Menghidupkan Kembali Potensi Desa Wisata Jarum, Klaten - Nasirullah Sitam

Menghidupkan Kembali Potensi Desa Wisata Jarum, Klaten

Share This
Berkunjung di salah satu rumah warga yang di desa Jarum
Berkunjung di salah satu rumah warga yang di desa Jarum
“Mohon maaf mas agak terlambat jemputnya,” Ujar Galang sembari bersalaman. 

Aku tertawa saja, toh tidak terlambat menurutku. Rombongan dari Jogja baru berkumpul di tempat yang sudah disepakati. Siang ini, kami berencana menginap di desa wisata Jarum, Bayat, Klaten. Desa wisata yang dulu sempat hidup, namun cukup lama tertidur. 

Sebelum jauh menceritakan potensi desa wisata Jarum, aku sedikit mengenalkan dulu tiga sosok penting yang membuat pemuda desa Jarum kembali bersemangat. Mereka adalah Galang, Alvi, dan Azza. Tiga pemuda ini menyulut asa di desa wisata Jarum kembali bangkit. 

Berawal dari memutuskan keluar dari tempat kerja, tiga pemuda tersebut berkumpul dan berkomunikasi dengan Hanif (Insanwisata). Mereka bertanya-tanya tentang desa wisata. Katanya, mereka memantau twitter Insan Wisata khususnya tagar Eksplor Deswita. 
Diskusi kecil tentang desa wisata
Diskusi kecil tentang desa wisata
Ratusan bilah bambu terpasang umbul-umbul berjejer di kedua sisi jalan. Mobil memutar ke barat, melintasi jalan cor sedikit terjal. Desa Jarum cukup luas dan berbatasan dengan Gunungkidul. 

Dua hari satu malam aku beserta rombongan menyatu dengan warga. Selain mengikuti agenda seperti jalan sehat, Jarum Batik Fest 2018, kami juga sempat menjelajah beberapa potensi yang bisa diangkat oleh desa wisata Jarum untuk menarik wisatawan. 

Aku antusias menjelajah desa wisata Jarum. Bersama warga setmpat, kami diantar menuju tempat-tempat yang mempunyai potensi membangkitkan ekonomi warga dan bisa jadi menggaet wisatawan. 

***** 

Desa Para Juragan Angkringan 
Acapkali aku menikmati makan nasi angkringan di Jogja. Setiap penjaga angkringan yang aku tanyai asalnya. Mereka menjawab Bayat, Klaten. Tidak pernah sekalipun aku bertanya di mana desanya. Hingga akhirnya aku berkunjung di desa Jarum. Nyatanya, desa ini merupakan pusat juragan Angkringan. 
Angkringan di sudut jalan desa Jarum bernama Kantor Sambat
Angkringan di sudut jalan desa Jarum bernama Kantor Sambat
Mereka menjadi juragan angkringan di luar kota. Ada cerita, satu juragan mempunyai banyak anak buah di Kawasan Tangerang. Rata-rata pemuda yang merantau keluar dari Klaten juga sebagai penjual angkringan. Maka, pantas rasanya jika desa ini dijuluki desanya juragan angkringan. 

Di desa Jarum sendiri ada lima angkringan yang buka setiap hari. Salah satu angkringan yang paling kondang itu lokasinya di depan Balai Desa Jarum. Nama angkringan tersebut Kantor Sambat. Ciri khas angkringan dari desa Jarum ini adalah, teh yang disajikan campuran dari tiga teh yang berbeda. 

Karena itulah, selama di desa Jarum, kami tidak mau melewatkan makan di angkringan. Urusan harga, kemarin aku hanya membayar 5500 rupiah untuk dua nasi, satu gelas teh tawar, dan dua gorengan. 

Menarik rasanya jika kalian ingin mengulas tentang angkringan di desa Jarum. Sebuah cerita Panjang yang pastinya menarik perhatian para pencinta angkringan untuk menulisnya di blog. Bahkan, ada teman aku yang ingin kembali ke sini untuk melihat pembuatan gerobak angkringan dan berbincang dengan juragannya. 

Penghasil Batik Tulis di Klaten 
Aku sedikit tidak percaya kalau di desa Jarum mempunyai hasil karya batik tulis. Rombongan kami singgah di salah satu local hero pengusaha batik bernama Susana Dewi Puspitawati. Sosok perempuan yang meneruskan usaha dari ibunya. 
Salah satu pengusaha Batik Tulis di Desa Jarum
Salah satu pengusaha Batik Tulis di Desa Jarum
Nama batik beliau adalah Batik Purwanti. Pada masa ibunya, tempat ini mempunyai ratusan karyawan. Tahun 2018 ini, bu Dewi selaku penuerus mempunyai 25 pegawai operasional dan mempunyai 80-an karyawan rumahan. Tiap karyawan diberi kain mori dan pola, mereka tinggal menggambar. 

Gerai batik ada di belakang rumah. Hampir 100% adalah batik tulis. Bu Dewi mempunyai enam toko; Wonosari, Ungaran, dan di kampung yang tidak jauh dari desa Jarum. Hari operasional mulai dari senin – sabtu. Hari minggu tiap karyawan libur. 

Harga batik yang dijual pun murah. Untuk batik tulis hanya dijual sekitar 160 ribuan/lembar. Motif yang dibuat cenderung modern. Di tempat bu Dewi, kami berbincang sembari melihat-lihat hasil kain batik yang dipajang. Beberapa teman pun tertarik membeli beberapa helai kain. 

Tempat Membuat Batik Kulit 
Kunjungan berikutnya ke rumah warga yang memproduksi batik kulit. Di kediaman Pak Jeprik, aku melihat ada empat perempuan yang bekerja. Ketika kami datang, sejenak aktivitasnya berhenti. Kami saling menyapa dan berjabat tangan. 

Bu Subiyati dan Pak Jeprik sudah lama menggeluti batik kulit. Lebih dari 25 tahun, dan karyawannya juga banyak. Di teras rumah, empat perempuan yang aku temui adalah Ibu Narti, Ibu Wiji, Ibu Ngadinah, dan Ibu Samiyem. Beliau sedang medang melukis pola pada selembar kulit. 
Melihat pembuatan batik kulit di Desa Jarum
Melihat pembuatan batik kulit di Desa Jarum
Untuk menghasilkan satu buah tas kulit dibutuhkan dua lembar kulit. Pak Jeprik mendapatkan bahan baku lembaran kulit dari Jogja. Satu lembar kulit harganya 125.000 rupiah. Dalam satu bulan, tiap satu orang bisa menggambar 15 lembar kulit. 

Tas kulit ini rata-rata pesanan dari Jogja. Pihak penyetor mengirimkan lembaran kulit untuk Digambar di Klaten, lalu setelah selesai kembali di kembalikan ke penyetor. Satu lembar kulit dikerjakan beberapa tangan. Ada yang membuat pola, menggambar, sampai proses finishing

Aku masuk ke dalam rumah Pak Jeprik, di sana ada beberapa sampel tas yang dijual. Harga beragam, mulai dari 400.000 rupiah untuk bahan kulit. Untuk tas anyaman bambu dengan tambahan kulit dibanderol sebesar 180.000 rupiah. 

“Tas mahal-mahal seperti ini kan untuk orang kota, Mas. Kalau kami cukup pakai yang murah-murah. Sayang uangnya kalau buat beli tas,” Celetuk ibu-ibu yang bekerja sembari tertawa. 

Melihat Pembuatan Cobek Batu 
Perjalanan kami berlanjut ke tempat pembuat cobek batu. Tepat di desa Jarum, ada beberapa masyarakatnya berprofesi sebagai membuat cobek dari batu. Salah satunya adalah Pak Suradi. Bapak yang berusia 55 tahun ini sudah menggeluti profesi tersebut sejak umur 15 tahun. 
Warga desa Jarum yang menggeluti pekerjaan sebagai pembuat cobek
Warga desa Jarum yang menggeluti pekerjaan sebagai pembuat cobek
Di depan rumah yang berdinding anyaman bambu, Pak Suradi bekerja seharian memecah batu besar, membentuk pola untuk cobek, ulekan, lumpang, dan alu. Sehari beliau bisa membuat 15 ulekan atau 5-6 cobek. 

Bebatuan yang diambil dari Gunungkidul karena kualitas batunya lebih bagus daripada dari Merapi. Untuk menebus bebatuan, beliau membeli langsung banyak bongkahan batu. Tiap ukuran beda harga. 

“Kalau ini harganya 20.000 rupiah, mas,” Terang beliau sembari memecah satu bongkahan batu berukuran sedang. 

Beliau juga menerangkan, satu batu berukuran sedang tersebut bisa menjadi tiga cobek. Beliau bekerja menggunakan alat sederhana meliputi; linggis, penancal, palu, dan alat tradisional yang dinamakan pete’l. 

Tiap seminggu sekali, hasil pak Suradi diambil pengepul dari Wonogiri, Salatiga, dan sekitarnya. Rincian harganya Cobek dihargai 15000, Ulekan harganya 5000 rupiah, dan Lumpang seharga 50.000 rupiah. Sedangkan sisa dari bebatuan yang kecil biasanya dijual untuk cor bangunan seharga 400.000/bak mobil terbuka. 

“Ini sudah pekerjaan turun temurun mas, jadi ya disyukuri,” Tandas Beliau sembari membuat pola ulekan. 

Hasil Produksi Kemasan 
Sewaktu keliling stand pameran di desa Jarum, aku tertarik melihat olahan warga setempat. Olahan jahe yang sudah dikemas. Semerbak bau harum jahe menyebar sampai indera penciumanku. Untuk sesaat aku berhenti di depan stand tersebut. 
Jahe bubuk kemasan diproduksi Desa Jarum
Jahe bubuk kemasan diproduksi Desa Jarum
“Jahe mas. Silakan kalau mau dicoba.” 

Aku mengiyakan, diambilkan satu gelas plastik wedang jahe yang sudah disiapkan. Aromanya membuatku ingin secepatnya menyeduh, tapi aku harus bisa menahan diri karena wedang jahenya amat panas. 

Sesaat aku hirup baunya. Aku merasa wedang jahe ini sangat manis dan ada campuran batang sereh. 

“Kayaknya manis banget ini bu,” Ujarku sebelum menyesap. 

“Kami tambahi gula mas. Sebenarnya sudah ada gulanya, tapi pasti kurang manis, cenderung pedas. Ini jahe emprit,” Terangnya. 

Selera orang memang beda, namun aku tetap menyeduh wedang tersebut. Bagiku memang cenderung lebih manis. Aku bertanya-tanya harga perkemasan kecil satu gelas dan satu kemasan besar. Berhubung aku suka wedang jahe, aku beli satu bungkus seberat 245 gram hanya dengan membayar 20.000 rupiah. 

Sejarah Situs Mojo Aroem 
Desa Jarum mempunyai sebuah petilasan. Namanya adalah Situs Mojo Arum. Penamaan desa Jarum konon diambil dari situs tersebut. Belum banyak yang bisa aku ceritakan tentang situs Mojo Arum. Di hadapanku situs tersebut adalah pohon Mojo yang menjulang tinggi. 
Petilasan asal muasal nama Desa Jarum
Petilasan asal muasal nama Desa Jarum
Konon pada masa kasultanan Surakarta, di tempat ini ada seorang Bekel Kraton. Bekel Kraton adalah seorang abdi dalem yang tidak mempunyai hubungan darah. Bekel Kraton tersebut bernama Ekomoyo. Setiap sowan ke Kraton selalu membawa hasil bumi. 

Suatu ketika karena musim paceklik, Bekel Kraton terpaksa membawa buah Mojo yang rasanya tidak terlalu manis. Anehnya, ketika sudah sampai ke Kraton buah mojo tersebut beraroma harum. Seketika itu juga, raja memerintahkan pada Bekel Ekomoyo agar padukuhannya dinamakan Padukuhan Mojo Aroem – Sumber Mbah Suwitono pada tulisan di situs Mojo Arum. 

Penamaan Padukuhan tersebut sekarang menjadi Desa Jarum; Mojo Aroem. Situs tersebut sampai sekarang masih terlihat berbentuk pohon Mojo menjulang tinggi, konon pohon Mojo yang awal sudah tidak ada. 

***** 

Potensi-potensi bisa dikembangkan dan dikemas dengan baik pokdarwis desa wisata Jarum untuk menggeliatkan perekonomian warga dan mengundang wisatawan agar bisa datang. Dari diskusi ketika malam, teman mengatakan bahwa desa wisata itu berbeda dengan objek wisata. Karena ketika kita berlibur ke desa wisata, artinya kita mengikuti agenda keseharian warga setempat. 

Jika di antara kalian ada yang penasaran dan ingin menginap di desa wisata Jarum. Kalian bisa mengontak Instagram teman di Kalpasta.

32 komentar:

  1. ngomongin buah mojo, ini sama ama buah mojo yang pahit itu gak ya?
    aku dulu waktu kecil pernah icip buah mojo, heuheuheu, pait banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama mas.
      Konon di sini buahnya manis hehehehhee

      Hapus
  2. Sayangnya dress code yg tertera ga berlaku sih ya. Wkwkwkw pdhal kan lucu kalo acara seramai itu pake baju jadul smua.

    Btw bs ga sih gosah rajin2 banget!!! Uda nulis cpt, lengkap pulak!!! Kzl akutuuu πŸ˜’

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku udah pakai kaos bertuliskan aksara jawa yo, kamu aja yang gak pakai bajunya,
      Maaf, saya tidak menulis, asistenku butuh kerjaan jadi ya aku suruh nulis saja. Toh sekalian buang-buang receh

      Hapus
  3. Konsisten sekali si pak suradi itu ya. Jadi ingin belajar sabar dari beliau. Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penting yakin dan berhasil, hahahhahaha

      Hapus
  4. Ngewriii desanya memiliki potensi lengkap bgt, duh ya aku pengin diajak kesitu Mas.. Cuma mau nyicip sate usus dan sate telor puyuhnya.. Ehehehe
    Baru tau kl di Klaten ternyata ada batik kulitnya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke sini sendiri, lha ke Jogja naik motor sendiri aja udah berani kok bingung hahahha

      Hapus
  5. Ya ampuuuun sukaaa ih baca ttg harga2 makanan dan batiknya :). Murah banget itu makan komplit ama minum cm 5500 huahahaha. Batik tulisnya juga. Ga prnh sih aku nemu batik tulis 160rb. Seringnya malah jutaan.. Tadi aku aempet pikir desa jarum ini, ada hubungan ama rokok djarum :p. Hihihi.. Beda ya ternyata..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ke sini Mbak Fanny bisa khilaf borong batik hahahhahahha.
      Makanan angkringannya murah banget kok

      Hapus
  6. Ternyata tagar Eksplor Desa Wisata itu banyak dilirik ya? :p
    Semoga teman-teman turut berkontribusi dalam mengenalkan potensi-potensi luar biasa di pelbagai pelosok desa :)

    Senenggg baca potensi Desa Wisata Jarum ini, mata pencaharian warganya nggak seragam tapi beragam. Oh ya, jadi penasaran sama percampuran tiga macam teh di Angkringannya :D kayanya kok mantep sekalii...
    Batik kulitnya itu dari kulit apa mas? sapi apa kambing?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lirikannya menggodahhhh

      Coba sesekali nyari angkringan yang orang Bayat, pasti tehnya beda rasanya. Kulit Buaya darat mbak akakakkakkkakkakaka


      Kulit sapi :-D :-D

      Hapus
  7. Wah, pasti bangga ya tagar #EksplorDeswita dilirik oleh orang. Salut buat temen-temen eksplordeswita.
    Sebentar lagi semoga #NgopiTiapPekan juga menjadi viral :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngopi tiap pekan cuma buat ajang ngumpul, ngobrol, foto, nyeruput kopi, dan pulang. Gitu aja udah bahagia kok

      Hapus
  8. Sekarang cari cobek batu udah lumayan susah. Kebanyakan dibikin dari semen. Kayaknya kalau ke sana yang bakal saya beli adalah cobek batu hahahaha. Abis itu borong batik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah baru tahu kalau ada yang dibuat dari semen :-)

      Hapus
  9. Pernah sekali ke Klaten tapi gak banyak yang di eksplore, hanya sekedar mampir ke rumah sodara :D
    Itu pembuatan cobek batunya butuh proses yang ribet juga ya soalnya dikerjakan secara manual.
    Cakep deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga kali pertama jelajah desa wisata di Klaten karena ajakan teman :-)

      Hapus
  10. Luar biasa, jika besok lusa desa ini menjadi lokasi kunjungan pilihan, mas Nasirullah Sitam lah salah satu pengorbitnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Para pengorbitnya malah warga desa Jarum sendiri yang berjuang mas :-)
      Saya malah cuma ikutan main hehehehhe

      Hapus
  11. Desa Jarum punya potensi luar biasa dan sudah coba diangkat sama pemuda setempat, Galang, Alvi, dan Azza.

    Dan yang paling penting adalah pak Presiden Deswita yang jadi penyemangatnya. Mantap memang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak presiden pas blusukan pas banget mas. Dia tahu gimana caranya membawa blogger ke tempat seperti ini, secara tidak langsung, kami pasti menuangkan dalam tulisan.

      Hapus
  12. Potensi desa kalau digali dan dikelola dengan baik bisa jadi tujuan wisata juga. Saya juga wisata ndeso ini. Asik.
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan sekarang desa wisata sedang dikampanyekan sama pemerintah. Waktunya desa-desa berbenah, membentuk pokdarwis dan sadar dengan wisatnya

      Hapus
  13. Semoga wisata di Desa Jarum benar-benar bangkit dan dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Tugas kita yang lokal ini untuk mempromosikannya. Dari semua yang ditulis mungkin soal penginapan yang belum ada ya, atau mungkin sistem menginapnya a la live in begitu, biar blended dengan warga setempat. Asyik sekali, di satu desa bisa menikmati begitu banyak hal; alamnya, kerajinannya (batik kain, tas, ulekan, dll), situsnya, keramahan warganya. Dan yang paling bikin saya penasaran itu adalah seduhan teh dari tiga macam teh yang dijual di angkringan Kantor Sambat (kupikir tadi Kantor Samsat) :p

    Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keuntungan desa wisata adalah suasananya. Ketika kita tinggal di tempat yang suasananya nyaman, ada banyak hal yang bisa kita rasakan. Pada akhirnya kita pasti kembali ke desa :-)

      Hapus
  14. Balasan
    1. Kamu kudu ke sini mas, biar tambah asyik harus nginap semalam. Kali aja minat beli tanah di sini :-D

      Hapus
  15. setiap daerah punya potensi dan keunikan masing2 ... mudah2-an Desa Wisata Jarum semakin berkembang dan menarik banyak pengunjung datang ... apalagi banyak blogger ikut mempromosikannya seperti mas Sitam ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tugas kita hanya bisa menceritakan apa yang kita lihat dan rasakan di tempat tersebut kang. Selebihnya adalah tugas pokdarwis dan masyarakatnya

      Hapus
  16. Saya itu asli dan lahir di klaten ,tapi belum tahu itu posisi atau letak wisata jarum. Wah terlalu banget. Kalau bayat saya kenal dan sering main.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih satu kecamatan dengan Bayat mas. Desanya berbatasan dengan Gunungkidul.

      Hapus

Pages