Menilik Koleksi Sepeda Kuno di Magelang - Nasirullah Sitam

Menilik Koleksi Sepeda Kuno di Magelang

Share This
Ratusan sepeda di bengkel Rental Sepeda Borobudur
Ratusan sepeda di bengkel Rental Sepeda Borobudur
Perjalanan berakhir, mobil yang kami tumpangi berhenti di pelataran rumah penyewaan sepeda yang lokasinya dekat dengan Candi Borobudur. Sepeda-sepeda tua sudah tertata rapi di tepi jalan. Tak lupa tiap sepeda ditambahi minuman air mineral kemasan. Aku menghitung jumlah sepeda, lantas mengecek kembali rombonganku. 

Rombonganku sendiri istirahat di kedai kopi. Mereka memesan kopi teh panas dan kopi. Sembari menunggu pemandu setempat, aku mengecek jenis-jenis sepeda yang nantinya kami pakai. Bagi orang Jawa, sepeda yang kami pakai namanya “Pit Jengki/Pit Unto”. 

Ceritanya cukup panjang yang membuatku akhirnya bergabung dengan rombongan wisatawan mahasiswa internasional. Berbekal lingkaran kolega, aku mendapatkan tugas mengabadikan tiap momen wisatawan. Mungkin salah satu yang menjadi pertimbangan adalah kebiasaanku bersepeda. 

Seorang lelaki separuh baya mendekatiku. Kukira beliau ini adalah pemilik penyewaan sepeda. Namun dugaanku salah. Lelaki ini adalah salah satu pegawai dari pemilik penyewaan sepeda. Perkara biaya sewa, aku tidak tahu. Toh semua sudah diurusi kolega. Di sini aku fokus menjadi jurufoto. 
Tempat penyewaan wisata sepeda Borobudur
Tempat penyewaan wisata sepeda Borobudur
“Kalau mau lihat sepeda, di belakang ada gudangnya, mas,” Ujar lelaki tersebut padaku. 

Entah beliau mungkin melihat tingkahku yang tertarik dengan sepeda. Seari tadi aku memang mengamati sepeda-sepeda yang ada di halaman depan. Sesekali mengabadikan sepedanya. Jarang-jarang aku bakal menaiki sepeda seperti ini. 

Seingatku, dulu pernah naik sepeda tua waktu masih kecil. Selama di Jogja sempat beberapa kali menaiki sepeda sewaktu jelajah desa wisata di Jogja. Seperti waktu aku mengunjungi desa wisata Kebonagung maupun desa wisata Malangan. Semuanya menggunakan sepeda tua. 

Kuikuti langkah lelaki separuh baya ini. Sembari berjalan, beliau memperkenalkan namanya. Tepat di belakang rumah ternyata ada bangunan lagi yang lebih luas dan panjang. Pak Purwoko membuka pintu, terlihat jelas isi di dalam gudang. Ratusan sepeda tertata dengan berbagai model. 

Terus terang aku terkejut melihat pemandangan ratusan sepeda berbagai jenis. Banyak sepeda kuno yang tertata rapi, bergelantungan, bahkan yang tinggal rangka dan tergeletak di ujung ruangan. Sepertinya ini dijadikan tempat penyimpanan sekaligus bengkel. 
Masuk ke dalam tempat koleksi sepeda
Masuk ke dalam tempat koleksi sepeda
Komponen-komponen yang lain pun tertata rapi di tiap atas kepala. Seperti berbagai jok sepeda tua yang tergantung, ban sepeda di sudut ruangan, pedal, crack, rantai, bahkan jeruji sepeda. Semua dikumpulkan satu tempat di sini. 

Melihat banyak sepeda tua dengan berbagai merek tentunya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Aku belum sekalipun melihat sepeda tua yang banyak merek seperti sekarang. Nama-nama sepeda pun kuketahui dari membaca buku berkaitan dengan sejarah sepeda Indonesia terbitan Kompas Gramedia. 

Dari bacaan buku tersebut, aku mendapatkan informasi jika di sekitarn Tegal, Pemalang, dan sekitarnya banyak sepeda-sepeda yang unik berasal dari Belanda. Dulu kota-kota tersebut menjadi tempat menyebarkan sepeda-sepeda di seluruh Indonesia. 

Satu persatu kulihat secara rinci sepeda yang ada di dekatku. Mulai dari sepeda lipat berwarna merah. Merek sepeda tersebut adalah Jaguar. Sepeda ini tampak terawat dengan baik, sudah terlihat juga ban yang tersemat baru dipasang. 

Melirik ke sepeda onthel yang tertata rapi. Berbagai jenis sepeda onthel layak pakai di sini. Emblem sepeda masih terlihat dengan jelas. Dari sini, aku bisa membaca merek sepeda-sepeda tersebut. Mulai dari Bismarch, Simplex Amsterdam, bahkan ada sepeda Western Flyer (semacam sepeda Lowraider berwarna hijau). 
Salah satu emblem sepeda kuno
Salah satu emblem sepeda kuno
Pak Purwoko mengatakan jika pemilik penyewaan sepeda Borobudur ini memang gemar mengoleksi sepeda. Khususnya sepeda tua yang sudah langka. Pemilik tempat penyewaan sepeda ini adalah Pak Pramono. 

Konon Pak Pramono mempunyai sepeda banyak, jika hitung keseluruhan sekitar 1000 sepeda. Namun, seluruh sepeda tersebut tersebar di beberapa kota, seperti; Jogja, Semarang, dan Magelang. Lagi-lagi aku terkesiap, ingin rasanya bisa bersua dengan pengoleksi sepeda ini. 

“Bapaknya sedang mengantar tamu di desa sebelah (desa wisata Wanurejo), mas.” 

Aku ingat sewatu tadi pagi melintasi desa wisata Wanurejo memang melihat rombongan sepeda onthel yang berjalan rapi melintasi pematang sawah. Bisa jadi rombongan tersebut adalah tamu yang diantar pak Pramono. 

Rasanya kurang lengkap jika sudah sampai di sini tapi tak mengabadikan. Kuminta Pak Purwoko memotretku. Sejenak kukasih tahu beliau jika tinggal menekan tombol atas. Meski agak canggung, beliau berhasil mengabadikan sesuai permintaanku. 
Pose di tempat koleksi sepeda
Pose di tempat koleksi sepeda
Obrolan kami makin seru. Beliau mengajakku masuk ke rumah Pak Pramono. Katanya ada sesuatu yang harus aku lihat. 

“Barang langka, mas,” Ujarnya meyakinkanku. 

Kuikuti langkah beliau. Kami masuk rumah melalui pintu belakang. Sembari ikut masuk, aku penasaran apa yang ingin beliau lihatkan. Apa mungkin ada sepeda yang disimpan di lain tempat, atau yang lainnya. Pikiranku masih di seputaran sepeda. 

Pak Purwoko berhenti di ruang tamu. Tak ada yang istimewa di dalam rumah ini sebelum beliau mengarahkan tangan ke atas. Kulongokkan kepala, sebuah benda tergantung di atas plafon. Benda yang membuat mataku berbinar-binar takjub sekaligus tak percaya. 

“Gila Pak! Itu asli!?” 

Beliau mengangguk mantap. “Di Indonesia hanya ada beberapa buah saja, mas. Ini salah satunya.” 

Sepeda unik dengan ukuran ban berbeda ini sering kita lihat di film-film dokumenter lawas. Ban sepeda belakang jauh lebih besar dibanding ban sepeda depan. Jenis sepeda ini adalah Penny Farthing. Sepeda model seperti ini diproduksi secara massal tahun 1870an di Eropa. 
Koleksi sepeda kuno Penny Farthing
Koleksi sepeda kuno Penny Farthing
Di Indonesia, sesuai literatur yang aku baca, jumlah sepeda Penny Farthing asli tidak lebih dari 5 buah. Bisa jadi malah lebih sedikit. Jika kalian pernah melihat model sepeda yang serupa meski model frame agak berbeda, bisa jadi sepeda tersebut hasil kustom buatan warga lokal. Di beberapa kota sudah banyak orang yang membuat sepeda model Penny Farthing. Salah satunya di Tegal. Konon frame dan keseluruhannya mirip dengan sepeda asli. 

Meski aku tak sempat memegang sepeda tersebut, ada rasa yang menyeruak gembira. Tak disangka, kedatanganku mengantarkan tamu yang ingin berkeliling Magelang naik sepeda bisa menemukan dan melihat langsung sepeda kuno Penny Farthing. Benar-benar sebuah kejutan! *Magelang; Sabtu, 10 Maret 2018.

32 komentar:

  1. Itu semua sepeda jadul. Mantep banget dah koleksi pemiliknya ini. Soalnya udah jarang loh sepeda kayak gini dipake orang di jalan. Jangankan dipake, ada yang koleksi aja sepertinya masih sedikit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di beberapa kota sebenarnya ada komunitasnya mas. Kalau pas waktu tertentu keluar barengan. Tep kalau ini ngeri-ngeri sedap.

      Hapus
  2. bedebah! hahaha
    ini luar biasa si pak Purnomo, bisa mengoleksi sepeda tua sebegitu banyak. Saya bukan penggemar sepeda, tapi penggemar benda tua apalagi kalau bersejarah.

    ini luar biasa, kalau diuangkan si pak Purnomo ini sudah jadi miliarder kali ya hahaha
    nilai sejarahnya itu loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Investainya ngeri hahahahhaha.
      Tiap yang ontel direntalkan, jadi selalu ada pemasukan. Cerdas.

      Hapus
  3. Mas ini dijual gak ya sepedanya?

    BalasHapus
  4. Naik sepeda tua gini bikin deg2an. Takut nyusruk kayak pas di Malangan T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya pas di sana, kamu lihai naik. Bisa foto ala-ala di pematang sawah ahahahah

      Hapus
  5. Aku kok jadi pengen sepedaan ya, Rul. Buat ngilangin lemak lemak jahat di dalem tubuh.
    Tapi nggak bisa naik sepeda gunung, kalau sepeda onthel biasa bisa buat olahraga nggak sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepeda gunung malah gampang dinaiki, Nof. Kecuali yang kami pikirkan sepeda roadbike :-)
      Semua bisa, kalau memang mau cepak, kamu lari aja :-)

      Hapus
  6. weleh, uakeh banget sepedane...
    aku dadi kelingan sepedane mbah kakung mbiyen, sepeda ontel koyo ngene iki...
    alhamdulilah wes pernah merasakan naik sepda ontel, heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepeda yang model klasik gini legend banget mas hahahahah.
      Latihan nyepeda juga masih susah karena frame-nya lurus.

      Hapus
  7. Wehhh keren sekali tempat sepeda kuno ini.. sampai punya ribuan gitu pasti pemiliknya cinta mati ama sepeda ya..
    dan itu sepeda Penny Farthingnya itu.... duhhhhh.. kujadi pengen kesana biar lihat langsung jugaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo agendakan main ke Magelang terus sepedaan.

      Hapus
  8. Gowonen bali siji nggo aku mas

    BalasHapus
  9. Tempat yang cocok bagi penggila sepeda kayak kamu ya hahaha. BANYAK BANGET! Aku selalu kangen Magelang, dulu sempat mikir, "kalo pindah di sini betah deh aku" hahaha. Ntah sekarang, mudah2an gak terlalu padat kayak Bandung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Magelang memang nyaman buat tempat pindah. Cari sekitaran arah ke Kopeng masih banyak yang asri, om.

      Hapus
  10. Balasan
    1. Cerak kok mas. Tepat di dekat pintu masuk candi borobudur

      Hapus
  11. Wah Kak... Pak Purwoko baik banget tiba-tiba ngajak keliling. Keren. Kebaikannya terbalas dengan hadirnya artikel ini yang semoga bisa membuat netizen baca & tertarik untuk datang untuk sekedar melihat-lihat / pinjam sepedanya.

    Keren banget ownernya memiliki sebegitu banyaknya sepeda. Apalagi yang digantung, itu bener2 barang langka & ownernya kok ya sempat-sempat mengoleksinya dan sepeda-sepeda lainnya.
    Berapa budget yang dikeluarkan untuk mengoleksi ya?

    Salam bahagia Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyenangkan bisa melihat tempat seperti ini. Terlebih memang sudah dari awal suka sepeda. Terkait budget, kayaknya nggak tahu aku ahahha. Pasti ini barang mabal hahaha

      Hapus
  12. berasa melihat orang yang sedang memonopoli rental sepeda ontel mas :D
    selain banyak, koleksinya juga terawat dengan baik. Aku yang suka bersepeda jadi pengen nyewa sepeda di sana dan berkeliling di sekitaran borobudur.

    makasih infonya mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku beberapa kali sepedaan keliling di sekitaran Borobudur mas. Menyenangkan loh hahhahah

      Hapus
  13. Kecintaan pada benda-benda antik (sepeda onthel udah termasuk antik kan ya), membikinnya rela menyiapkan ruang begitu luas untuk koleksiannya. Luar biasa Bapak ini. Di Ende, masih ada satu dua sepeda onthel, tapi dipakai oleh para Bapak-bapak berjualan ikan keliling kota, nanti deh saya foto ... atau bahkan bisa jadi satu pos tersendiri hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin pos dong tentang sepeda di Ende. Pasti menarik hahahahha

      Hapus
  14. dashyattt ... sepeda sebanyak itu .. bahkan sampai punya koleksi 1.000 buah .. ckckck
    harusnya dibuat semacam museum ... pasti jadi saah satu destinasi wisata menarik ...
    kalau ke Magelang mesti mampir kesini ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dibuat museum kayaknya emang cocok, kang. Tinggal membuat konsep dan mencari literatur sepedanya

      Hapus
  15. Wahhh keren bgt koleksinya, suamiku pecinta barang antik, dirumah ada 2 sepeda onthel, akhir maret kmrn suamiku ke borobudur padahal, sayang bgt ga tau ada tempat ini, kalau tau pasti disempat2in mampir kesini hahhaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih punya dua koleksi, keren. Aku malah belum punya koleksi sepeda tua heheheh

      Hapus
  16. Dulu itu ada temanku asli Magelang yang membuat lirik lagu tentang bersepeda. Dalam liriknya itu ada kata "Pit Jengki". Ternyata Pit Jengki itu sebutan orang Jawa untuk salah satu jenis sepeda ya. Baru terjawab misteri itu saat baca tulisan ini.


    Dan untuk koleksi sepeda Pak Pramono, luar biasa banyaknya. Jangan-jangan di antara 1000 itu terselip sepeda Harley Davidson :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya hahahahah.
      Pit Jengki adalah sepeda klasik ataus epda unto kalau orang jawa bilang.

      Hapus

Pages