Kala bersantai di Kedai Planet Coffee Karimunjawa - Nasirullah Sitam

Kala bersantai di Kedai Planet Coffee Karimunjawa

Share This
Kedai Planet Coffee Karimunjawa
Kedai Planet Coffee Karimunjawa
Biasanya, tiap aku mudik Karimunjawa bakal jarang menyentuh laptop. Apalagi sampai menyicil draf yang terbengkalai. Aku larut suasana rumah. Santai tanpa melongok blog, sesekali hanya membalas email saat ada yang bertanya tentang Karimunjawa. Itu pun kalau sempat. 

Mudik kemarin berbeda. Di depan rumah sudah ada minimarket setahun lalu, sampingnya sudah dibangun kedai kopi baru. Kedai yang ditarget tepat Piala Dunia 2018 sudah jadi dan menjadi tempat tongkrongan para pecinta sepakbola. 

Bukan mustahil harapan itu ada, karena di Karimunjawa rata-rata menggunakan parabola. Ini artinya siaran piala dunia disensor. Risiko tinggal di kepulauan, tayangan sepakbola, MotoGP dan lainnya tidak bisa diakses. 

“Sebenarnya targetku sih wisatawan manca. Ke depannya aku kasih suguhan western. Tetap saja ada menu lainnya,” Terang pemilik kedai. 

Menurut pemilik kedai, target wisatawan manca ini cukup realistis. Ada banyak wisatawan luar yang berlalu-lalang mencari destinasi pantai; terkadang mereka juga butuh tempat untuk istirahat sembari makan. Di sinilah peluang tersebut ingin ditangkap. 

Di Karimunjawa sudah banyak tempat makan. Namun konsep kedai ini jarang ada. Terlebih kedai kopi ini berada di desa Kemujan, yang jaraknya kurang lebih 15KM dari pusat Karimunjawa. 
Pemuda setempat sedang menunggu tayangan Piala Dunia sembari main gawai
Pemuda setempat sedang menunggu tayangan Piala Dunia sembari main gawai
Geliat wisata di Karimunjawa membuat orang-orang di sini mempunyai banyak ide untuk membuat usaha. Chafied (pemilik kedai sekaligus minimarket) menjadikan kedai sebagai usaha keduanya. Rencananya masih ada satu usaha lagi yang sedang dibangun. 

Biarpun baru dibuka bulan Juni, Planet Coffee menjadi tempat singgahan para pemuda setempat. Di sini mereka bisa berkumpul sembari ngobrol santai dengan teman. Tangan-tangan mereka memegang gawai. Akses internet gratis menjadi incarannya. 

Jangan membayangkan layaknya kedai kopi dengan barista yang sering aku kunjungi. Kedai kopi ini konsepnya mirip dengan kedai-kedai yang ada di sekitaran Sorowajan maupun Babarsari (di Jogja). Kita dapat memesan minuman selain kopi. Malah, kopi instan yang paling laku. 

Sedari tadi aku sudah di sini. Melihat para pengunjung yang mulai banyak. Rata-rata para pemuda warga setempat. Mereka memesan minuman di dekat minimarket. Sewaktu aku di sini, kasir masih menyatu dengan minimarket. 
Suasana kedai saat ramai pengunjung
Suasana kedai saat ramai pengunjung
Urusan harga, kopi di sini cukup murah. Rata-rata pemuda setempat malah suka kopi instan atau membeli jus. Lalu mereka menuju meja kedai yang kosong, di sini mereka bersantai sampai tengah malam. Enaknya lagi tiap meja disediakan colokan listrik. 

“Kulkas di depan itu nanti aku penuhi minuman seperti Pepsi, Coca Cola, dan air mineral. Setiap bule datang, mereka pasti cari Pepsi,” Tambah Chafied. 

Bagi pemuda setempat, kopi hanyalah pelengkap saat berkumpul. Mereka lebih memerlukan akses internet gratis. Itu juga sudah dipahami pemilik kedai, jadi tidak ditarget berapa banyak pemasukan dari warga setempat. 

“Kalau mau ambil minuman, ambil saja Bang Rul. Kamu gratis selamanya,” Ujar Chafied tertawa. 

Aku tertawa kencang mendengar ujarannya. Kedai ini adalah milik saudaraku sendiri; Chafied adalah anak dari pamanku. Rumah orangtua kami juga berhadapan. Jadi dia selalu bilang kalau keluarga sendiri gratis minum. Namun, bagiku ini adalah usaha; harus disekat antara usaha dengan hubungan saudara. 
Kopi instan menjadi pilihan para pengunjung
Kopi instan menjadi pilihan para pengunjung
Di rumah, aku sebenarnya ada akses internet gratis. Ini juga karena memasang penguat sinyal dari minimarket milik Chafied. Ketika kedai kopi ini sudah dibuka, aku mempunyai tempat lain untuk nongkrong sembari ngeblog. 

Akses internetnya stabil. Tiap senggang aku duduk di meja yang strategis, sembari menikmati minuman, aku membuka blog. Terkadang membalas komentar masuk serta mengunjungi balik blog teman saat ada postingan anyar. 

Layaknya kedai di Jogja. Keriuhan para pengunjung tak terelakkan. Mereka fokus melihat layar gawai, memainkan permainan yang sedang ramai digandrungi remaja. Khusunya para pemilik gawai Android. 

Biarpun riuh, aku masih bisa menyicil draf artikel. Targetku kali ini dalam sepuluh hari di Karimunjawa harus bisa menulis 5 artikel dan menyelesaikan dua buku bacaan. Target tersebut hampir terealisasikan. 

Urusan jaringan internet di kedai ini lancar untuk sekadar main media sosial dan ngeblog. Sesekali juga aku streaming di Youtube, pun masih lancar. Jadi pelecut semangat juga di kedai untuk blogwalking seraya minum kopi. 
Membuka laptop di Planet Coffee Karimunjawa
Membuka laptop di Planet Coffee Karimunjawa
Malam makin larut, satu per satu pengunjung pulang. Aku masih mengotak-atik blog kedua yang baru setengah tahun kubuat. Mumpung waktunya sepi, ada baiknya aku mengurusi blog satu ini yang terbengkalai. 

Kembali pada kedai, Planet Coffee menjadi salah satu pelopor kedai kopi yang ada di Kemujan. Biarpun sekarang masih baru, nyatanya di beberapa kesempatan selama aku di rumah. Sudah ada beberapa wisatawan yang berkunjung, sekadar istirahat sembari memesan kopi atau makanan ringan dari minimarket sebelah. 

Mungkin kalau kalian berkunjung ke Karimunjawa dan singgah di kedai ini. Kalian bisa sekalian mampir di rumahku. Cukup lihat seberang kedai, ada rumah di sana. Itu rumah orangtuaku. Atau kalian cukup bilang “Teman Sitam”. Kode yang pastinya dipahami orang Kemujan. *Karimunjawa, Juni 2018.

18 komentar:

  1. Wah, menarik kalau ada tempat baru di kampung kita ya, pasti pada pengen nyobain. Kalau ke Karimunjawa saya mau mampir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekalian nyeberang jalan mampir ke rumahku mas :-D

      Hapus
  2. gak peduli pake biji kopi apa, dan pakai proses apa...

    cukup kopi instan ya...

    heuheuheu... yang penting nongkrong2nya bareng temen2...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kopi bagi mereka hanya untuk pelengkap

      Hapus
  3. Wah kereeen. Suamiku dua kali ke karimun jawa, tapi belum cerita soal adanya kedai planet kopi ini. Pasti seru kalau nanti suatu saat kami bisa mampir kesana bareng2 keluarga, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini baru mbak hehhehhee
      Kalau singgah pakai kode "teman sitam"

      Hapus
  4. Derita rumah pakai parabola, semua siaran olahraga bakal sirna *halah--senasib sih mas* hehe.

    Nggak heran kalau yang diincar itu lebih ke koneksi wifi-nya, daripada untuk minum kopi di kedai ini. Ya mau gimana lagi, tuntutan jaman dan demi ke-eksisan di media sosial.

    Temannya Sitam *Oke, catet. Penting ini untuk berburu diskon / menghemat pengeluaran kalau berkunjung di Karimun Jawa* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahhahhaha
      derita dan butuh perjuangan untuk melihat tayangannya

      Hapus
  5. Ngode: Mantannya Sitam mas :D
    Iya, itu pengunjungnya kebanyakan minum minuman botol di mejanya.

    Ya Rabb, aku ngurus blog siji wae masih payah, ini sekarang malah punya dua :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hokyaaa

      Aku ngurusin dua masih santai. Mumpung iseh selo

      Hapus
  6. Gratis seumur hidup Mas, ngopi sak puasnya...hahaha. Blog keduanya apa namanya Mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahhaah
      nanti saya akan launching mas *eh buahahahhahhaha

      Hapus
  7. Wah, terakhir ke Karjaw itu pas tahun 2014. Kafe atau kedai kayak gini seinget saya masih belum ada.
    Fix Karimunjawa bakalan saya visit lagi! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang sudah banyak yang berubah mas. Kudu ke sana lagi. Dan wajib berkabar :-)

      Hapus
  8. wah asyik dong sekarang .. kalau balik ke karimun jawa bisa "ngafe" ... hahaha
    lama2 .. kalau rame bulenya bisa jadi ada barisata-nya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhhah, kalau ke sini main ke rumah kang :-)

      Hapus
  9. Wah sepertinya perlu di coba mampir kesini, 3 kali ke Karimun Jawa belum sempat nongkrong di gubuk kopi

    BalasHapus

Pages