Nuansa Klasik di Menumbing Heritage Hotel Bangka - Nasirullah Sitam

Nuansa Klasik di Menumbing Heritage Hotel Bangka

Share This
Salah satu kamar di Menumbing Heritage Hotel Bangka
Salah satu kamar di Menumbing Heritage Hotel Bangka
“Jadi menginap di Menumbing Heritage Hotel?” 

“Iya, menginap di sana dua malam,” Balasku sembari menikmati suasana malam di Pulau Bangka. 

Cukup lama aku berharap dapat singgah di Pulau Bangka, akhirnya di ujung tahun ini bisa menjejakkan kaki. Sebelumnya, aku sudah mencari-cari hotel yang bisa diinapi. Seperti menyelam minum air, siapa tahu hotel yang aku inapi nanti bisa menjadi konten di blog.
*****

Laju mobil cukup kencang, dari bandara menuju kota tidak macet. Menumbing Heritage Hotel berada di pusat kota, lokasinya di Jalan Gereja No.5, Ps. Padi, Kec. Girimaya, Kota Pangkal Pinang. Malah berjarak sepelemparan batu dengan pasar. Belakang hotel, ada pasar ikan. 

Tulisan nama hotel terpampang di jalan masuk, melintasi tembok panjang bermotif, mobil ini berhenti di halaman sekaligus sebagai area parkir. Berbeda dengan suasana ramai pasar di luar, di dalam sini cukup lengang. 

Aku terkesiap melihat bangunannya, cat tembok putih berkombinasi dengan jendela-jendela Panjang memunculkan sisi vintage. Jujur, kali pertama melihat hotel ini bayanganku jauh ke Jogja. Tepatnya bangunan hotel Phoenix. Nyaris mirip, hanya saja ini versi kecilnya. 
Bangunan klasik Menumbing Heritage Hotel dari halaman
Bangunan klasik Menumbing Heritage Hotel dari halaman
Dua resepsionis menyapa, sejenak aku mengurusi kamar. Kunci kamar sudah di tangan, waktunya aku menaruh barang. Setelah itu, aku lanjut keluar menikmati Mie Kuba. Kuliner yang wajib kalian santap kala di Bangka. 

Bangunan Vintage dan Elegan

Bangunan hotel tidaklah besar dan hanya berlantai tiga. Tulisan besar melekat pada tembok menceritakan sedikit sejarah Menumbing Heritage Hotel. Nyatanya, bangunan ini dulunya adalah markas militer. Sekarang menjadi bangunan cagar budaya bersejarah di Bangka. 

Masuk ke ruangan depan, tepatnya di sebelah kanan resepsionis terdapat ruangan besar. Ruangan ini milih manajer, namun tiap harinya lebih sering dimasuki pengunjung untuk berfoto. Berbagai bingkai lukisan terpampang di tembok. 

Tak lupa satu meja panjang terbuat dari kayu beserta beberapa kursi. Deretan almari penuh kriya berbentuk guci, serta dua rak yang di dalamnya tertata rapi berbagai koleksi buku. Buku-buku yang dipajang berbahasa Inggris dan Belanda. Menariknya buku ini terbitan lama. 
Managing room menjadi spot berfoto para pengunjung
Managing room menjadi spot berfoto para pengunjung
“Aku kira ini tadi perpustakaan, bang,” Celetukku kala salah satu staf hotel menerangkan ruangan tersebut. 

Selama di Bangka, aku tidak memmpunyai waktu khusus untuk menjelajah tiap sudut hotel ini. Padahal jika dijelajah, banyak hal yang bisa aku abadikan. Terlebih konsep hotel yang heritage menjadi nilai tambahan. 

Tiga lantai hotel ini bisa diakses dengan jalan kaki menyusuri anak tangga. Bagi yang ingin cepat bisa menggunakan lift. Hanya saja, lift hanya bisa menampung tiga orang, dan pintunya transparan. Pintu lift pun dibuka dengan cara mendorongnya, tidak secara otomatis bergeser.

Kususuri lorong tiap lantai, merekam berbagai pemandangan dengan mata. Sesekali melakukan aktivitas vlog. Anak tangga di hotel ini bukanlah berbalur semen, namun terbuat dari kayu berwarna kecoklatan. Seakan-akan melengkapi kesan vintage. 

“Keren,” Batinku sendiri. 
Anak tangga menuju lantai dua dan tiga
Anak tangga menuju lantai dua dan tiga

Mengintip Kamar Menungging Heritage Hotel 

Kurang lengkap rasanya jika tidak mengabadikan kamar hotel. Sebelum kamar ini kondisinya berantakan, aku menyempatkan memotret kamar. Tepat di depan pintu nomor 104 aku berdiri, kuambil kunci kamar, lalu menempelkan pada gagang hingga berwarna hijau. 

Kamar terbuka, isi kamar terlihat jelas. Dua kasur berukuran besar, satu set sofa, TV, dan lainnya. Sepertinya aku berada di ruang kamar yang amat luas untuk ditiduri sendirian. Jenis kamar di Menumbing Heritage Hotel ada empat; Signature Suite, Junior Suite, Deluxe, dan Superior

Dilihat dari kamarnya, tempat yang aku inapi ini adalah Signature Suite. Jika harus membayar, tentu harganya jauh lebih mahal daripada tiket Jogja – Bangka. Sebelumnya, aku meminta abang yang mengantarkan untuk memotretku. Memang susah mau motret sendiri tanpa bawa tripod. Karena sekarang naik pesawat, tripod harus di bagasi.
Kamar di Menumbing Heritage Hotel sangat luas
Kamar di Menumbing Heritage Hotel sangat luas
Pemandangan kamar 104 di Menumbing Heritage Hotel
Pemandangan kamar 104 di Menumbing Heritage Hotel
Tidak perlu diulas kan bagaimana fasilitas di dalam kamar? Semua isi yang ada di kulkas bisa diambil gratis. Kamar ini dilengkapi dengan sofa, meja dan kursi kerja, TV, serta lainnya yang selayaknya ada di hotel bintang empat. Pun dengan brankas, rak baju, dan item yang lain.

Dari kamar, aku mengarah ke kamar mandi. Semua peralatan mandi/toiletries lengkap. Di sini menggunakan shower. Ruang kamar mandinya juga cukup luas. Tak perlu aku mengambil toiletries pribadi yang ada di ransel, kecuali pembasuh muka. 
Kamar Mandi hotel
Kamar Mandi hotel
Sebuah tirai lebar tertutup di sisi lain kamar. Jika kamar mandinya tepat searah dengan pintu masuk kamar, tirai tertutup ini berada di sudut lainnya. Aku mengira ini adalah jendela kamar yang menghadap ke luar. 

Ternyata yang tertutup tirai bukanlah jendela melainkan bathup. Tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan jika ada banyak waktu. Sekiranya capek, tinggal berendam sembari membaca buku. 
Fasilitas bathup untuk berendam sembari menikmati waktu
Fasilitas bathup untuk berendam sembari menikmati waktu
“Menarik ini!” 

Fasilitas yang Lain di Hotel 

Di Bangka, aku tidak bisa menikmati waktu berlama-lama di hotel. Padahal Menumbing Heritage Hotel ini menurutku sangat tepat diinapi bagi yang ingin staycation. Aku melangkah keluar hotel, menuju samping restoran yang belum buka. 

Di belakang bangunan restoran ada kolam renang. Hari masih cukup pagi, aku sudah menikmati waktu berendam di kolam renang. Sampai menjelang restoran buka, hanya aku seorang yang berenang. 

Kolam terbagi menjadi dua bagian terpisah. Satu kolam kecil disediakan untuk anak-anak. Nantinya, anak kecil bisa bermain air dengan pengawasan orangtuanya. Sedangkan kolam yang besar pun kedalamannya berbeda. 
Kolam renang di dekat restoran
Kolam renang di dekat restoran
Dibatasi dengan beton-beton berbentuk bulat di permukaan, tempat yang aku duduki kedalamannya 1.5 meter. Sudut lainnya mempunyai kedalaman 2 meter. Meski tak luas dan panjang, kolam renang ini cukup menyenangkan. 

“Kolam renang ini buka dari pagi sampai jam 8 malam, pak.” Terang penjaga kolam sembari membersihkan. 

Kubersihkan badan, mengganti pakaian kering dan duduk di restoran. Sapaan petugas di restoran sembari meminta keterangan nomor kamar. Setelahnya, aku menyusuri seluruh ruangan restoran yang masih sepi. 
Restoran buka mulai pukul 06.00 - 10.00 WIB
Restoran buka mulai pukul 06.00 - 10.00 WIB
“Sudah boleh sarapan kan?” Tanyaku 

“Sudah siap pak.” 

Dua jurumasak sibuk menyiapkan racikan menu. Aku mengambil nasi goreng dengan tambahan lauk. Tidak ketinggalan buah serta minuman jus nanas. Untuk sesaat, aku menikmati sarapan pagi sebelum beraktivitas. 

Bagi kalian yang menginap di Menumbing Heritage Hotel, kalau bisa sempatkan mencicipi Mie Ayamnya. Entahlah, aku lebih suka menyebutnya dengan kata Mie Ayam. Pokoknya enak. Selain itu, kalian yang suka dengan gorengan, wajib mencicipi pisang goreng. Enak banget. 
Menu sarapan pagi
Menu sarapan pagi
Jauh-jauh main ke Bangka, menginap di hotel bintang empat, tetap saja yang paling banyak aku makan adalah Pisang Goreng. Benar-benar tim gorengan sejati. 

Kesan Selama Menginap di Menumbing Heritage Hotel 

Dua malam menginap di hotel ini setidaknya ada beberapa yang bisa kusimpulkan. Suasana hotel sangat tenang meskipun berada di tengah-tengah pasar. Kamar dan fasilitasnya bagus, seluruh staf pegawainya ramah. 
Depan pintu masuk resepsionis Menumbing Heritage Hotel Bangka
Depan pintu masuk resepsionis Menumbing Heritage Hotel Bangka
Interior hotel juga menarik bagi yang suka dengan bangunan-bangunan lama. Beberapa sudut hotel juga instagramable. Restoran bagus, serta masakannya cocok buat lidahku yang identik dengan menu Jawa. 

Mungkin sedikit masukan, pada hari-hari tertentu tepatnya di arah masuk ke area hotel terkadang bau ikan kering. Hal ini cukup lumrah karena hotel berada di tengah pasar tradisional dan tidak jauh dari pasar ikan. Terlepas dari itu, aku menikmati selama bermalam di sini. *Menumbing Heritage Hotel Bangka; 25 – 27 Oktober 2018.

10 komentar:

  1. Meskipun tidak bawa tripod tapi tetap bisa eksis qiqiqiqi wah nggak asyik ya kalau tripod masuk bagasi, kenapanapa ntar malah nggak bisa dipakai. Wokeh, hotelnya luar biasa dengan kamar dan kasur macam begitu, bisa masuk empat sampai lima orang itu hahaha extra bed, please. Cuma karena di dekat pasar tradisional aroma ikan itu ya menusuk peciuman -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi tidak tercium langsung sih mbak. Pas kita keluar dari area hotel baru tercium.

      Hapus
  2. huaaaa cakep hotel nya
    btw jarang jarang isi kulkas bisa dinikmati gratis, hheuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik banget hahahhaha, minumannya bervariasi :-D

      Hapus
  3. Uwih. Suasananya oldish tapi menarik sih.
    Aku penasaran sama lift yang bukanya didorong itu haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak terlihat seperti lift orang. Maksimal cuma tiga orang

      Hapus
  4. Langsung suka krn liat bathtub berkaki nya :) . Lucuuuuk ihh hotelnya.. Untuk foto2 udh puas banget krn cakep gini. Aku hrs sempetin ke Bangka memang. Kyknya kalo jd ksana, mau pilih hotel manumbing ini juga. Yakin banget anak2ku bakal suka di sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok banget buat keluarga mbak. Ndang main ke sini ehehheheh

      Hapus
  5. dari luar kalau diliat gedungnya klasik gitu ya

    BalasHapus
  6. interior hotelnyanya sih ol skoll .. keren .. tapi interior kamarnya lebih ke modern simple ya

    BalasHapus

Pages