Dinding Serba Putih di Mathonos Coffee House Jogja - Nasirullah Sitam

Dinding Serba Putih di Mathonos Coffee House Jogja

Share This
Kopi dan kudapan di Mathonos Coffee House Jogja
Kopi dan kudapan di Mathonos Coffee House Jogja
Kali pertama membaca tulisan Mathonos, yang tebersit di pikiranku saat itu adalah Thanos. Entahlah, bagaimana bisa sosok tersebut yang terekam di otakku. Mungkin kata “Thanos” lebih dulu familiar dibanding Mathonos, di pikiranku. 

Sebenarnya, kunjungan kali ini adalah yang kedua. Awalnya, kunjungan pertama sewaktu tidak sengaja ada janji bersama kawan bertepatan dengan kumpulnya komunitas Kamera Fuji yang memotret model di kedai kopi ini. Kedua kalinya datang tentunya malam ini. 

Berlokasi di Satren, Caturtunggal (tidak jauh dari SMK Pembangunan Mrican), kedai kopi ini terlihat cukup mencolok. Jika tidak salah, dulunya lahan tersebut bekas warung soto. Bangunan baru ala rumah-rumah di Eropa berbalur cat warna putih. Di depannya terdapat ikon tempat telepon umum khas Eropa berwarna merah. 

Dua teman sudah berada di meja kasir, tinggal menunggu pesananku. Turun dari kendaraan, aku langsung masuk. Melihat dua teman di sana, bergegas aku turut memesan minuman. Beruntung, kali ini ada semacam traktiran dari kawan. 

“Kerinci ya, mbak. V60 saja,” Pintaku pada cewek yang bertugas sebagai kasir. 
Daftar Harga dan Menu di kedai kopi Mathonos Coffee House Jogja
Daftar Harga dan Menu di kedai kopi Mathonos Coffee House Jogja
Cewek ini langsung menuliskan pesananku. Setelah itu kutinggal menuju meja yang berada di ujung, dekat arah kamar mandi. Di sana sudah ada kawan yang lainnya menunggu. Malam ini tidak ada agenda khusus, kami hanya berbincang santai sembari menyicil pekerjaan. 

Harga semua minuman dan makanan di Mathonos Coffee tertera pada depan kasir. Menurutku, kedai ini harganya cukup berbeda dengan kedai-kedai yang pernah aku kunjungi lainnya. Minuman Manual Brew dipatok mulai dari 27000 rupiah ke atas. Bahkan di sini ada Guest Bean Gesha dengan harga 135.000 rupiah. 

Terlepas dari berbagai biji kopi yang disediakan, di kedai kopi ini terdapat beragam makanan. Jadi cukup membuat kita bisa santai kala lapar. Tidak ketinggalan pecinta nonkopi, menu minuman selain kopi juga beragam. Menu tersebut sempat aku abadikan walau hasilnya tidak maksimal. 

Mathonos terlihat cukup luas. Nuansa putih tidak hanya di bagian luar, di dalam kedai pun sama. Tembok benar-benar putih tanpa ada kombinasi warna yang lainnya. Kesan awal menurutku agak terang, maksudku tentu dengan baluran tembok putih tanpa ada hiasan figura yang terpajang. 

Ruangan dibagi menjadi dua. Area merokok dan bebas rokok. Tepat di belakang meja barista, terdapat sofa yang nyaman diduduki. Di depannya lagi jejeran meja kecil dilengkapi dengan sepasang kursi hitam. Seluruh kursi di ruangan bebas rokok seragam. Tidak ketinggalan pula sebuah televisi beserta rak lengkap dengan figura-figura kecil di meja. 
Ruangan di Kedai Mathonos Coffee Jogja
Ruangan di Kedai Mathonos Coffee Jogja
Ada banyak spot stop kontak. Sebagian pengunjung lebih banyak memanfaatkan kedai ini sebagai tempat untuk mengerjakan tugas atau belajar. Meski, beberapa pengunjung adalah pasangan muda-mudi yang menyempatkan berbincang di sini. 

Mathonos merupakan kedai yang baru dibuka. Informasi yang aku dapatkan, kedai ini dibuka pada bulan April 2019. Artinya memang benar-benar baru. Sehingga masih banyak hal yang harus ditambahi, terlebih bagian interior kedai agar tidak terlihat sepi. 

Menariknya, kedai ini seluruh baristanya perempuan. Ada enam barista di Mathonos, salah satu baristanya sudah kukenal terlebih dahulu kala dia bekerja di kedai kopi sebelumnya. Kami sempat berbincang santai sembari menunggu pesanan kopi yang dia racik. Satu kali sif, ada dua barista yang berjaga. 

“Ketemu di sini kita,” Sapaku saat melihat barista tersebut. 

Sepertinya dia ingat, kami berbincang santai. Selain itu, aku juga meminta izin kepada mas-mas (admin Instagram Mathonos) untuk memotret sudut-sudut kedai kopi. Seperti layaknya kedai kopi yang lainnya. Mencari konten kedai kopi untuk diulas di blog pribadi. 
Barista cewek meracik kopi
Barista cewek meracik kopi
Di antara seluruh tempat duduk, menurutku yang paling favorit pastinya kursi sofa yang berada tepat di belakang meja kasir. Kursi ini sudah ada yang menggunakan saat aku datang. Aku melihat, ternyata ini menjadi tempat duduk barista kala senggang. 

Tembok di belakang terdapat semacam tulisan yang tersemat pada dinding berbalur cat putih. Sayang tulisan timbul ini tidak terbaca dengan baik karena warnanya sama dengan cat. Mungkin perlu sedikit diberi warna berbeda, sehingga tulisannya bisa terbaca dengan jelas. 

Mathonos Coffee sebagian besar dinding depan kombinasi kaca transparan dengan cat berwarna putih. Menjelang malam, suasana terang sedikit mencolok. Bagiku, kaca tanpa ada tirai seperti ini berdampak kala siang. Rasanya sangat terang dan mungkin kurang nyaman kalau siang hari. 

Waktu pertama datang, saat sore hari. Aku sedikit membatin. Tempat ini sebenarnya bagus, hanya beberapa jendela yang menghadap ke jalan mungkin lebih baik ditambahi tirai. Sehingga warna putih tidak begitu terang. 
Para pengunjung kedai kopi kala malam hari
Para pengunjung kedai kopi kala malam hari
Banyak pengunjung yang bekerja di kedai kopi
Banyak pengunjung yang bekerja di kedai kopi
Menjelang malam, pengunjung semakin ramai. Hampir di tiap kursi terisi penuh. Hanya kursi yang berada di depan televisi pengunjungnya silih berganti. Para pengunjung lebih banyak mahasiswa. Terlihat beberapa sudut meja di ruangan bebas rokok bertumpuk buku dengan sekelompok muda-mudi. 

Berbeda halnya dengan ruangan yang diperuntukkan bagi perokok. Di sana meja dan kursi kombinasi kayu bercorak kekuningan. Tidak berbalut busa layaknya kursi yang ada di ruangan bebas merokok. Delapan meja kecil yang lengkap dengan sepasang kursi tertata acak, sesuai dengan keinginan pengunjung yang berkelompok. 

Tempat untuk perokok juga dilengkapi dengan pendingin ruangan. Dinding yang memisahkan dua ruangan tersebut menggunakan kaca tebal. Bagi pengunjung yang ingin masuk ke ruangan rokok, pintu ada di paling ujung, tinggal menggeser daun pintu. 

Bagi yang tidak suka suasana ramai. Mathonos coffee menurutku lumayan lengang. Meski pengunjung banyak, tempat ini tidak riuh. Masih bisa dikondisikan jika sedang sibuk menulis blog saat mendesak, atau sedang ini bersantai. Pun dengan musik dari pelantang yang tidak kencang. 
Ruangan khusus perokok di kedai kopi
Ruangan khusus perokok di kedai kopi
Silih berganti, pesanan kami berdatangan. Mulai dari minuman hingga kudapan. Kawan ada yang memesan Es Mathonos hingga kopi. Semua sudah kumpul, waktunya kami menyicipi sajian yang sudah dipesan. 

Es Mathonos menjadi minuman andalan di kedai ini. Target pasar mereka adalah muda-mudi yang tidak begitu suka minuman kopi. Bagi yang suka kopi, minuman ini tidak aku rekomendasikan. Urusan selera tentu berbeda di tiap lidah. Selain es tersebut, minuman yang paling laris dipesan adalah Lychee Tea. 

Sebagai kedai kopi baru, menurutku Mathonos sudah cukup bagus. Memang tetap butuh polesan interior untuk tembok agar warna tidak hanya putih. Alangkah baiknya lagi ditambahi poster berkaitan dengan kopi atau yang lainnya, agar tembok bisa lebih berwarna. 

Tambahan yang lain adalah bagian wastafel yang berada satu tempat dengan pintu masuk kamar mandi. Mungkin lebih bagus lagi di dinding wastafel ditambahi cermin. Kemarin pas aku datang ke sana belum ada cerminnya. 
Menikmati kopi dan kudapan di Mathonos Coffee House Jogja
Menikmati kopi dan kudapan di Mathonos Coffee House Jogja
Selain itu, pastinya lebih menarik lagi jika barista yang berjaga/sif menggunakan apron. Tentu hal ini menjadi menarik lagi jika barista-barista cewek menggunakan apron. Selain mudah dikenali, pengunjung juga tidak sedikit bingung kala ingin memesan. Karena terkadang mereka (barista) duduk di sofa yang berada di belakang meja barista. 

Terlepas dari itu semua, aku percaya, Mathonos Coffee House bisa menjadi lebih baik. Lokasinya yang tidak jauh dari area kampus dengan ruangan serta tempat parkir cukup luas menjadi nilai plus suatu kedai kopi. Pastinya di waktu mendatang, aku bakal ke sini lagi untuk menikmati kopi dan suasananya. Siapa tahu sudah ada yang berubah. *Mathonos Coffee House Jogja, 27 Mei 2019.

10 komentar:

  1. membaca judul, pikiranku pertama malah Manthous, penyanyi campursari, heuheuheu
    maunal brew seharga 27rb itu termasuk mahal ya di jogja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahha, malah gagal fokus, mas.
      Di sekitaran sini rata-rata 25 ribu, mas. Meski selisih 2 ribu tetap terasa kalau orang tiap hari ngopi *eh

      Hapus
  2. wah minimalis dan keren ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hanya menurut saya lebih nyaman lagi interior ditambah seidkit biar kesannya gak sepi :-)

      Hapus
  3. Asiknya klo ngerjain tugas sambil ngopi2 dgn interior yg simple. Kesannya adem dan gk ribet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahha, wajib ada yang diselesaikan dalam satu kali nongkrong, biar ada manfaatnya.

      Hapus
  4. kalau pengunjungnya banyak ... berarti kedai ini sesuai selera dan minat konsumen ...
    mungkin karena baristanya cewe semua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktor kolega dan dekat kampus juga mempengaruhi, kang :-)

      Hapus
  5. akupun baca namanya lgs keinget thanos kok hahahaha.. jd keinget slama ini sbnrnya aku sering ngopi2 di jakarta, ama pas di jepang kemarin bbrp kali singgah di cafe kopi nyobain kopi di sana. tp nth napa kalo ngopi gini, ga kuanggab kulineran, makanya jrg aku tulis reviewnya :D. baca tulisan mas yg banyak ttg cafe kopi, jd pgn ikutan nulis cafe kopi :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahahahha sama toh. Kemarin niatnya mau bikin sub menu lain, misalnya mengopi atau apa gitu. Tapi kok belum sempat, jadi masih kumasukkan di kuliner hahahahaha.

      Sengaja review kopi karena sekarang lagi naik ulasan kedai kopi.

      Hapus

Pages