Segelas kopi yang sudah dibuatkan oleh barista kubawa ke meja di area luar kafe. Aku duduk santai sembari sesekali menyesap minuman dingin tersebut. Sore ini, aku menyambangi kafe kopi Nako Lampung. Lokasinya tepat di seberang hotel Raddison Kedaton Lampung.
Sebelumnya, sedari pagi hingga sore, aku bersama tim melakukan gladi resik di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Besok pagi, kami mempunyai kegiatan di Unila berkaitan dengan pascasarjana. Sejak di Lampung, aku belum sempat mengopi.
Kedai kopi Nako Lampung ini menjadi pilihanku karena lokasinya dekat hotel. Aku tinggal menyeberang jalan utama. Berhubung jalannya ramai, aku sengaja jalan kaki mengitari jembatan layang di dekat rel. Dari sini, kendaraan yang melintas lebih sedikit.
Bangunan kedai kopi Nako Lampung sebagian besar berdinding kaca yang menjulang tinggi. Namun, area Kopi Nako Lampung luas, karena banyak tempat terbuka yang bisa ditempati. Aku masuk tempat kasir dan mengantre pesanan.
![]() |
| Bangunan Kopi Nako di Lampung |
Menjelang petang ini, pengunjung di Kedai kopi Nako Lampung makin ramai. Rata-rata yang datang berkelompok. Mulai dari remaja SMA, hingga keluarga. Meski begitu, di kedai kopi Nako Lampung suasananya tetap asyik karena areanya luas.
Aku mengantre, di depanku sudah ada beberapa pengunjung yang hendak memesan minuman. Ketika sudah mendekat kasir, aku memesan minuman clod brew dan seporsi pisang goreng. Cold brew di Kopi Nako dibagi menjadi dua pilihan menu.
“Biji kopi yang arabika saja,” ujarku ketika mendengar opsi dari kasir.
Ternyata cold brew di Kopi Nako terbagi menjadi dua jenis. Salah satu cold brew ditulis dengan nama “Kopi Sans”. Kopi Sans ini merujuk pada cold brew dengan biji kopi arabika. Sementara cold brew dengan campuran biji kopi robusta dan arabika disebut dengan kopi serius.
Seporsi pisang goreng dan segelas cold brew ini harganya 47.000 rupiah. Satu gelas cold brew harganya 27.000 rupiah. Layaknya kafe di banyak tempat, pembelian minuman dan makanan sudah termasuk dengan pajak.
![]() |
| Mengantre di Kopi Nako Lampung |
“Boleh motret di sini?” tanyaku sembari memperlihatkan kamera yang kubawa.
“Untuk keperluan apa?” tanya kasir.
Aku menjawab bahwa kebiasaanku di kedai kopi memotret kedai kopi tersebut. Biasanya hasil foto aku gunakan sebagai pendukung dalam tulisan. Kasir yang melayaniku dia sejenak. Bisa jadi kasir sedang mencerna jawabanku.
“Kalau tidak boleh memotret tidak apa-apa,” ucapku kembali.
“Boleh kak, tapi mohon tidak masuk ke ruangan untuk pengunjung yang sedang bekerja atau belajar,” ujar kasir.
Aku mengiyakan. Tidak jauh dari area kasir, kulihat memang ada satu ruangan yang digunakan pengunjung untuk bersantai sembari bekerja maupun belajar. Aku memastikan tidak memotret ruangan sana. Takutnya mengganggu pengunjung yang sedang bersantai.
Area yang kupotret hanya bagian depan. Tepatnya tempat duduk terbuka dengan sebuah pohon besar yang ikonik. Sepertinya pohon besar ini menjadi salah satu spot ikonik bagi Kopi Nako Lampung. Di sini, suasananya memang rindang. Sehingga setiap saat tak terasa panas.
![]() |
| Pohon ikonik di depan kedai Kopi Nako Lampung |
Pesanan sudah jadi, aku mengambil di bagian luar ruangan. Berhubung ingin duduk santai sembari melihat keramaian Bandar Lampung, aku memilih area luar ruangan. Mencari meja yang hanya dilengkapi dua kursi, lantas meletakkan kopi dan pisang goreng.
Lumayan lama aku tidak menyesap cold brew. Kusesap minuman dingin ini sembari melepas lelah, setelah setengah hari sibuk menyiapkan banyak hal di kampus. Menjelang sore, menikmati cold brew memang menyenangkan.
Sesekali kumakan pisang goreng yang masih panas. Baru juga menyesap minuman beberapa teguk, aku mendapatkan pesan melalui WA. Ada sedikit keperluan yang harus kuselesaikan sore ini. Bergegas aku menuju kasir untuk membungkus pisang goreng.
![]() |
| Segelas kopi sans dan seporsi pisang goreng di Kopi Nako Lampung |
“Pakai plastik seperti itu saja,” jawabku ketika melihat pramusaji hendak menambahkan bungkusan lainnya.
Sebagai informasi, Kopi Nako ada banyak cabang, salah satunya di Jogja. Namun, kali pertama aku mengunjungi Kopi Nako malah di Lampung, karena lokasinya hanya di seberang hotel. Aku bergegas menyeberang jalan menuju hotel.
Sebenarnya, aku tidak ada target mengunjungi kedai kopi selama di Lampung. Jadi aku lebih santai, karena memang tujuan utama untuk bekerja. Cold brew dari Kopi Nako kubawa ke hotel, kumasukkan dalam kulkas mini yang ada di kamar.
Meski hanya sebentar di Kopi Nako Lampung. Salah satu yang menarik perhatianku adalah banyaknya remaja dan anak sekolah yang nongkrong di tempat tersebut. Untuk minumannya, kalian bisa menjajal clod brew sebagai pilihan, karena tidak semua kedai Kopi Nako mempunyai menu cold brew. *Lampung; 18 Maret 2026.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar