Suasana tenang di Waduk Tempuran Blora, pagi ini masih cukup sepi. Salah satu warung makan yang paling populer pun baru mau buka. Kami berjalan menuju salah satu bagunan besar, menikmati pemandangan sembari memesan ikan untuk dibakar.
Sejak minggu yang lalu, istri mengabari kalau keluarga ingin mengajak kami keluar makan bersama. Mereka sudah merundingkan destinasi tujuannya adalah waduk Tempuran, Blora. Dari rumah, jarak menuju waduk Tempuran sekitar 30 kilometer.
Tiga sepeda motor melintasi jalan Rembang – Blora. Kami melintasi jalur sewaktu membeli legen di ruas jalan Sulang. Sesampai perempatan pasar Sulang, kami belok kiri menuju arah Blora. Jalanan cenderung ramai, namun tetap nyaman untuk dilintasi.
Mendekati lokasi, jalan lebih kecil dan cenderung sebagian berlubang. Begitu sampai di waduk Tempuran, terlihat beberapa remaja sedang asyik bersantai di salah satu warung yang lokasinya berdekatan dengan tulisan Tempuran.
![]() |
| Jembatan kecil di waduk Tempuran Blora |
Pagi ini tidak terlihat petugas yang meminta karcis. Aku tidak tahu, apakah ada karcisnya atau tidak memasuki waduk Tempuran. Sepeda motor kami melintasi jembatan kecil, lantas masuk gang sempit menuju Warung Iwak Kali.
Dari berbagai informasi yang tertulis, waduk Tempuran ini pertama kali dibangun pada masa Belanda. Waduk dimanfaatkan untuk menampung air, karena di sekitar sana memang penuh bentangan sawah. Kini, waduk Tempuran juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan tawar.
Sembari menunggu pesanan ikan datang, aku melihat waduk dari salah satu sudut daratan. Di ujung terlihat perbukitan kecil. Selain itu juga perkebunan masyarakat setempat yang ditanami palawija dan sayuran. Tanah di sini terlihat subur dengan pasokan air melimpah.
Di waduk Tempuran, terdapat petakan keramba ikan air tawar. Keramba-keramba ini konsepnya terapung dengan pelampung berbagai tong besar. Setiap keramba terdapat beberapa petakan yang dimanfaatkan untuk budidaya ikan.
![]() |
| Keramba apung di waduk Tempuran Blora |
Sepertinya, waduk Tempuran ini menjadi salah satu destinasi wisata bagi masyarakat Blora dan sekitarnya. Lokasi yang dapat terjangkau dari Blora maupun Rembang menjadikan waduk Tempuran sebagai destinasi strategis.
Aku tidak menjelajah lebih jauh area waduk Tempuran. Namun, dari sudut pandangku, memang areanya cukup minim. Waduk Tempuran berdekatan dengan rumah-rumah warga, sehingga harus ada pengelolaan khusus jika hari-hari tertentu.
Pada pintu masuk tadi, sudah ada arahan untuk kendaraan roda empat. Bisa jadi pada hari-hari tertentu, pengunjung di waduk Tempuran padat. Di salah satu sudut waduk, terdapat satu buah perahu naga yang tertambat.
Melihat adanya perahu naga ini, bisa jadi memang ada jasa keliling naik perahu di waduk Tempuran. Selain perahu, di pinggirannya juga tertumpuk jaket pelampung di sebelah tambatan tali menuju dermaga apung kecil.
![]() |
| Perahu naga di waduk Tempuran Blora |
Tampak juga salah satu orang yang sedang asyik memancing di perahu. Sepertinya, waduk Tempuran memang menjadi salah satu spot memancing bagi para pecinta jorang. Aktivitas masyarakat sekitar juga terlihat, ada yang asyik mendayung sampan kecil di waduk.
Waktu belum siang, aktivitas masyarakat tidak seramai kala sore hari. Waduk Tempuran ini terlihat cukup dalam airnya. Permukaan air cukup tenang, sehingga pantulan lanskap alam terlihat jelas layaknya cermin. Aku mengabadikan beberapa kali untuk stok konten di media sosial.
Ikan-ikan yang kami pesan di Warung Iwak Kali sudah disiapkan. Kami menikmati santap siang di waduk Tempuran. Berbagai jenis ikan bakar maupun goreng disediakan. Warung Iwak Kali di Tempuran cukup luas dengan konsep banyak gazebo.
Sepertinya, warung yang kami sambangi ini memang paling besar. Karena ketika menjelang siang, sudah banyak pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat yang menikmati makan siang. Parkir di sini pun hanya 2000 rupiah untuk sepeda motor.
![]() |
| Kuliner ikan bakar di Warung Iwak Kali waduk Tempuran |
Menjelang tengah hari, pengunjung makin ramai. Sebagian besar pengunjung ingin menikmati makan siang di Warung Iwak Kali. Gazebo-gazebo yang awalnya sepi mulai ada pengunjungnya. Kami sendiri sudah selesai santap siang.
Sepertinya, masyarakat sekitar lebih banyak yang berkunjung ke waduk Tempuran menjelang sore. Bisa jadi lanskapnya lebih indah dengan suasana matahari bersiap tenggelam. Tidak banyak waktuku menjelajah di waduk Tempuran, hanya bersantai sembari makan siang.
Waduk Tempuran bisa menjadi opsi destinasi wisata bagi masyarakat Blora dan sekitarnya. Semoga waduk ini dikelola dengan lebih baik, tetap terjaga kebersihannya, sehingga makin ramai yang berkunjung, khususnya libur akhir pekan.
Kami belanjut pulang. Sepeda motor kembali kunaiki, lalu lintas kala siang makin ramai. Sejak berangkat, aku sengaja menghidupkan Gopro yang kusematkan di dada. Harapanku bakal menjadi vlog motor yang menarik. Tapi kejutan selalu ada. Percayalah, rekamannya tak seindah yang kubayangkan. *Blora; 02 Mei 2026.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar