan ini penuh dengan kotoran kelelawar, mas. Hampir sedalam mata kaki,” Ujar pemandu.
Bangunan Omah Lowo tampak dari dalam area pagar
Bangunan Omah Lowo tampak dari dalam area pagar
Pantas saja penamaan Omah Lowo tersemat pada bangunan ini. Salah satu faktornya adalah seperti itu. Namun, ada nilai plus dengan kotoran-kotoran kelelawar yang menumpuk hingga tebal. Saat dibersihkan, ternyata seluruh keramik/tegel lantainya tidak ada yang rusak sama sekali.

Kami terus menyusuri tiap ruangan di Omah Lowo. Sesekali mengambil video reels, atau mengabadikan dengan gawai. Berbagai furniture dari kayu jati cukup banyak tertata rapi. Hampir di setiap ruangan, berbagai koleksi batik dipajang.

Pada ruangan utama, ada meja dan kursi yang bisa kita duduki ataupun berfoto menggunakan gawai. Semua furniture ini adalah tambahan, sehingga tidak masalah ketika diduduki. Bahkan, pemandu yang menemani kami memberikan arahan spot yang menarik untuk diabadikan.

Koleksi di Omah Lowo ini berbagai batik milik Rumah Heritage Batik Keris. Tapi di bagian meja belakang terdapat album galeri yang bisa kita tonton. Dari sini, kita menjadi tahu secara runtut gambar masa lampau bangunan ini.

“Kalau bangunan yang di lantai dua itu aksesnya lewat mana, mas?” Tanyaku penasaran.

Dari luar, kita bisa melihat bangunan komplek Omah Lowo ini luas, mencakup tiga bangunan besar. Salah satunya adalah bangunan yang bertingkat. Menurut pemandu, ruangan bagian atas bukan merupakan area publik, jadi tidak diperbolehkan pengunjung naik.
Bangunan bertingkat di Omah Lowo Solo
Bangunan bertingkat di Omah Lowo Solo
Tiga bangunan yang kumaksud mencakup Omah Lowo, Area Batik Keris, serta bagian kafe yang lokasinya dekat dengan pintu masuk dari jalan raya. Jika kita ingin bersantai mengopi, bisa lanjut mengunjungi kedai kopinya.

Berkisar 15 atau 20 menit kami di dalam Omah Lowo, akhirnya tuntas sampai pintu keluar. Di luar, kami boleh memotret menggunakan kamera ataupun membuat rekaman vlog. Pemandu memberikan informasi rute taman yang memutari bangunan.

“Kalau di sini silakan memotret atau membuat vlog, mas. Kami tinggal dulu, nanti langsung keluar melalui pintu batik.”

Kuucapkan terima kasih, lantas kami bersantai sembari memotret sudut-sudut bangunan. Di bagian belakang ini ada semacam taman kecil yang menjadi ikonik bangunan dan spot foto para pengunjung. Belum ada pengunjung lainnya yang datang, sehingga kami cukup leluasa.

Cukup lama kami di Omah Lowo. Aku sendiri memotret banyak sudut bangunan dari berbagai sudut, sementara istri tak mau ketinggalan. Sesekali kubantu dia mengambil video singkat untuk reels Instagram. Dia sangat antusias dengan kunjungan ke Omah Lowo.

Omah Lowo terbuka untuk umum, bahkan kalau kalian ingin melakukan pemotretan pun bisa. Nanti tinggal berkomunikasi dengan pihak Omah Lowo, terkait tarifnya silakan dikomunikasikan sendiri. Kata pemandu harganya cukup terjangkau.

Konsep pemugaran bangunan yang dilakukan oleh Batik Keris bisa menjadi inspirasi tempat lain untuk melakukan hal yang sama. Tentu semuanya harus disertai dengan cerita tentang sejarah bangunan dan foto-foto masa lampau.

Omah Lowo Solo bisa menjadi opsi buat kalian yang ingin berlibur. Lokasinya terjangkau, ditemani pemandu yang ramah dan cakap, serta bisa untuk foto-foto bagi orang yang suka unggah di media sosial. Yang terpenting, kita tetap mengikuti aturan tidak merekam atau memotret bagian dalam ruangan dengan kamera selain gawai.

Kami keluar dan melanjutkan perjalanan. Destinasi pertama di Solo kali ini sudah terealisasikan. Hari ini masih ada beberapa destinasi tujuan sekaligus kuliner yang ingin kami sambangi dalam waktu satu hari sebelum balik ke Jogja naik KRL. *Minggu, 16 Juli 2023.

10 komentar:

  1. Bentuk bangunan peninggalan masa kolonial memang punya ciri khas tersendiri. Gada sejarah kepemilikan omah lowo mas? kayak misalnya bangunan ini digunakan untuk apa, pernah ditempati siapa, hingga sekarang kepemilikannya oleh siapa..hehhehe

    Tiket masuknya cukup unik, tinggal beli produk di batik keris kemudian dapat bonus untuk berkunjung ke omah lowo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya ada mas, tapi memang belum begitu dioptmalkan, menarik memang jika disertakan asal usul bangunannya

      Hapus
  2. wah jadi membayangkan tebalnya kotoran kelelawar di lantainya dulu

    BalasHapus
  3. Wah baru tahu ada tempat seperti ini di Solo. Selalu senang kalau ada tempat bersejarah yang terbengkalai dan kembali dipugar untuk pelestarian sejarahnya sehingga bisa jadi tujuan wisata sejarah seperti ini

    BalasHapus
  4. Kotoran kelelawar yang sekilas menjijikkan ternyata malah melindungi material lantai ya. Pelajaran agar jangan buru-buru emosi dan mengeluh. Jadi penasaran dengan lantai atas, ada misteri apa di sana. Nggak foto-foto di area cafe, mas?

    Hihi, sekarang blusukannya udah nggak sendiri lagi :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, ada hikmahnya dari timbunan kotoran kelelawar ahhahahah

      Hapus
  5. Waaah jadi kotorannya malah melindungi ya mas.

    Unik juga tiket masuknya dari barang yg dibeli di batik keris. Tapi akupun ga keberatan kalo hrs beli batiknya sekalian, soalnya kualitas batik keris memang bagus banget dan awet.๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konsepnya memang bagus, mbak. Beli produk di sini, bonusnya bisa melihat omah lowo

      Hapus

Pages