Desa Wisata Edukasi Bencana Petung Mengubah Puing Erupsi Menjadi Ruang Belajar Kebencanaan - Nasirullah Sitam

Desa Wisata Edukasi Bencana Petung Mengubah Puing Erupsi Menjadi Ruang Belajar Kebencanaan

Share This

Desa Wisata Edukasi Bencana Petung
Puing-puing sisa erupsi merapi terlihat jelas di depanku. Di tahun 2010, daerah ini merupakan salah satu kawasan yang terkena dampak erupsi merapi. Aku mengikuti rombongan yang sedang belajar edukasi bencana di desa Petung.

Kami sedang berkumpul di salah satu masjid. Namanya Huntap (Hunian Tetap) bagi warga yang wilayahnya masuk kawasan rawan bencana. Bersama masyarakat setempat, kami mendengarkan pemaparan terkat bangkitnya masyarakat desa Petung untuk pulih bersama.

Rumah baru yang dibangun pemerintah dikenal dengan nama Hunian Tetap ini dilaksanakan secara bertahap. Warga desa Petung, Kaliadem, Jambu, sebagain Kopeng, dan Manggong direlokasi ke Huntap Pagerjurang dan Huntap Batur.

Dari pemaparan warga Petung, Huntap Pagerjurang dibangun pada tahun 2012 di dusun Giriharjo, Desa Kepuharjo dengan luas lahan sekitar 66.000 meter persegi dengan ratusan unit rumah tahan gempa. Lengkap juga fasilitas litrik dan air bersih.
Desa Wisata Edukasi Bencana Petung
Desa Wisata Edukasi Bencana Petung
Di tempat baru inilah, warga desa Petung mulai dari awal. Huntap bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi lebih dari itu. Warga Petung memulai membangkitkan perekonomian dan sosial. Meski bentu, tanah yang luluhlantah terkena erupsi masih bersertifikat nama warga.

Pengalaman dari erupsi merapi menjadikan warga Petung menggagas desa wisata edukasi bencana. Desa wisata edukasi tersebut tidak hanya menawarkan lansekap alam lereng merapi yang indah, tetapi bagaimana memberikan pengalaman untuk migitasi bencana secara langsung.

Desa Petung terus menggeliatkan perekonomian warga. Berlokasi di lereng Merapi, beberapa warga mempunyai tanaman kopi. Maka jangan kaget, jika di sekitar sini banyak warung kopi dengan konsep ala pedesaan. Warung-warung seperti ini ramai dikunjungi wisatawan.

Selain itu, warga desa Petung juga merawat hewan ternak. Salah satunya adalah sapi perah. Kami diajak berkeliling di Huntap, melihat aktivitas warga, dan menyambangi kandang ternak sapi perah. Aktivitas seperti ini mengingatkanku ketika ikut Eksplor Desa Wisata.
Sapi perah di desa wisata edukasi bencana Petung
Sapi perah di desa wisata edukasi bencana Petung
Lokasi kandang sapi ternak tidak jauh dari rumah warga. Namun lokasinya cukup berjarak dan tidak berbaur menjadi satu di rumah. Sapi-sapi dirawat dengan baik, ada beberapa kandang besar yang lokasinya berdekatan. Siang ini, tidak ada aktivitas memerah susu sapi.

Kami menyusuri kandang sapi. Beberapa orang di rombongan mencoba memberi makan sapi. Rumput pakan ternak sudah disiapkan. Aku sendiri malah sibuk memotret sapi-sapi yang sedang mengunyah rumput. Bagi rombongan dari luar negeri, aktivitas seperti ini menjadi pengalaman yang baru.

Gunung Merapi terlihat jelas sedari pagi. Aku meneduh di salah satu teras dekat kandang sapi. Rombongan sedang mendengarkan pemaparan dari warga terkait ternak sapi. Sepertinya, tempat penyerahan susu sapi hasil perah di tempat ini.
Penduduk setempat pulang dari ambil pakan ternak
Penduduk setempat pulang dari ambil pakan ternak
Dua ibu melintasi rombongan kami. Beliau berboncengan di sepeda motor. Rumput pakan ternak diikat pada jok belakang, dan salah satu ibu duduk di atas rumput. Sehingga posisi beliau lebih tinggi daripada yang mengendarai.

Senyum sumringah kedua ibu ini saat melintasiku. Sepeda motor diparkirkan, lantas mereka berdua menepi sesaat di dekat salah satu kandang sapi. Kusapa beliau yang sedang melepas lelah, menyeka keringat sembari melihat rumput ternak yang diambilnya.

“Ambil rumput di mana bu?”

“Di sekitar bunker, mas,” jawab salah ibu-ibu yang membawa rumput pakan ternak.

Jauh juga beliau mengambil rumput pakan ternak. Beliau menceritakan bahwa rumput yang diambil memang liar, tapi tetap dirawat sehingga ke depannya bisa diambil lagi ketika sudah menghijau. Tak lama kemudian, satu mobil bak terbuka melintas.
Rumah-rumah yang terkena merapi di tahun 2010
Rumah-rumah yang terkena merapi di tahun 2010
Di dalam bak mobil tersebut, beberapa karung besar berisi rumput pakan ternak yang diambil bersama. Sejak pagi beliau berangkat mencari rumput, kemudian pulang sebelum waktu azan duhur berkumandang. Pemandangan seperti ini lazim kita lihat di sudut-sudut desa yang ada kandang sapi ataupun kambing.

Tidak hanya diajak keliling di Huntap, rombongan kami juga diajak menuju desa Petung yang lama. Desa ini sudah tinggal kenangan. Bangunan rumah, peralatan dapur, elektronik, sepeda motor, dan yang lainnya terkena erupsi merapi.

Tempat ini dijadikan semacam museum. Sisa-sisa erupsi merapi menjadi artefak yang kemudian dimanfaatkan sebagai wahana pembelajaran. Sehingga di Petung itu menjadi desa wisata edukasi bencana. Rombongan kami melihat bagaimana ganasnya wedhus gembel di tahun 2010.
Melihat foto-foto tentang bencana Merapi di tahun 2010
Melihat foto-foto tentang bencana Merapi di tahun 2010
Museum Mini Sisa Hartaku, itulah namanya. Bangunan ini dulunya adalah rumah-rumah warga yang hangus dan tertimbun abu vulkanik. Semuanya tidak dibongkar, tetapi tetap dipertahankan seperti sediakala dengan tujuan edukasi bencana sekaligus bukti kerusakan akibat erupsi.

Selain sebagai tempat edukasi bencana oleh desa wisata Petung, museum ini juga menjadi salah satu destinasi tujuan para wisatawan yang mengikuti tur jeep di Merapi. Museum menjadi spot untuk mengenalkan ke wisatawan umum tentang dampak erupsi merapi.

Selama di museum, aku melihat silih berganti wisatawan yang datang. Banyak yang sekadar berfoto, namun tidak sedikit pula yang berkeliling sembari ditemani pemandu lokal. Dari bencana, kini masyarakat di lereng Merapi bangkit untuk meningkatkan perekonomian setempat. *Selasa; 21 Juli 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages