Kawasan Jalur Pedestrian Malioboro dan Sudut Jalan Kampung Ketandan - Nasirullah Sitam

Kawasan Jalur Pedestrian Malioboro dan Sudut Jalan Kampung Ketandan

Share This
Pedestrian Malioboro dan Sudut Jalan Kampung Ketandan
Pedestrian Malioboro dan Sudut Jalan Kampung Ketandan
Sejak diresmikan akhir desember 2016, pedestrian Malioboro menjadi kawasan yang paling digandrungi pengunjung. Mereka menikmati waktu pagi, siang, sore, ataupun malam hari untuk sekedar duduk santai dan berbincang dengan teman. Aku sendiri sudah beberapa kali menikmati kala pagi hari di sini.

Seperti halnya pagi ini, libur nasional (pilkada 2017) kuhabiskan waktu dengan mengayuh pedal sepeda menikmati suasana kota. Awalnya aku hanya duduk di Tugu Jogja, lalu pindah ke kawasan pedestrian Malioboro. Pagi hari memang menjadi waktu favorit bagi sebagian besar masyarakat berkunjung ke sini.

Antusias pengunjung Malioboro benar-benar terlihat. Walau masih pagi, banyak kursi yang dipasang permanen sudah dipenuhi para pengunjung. Mereka meluangkan waktu untuk membaca Koran, bercengkerama dengan teman, atau sekedar berswafoto. Mengasyikkan memang kala pagi di pedestrian Malioboro.
Suasana pagi di Malioboro
Suasana pagi di Malioboro
Fasilitas umum tidak hanya kursi permanen saja, jalanan untuk pejalan kaki lebih luas. Di tengah-tengah sebenarnya terdapat tanda jalur untuk difabel. Namun belum sepenuhnya diperhatikan. Satu hal yang membuatku puas, di sini ada banyak spot area parkir sepeda. Jadi aku tidak perlu kebingungan untuk memarkir sepeda. Bahkan ada juga sepeda-sepeda yang bisa dipakai umum sepanjang di Malioboro.

Kuparkirkan sepeda di salah satu area parkir. Tidak lupa mengunci sepeda, lalu kutinggalkan jalan kaki menyusuri pedestrian. Aku hanya ingin mengabadikan momen kala pagi, sekaligus memperhatikan jika ada teman-teman pesepeda yang lewat di Malioboro. Tiap libur biasanya banyak teman yang hanya sekedar bersepeda menyusuri jalan-jalan kota.
Bangku-bangku permanen di Maliboro digunakan pengunjung untuk duduk santai
Bangku-bangku permanen di Maliboro digunakan pengunjung untuk duduk santai
“Kami masih di Tugu, nanti ke Malioboro dan Ketandan.”

Sebuah pesan kubaca digrup WA. Pagi ini ternyata banyak teman yang akan menuju Malioboro. Aku sendiri hanya memantau saja, sengaja tidak membalas. Niatnya sih biar menjadi kejutan bagi teman-teman.

“Jamunya mas?” Sapa seorang ibu sembari menawarkan jamu.

“Tidak bu, terima kasih.”

Ada banyak penjual kala pagi di area Malioboro. Mereka berjalan dan menjajakan jualannya. Seperti ibu yang tadi menyapaku, beliau menuntun sepeda yang penuh dengan Jamu. Selain itu ada juga ibu-ibu yang menawarkan Pisang Rebus.
Kuliner pagi di sepanjang jalan Malioboro
Kuliner pagi di sepanjang jalan Malioboro
Pemandangan pagi dan sore memang sedikit berbeda. Jika sore menjelang magrib, ada banyak warung lesehan yang memadati seputaran Malioboro. Sedangkan kalau pagi hanya ada gerobak-gerobak penjual kuliner. Pengunjung pun biasanya menyempatkan untuk sarapan di kawasan Malioboro.

Tepat di depan Mall Malioboro, tiap pagi banyak kuliner yang berjualan. Salah satu yang paling favorit dibeli para pengunjung adalah Pecel. Nasi Pecel memang menggugah selera, terlebih disajikan dengan berbungkus daun pisang. Banyak wisatawan yang sarapan pecel ditemani Teh hangat.

Aku masih asyik duduk di kursi seraya menyapu pandangan ke segala penjuru. Awalnya sepedaku terparkir sendiri, akan tetapi sekarang sudah ada beberapa sepeda pengunjung lain yang berjejeran terparkir rapi. Tanganku masih memegang kamera, memotret apa saja sekiranya membuatku tertarik mengabadikannya.
Sepedaku terparkir di fasilitas parkir Malioboro
Sepedaku terparkir di fasilitas parkir Malioboro
Kawasan Malioboro memang sudah dikonsep dengan baik. Selain kursi dipasang berbaris rapi, diselingi tempat duduk unik seperti batu bulat dan lainnya. Di sepanjang jalan Malioboro juga tertata tanaman yang terkapling. Sayangnya sebagian titik tanaman tersebut rusak ulah segelintir pengunjung tak bertanggung jawab.

Tempat sampah juga sudah disebar dengan jarak tertentu. Hanya saja kepedulian para pengunjung belum serta-merta sadar akan membuang sampah pada tempatnya. Masih tersisa sampah yang terselip di antara pot tanaman, atau hanya dibuang berserakan. Pagi ini kulihat dua bapak petugas kebersihan mulai menyapu bersih setiap sudut tepi jalan.
Petugas kebersihan sedang bekerja
Petugas kebersihan sedang bekerja
Dituntun gerobak berwarna hijau, di dalamnya sudah penuh tumpukan sampah. Beliau berdua menyeruak di keramaian pengunjung mengambil sampah yang tercecer. Kedua mata menyapu segala penjuru, jika dilihat ada sampah, beliau menghampiri dan memungutnya. Sosok-sosok inilah yang berusaha membuat Malioboro tetap bersih. Sudah seyogyanya kita juga ikut sadar kebersihan lingkungan. Minimal tidak membuang sampah sembarangan.

Sudut kampung Ketandang yang Instagramable

“Ayo mas lanjut ke Ketandan!” Teriak seorang pesepeda padaku.

Rombongan pesepeda melintasi jalan Malioboro. Aku tidak menghitung berapa jumlahnya, tapi yang kuingat mereka adalah bagian dari teman yang tadi ngobrol digrup WA. Bergegas kumasukkan kamera ke dalam tas, lalu ikut bersama rombongan. Tujuan kali ini adalah sudut bangunan di Kampung Ketandan.

Bagi kalian yang berada di Jogja dan mengikuti akun-akun sosial media Jogja, tentu kalian sudah pernah melihat hasil potret fotografer yang menampakkan sudut bangunan ala Tionghoa di Jogja. Ketandan adalah kampung Pecinan yang berada di kawasan Malioboro. Tepatnya berada di belakang Ramayana Mall Malioboro. Sebuah gapura besar bercorak Tionghoa menjadi patokannya.
Sudut bangunan di Ketandan
Sudut bangunan di Ketandan
Awal bulan Februari kemarin, event besar dilakukan di sini. Pekan Budaya Tionghoa yang berpusat di Ketandan menjadi daya tarik masyarakat untuk mengunjungi Malioboro. Pagi ini sudah banyak pesepeda yang menuju rute sama, ingin berfoto di sudut Kampung Ketandan.

“Sepedanya saja yang dipotret,” Celetuk salah satu pesepeda memberi intruksi.

Corak tembok identik dengan warna merah dan kuning menghiasi bangunan di perempatan kecil Kampung Ketandan. Di sinilah spot instagramable bagi para pemburu foto/swafoto. Corak khas Tionghoa memikat para pesepeda untuk mengabadikan diri bersama sepeda di depannya. Aku sendiri tidak ketinggalan, berhubung ada teman pesepeda cewek, jadi kami berdayakan para cewek sebagai model.

Tidak perlu banyak properti sepeda, cukup menyambar sepeda teman yang berada paling dekat. Setelah itu satu-persatu teman cewek beraksi. Oya, sebenarnya kami ini punya banyak kesamaan. Selain suka bersepeda, beberapa di antara kami juga suka memotret. Jadi kadang kami sekedar janjian lalu motret bareng dengan model teman sendiri.
Iput menjadi model dadakan di sudut bangunan Ketandan
Iput menjadi model dadakan di sudut bangunan Ketandan
Fotografernya tidak mau ketinggalan narsis
Fotografernya tidak mau ketinggalan narsis
“Iput dulu, nanti gantian Laviez.”

Cukup sigap Iput mendengar panggilan teman untuk dipotret. Dia menikmati peran sebagai model dadakan. Toh kami tidak pernah memberi intruksi berlebihan. Pokoknya yang penting berdiri, tersenyum, dekat sepeda, dan abadikan.

Puas gantian memotret satu-satu pesepeda cewek. Kami meminta beberapa cewek yang ikut bersepeda berkumpul menjadi satu, tentunya akan diabadikan. Tidak semuanya mau, ada dua cewek yang merasa malu. Akhirnya tiga cewek inilah yang diabadikan.

“Ini kami ngapain?” Tanya Iput.
Para pesepeda cewek beraksi depan kamera
Para pesepeda cewek beraksi depan kamera
“Terserah kamu mau ngapain. Penting kami abadikan,” Sahut teman-teman yang memegang kamera.

Seru sih bisa bersepeda bareng seperti ini. Rutenya memang hanya kota-kota saja, tapi aktivitas bersepeda sambil belajar memotret ini yang membuat kami semakin bersemangat. Berawal dari ide beberapa teman pesepeda yang suka memotret, akhirnya kami agendakan dalam dua minggu sekali kumpul untuk bersepeda sambil latihan motret.

Bahkan ada teman yang merencanakan tema apa diambil nantinya. Sebenarnya sudah beberapa kali agenda ini berlangsung, hanya saja aku baru sekali ini ikut. Melihat antusias teman-teman saling berbagi ilmu, tentu menyenangkan. Setidaknya aku bisa belajar dari mereka tentang ilmu fotografi. *Menyusuri jalanan Malioboro dan sudut Kampung Ketandan pada hari Rabu, 15 Februari 2017.


Pemutakhiran Informasi

Jalur pedestrian Malioboro sudah selesai dibangun. Ruas jalan kanan dan kiri sepenuhnya menarik untuk dilewati wisatawan. Bahkan mulai bulan Juni 2019, ada aturan baru tentang rekayasa jalan di sepanjang kawasan Malioboro.

Pada hari Selasa Wage (hitungan kalender Jawa), ruas jalur di Malioboro bebas kendaraan bermesin kecuali Trans Jogja, Ambulance, Pemadam Kebakaran, dan kendaraan yang lainnya. Saat itu pengunjung di kawasan Malioboro ramai bermain di jalanan; berjalan kaki maupun bersepeda.

Sebuah terobosan baru bagi kawasan Malioboro. Diharapkan pihak-pihak yang terkait bisa mengevaluasi plus-minus selama rekayasa jalur di bulan Juni 2019. Sehingga ke depannya, mungkin Malioboro bisa bebas dari kendaraan bermesin. Semoga saja.

Baca juga tulisan bertema Gowes lainnya 

104 komentar:

  1. Ini tambah lama tambah bagus ya mass. Terakhir ke Jogja ya pas ketemu kamu itu mas, masi dalam proses pembangunan dan belum ada tempat duduk bulat-bulat dan tempat sepedanya.

    Makin lama makin nyaman walau cuma duduk2

    Aku pernah pagi2 duduk di Malioboro ujung-ujungnya ngantuk dan duduk sambil tidur haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang kita bisa nongkrong sepuasnya di sini tanpa ada pengamen hahahahhaha.
      Kalau pagi bisa sambil kulineran juga loh

      Hapus
  2. woo ketandan saiki kok kece gituuu. :o
    foto syahdu di malioboro aku belum keturutan :(
    pas habis hujan, sore sore gitu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kemarin dapat tapi kok blur, jadi gagal juga dapat yang bagus ahahhaha

      Hapus
  3. Kui le bersepeda pagi²ke malioboro ga jadi habis subuh mas? wkwk. Aku masih bingung le parkir e. Abu bakar ali ndada jauh...

    Model e mas sitam wes ono peningkatan. Cewek² wkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah kan tinggal jalan dikit kalau dari Abu Bakar Ali.
      Kere toh modele, kenal cuma dari sepeda akakkakak

      Hapus
  4. hialnglah sudah ,motor2 yg terparkir wkwkwkwk. tinggal nunggu pohonnya gede jd semakin nyaman

    BalasHapus
  5. Malioboro tambah asyik ya sekarang. Lebih tertata dan rapi. Sayang masih banyak yang belum bisa menjaganya, kayak kebersihan lungkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget mas. Sekarang kita harus ikut sadar lingkungan, minimal tidak membuang sampah sembarangan.

      Hapus
  6. Ketandan ini sebelah mana nya malioboro ????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih di area Malioboro, om. Ini masuk ke kiri kalau dari abu bakar ali. seberangan dengan Dagen

      Hapus
    2. Dekat tidak dari stasiun? Bulan depan pengin ke sana menghadiri resepsi seorang teman

      Hapus
    3. Malioboro ini satu kawasan denga Stasiun Tugu mas. Hanya tinggal keluar dari area stasiun tugu sudah masuk kawasan Malioboro.

      Hapus
  7. apik tenan deh sekarang, malah belum sempet kesana lagi..hit bener jogja sekarang sejak kutinggalkan..halah.. :)

    BalasHapus
  8. waaah jadi pengen ikut sepedaan bareng kalian :(

    BalasHapus
  9. sekitar 2014 sampai 2015 ketika saya masih sering jalan ke yogya, saya sering makan di sebuah rumah makan di kawasan ketandan ini. eh apa nama rumah makannya bakmi ketandan ya, lupa, tapi masakan tiongkok di sana memang nikmat, dan rumah makannya selalu ramai. satu yang saya pelajari, di mana-mana memang suku tionghoa identik dengan kegiatan perdagangan ya. pasti ada nuansa tionghoa di dekat pasar atau pusat perekonomian, seperti kawasan malioboro, hehe.
    keren mas... berbagi ilmu memang asyik banget. makin hari hasil fotografi jadi makin keren nih mas, ayo kalau saya ke yogya bagi ilmunya juga, hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang Ketandan ebrbenah mas heheheh. Sebenarnya saya ada bahan menulis bangunan-bangunan kuno di Malioboro. Tapi belum berani memposting karena kekurangan literasi. Semoga secepatnya bisa saya posting jika ada kesempatan :-)

      Hapus
  10. Jadi, sekarang Malioboro pagi hari pun ramai ya....

    BalasHapus
  11. Aq seneng kalau lihat postingan ini,,, kampung ketandan mencerminkan kerapian tata kota Jogja yang semakin hari semakin bagus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kampung-kampung di Jogja sebenarnya sudh tertata rapi semua kok :-)

      Hapus
  12. Weekend 2 minggu yang lalu saya juga menghabiskan akhir pekan dengan nonkrong di Malioboro. Seru juga buat momong bocah, banyak hal bisa dilihat. Senang akhirnya Malioboro ramah pejalan. Saat fotonya diunggah di sosmed, kawan-kawan yang sudah lama meninggalkan Jogja langsung pada bilang "kangen malioboro" dan pengen balik lagi ahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang banyak banget anak kecil bermain di sekitaran sini mbak. Asyik juga sih melihat mereka antusias bermain. Dan memang benar, Jogja menjadi lebih dirindukan setelah ada pedestrian.

      Hapus
  13. Waaaa makin instagramable & nyaman ya mas. Blm ke Malioboro sejak pedestrian ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaha, bukannya akhir pekan kamu ke Jogja nanti ya buahahhaha

      Hapus
  14. wahhhh rame banget ya malioboro ini.. banyak aktivitas warga... keren.. pengen kesana..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aktifitas warga di sepanjang pedestrian makin ramai hehehehhe, memang kalau ada fasilitas jadi bagus seperti ini.

      Hapus
  15. sekarang udah ada bangku-bangkunya yah duh udah lama gk ke yogya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main sini mbak hahahahhaa. Apa butuh undangan khusus? kakakakkaka

      Hapus
  16. aih cantik nian sekarang...
    udah lama banget gak kesono
    dulu pas masih SMA, jalan jalan nya ya ke malioboro, belanja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang sudah seperti ini mas. Tinggal pengunjungnya yang harus sadar kebersihan :-)

      Hapus
  17. Nganu mas, kok sepedanya saja yang foto bareng cewe-cewe. Empunya sepede kemana mas? Apa fotonya sengaja tidak dipublish gitu? Whahwaha

    Malioboro semakin ramah dengan pejalan kaki, tinggal nunggu pohon teduhan semakin melebarkan kanopinya ini.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Empunya sedang sok sibuk motret mas. Biasa juru dokumentasi. Jadi cuma bisa motret saja hahahahhaha.

      Hapus
  18. Bentar deh itu Maliboro yang biasanya kan? Kok jadi asyik gitu? Apa aku yang kurang memperhatikan ya? Paling gregetan itu uda ada tempat sampah tapi banyak yang tidak beradab.

    Itu dedek gemez anak buahmu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahhaha, iya toh mas. Sejak desember Maliboro sudah kece gini. Jadi besok mau nongkrong di sini sambil liat dedek-dedek gemez kah?

      Itu temanku sepedaan mas. Maklum orang seperti saya kudu banyak kumpul sama cewek-cewek seperti itu biar blog saya fotonya nggak cuma sepeda doang. :-D

      Hapus
  19. Jogja semakin keren uy Mas Rullah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas. Malioboro salah satu yang berbenah. Dengan penataan seperti ini, pengunjung tidak lagi sungkan untuk duduk santai

      Hapus
  20. Jadi pingin cepet2 ke Jogja, pingin ngerasain suasana pedestrian Malioboro.. :) Semoga udah bagus gini warganya juga jaga kebersihannya ya mas, sayang kalo gak dirawat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang yang pernah tinggal di Jogja langsung rindu dengan Jogja karena penataan kota seperti ini mbak. Selain itu, orang-orang yang dulunya hanya mengenal Malioboro sebagai pusat belanja jadi tambah semangat ingin ke sini sekaligus nongkrong santai.

      Hapus
  21. wih sekarang tertata ya.. terakhir waktu saya ke situ masih tidak tertata seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang sudah tertata rapi dan bagus seperti ini heehehhehe

      Hapus
  22. ketandan yang instagramable abis mas
    btw kok pas diklik fotonya langsung item putih gitu ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, memang sudutnya seperti itu sekarang.
      Oh itu bawaan dari templatenya mbak.

      Hapus
  23. Cakeeeppp, mas. Ah, suka banget dengan Malioboro yang baru. Trotoarnya lebih lebar, ada tempat duduk permanen, nggak lagi suk-sukkan sama pejalan kaki yang lain atau takut keserempet motor. Awal Maret mau ke Jogja, mudah-mudahan bisa menikmati Malioboro pagi-pagi kayak gini :)

    Ketandan juga sudah berbenah ya. Rumah hoek yang berwarna kuning cerah itu dulunya nggak ada kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu harus mudik mas. Semenjak ada pedestrian ini, wisatawan terlihat asyik bersantai di Malioboro.

      Hapus
  24. Sayang plastik-plastik bungkus lapak PKL kurang nyaman dilihat yah, seandainya ditertibkan dengan dibuatkan yang cantik dan seragam warna dan bentuknya kayaknya bikin lebih cantik lagi kawasan malioboro..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengubah prilaku wisatawan yang kurang sadar kebersihan memang harus secara bertahap mas. Jadi kudu sabar dan tidak bosan kampanye buang sampah pada tempatnya

      Hapus
  25. ah aku kangen Malioboro... kangen satenya
    kangen rondenya,,,, ya ampun...

    BalasHapus
  26. suasannya terlihat sangat santai.
    Bagaimana dengan harga makanan di sana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika makan di sekitran sini alangkah lebih baik menanyakan harganya terlebih dulu. Jadi bisa dikondisikan dengan uang saku :-)

      Hapus
  27. Loh Malioboro jadi lebih rapi ya.. kayaknya juga lebih asri dan nyaman buat duduk-duduk karena sudah banyak bangku dan kursi bulet-bulet gitu. Tinggal nunggu pohon-pohon yang banyak biar semakin rindang. Jadi pingin kesana lagi hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malioboro sekarang lebih menggoda untuk dikunjungi mbak :-)

      Hapus
  28. subhanallah.. indah ey jogja sekarang..

    BalasHapus
  29. pedestrian kota2 seharusnya seperti di marlioboro .. besar, banyak kursi, bersih dan tidak di penuhi oleh pedagang kaki lima, jadi nyaman banget buat pealan kaki juga pesepeda :)
    btw ... bangunan tionghoa itu ngejreng bener ... bagus untuk background foto2 ... apalagi ada cewe2nya .. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semakin banyak lahan untuk bersantai tanpa gangguan kendaraan, di sana semakin banyak pengunjung yang ingin berlama-lama :-)

      Hapus
  30. Okeeh, bulan depan ke Yogyakrta dan wajib foto di ketandan ah.
    '
    Nanti aku pinjem sepedamu ya mas sitam!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sana ada sepeda untuk umum kok mbak. Jadi aman :-D

      Hapus
  31. Banyak perubahan ya di malioboro.. :)

    BalasHapus
  32. Palembang juga sudah mulai berbenah, udah ada kursi2 di pedestrian yang dipercantik. Nanti kalau aku ke Jogja temenin jalan2 ke sini ya mas Nasir. Malioboro tambah cakep

    BalasHapus
  33. Daku belum foto-foto di Malioboro, aku nggak kekinian, aku sedih :(
    Belum sempat ke kampung ketandan, nggak ada yang temanin. Kamu po temanin, sekalian jadi guide :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mak sabtu pagi atau minggu pagi ke sini. Aku yang motretin deh hahahahaha

      Hapus
  34. wah maalioboro semakin keren ya sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang makin berbenah, jadi betah berlama-lama di sini :-)

      Hapus
  35. Tanpa kendaraan bermotor yang lalu-lalang, malioboro semakin asyik ya :-)

    BalasHapus
  36. keren banget tempatnya.. ala-ala Eropa gitu. semoga bisa cepat bisa jalan-jalan ke sana.

    BalasHapus
  37. mas nasir sekarang ini tinggal di jogja apa di karimunjawa? kalau di jogja bolehlah ayo kapan-kapan kita ngopi bersama, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya di Jogja mas.
      Wah tawaran yang nggak bisa ditolak kalau diajak ngopi :-D

      Hapus
  38. Sekarang Malioboro nggak pernah sepi oleh para wisatawan luar jogja. Always ramai oi... :D
    Apalagi long weekend atau hari libur panjang lainnya, bakal macet ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jogja selalu ramai, namun tidak berhenti nyaman hehehhehe

      Hapus
  39. Duh keren banget sih tulisan ini :)
    Tempo hari saya yg arek Sby ini juga dolan ke Jogja
    dan terpukau melihat Malioboro masa kini
    Kindly visit my blog --> bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mbak
      Wah blogger Surabaya. Aku malah belum sempat dolan-dolan ke Surabaya mbak. Padahal di sana ada banyak destinasi wisata yang menarik dikunjungi

      Hapus
  40. Jalan Sudirman Palembang kini "meniru" konsep ini. Akhir pekan malam hari jadi semacam CFD gitu, dengan pertunjukkan seni jalanan dsb :)

    Omnduut.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah malah bisa dimanfaatkan untuk berburu foto om :-)

      Hapus
  41. Thanks untuk infonya min,sangat bermanfaat

    BalasHapus
  42. Ini Pedestrian Malioboro sekarang bikin pemandangan Malioboro makin cihuy sih. Seneng aja waktu lewat malioboro, terus banyak orang yang duduk-duduk atau sekedar foto disana. Hits banget lah pokoknya :D

    Terus itu, Ketandan ._. aku sering denger kampungnya, cuma nda pernah mampir :D wkwkkw duuuuh, harus berguru menjadi pengelana sepertimu nih aku Mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhehe,
      Saya juga hanya main ke tempat-tempat terdekat mas. Paling penting adalah menuliskan apa yang kita lihat :-0

      Hapus
  43. wuihhh asiknyaaaa
    sekarang ada ginian toh di Malioboro? hahaha

    wis suwi rak nengok Malioboro. hawane pengen bale meneh iki..

    BalasHapus
  44. Tempat yang tepat untuk mengabadikan momen....

    BalasHapus
  45. Balasan
    1. Semoga bisa lebih bersih lagi, terlebih dari putung rokok :-)

      Hapus
  46. Artikelnya bagus ya saya suka

    BalasHapus
  47. Saya sangat suka dengan gaya tulisannya, bahasa yang sederhana yang mudah dimengerti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca tulsia di blog saya :-)

      Hapus
  48. Artikelnya bagus, dan foto fotonya apik mas.
    Banyak perubahan ya sekarang, terakhir ke jogja itu 6 tahun yang lalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas.
      Jogja sekarang berbenah meskipun mulai terlihat kemacetan di beberapa titik.

      Hapus
  49. Jogja emang keren. Terakhir ke Jogjakarta kira2 setahun yang lalu kayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jogja banyak berubah di sekitaran Malioboro, bahkan jalannya pun sering berubah arahnya

      Hapus

Pages