Menyusuri Jalan Kampung Heritage Karangturi Lasem - Nasirullah Sitam

Menyusuri Jalan Kampung Heritage Karangturi Lasem

Share This
Gapura Kelenteng Poo An Bio, Lasem
Gapura Kelenteng Poo An Bio, Lasem
Usai menyantap Soto di dekat Masjid Jami Lasem, aku singgah di minimarket yang berada di dekat masjid. Di sini aku duduk terdiam, masuk dan membeli minuman dan roti. Lalu kembali duduk di kursi yang tersedia. 

Agenda di Lawang Ombo masih lama, sekitar pukul 09.00 WIB. Sementara sekarang masih pukul 06.45 WIB. Aku mencoba membuka aplikasi peta, siapa tahu bisa berjalan menyusuri sudut Lasem yang katanya penuh dengan wisata heritage. 

Kuketik kata kunci “Kelenteng Lasem”. Tidak butuh waktu lama, beberapa kelenteng tertandai. Bahkan salah satunya dekat dengan tempatku duduk. Aku bergegas mencari Kampung Heritage Karangturi yang jaraknya hanya beberapa ratus meter. 

Sebuah gapura menjulang tinggi tepat di jalan kecil masuk bertuliskan “Kampoeng Herigate Karangturi” berwarna kuning dengan kombinasi merah bagian sudutnya. Atasnya berbentuk atap rumah. 
Memasuki kawasan Kampung Heritage Karangturi
Memasuki kawasan Kampung Heritage Karangturi
Di bawahnya bertuliskan “Anno 1800”. Ini menandakan daerah sini banyak bangunan pecinan yang dibangun antara tahun 1800an. Aku makin bersemangat menapaki kaki menyusuri jalan kecil sendirian. 

Kususuri jalan tersebut sembari melihat rute tertera di peta gawai. Aku sempat berhenti dan menyapa bapak-bapak yang menurunkan kayu bakar dari atas mobil bak terbuka. Begitu aku tanya kelenteng Poo An Bio, beliau menunjukkan arah jalan. 

“Mas ikuti jalan ini mentok, nanti belok kanan. Kelentengnya di kiri jalan.” 

Bapak yang aku tanyai bernama Pak Sugiyarto. Beliau menuturkan jika awalnya kelenteng tersebut dibangun di tepi jalan, tepat dekat gapura. Namun terus dipindah ke dalam. Sayangnya beliau tidak berkenan kala ingin kupotret. 

Setiap sisi jalan lebih banyak tembok menjulang tinggi dengan warna kusam. Seperti yang aku bayangkan, bangunan di sini berbentuk pecinan. Tiap pintu maupun bangunan rasanya sayang dilewatkan. Ingin memotret seluruhnya. 

Tiap bangunan sisi kiri dan kanan benar-benar menggoda untuk diabadikan. Kali ini di samping kiriku adalah Pos Kamling. Pos Kamling ini berbentuk bangunan kombinasi Tionghoa dan Muslim. Bangunan ini mencolok dengan warna merah – kuning keemasan. 
Bangunan poskamling di sisi jalan kampung Karangturi, Lasem
Bangunan poskamling di sisi jalan kampung Karangturi, Lasem
Lokasi pos kamling tepat di bertigaan. Tidak ada orang di sana, sebuah plang pondok pesantren Kauman terpasang di sampingnya. Dari tempatku berdiri, terdengar suarah riuh. Bisa jadi suara tersebut dari santri-santriwati yang ada di pondok pesantren. 

Mataku terus menatap tiap jendela dan pintu berarsitektur Tionghoa. Jika dicermati, di beberapa pintu atau jendela terdapat keterangannya. Seperti yang sempat kubaca, jendela warna merah marum kusam di atasnya bertuliskan Koo Tjong Ling. 

Menyusuri jalan kampung heritage kala pagi menyenangkan. Ada banyak aktivitas warga yang terekam olehku. Para warga yang berlalu-lalang naik kendaraan bermesin ataupun sepeda. Sepasang penjual sayuran terekam olehku, mereka menunggu pemilik rumah keluar membeli sayuran. 
Para penjual sayuran menunggu pembeli di depan rumah warga
Para penjual sayuran menunggu pembeli di depan rumah warga
Obrolan menggunakan Bahasa Jawa terdengar. Seorang perempuan tua keluar dari pintu, beliau membeli beberapa ikat sayuran. Tidak lama obrolannya, usai membayar, langsung masuk. Bisa jadi ini adalah pelanggan setia yang tiap hari beli sayuran. 

“Mau ke mana mas?” Tanya ibu yang berjualan sayuran naik sepeda. 

“Ke kelenteng bu,” Jawabku sembari mengalungkan kamera. 

“Pertigaan itu belok kiri.” 

Aku mengangguk tersenyum sembari mengucap terima kasih. Mungkin beliau melihat aku sedari tadi memegang gawai melihat petunjuk arah. Jalan di kampung Karangturi ada beberapa pertigaan. Sedangkan plang kelenteng ada tepat di dekat pertigaan akhir. 

Jalan aspal berlubang berganti lebih kecil. Kuturuti jalur belok kiri, sesekali menyapa warga yang berada di depan rumah. Mereka ada yang sedang mencuci mobil, ada juga bersantai di teras rumah. 

Langkah kakiku berhenti di depan bangunan usang. Awalnya aku kira ini adalah kelenteng Poo An Bio yang kutuju. Kubaca tulisannya berbeda, ini adalah Vihara Maha Karuna atau Gedung Perdamaian. Jangan-jangan aku salah jalur. 
Vihara Maha Karuna
Vihara Maha Karuna
“Kelentengnya di sampingnya itu mas. Yang ada gerbangnya,” Ujar bapak yang mencuci mobil di tepian jalan. 

“Matur nuwun pak. Ini tidak sengaja baca tulisan Vihara,” Jawabku mencari alasan. 

Kutinggalkan Vihara Maha Karuna yang catnya mulai pudar. Pagar besi di depan separoh terbuka. Kuambil beberapa gambar, lalu melangkah ke arah kelenteng. 

Lokasi Vihara dan Kelenteng memang bersampingan. Aku tidak lantas masuk, mengabadikan gapura kelenteng dari seberang jalan. Untungnya seberang jalan tanah lapangnya luas. Sehingga aku bisa leluasa memotret. 

Sepasang patung singa kuning keemasan menjaga di tiap sisi gerbang luar. Di dalam juga terdapat patung Singa. Tampak dari luar, sisi kanan sebuah pohon jambu air menjulang tinggi. Aku tidak serta-merta masuk karena sepi. 
Kelenteng Poo An Bio Lasem
Kelenteng Poo An Bio Lasem
Terdengar obrolan ibu – bapak yang berada di dalam area kelenteng. Awalnya aku mengira beliau di dalam kelenteng, tapi ternyata tidak. Mereka berdua berada di rumah yang lokasinya di dalam area kelenteng. Aku masuk menuju kedua orang tua tersebut meminta izin memotret. 

“Dari luar saja ya mas. Tidak ada orang yang jaga,” Kata bapaknya. 

“Baik pak. Saya hanya memotret dari luar saja,” Jawabku meyakinkan. 

Berhubung aku jalan sendiri, tidak ada pemandu. Jadi yang kulakukan sebatas memotret dan melihat saja. Rasa penasaran tentang sejarah kelenteng kutangguhkan. Biasanya sudah banyak literasi yang menulis tentang kelenteng tersebut. 

Bangunan luar kelenteng dipenuhi lukisan. Hanya ada satu pintu akses masuk ke dalam, aku melongok dari luar. Di dalam merupakan tempat beribadat. Sekali lagi, biarpun bapak yang mengizinkanku tidak melihat aktivitasku. Aku tetap harus di luar, menangguhkan keinginan melihat isi dalamnya. 
Bangunan Kelenteng Poo An Bio dari halaman depan
Bangunan Kelenteng Poo An Bio dari halaman depan
Sisi lain kelenteng Poo An Bio
Sisi lain kelenteng Poo An Bio
Sekilas dari luar terlihat bagian dalam, ada sepasang patung naga serta tempat berdoa. Konon kelenteng Poo An Bio ini dibangun pada tahun 1740. Kelenteng ini merupakan tempat menyembah Kwee Sing Ong; dewa pengaman dari bencana. 

Ada banyak rasa penasaran melihat jauh lebih dalam. Aku harus menangguhkan keinginanku. Sejenak mata menyapu bagian gerbang. Sepertinya gerbang ini baru dipugar catnya. Tiap sisi terdapat angka 06.01.2002. Bisa jadi angka tersebut merupakan keterangan pemugarannya. 

Aku kembali duduk di bawah pohon jambu air sembari melihat hasil foto yang kuabadikan. Kurasa sudah cukup banyak stok foto, bergegas aku menemui dua orang tua yang ada di teras rumah. Mereka masih menikmati sarapan pagi. 

“Pak, Bu, matur nuwun nggeh,” Ucapku kembali. 

“Inggih mas,” Balas keduanya. 

Bergegas aku menyusuri jalan tadi. Kali ini arahnya menuju jalan besar. Perjalanan (jalan kaki) ini kulanjutkan menuju Lawang Ombo atau Rumah Candu yang berada tidak jauh dari tempatku ini. *Kelenteng Poo An Bio; Sabtu 18 November 2017.

18 komentar:

  1. Paling suka kalau udah berkunjung ke kelenteng itu warna warna cerah begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap kelenteng kan memang warnanya cerah seperti ini hehehehe

      Hapus
  2. Duh, sayang bgt nggak diizinkan masuk ya, padahal aku ikut penasaran isinya seperti apa mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di dalamnya seperti kelenteng lainnya kok.
      Lebih baik tidak masuk kan daripada motret masuk tapi menyalahi perizinan

      Hapus
  3. Lasem memang keren banget potensinta. Sekarang jauh lebih diperhatikan ya bangunan-bangunan heritagenya. Dulu pas kesana, masih belum bergeliat wisatanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget mas, sekarang sudah mulai menggeliat wisatanya :-)

      Hapus
  4. Ya ampuuun tulisan ini membuka hasrat terpendam banget belum sampe2 ke Lasem. Tepatlah ya kata orang kalau Lasem itu dapat julukan Tiongkok Kecil. Makin banyak baca tulisan malah makin penasaran untuk ke sana. Kelihatannya bangunan2 lamanya tetap terawat ya, Mas. Senang lihatnya. Apakah masih banyak rumah penduduk yang bangunannya adalah bangunan lama dan berciri khas Tiongkok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main sini lagi mbak. Apa sesekali trip ke sini bareng di grup hahahahaha

      Hapus
  5. Kalo ke Lasem emang paling seru main sama orang lokal yang punya banyak cerita,,, Selain jalan-jalan dan berasa masuk ke mesin waktu, juga dapat wawasan baru. Dengerin cerita sambil jalan dengan baca referensi sensasinya beda. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yapp bener banget. Seru juga kalau ke sini, mendapatkan banyak hal yang kita rasa itu baru.

      Hapus
  6. kalau Lasem saya sih keingatnya bangunan2 tua dan ornamen2 oriental ... banyak spot kece banget untuk foto2

    BalasHapus
  7. yah, sayang sekali ya mas, kelenteng sebesar itu tidak ada yg jaga.
    padahal kalau ada yg jaga, kita pasti akan dpt banyak info baru soal tempat itu.
    jadi penasaran, masih dipakai buat sembahyang atau engga kelenteng poo an bio itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelenteng ini rata-rata masih digunakan mbak. Menarik sih sebenarnya jika ada pemandunya. Saya harus datang ke sini lagi :-)

      Hapus
  8. tempatnya di mana itu bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan dibaca, sudah ada keterangannya di Lasem.

      Hapus
  9. bentuk dan ornamen klenteng plus warnya yang berani ... asyik banget kalau di foto ya -- photogenic :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelenteng memang cerah-cerah warnanya kang :-)

      Hapus

Pages