Ini Manusia, bukan Burung - Nasirullah Sitam

Ini Manusia, bukan Burung

Share This
Menggoda cewek dengan siulan
Ilustrasi: Menggoda cewek dengan siulan (Sumber: www.clipartguide.com)
Sore ini kami (anak-anak kos) lagi rajin-rajinnya main futsal. Biasanya sebulan hanya sekali, kali ini dalam satu minggu kami main futsal dua kali. Ngalahin Liga Indonesia aja yang jadwalnya sering diundur-undur. Agar fisik kami lebih kuat, kami putuskan setiap sore kami olahraga. Tempatnya sudah jelas, pasti disekitaran kampus UGM. Selain ramai, pemandangannya juga lebih menambah semangat tinggi.

“Berapa putaran kita larinya?” Tanya Sariman mulai ngos-ngosan.

Aku dan teman lainnya hanya melirik sebentar, tanpa ada rasa ingin menjawab kami lanjutkan lari mengelilingi GSP. Sariman mulai melemah, sedikit demi sedikit langkahnya semakin jauh tertinggal. Aku sengaja menoleh ke belakang, dia sudah duduk tanpa daya dipinggiran jalan. Mungkin bebannya lebih berat, selain capek karena lari; dia juga capek karena dikejar-kejar bu kos untuk bulanan.

Lebih dari lima putaran kami selesai, kemudian duduk dipinggir Sariman yang masih lemas. Mulutnya tidak lepas dari sebatang rokok, sedangkan tangannya masih sibuk memencet keypad hp. Sesekali dia memalingkan pandangannya menuju objek yang menurutnya menarik untuk dipandangi berlama-lama. Setiap ada cewek yang berlari dihadapan, Sariman pasti berulah.

“Suiiitt… Suittt…!!” Sariman bersiul.

Weh kok malah larinya kencang,” Gumannya agak heran.

“Takut lihat wajahmu dia, Man,” Sahut Tambor tertawa.

“Kok bisa, bang?” Sariman tambah heran.

“Wajahmu memang menakutkan kok, Man,” Jawab Tambor kembali.

Kejam banget Tambor, tapi sekejam apapun kami pada Sariman, dia tetap tidak pernah tersinggung. Itulah hebatnya Sariman.

“Udah berapa cewek yang kena bribik­-mu, Man?” Tanya Denis.

“Baru satu, bang. Lha aku BC tapi yang respon hanya satu orang,” Keluh Sariman.

Baru selesai mengeluh, dia kembali berulah. Gerombolan cewek cantik lewat depan kami. Sepertinya Sariman mempunyai sinyal khusus kalau ada cewek cakep yang mau lewat, dengan segala ilmunya, dia kembali bersiul.

Suiit, suiiit!!

Cewek tersebut menoleh ke arah suara siulan, kami langsung menunduk. Tapi tidak dengan Sariman, dia malah bertingkah layaknya cowok yang paling hebat.

“Suit-suit, emangnya kami burung, mas!!” Bentak salah satu cewek ke Sariman.

Mendapat serangan yang tidak terduga, Sariman tersentak kaget. kami tertawa sekencang-kencangnya.

“Makanya, Man. Besok-besok kalau ketemu cewek itu jangan bersiul, ntar dikira manggil burung,” Ucapku menahan tawa.

“Bener bang, besok aku panggil pesek aja,” Jawabnya tanpa dosa.
Baca juga postingan yang lainnya 

6 komentar:

  1. hahaha sariman genit sih,pake siul-siulan segala.akhirnya ada yang menggubris juga kan " emangnya kita burung" hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang membuat aku kadang melupakan Sariman mbak :-D

      Hapus
  2. hahahaha suit suit emangnya kami burung, kamu kali yang burung man sariman :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sariman bukan burung, tapi...... entahlah :-D

      Hapus
  3. wahaha, kelakuan anak kos yang hobi main futsal.
    suit-suit..... emangnya burung :-))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya ini lebih kearah naluri cowoknya seorang Sariman :-D

      Hapus

Pages