Swaseduh Kopi di Lokus Coffee - Nasirullah Sitam

Swaseduh Kopi di Lokus Coffee

Share This
Menyiapkan alat seduh kopi diarahkan oleh barista
Menyiapkan alat seduh kopi diarahkan oleh barista
Sudah banyak kedai kopi yang aku kunjungi di Jogja. Sebagian juga sempat aku tulis di blog. Setiap berkunjung, aku lebih suka dibuatkan dengan metode V60. Sesekali pernah menggunakan metode lain seperti Aeropress maupun Kalita. Namun, sepertinya aku lebih suka dengan V60. 

Adakalanya saat berkunjung di kedai aku ditawari untuk menyeduh sendiri. Karena belum pernah melakukan, dan sangat awam pengetahuan tentang meracik kopi, aku selalu menolak. Acapkali mata melihat secara rinci bagaimana proses pembuatannya hingga siap seduh. 

Seringnya barista menjelaskan berkaitan tentang rasa kopi, asal kopi, hingga metode yang direkomendasikan saat menyeduh. Sayangnya, informasi tersebut lebih banyak lupa tak terekam baik ingatanku. 

Hingga suatu ketika aku diajak Aqied untuk menyeduh sendiri. Tempatnya di Lokus Coffee, kedai kopi yang pernah aku kunjungi dua bulan yang lalu. Di Lokus ada program namanya “Seduh SukaSuka Bayar SukaSuka”. Ini artinya kita diperbolehkan menyeduh sendiri kopi yang kita pesan. Agenda ini setiap hari Selasa – Minggu mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. 

Bagi yang tertarik ingin meracik kopi, kalian bisa lihat postingan di Instagram dengan tagar Make Your Own Coffee. Nantinya di sini kita dibantu arahan barista langkah-langkah menyeduh kopi. 

***** 

Hari masih pagi, aku sudah duduk di kedai kopi Lokus. Sembari menunggu Aqied datang, aku berbincang dengan barista perempuan. Tidak banyak ngobrol, hanya sesekali melontarkan pertanyaan. Aku juga mengatakan jika pagi ini ingin mencoba seduh kopi sendiri. 

Ide ini muncul kemarin sore kala Aqied ingin mencari konten yang berbeda. Sejurus kemudian dia mengirimkan pesan ke Mbak Ayuk (Lokus Coffee), dan jawaban menggembirakan datang. Kami bisa swaseduh sebelum pukul 12.00 WIB. 

Aqied menjadi peserta pertama, dia menggunakan metode Kalita. Berhubung sudah beberapa kali menyeduh kopi sendiri, dia cukup lancar melakukan tiap tahapannya. Sesekali bertanya seputaran perbandingan air dan kopi. Biji kopi yang digunakan adalah Kaligua. Biji kopi Arabika yang berasal dari lereng Gunung Slemat. 
Menimbang biji kopi untuk diseduh
Menimbang biji kopi untuk diseduh
Aku bertugas mengabadikan tiap momen saat dia meracik kopi. Pagi ini dia mencoba menggunakan metode Kalita. Sepintas metode ini mirip dengan V60, hanya alat dan kertasnya yang berbeda. Aku ingat, Aqied pernah swaseduh saat di Candala maupun di Cupable

Tiba waktuku meracik. Sebelumnya, aku menyicip kopi racikan Aqied. Segala peralatan aku siapkan sesuai arahan barista. Baristanya bernama Kinan, barista perempuan jebolan kelas seduh Dongeng Kopi. 

“V60 saja mbak,” Jawabku. 

Kuambil biji dan menimbangnya. Biji kopi seberat 15gram tersebut aku ambil dari stoples. Berikutnya, aku memanasi air yang sudah tersedia. Sembari menunggu, aku bilang ke barista jika ini kali pertama aku memegang semua peralatan berkaitan dengan kopi. 

Air sudah mendidih, kuangkat ketel besar dan menuangkan air pada ketel kecil. Kuselipkan thermometer pada ketel yang berisi air panas. Mbak Kinan menganjurkan sampai suhu 95 derajat celcius. 
Mengecek suhu panas air
Mengecek suhu panas air
Sembari menunggu jarum termometer tepat diangka tersebut, aku menggiling biji kopi pada grinder. Untuk ukuran suhu air katanya berbeda, ada yang menggunakan 85 derajat atau lebih. Di kedai yang lain, aku pernah melihat barista patokannya 85 derajat celcius. 

Diatur hasil gilingan agar lebih lembut, jadi sebelum kutekan tombol giling, aku menyetel pada angka 5 grinder. Membutuhkan waktu tidak lama, biji kopi sudah menjadi serbuk. Aroma kopi makin harum. 

Selanjutnya, aku mengambil paper filter V60. Bagian ujung yang lancip kulipat sedikit, dan memasang pada bagian atas, berlanjut menuangkan bubuk kopi. Timer digital sudah aku setel. Sembari mendengarkan interuksi barista, aku menuangkan air ke wadah tersebut. 
Menuangkan biji kopi ke grinder atau alat penggiling biji kopi
Menuangkan biji kopi ke grinder atau alat penggiling biji kopi
Tangan memegang ketel sembari menuangkan air ala barista. Telinga fokus mendengarkan arahan dari Mbak Kinan. 

“50 mili pertama sampai 30 detik. Selanjutnya tambah 50 mili lagi hingga 60 detik,” Terang Mbak Kinan. 

“Kalau sudah, selanjutnya tambahi 50-80 mili lagi airnya,” Tambahnya. 

Ketel kecil berleher angsa Panjang ini bergerak memutar membasahi paper filter. Tetesan air kopi mulai terdengar. Lambat laun kopi tersebut makin banyak. 

“Kalau sudah sampai 180 mili, mbak?” Tanyaku bingung. 

“Biarkan sampai selesai mas. Ditunggu saja.” 

Kuamati tetesan demi tetesan yang dihasilkan sembari berdiri. Kinan dan Aqied memperhatikanku, sesekali mengabadikan. Bubuk kopi sudah mengendap, tak ada lagi tetesan yang dihasilkan. Kuangkat wadah bubuk kopi dan membuangnya pada tempat sampah yang disediakan. 
Menuangkan kopi ke dalam gelas
Menuangkan kopi ke dalam gelas
Tadinya, sebelum menunggu kopi jadi, aku menuangkan air panas pada gelas yang nanti untuk kopiku. Kuangkat kopi dalam wadahnya, dan menggoyangkan agar kopi tersebut seperti diaduk. Setelah itu kutuangkan dalam gelas. Tidak lupa, timer digital aku tekan sehingga berhenti. 

“Akhirnya bisa meracik sendiri.” 

Kulihat durasi waktu pada timer. Tepat 3.33 menit selesai dari awal hingga siap minum. Aku mencicipi hasil racikanku sendiri untuk pertama kali. Rasanya? Tentu tidak jelek-jelek amat. Namanya juga racikan sendiri, harus diapresiasi. 

Menariknya, barista yang mengarahkan kami berdua ini kenal dengan Mak Indahjuli. Kami pun mengabari Mak Indahjuli agar datang ke Lokus. Lucunya lagi, kami sudah saling mengikuti di akun Instagram. 

“Nanti ada beberapa teman yang datang ke sini,” Terangku. 

Benar saja, tanpa menunggu waktu lama, tim Ngopi Tiap Pekan datang. Kali ini yang datang Mak Indahjuli, Hanif, dan Ucil. Kami berbincang santai hingga bekerja. Untuk kali pertama kami datang ke kedai kopi dan semuanya bekerja. 

Bagaimanapun juga adanya swaseduh di Lokus Coffee menjadi daya tarik tersendiri pada pengunjung yang minat dengan kopi. Sebuah terobosan yang kuharapkan tetap ada, sehingga ada kesempatan menjajal meracik sendiri di lain waktu. 
Menyeduh kopi hasil racikan sendiri
Menyeduh kopi hasil racikan sendiri
Untuk pembayarannya, pihak kedai tidak mematok harga. Jika kalian merasa asyik dengan terobosan ini, kalian bisa memasukkan uang lebih pada tempat yang sudah disediakan. Aku percaya, menyeduh kopi sendiri di kedai kopi adalah pengalaman yang berharga dan mahal. 

Maksudku, tidak semua kedai kopi bisa seperti ini. Jadi kalian bisa mencoba datang ke sini sebelum pukul 12.00 WIB. Sepertinya ke depannya aku mau mencoba alat seduh Kalita atau Aeropress. Eh!! *Lokus Coffee; Minggu, 23 September 2018. 

Catatan 

*Seluruh dokumentasi foto dipotret Aqied 
*Selang dua minggu, saya dan teman-teman lain mendapatkan kiriman biji kopi dari Mas Renggo (Dongeng Kopi)

28 komentar:

  1. Jadi kapan mo bikin kopi pake Aeropress? wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedang saya pikirkan, semoga tidak memecahkan gelas ahhahaha

      Hapus
    2. Sebentar, ini sepertinya Aeropressnya femes sekali dimarketingkan dimana-mana 😆

      Hapus
  2. aku setuju banget kalau hasil karya sendiri harus diapresiasi. wkwkw
    asline rasane mungkin rodo ra enak. tapi yo namanya juga baru pertama dan bukan profesional ya mas? wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak kok rasanya, namanya juga latihan

      Hapus
  3. 50 mili pertama 30 detik, trus tambah 50 mili hingga 60 detik... ternyata ngombe kopi susah juga ya hahaha. Ini jadi tempat ngopi yang nggak biasa, jadi mupeng ama Lokus Coffee deh. :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahah, kudu rene koh sekalian bikin sendiri :-D

      Hapus
  4. Memang hasil karya sendiri harus di banggakan bangat, hehe..
    Ada kalkulasinya juga ternyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, memang ada kalkulasinya biar rasa kopinya bisa dinikmati

      Hapus
  5. deket kosanku ini di Pogung, pengen nyoba kapan2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan cuma wacana loh mbak ahhahahah

      Hapus
  6. Grindernya itu nggak pakai ontelan? wkwk malah pingin nyium baunya pas udah jadi serbuk.
    Yeayy, besok ajak dia ke sini aja mas. Kopinya hasil dari swaseduhmu, pasti tambah ada sweet-sweetnya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa yang mau diajak ke sini? Ada teman kah yang kudu diajak ke sini? Hahahhahaha

      Hapus
  7. banyak juga ya aturan menyeduh kopi..
    heuheuheu, kita sebagai konsumen taunya tinggal minum dan bayar aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, aku juga awalnya gitu mas :-D

      Hapus
  8. Aku suka kopi tapi engga bisa bikin. Trus juga ga tertarik bedain dibuat pake cara apa. Cuma suka bau kopi saat dituangi air panas. Ngobrol-ngobrol kita belum pernah ngopi di Yogya ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo diagendakan, saya sering nongkrong di salah satu kedai kopi dekat kos. Biasanya kalau ada deadline tulisan ya di sana.

      Hapus
  9. Belom pernah nyoba praktek bikin kopi kayak kamu ini mas hahaha.
    Bikinin satu dong wakakaka.

    Btw kedai kopi di Jogja banyak banget yah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kedai kopi di Jogja emang menjamur kok hahahahha

      Hapus
  10. Kenapa aku baru tahu ada tempat ini Nasi? Waahhhh pelanggaran ini kamu udah nyeduh kopi duluan hahaha... Aku juga mauuuu dong diseduhiiinnnnnn! Tar ya kalau ke Jogja yaa!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya sempatkan waktu untuk mampir ke Jogja lagi :-)

      Hapus
  11. wahh asik juga yak, jadi pengen nyeduh kek gitu. biasanya sih ya cuma kopi bubuk tambah gula tambah air anget udah jadi, wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu cara terpraktis bagi pecinta kopi ehehheh

      Hapus
  12. Ini nih ... nambah ilmu soal dunia peracikan kopi. Sumpah, baru tahu saya soal metode V60 dan Areopress. Maklum di sini saya tahunya dua kopi + satu gula. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih banyak metode yang lainnya mbak.

      Hapus
  13. pusing juga ya bikin kopi yang bener2 kopi. pantes aja belakangan barista jadi profesi yang keren, krn pekerjaannya juga lumayan susah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap profesi sebenarnya sama kok, hanya menurut pandangan seseorang saja terlihat lebih keren.

      Hapus
  14. wah sudah cocok deh jadi barista ... apalagi cafe to cafe di jogya kayaknya sudah hampir khatam :)

    BalasHapus

Pages