Semangkuk Bakso di Alun-alun Karimunjawa - Nasirullah Sitam

Semangkuk Bakso di Alun-alun Karimunjawa

Share This

Menikmati kuliner bakso di Alun-alun Karimunjawa
Menikmati kuliner bakso di Alun-alun Karimunjawa
Angin malam membuat badan ini sedikit menggigil kedinginan. Embusan kencang angin laut kala malam hari terasa di tengah Alun-alun Karimunjawa. Suasana ramai bak pasar malam tak membuat embusan angin mereda. Justru menyeruak jauh lebih kencang, membuat aku sedikit kedinginan.

Alun-alun Karimunjawa berubah menjadi pasar malam. Tanah lapang yang digunakan untuk berlatih sepakbola kala sore seketika berubah menjelang magrib, lapak-lapak warga berjejeran. Deretan bagian barat ramai orang menggelar tikar menjual aneka souvenir, khususnya kaos bertuliskan Karimunjawa.

Deretan bagian timur dan utara dipenuhi gerobak kuliner. Berbagai kuliner ada di sini, tinggal kita ingin menikmati makanan apa, sesuai selera hati. Rata-rata wisatawan yang berkunjung ke Karimunjawa mendatangi tempat ini untuk berburu kuliner. Sebagian besar biro paket wisata sengaja tidak menyertakan makan malam dalam paketannya.

Di antara gerobak yang berjejeran; seorang lelaki berbadan tegap sibuk meracik bakso untuk disajikan. Di sampingnya, perempuan berjilbab terus mencuci mangkuk kotor, berlanjut menyajikan pesanan pengunjung yang setia duduk di tikar.
Wawan, pemilik gerobak bakso di Alun-alun Karimunjawa
Wawan, pemilik gerobak bakso di Alun-alun Karimunjawa
“Baksonya dua mangkuk,” Ujarku pada lelaki tegap.

Tak langsung dijawab, dia menatapku sedikit kaget. Aku tersenyum dan menjabat tangan lelaki tersebut. Tangan-tangan kuat dan sedikit kasar, menyiratkan bahwa tangan tersebut sudah terbiasa dengan pekerjaan apapun.

“Ya Allah, kak Rulla!” Seru lelaki tersebut. Sementara perempuan yang sedari tadi mencuci mangkuk beranjak berdiri dan menyalamiku.

Wawan, itulah nama yang kukenal selama ini. Sosok yang pernah merantau sampai ke Merauke dalam waktu cukup lama kembali pulang ke Karimunjawa. Setelah menikah, dia mantap merintis warung bakso & mie ayam di alun-alun Karimunjawa. Aku tahu letak lapaknya pun dari orang rumah yang menginformasikan kalau dia berjualan di sini.

Kami kenal cukup lama, ketika aku masih SMP. Berawal dari perkenalan bapak kami; almarhum bapak pernah membantu bapaknya Wawan ketika beliau tergigit Ular Edor. Semasa hidup, almarhum bapak menjadi rujukan orang ketika ada yang tergigit ular, bapak juga berkomunikasi dengan pihak puskesmas dan merujuk korban terpatuk ular ini ke rumah sakit.

Alhasil, setelah beliau sembuh, tali persaudaraan kami makin erat. Pernah almarhum bapak berniat membuat sampan kayu kecil, dan bapaknya Wawan inilah yang membuat sampan tersebut. Lalu mengirimkan sampan ke kampung kami. Mereka berdua sangat akrab, serasa saudara kandung.

Aku berbincang lama dengannya disela-sela kesibukan menyiapkan mie ayam atau bakso yang pembeli pesan. Aji, teman yang bersamaku malam ini sudah duduk di tikar. Dia menikmati waktu dengan gawainya. Sepanjang hari ini, barulah sekarang mendapatkan sinyal 4G.

“Ramai, Wan?”

Sedikit dia menghela napas. Dipanggilnya sang istri untuk menyajikan menu pada pengunjung yang duduk di gelaran tikar. Dia mulai bercerita tentang usaha yang dirintisnya kali ini. aku mendengarkan seksama. Sewaktu lebaran tahun lalu, aku pernah mendengar jika dia ingin kembali merantau ke luar Jawa. Namun ditangguhkan dengan berbagai alasan.
Suasana malam di Alun-alun Karimunjawa
Suasana malam di Alun-alun Karimunjawa
“Tergantung cuaca, Kak. Kalau agak dingin seperti ini ramai. Tapi kalau pas hujan tiba, biasanya berkurang peminatnya.”

Kusapu pandangan ke arah alun-alun. Malam ini pengunjung tak seramai biasanya. Padahal sekarang bulan Oktober, ombak laut pun cukup bersahabat. Di sudut-sudut lain juga banyak orang-orang duduk bercengkerama dengan kawan. Mereka menikmati malam akhir pekan di Karimunjawa.

“Ini baksonya saya taruh di meja ya, Kak.” Ujar istrinya Wawan.

“Iya makasih. Wan, kutinggal makan dulu ya.”

Obrolan kami sejenak berhenti. Aku melangkah menuju tikar, menemani Aji yang sedari tadi matanya tertuju pada WAG. Lebih dari 25 pesan masuk selama satu hari dari gawainya. Kunikmati semangkuk bakso ini, sebuah sajian yang sedikit menghangatkan diri dari embusan angin malam.

Selama menikmati bakso, aku juga sempat menyapa beberapa orang yang kukenal lainnya. Salah satu dari orang yang kusapa adalah bapak penjaga sekolah SD-ku sekaligus teman main bulutangkis kala di kampung. Beliau bergabung dengan aku dan Aji, kami bertiga di meja yang 

“Ini bukan uangku. Aku ditraktir temanku itu,” seraya melirik ke Aji.

Harga semangkuk bakso tidak mahal. Seperti layaknya harga bakso lainnya di kota-kota besar. rata-rata harga makanan di alun-alun Karimunjawa cukup murah. Tidak menjebak seperti kasus di tempat-tempat wisata lainnya yang sempat ramai. Pun jika ragu, kalian bisa bertanya dulu harganya pada penjual jika tidak ada menu harganya.
Mari kulineran di Alun-alun Karimunjawa
Mari kulineran di Alun-alun Karimunjawa
Diterima uang tersebut sembari mengulurkan uang kembalian. Aku kembalikan uang tersebut pada Aji (orang yang membayari pesananku). Menjelang pulang, aku sedikit kaget ketika Wawan tahu jika aku mempunyai hobi menulis, termasuk kuliner. Sedikit bercanda dia berkata mungkin baksonya bisa ditulis di blogku.

“Siapa tahu nanti laris, Kak,” Celetuknya tertawa.

Candaan yang mungkin aku penuhi kali ini. Artikel ini aku tulis guna memenuhi permintaannya. Semoga usaha kuliner bakso & mie ayam-mu semakin laris. Terima kasih juga untuk Aji yang sudah mau mendokumentasikan selama menikmati bakso di Alun-alun Karimunjawa. *Karimunjawa, Oktober 2017.

57 komentar:

  1. Wah aku senang juga kalau ada di Alun- Alun, karena banyak penjual makanan utamanya bakso. Hahaha.
    Semoga laris yaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha, di sini banyak juga yang jualan ikan bakar loh

      Hapus
  2. Semoga suatu saat bisa ke sana mas :D Hahaha..
    udah masuk list tempat yang akan ane kunjungi nih, tpi belum terjadwal. Wkwkw..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya doakan mas. Pokoknya kalau main kudu singgah di rumah, biarpun aku nggak di rumah

      Hapus
  3. Walah jadi kepengen nyobain dan liburan di sana juga mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo mas, mumpung bulan ini cuaca masih bagus

      Hapus
  4. woh alun2 karimunjawa ramai jg ya kl malam, bisa kulineran di alun2. Kl di alun2 purbalingga atau purwokerto nggak ada yang jualan bakso di alun2.hhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astaga baru sadar td blm ganti akun.. Hahaha

      Hapus
    2. Buahahahha; saking semangat kui jenenge

      Hapus
  5. teman lama yang bertemu kembali, heuheheu...
    btw nek udan, bubar grak donk.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyo mas, bertemu lagi.
      Ini kalau hujan memang langsung mlipir hehehhehe

      Hapus
  6. Kalo hujan wajar sih turun. Soalnya modelnya stand diam dan ruang terbuka. Meskipun toh bakso paling enak dimakan pas dingin apalagi hujan. Buktinya, pas nggak hujan ramai.
    Semoga aku bisa ke Karimun, biar bisa ikut nyicip :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ndang dolan neng Karimunjawa
      eh ingat, ketika kita sudah punya gaji tetap, yang menjadi masalah adalah waktu kita sedikit heehhheheh

      Hapus
  7. Tulisan ini bagi saya seperti ada gemanya sendiri. Nggak tahu kenapa ya, tapi menurut saya sistem dunia yang luas dan kompleks ini tersusun dari orang-orang dengan cerita-cerita yang spesifik dan unik satu sama lain, seperti Mas Wawan sang perantau sekaligus perintis usaha bakso ini, haha. Mudah-mudahan suatu hari bisa dengar cerita beliau juga langsung dari orangnya, haha. Sayang sekarang saya sudah nggak bisa icip-icip bakso lagi, jadi kesempatan merasakan kaldu lezat dan bola-bola daging itu harus saya tangguhkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Gara, saya sendiri merasa nyaman ketika bercerita tentang teman sendiri. Mungkin karena kami sudah saling kenal dan tahu bagaimana perjuangannya, keeratan dengan keluarga dan lainnya.

      Kalau mas Gara ke Karimunjawa, kita mencari daging ikan saja :-)

      Hapus
  8. Semoga suatu hari nanti bisa ke Karimun.
    Nikmati malam di alun-alunnya. Amin..

    BalasHapus
  9. Jadi ingin deh liburan ke karimunjawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agendakan gan, semoga bisa menjejakkan kaki di sana

      Hapus
  10. Semoga jualan bakso temenmu bisa laris manis ya mas. Aah, jd pgn beli bakso baca ini. Apalagi td sempet hujan yg bikin dingiiin :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn
      Mbak, nggak minat main ke Karimunjawa kakakkakaka.
      Demi apa coba malah ngomporin mbak Fanny :-D

      Hapus
  11. Selain laut dan pantainya yang sudah melegenda keindahannya ternyata ada bakso yang enak juga di alun-alun.

    satu mangkok dong bang.. haaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini baru bakso, belum makanan lainnya hahahahahah

      Hapus
  12. Mangkuk bakso di kepulauan malam2 itu enak. Saat kena hembus dinginnya angin pantai, lagi nyruput kuah bakso yg panas 😁..

    Mau dong 1 mangkuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas, mbok pindah kerja di Karimunjawa saja hahahahahha

      Hapus
  13. Welok ya. Orang Jawa etos kerjanya luar biasa. Merantau saja sampai Merauke. Untungnya pulang juga ke Karimunjawa. Mas sitam pancene hits di Karimun. Pelapak pun sampai kenal. Jos banget. Sesuk2 tak nyebut jenengmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wohhh calon camat Karimunjawa loh *eh
      Oke kita agendakan main ke sana, seperti biasa dananya akakkakaka

      Hapus
  14. Sudah lama mau ke karimun jawa belom kesampean. Enak juga kyknya makam bakso di alun-alun, asal ngak hujan ya hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agendakan mbak, nanti bisa kulineran di Karimunjawa

      Hapus
  15. Wah Bakso. :(

    Asyik banget malam2 makan bakso di Alun-alun Karimujawa Mas. Dengan suasana ramai seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloww bang, duh kalo ada bang Fajrin bawaannya pengen main ke Lampung

      Hapus
  16. Sungguh aku rindu tempat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa ke sini lagi mas. Pokoknya kalau ke sini kudu ngabari saya

      Hapus
  17. Semoga Mas Wawan Laris Manis baksonya selalu agar tidak ke ke kota lagi untuk Merantau. Dengan berusaha di Karimunjawa Mas Wawan telah ikut berkontribusi menghidupkan perekonomian rakyat.

    Ngomong-ngomong aku kangen banget ke alun-alun Karimunjawa ini. Dulu juga makan bakso di sini.. pastinya waktu itu Mas Wawan belum berjualan :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aminnn
      Sekarang alun-alun Karimunjawa kalau sore menjelang malam seperti pasar malam bu. Ramai pisan

      Hapus
  18. Aku kok jadi pengen ke Karimun Jawa. Makan Baso setelah snorkeling

    BalasHapus
  19. cukup bang semangkok gtu abis snorkeling?? aku rasa ga cukup hahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di rumah sudah makan cumi duluan sebelum ngebakso :-)

      Hapus
  20. Bakso makanan yang paling terasa nikmat apalagi dimakan malam2 dan sebelumnya abis berkegiatan macem2. Terutama kalau didestinasi wisata gak tau knop nikmatnya jd double hehe

    BalasHapus
  21. saya senang makan bakso ... bagaimaa rasa bakso karimun solo .. mungkin ada khas-nya ya yang bedain dengan bakso dari daerah lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada dasarnya sama kang, hanya tempat dan suasana yang membedakan :-)

      Hapus
  22. Bakso emang paling pas dimakan malam-malam sambil menikmati angin :3
    Eh kalau di Karimun Jawa bukannya biasanya direkomendasikan makan ikan bakarnya ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, ikan bakar menjadi rekomendasi bagi wisatawan hehehheh. Tep kalau aku bakar sendiri di rumah :-D

      Hapus
  23. Yup, seperti tagline nya "setiap perjalanan itu harus diingat, ditulis, diceritakan dan dibagikan". Semoga Bakso mas Wawan selalu ramai pembeli :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mas, semoga usaha teman-teman di Karimunjawa laris manis

      Hapus
  24. wah kalo malem rame juga ternyata. tp btw dari kemujan ke karimun jalannya ada penerangannya gak mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rame banget hahahahahahha.
      Seperti biasa masih gelap

      Hapus
  25. Wah, Dek Mimin Besok Siang jadi ingin bakso.
    Harus bakso di alun-alun Karimunjawa tapi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi mimin mau maem bakso sambil pake bikini biar ala-ala di dekat pantai gitu?

      Hapus
  26. Saya tertarik pada cerita: seharian baru dapat sinyal 4G

    hahahahaha, ternyata tidak beda jauh sama nasib saya di Papua
    susah sinyal bok!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan sama-sama si merah yang paling bagus sianyalnya, Daeng ahahahhahaha

      Hapus
  27. itu kalimatnya ada yang kepotong mas, gak ada lanjutannya yang apa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mana mana mana hahahahha
      Nanti dilanjut kalaua da edisi kedua

      Hapus

Pages