Aktivitas masyarakat sekitar pantai Dermaga Cinta terlihat lumayan sibuk. Beberapa nelayan mulai persiapan melaut. Mereka mendorong sampan sendirian, lantas mengambil mesin yang sudah disiapkan terlebih dahulu. Pagi ini, cuaca terlihat cerah.
Sejak semalam, aku sudah merencanakan untuk memotret matahari terbit di belakang hotel Ketapang Indah. Laut yang menghadap ke timur menjadi lokasi strategis dalam mengabadikan sunrise. Terlebih areanya masih berbatasan langsung dengan hotel.
Pagi menyapa, sebagian besar teman-temanku sudah menunggu matahari terbit. Aku sendiri lebih banyak berjalan santai sembari membawa kamera. Kulihat mendung tipis, tapi tetap aman untuk memotret. Tampak bakal lebih dramatis.
Pantai yang menghadap daratan Bali menjadi lebih bagus. Lekukan daratan yang jauh di sana berpadu dengan sinar matahari jingga yang terpendar. Aku menunggu momentum dua buah sampan berlayar terkembang melintas tepat di garis cahaya.
![]() |
| Memotret sunrise dan sampan |
“Sempurna,” celetukku sendiri.
Kulirik teman-teman sudah memegang gawai, semuanya tak mau ketinggalan mengabadikan matahari terbit. Di atas, awan hitam lumayan tebal mengambang, seperti menunggu matahari tertutup. Aku menunggu, karena menurutku pemandangan tersebut lebih bercerita.
Pantai Dermaga Cinta ini memanjang, secara geografis lokasi di Tanjung Klatak, Kalipuro. Bisa jadi sudah ada nama asli pantai ini, tetapi lebih dikenal dengan pantai Dermaga Cinta karena ada bangunan dermaga milik Hotel Ketapang Indah.
Tidak jauh dari sini, beberapa pantai juga masih berdekatan, seperti pantai Wiradata, pantai Klatak, pantai Cacalan, hingga sampai pantai Boom yang terkenal di Banyuwangi. Aku masih setia menunggu sampan nelayan melintas, karena pagi ini pasti cukup ramai nelayan yang hendak melaut.
Di tengah laut, terlihat beberapa perahu motor sedang tertambat. Nun jauh lagi beberapa kapal penyeberangan Ketapang-Gilimanuk melintas. Kapal-kapal besar milik ASDP hampir setiap waktu melintasi selat Bali. Pemandangan seperti ini biasa terlihat ketika kita duduk santai di tepian pantai.
![]() |
| Mendung menggelayut di ufuk timur |
Tidak jauh dari tempat memotret, sebuah dermaga kayu terlihat menarik. Aku menyusuri tepian pantai menuju dermaga tersebut. Pagi ini, sudah ada beberapa orang yang asyik menikmati pagi dari atas dermaga. Sepertinya mereka tamu yang menginap di hotel.
Dermaga kayu ini bukan milik umum. Di bagian tengah semacam ada portalnya. Tertulis dermaga milik hotel Ketapang Indah. Bisa jadi dermaga ini difungsikan bagi para wisatawan yang sekalian ikut paket snorkeling ataupun diving. Karena di resepsionis terdapat beberapa paket yang ditawarkan.
Tidak ada kapal motor yang ditambatkan. Kami leluasa menikmati pemandangan dari atas dermaga. Sebuah imbauan tidak boleh berenang ada di dermaga ini. Kulihat, selain tamu hotel, ada dua orang masyarakat setempat yang menjadikan dermaga sebagai spot memancing.
![]() |
| Dermaga Cinta di Banyuwangi |
“Sudah dapat mas?” tanyaku menyapa.
Beliau berdua bilang belum dapat ikan, karena baru datang menjelang matahari terbit. Empat jorang dipasang, mereka bersantai menikmati waktu. Aku mengamati beberapa umpang yang digunakan. Beliau menggunakan udang kecil sebagai umpan.
Di sudut yang lain, hamparan pasir putih dipenuhi sampan-sampan yang tergalang. Berbagai perahu dan kapal nelayan setempat berada di daratan. Kulihat, seorang nelayan sedang mendorong sampan menuju laut untuk melaut.
Aku mendekat, melihat aktivitas nelayan kala pagi hari. Tidak ramai, hanya satu atau dua nelayan yang hendak melaut. Bagian bawah sampan dipasang kayu bulat, lantas didorong ke bibir pantai. Jaraknya kurang dari 15 meter. Kegiatan seperti ini menjadi rutinitas.
Mesin yang digunakan adalah jenis mesin tempel, sehingga bisa dipasang secara mudah. Sampan-sampan ini digalang dalam satu tempat, untuk mesinnya dibawa pulang atau disimpan pada tempat terpisah. Mereka biasanya memancing ataupun menjaring ikan di sekitar selat Bali.
![]() |
| Melihat nelayan di pantai Dermaga Cinta Banyuwangi |
Terkadang, nelayan ini saling membantu untuk mendorong sampan hingga bibir pantai. Bahkan, sempat kulihat beberapa pengunjung yang menikmati waktu pagi turut membantu mendorong sampan. Pemandangan yang menarik untuk diabadikan.
Waktu masih cukup pagi, aku bermain pasir di pantai Dermaga Cinta. Dari sini, aku bisa melihat pesisir pantai yang memanjang. Dari kejauhan tampak ada jembatan besar. Di sisi yang lain, kapal-kapal fery menyeberang setiap waktu. Terlebih pantai ini tidak jauh dari pelabuhan Ketapang.
Aku kembali ke arah hotel untuk santap pagi. Restoran sudah buka mulai pukul 06.00 WIB. Waktunya sarapan terlebih dahulu. Sebelumnya, aku dikasih tahu jika nanti ada pelepasan tukik di pantai belakang hotel. Tentu menarik untuk diabadikan. *Banyuwangi; 27 September 2025.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar