Kulirik jam tangan dengan gusar. Penerbangan yang seharusnya pukul 17.00 Wita tertunda sampai menjelang magrib. Aku duduk di kursi mengusir kegelisahan. Padahal dari bandara El Tari cuaca terlihat cerah. Ketika transit di bandara Ngurah Rai, cuaca berubah drastis.
Sepertinya, jadwal ditunda ini cukup lama. Setelah perjalanan keberangkatan tertunda, kali ini perjalanan pulang pun mengalami hal yang sama. Bedanya, untuk hari ini memang cuaca di Bali sedang tidak bersahabat, dan hampir semua penerbangan ditunda.
Sebelumnya, kami sedang bersantai menunggu penerbangan dari bandara El Tari, Kupang. Kulihat berbagai layar monitor menginformasikan jadwal keberangkatan pesawat. Sempat panggilan beberapa kali penerbangan dari Kupang menuju Labuan Bajo.
Calon penumpang pesawat di ruang tunggu membludak. Sepertinya harus ada penambahan pintu dan kursi tunggu di bandara El Tari. Aku duduk di salah satu kursi panjang, sesekali mengabadikan keramaian di ruang tunggu bandara
![]() |
| Ruang tunggu di bandara El Tari Kupang |
Pukul 12.30an Wita, penerbangan Kupang – Jogja dipanggil untuk melewati pintu 1. Barisan penumpang mengular panjang, semuanya antre masuk dalam dua barisan. Aku mengikuti antrean panjang tersebut sembari menyiapkan boarding pass dan kartu identitas.
Penumpang pesawat menuju Bali ataupun Jogja ramai. Tak lama kemudian, aku sudah di dalam pesawat. Kulirik nomor kursi yang tertera, aku sengaja memilih huruf C, sehingga duduk di lorong. Entah kenapa di beberapa penerbangan terakhir, aku suka melihat lorong daripada di jendela.
Berkali-kali pramugari menginformasikan kepada penumpang untuk duduk pada tempatnya. Terkadang mereka harus mencari kabin yang kosong untuk barang bawaan penumpang. Tiap maskapai mempunyai aturan tersendiri terkait berat bawaan di kabin.
![]() |
| Pesawat Lion Air di landasan pacu bandara El Tari Kupang |
Sesuai rencana, kemungkinan transit sebelum penerbangan Bali – Jogja selama 3 jam. Kami memang tidak ada rencana keluar, karena sudah lumayan capek. Ingin rehat santai di ruang tunggu. Penerbangan dimulai, aku sempatkan untuk tidur.
Informasi pesawat hendak mendarat terdengar, cuaca di Bali berbeda dengan di Kupang. Sepertinya sedang mendung tebal. Begitu mendarat, aku melongok ke jendela. Ternyata memang habis hujan deras. Sembari perjalanan transit, aku mengecek media sosial.
Ternyata sejak semalam di Bali cuaca buruk. Bahkan di tengah kota banjir, berbagai video amatir di media sosial memperlihatkan banjir lumayan besar di pusat kota Denpasar. Untuk sesaat kuabaikan, aku mencari jalur transit, dan menuju ruang tunggu.
Benar saja, ruang tunggu di bandara Ngurah Rai Bali padat. Awalnya aku kira memang banyak penerbangan yang berdekatan. Namun dari informasi yang terdengar, beberapa maskapai hampir semuanya tertunda. Kulirik monitor informasi keberangkatan, hampir semuanya merah.
![]() |
| Mencari tempat duduk kosong di bandara Ngurah Rai Bali |
Awalnya, kami tak menghiraukan informasi tersebut. Karena memang penerbangan kami masih cukup lama. Di sampingku, keluarga besar dari Kalimantan hendak balik bercerita kalau perjalanan dari hotelnya di tengah kota Denpasar menuju bandara lebih 2 jam karena banjir.
Pukul 16.30an Wita, rombongan yang menuju Kalimantan pesawatnya berangkat. Kami masih santai, karena memang belum ada informasi perubahan apapun di jadwal penerbangan. Maskapai yang sama tiba-tiba menginformasikan perubahan penerbangan. Kulihat kode penerbangannya beda, sehingga aku tenang.
Baru juga merasa tenang, kode penerbanganku disebutkan. Penerbangan kami ditunda sampai pukul 21.00 Wita. Aku langsung menuju monitor penerbangan, ternyata semua maskapai dengan arah ke Jawa dibatalkan semua. Tidak hanya maskapai yang kami naiki.
![]() |
| Memantau informasi penerbangan di monitor |
Kami saling tertawa, karena kejadian kembali berulang, hanya beda kasus. Ketika kami penerbangan ke Kupang, permasalahan ada di pesawat. Untuk kali ini, permasalahannya memang cuaca sedang tidak menentu. Akhirnya kuputuskan untuk berkeliling di bandara.
Beruntung aku membawa Tab, jadi waktu menunggu tidak terasa lama. Aku mengusir rasa bosan dengan membaca beberapa tulisan di media. Hal ini dikarenakan aku lupa membawa buku bacaan. Biasanya, aku pasti membawa minimal satu buku bacaan sebagai teman.
Menjelang pukul 21.00 Wita, kembali ada informasi kalau penerbangan ditunda kembali. Hingga akhirnya pukul 22.30 Wita, kami terbang ke Jogja. Beruntung selama penerbangan cuaca mendukung. Tengah malam kami turun di bandara YIA.
Berhubung sudah tidak ada kereta bandara, kami berinisiatif untuk memesan jasa kendaraan di bandara. Harganya memang lebih mahal, tapi bisa disiasati dengan patungan berempat. Perjalanan ke Kupang memang menyenangkan sekaligus tak terlupakan. *Kupang – Bali – Jogja; 10 September 2025.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar