Menyatu dengan Pengunjung Lain di Pantai Kelapa Lima Kupang kala Sore - Nasirullah Sitam

Menyatu dengan Pengunjung Lain di Pantai Kelapa Lima Kupang kala Sore

Share This

Pantai Kelapa Lima kala sore hari

Menjelang sore, pantai Kelapa Lima jauh lebih ramai. Pemandangan yang berbeda dengan saat pagi. Hampir semua sudut area terbuka di pantai penuh kunjungan. Mereka adalah wisatawan lokal, berbaur dengan masyarakat setempat.

Dari hotel, aku berlari ke pusat keramaian pantai Kelapa Lima. Jaraknya tidak lebih dari 1 kilometer. Kubawa tas kecil berisi kamera. Sesampai di sana, sudah banyak para fotografer yang berkumpul. Awalnya, kukira mereka komunitas fotografi yang hunting, ternyata mereka jasa foto untuk wisatawan.

“Wah, bagus kameranya kak,” ujar salah satu dari mereka. Kami berbincang sesaat, kemudan aku izin memotret.

Beberapa kawan fotografer sudah mendapatkan jasa untuk memotret sepasang muda-mudi. Mereka ingin berfoto dengan latar belakang tulisan pantai Kelapa Lima. Pun dengan bangunan ikonik yang menyerupai Sasando. Sore hari ini benar-benar ramai.
Landmark di pantai Kelapa Lima Kupang
Landmark di pantai Kelapa Lima Kupang
Air laut mulai surut, karang-karang di perairan dangkal terlihat jelas. Kapal kayu milik nelayan sudah banyak yang tertambat. Biasanya, waktu seperti ini banyak nelayan pulang melaut. Aku melipir ke tepian pantai, melihat aktivitas nelayan setempat.

Sore hari di pantai Kelapa Lima memang meriah. Para wisatawan berbaur dengan masyarakat setempat. Ibu-ibu penjual ikan segar mulai membuka lapak. Rencananya, aku ingin menikmati ikan segar untuk makan malam di tempat ini.

Pantai Kelapa Lima memang menjadi salah salah destinasi wisata yang populer di Kupang. Konon, di tahun 2022, pantai ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo sebagai salah satu destinasi andalan di Kupang dalam menggaet kunjungan wisatawan lokal maupun manca.

Sejak tahun 2020, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan program revitalisasi di pantai ini. Pembangunan kawasan ini bersamaan dengan penataan kawasan pantai Lai-Lai Bissi Kopan (LLBK), serta penataan Koridor 3 Jalan Fans Seda.
Kapal-kapal nelayan sudah mulai sandar
Kapal-kapal nelayan sudah mulai sandar
Penataan di kawasan pantai Kelapa Lima ini menjadi lebih rapi. Dulu kawasan ini memang sudah ramai dengan tempat jualan ikan segar, kemudian dikonsep menjadi destinasi wisata modern dengan memadukan konsep Waterfront City dengan keunikan lokal Nusa Tenggara Timur.

Waktu masih cukup banyak, sebelum ke pantai Kelapa Lima, tadi sempat hujan. Kawasan ruang terbuka di sini luas. Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan. Salah satunya, aku melihat sekumpulan anak-anak sedang berlatih karate.

Sembari menenteng kamera, aku mendekati sekumpulan anak-anak yang berlatih karate. Beberapa Senpei mengamati setiap gerakan. Terkadang Senpei membetulkan gerakan yang dirasa salah. Sepertinya, para Senpei tidak terganggu dengan kehadiranku.

“Osh” ucapku sembari sedikit membungkuk.

Senpei tersebut membalas salamku. Di tahun 2004-2006, aku mengikuti karate di SMA. Saat itu, sekolahku ada ekstrakurikuler karate Lemkari. Sepertinya sore ini memang ada Gasshuku di kawasan terbuka pantai Kelapa Lima.
Berlatih karate di area terbuka pantai Kelapa Lima
Berlatih karate di area terbuka pantai Kelapa Lima
Ruang publik di pantai Kelapa Lima yang luas ini dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas. Mulai dari duduk santai, berolahrga, menunggu momentum melihat matahari terbenam. Pantai yang menghadap ke barat menjadikan Kelapa Lima sebagai spot favorit melihat matahari terbenam.

Tidak sedikit yang datang ke pantai sekadar duduk santai menikmati pemandangan laut kala sore. Sementara itu, para jurufoto menawarkan jasanya dengan harga terjangkau. Sepertinya, sore ini sudah banyak wisatawan yang minta diabadikan.

Di pantai Kelapa Lima, terdapat dua bangunan besar yang menyerupai rumah adat Lopo dengan atap daun lontar. Bangunan ini dipergukanan sebagai tempat pelaku UMKM. Lebih sering dimanfaatkan untuk makan malam para wisatawan dengan hidangan ikan segar yang dijual.

Di samping bangunan besar itu, terdapat sepetak hamparan pasir putih. Sekumpulan anak sedang asyik bermain sepak bola. Mereka memanfaatkan pasir tersebut sebagai lapangan bola. Keseruan mereka dalam bermain bola menjadi tontonanku.
Anak-anak bermain sepak bola di pantai
Anak-anak bermain sepak bola di pantai
Sekumpulan anak berlarian mengejar bola. Suaranya riuh, beriringan dengan gelak tawa para penonton. Tanpa menggunakan sepatu, mereka gesit berlarian mengejar bola, kerkadang harus menghindari bebatuan di tepian.

Gawang terbuat dari tancapan bambu ataupun dahan kayu. Tidak ada bagian mistarnya. Aturannya sederhana, ketika penjaga gawang tidak sampai mengenaik tangan bagian atas ketika bola masuk gawang, tidak gol.

Pun dengan aturan garis tepi lapangan. Jika bola mengenai air laut, artinya keluar. Penonton cukup banyak, para orang dewasa duduk santai melihat mereka bermain sepak bola. Aku sendiri sesekali memotret dan mengambil video.
Sore hari bermain sepak bola di tepi pantai
Sore hari bermain sepak bola di tepi pantai
Salah satu anak yang ikut bermain sepak bola melihatku membawa kamera. Dia memberi kode untuk diabadikan. Kuabadikan beberapa kali anak yang menjadi kipper tersebut. Kemudian, aku larut dengan permainan sepak bola di tepi pantai.

Makin petang, pantai Kelapa Lima makin ramai. Gemerlap lampu makin banyak, suara musik makin kencang. Waktunya balik hotel. Aku sudah mempunyai rencana untuk mengajak rombongan makan malam di pantai Kelapa Lima.

Penataan di pantai Kelapa Lima ini bermanfaat bagi masyarakat. Berbagai lapak penjual ikan makin rapi, tempatnya menjadi lebih bersih, dan kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan pantai terjaga. Tidak sabar datang ke sini untuk menikmati ikan segar. *Kupang; 08 September 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages