Semilir Angin di Pantai Pasir Putih Karang Pandan, Nusakambangan - Nasirullah Sitam

Semilir Angin di Pantai Pasir Putih Karang Pandan, Nusakambangan

Share This
Pantai Pasir Putih Karang Pandan, Nusakambangan
Pantai Pasir Putih Karang Pandan, Nusakambangan
“Mas tinggal ikuti jalan setapak ini. Nanti sampai di pantai Karang Pandan,” Terang Pemandu seraya izin berlalu. 

Aku mengucapkan terima kasih sembari menyelipkan uang kala menjabat tangan sebagai jasa menjelajah sudut di Benteng Karang Bolong. Pemandu tersebut tersenyum. Kuteruskan langkah menapaki jalan menuruni bukit. Sepanjang kanan-kiri jalan masih semak belukar. 

Langkah kaki ini memang mengantarkanku sampai di bibir pantai. Berbaris pohon Ketapang membuat sekitar teduh. Menariknya, pohon yang berada di tengah malah meranggas. Setelah sekian lama hanya wacana, akhirnya aku sampai juga di pantai Karang Pandan. 

Pengunjung pantai cukup ramai. Meski cuaca terik, tak membuat mereka sepenuhnya berteduh. Tersebar beberapa rombongan yang asyik menikmati suasana pantai siang hari. Kusapu pandangan ke hamparan pasir, cukup bersih pantainya. 

Pantai Karang Pandan menurutku lebih terjaga kebersihannya dibanding pantai Karang Bolong. Pantai ini sempat aku lihat waktu memotret Mercusuar Cimiring. Daratannya lebih panjang daripada pantai-pantai yang pernah aku kunjungi di Pulau Nusakambangan

“Minumannya mas?” Sapa penghuni lapak warung bawah pohon Ketapang. 

Aku menggeleng seraya menunjukkan tas kecil yang sudah tersedia air mineral dan roti. Tak hanya satu lapak, di sini ada beberapa lapak warung yang menjual minuman maupun makanan. Rata-rata makanan adalah Pop Mie. Makanan kemasan yang sampahnya terlihat di beberapa sudut pantai. 
Pengunjung di Pantai Karang Pandan, Nusakambangan
Pengunjung di Pantai Karang Pandan, Nusakambangan
Tiap ujung pantai berbentuk bebatuan menjorok ke laut. Aku melangkah mencari tempat duduk di atas bongkahan batu sisi kanan menghadap ke laut. Bebatuan ini agak landai dan menjadi jalur lalu-lalang pengunjung. Tak jauh dari tempatku duduk ternyata ada pantai kecil lagi yang dipenuhi pandan laut. 

Pantai ini mengingatkanku dengan pantai yang ada di Gunungkidul. Rata-rata berjarak dengan bukit atau tebing. Barisan pantai yang kecil ini malah ada banyak rombongana remaja. Mereka membawa dome kecil untuk foto ala-ala Instagram. 

Muda-mudi yang berjumlah lebih dari sepuluh orang ini secara bergantian foto di tepian pantai, dekat dome, maupun beraksi di bebatuan tidak jauh dari tempatku duduk. Properti yang dibawa lumayan banyak, ada boneka besar serta gitar akustik. Benar-benar mendalami dalam membuat konten foto. 

Ada juga yang menyebar ke setiap sudut. Mereka mengabadikan dengan kamera gawai. Rombongan yang didominasi remaja perempuan dan berjilbab ini cukup riuh. Berlarian di pasir, bermain air, berteriak kala terkena air laut, dan pastinya tampak bahagia. 

Kuabaikan muda-mudi yang riuh. Aku duduk dan bersandar pada bebatuan guna melepas lelah. Keringat yang tadi sempat membasahi kaus mulai mengering terkena sepoinya angin laut. Siang terik dengan angin sepoi memang menggoda mata untuk terpejam sesaat. 

Sebagai anak pantai, embusan angin laut seperti ini memang menjadi sesuatu yang dirindukan. Pernah suatu ketika aku tertidur di pantai saat menikmati embusan angin pantai. Kuharap jangan sampai berulang di sini. Bahaya, masa ketiduran di pulau Nusakambangan. Takut tidak ada yang membangunkan. 

Keramaian pantai terekam, lapak-lapak penduduk setempat mulai dihampiri pengunjung. Pembeli duduk pada terpal biru yang menjadi alas. Sedikit tumpukan sampah sudah disatukan. Harapannya sampah makanan kemasan itu tidak hanya dibiarkan tertumpuk begitu saja. 
Bermain pasir sambil mengambil cangkang
Bermain pasir sambil mengambil cangkang
Tak mau kalah dengan pengunjung remaja putri, mereka yang datang satu keluarga pun ikut riuh. Anak kecil sibuk mencari-cari benda di pasir. Pantai Karang Pandan pasirnya tidak halus. Didominasi oleh pecahan-pecahan karang jahe dan sejenisnya. Terlihat anak-anak ini sedang mencari cangkang bekas yang tersebar di pasir. 

Siang makin terik, sebagian pengunjung silih berganti yang datang. Sepertinya wisata di pulau Nusakambangan ini lebih banyak targetnya adalah keluarga besar. Sedari tadi waktu naik kapal, rombongan yang bertemu denganku semacam keluarga besar. 

Cukup lama rehat di bebatuan sembari berbaring. Rombongan remaja cewek yang sedari tadi masih saja riuh. Mereka tersebar di beberapa titik. Aku terus mengamati mereka. Kuambil kamera dan mengabadikan sedikit aktivitas para pengunjung. 

Dua remaja putri merangkak menaiki bongkahan batu yang menjorok ke laut. Secara gantian mereka saling memotret menggunakan gawai. Setelah puas, mereka melakukan swafoto. Bebatuan di pantai ini warnanya cenderung gelap. 
Berfoto di bongkahan batu ujung pantai
Berfoto di bongkahan batu ujung pantai
Wisatawan di sini bermain air. Ada yang berenang sembari menikmati empasan ombak. Di pulau Nusakambangan, khususnya pantai Karang Pandan, aktivitas berenang di air dangkal masih bisa dilakukan. Ingat, hanya bermain air di garis bibir pantai. 

Perairan di Nusakambangan selalu ramai. Tiap waktu hilir-mudik kapal-kapal besar di sini. Adanya Mercusuar Cimiring menjadikan perairan di Cilacap ini memang menjadi jalur yang ramai dilewati kapal besar. Suatu ketika, aku pernah melihat kapal tongkang, tanker, maupun kapal-kapal muatan yang lebih besar. 

Sebuah kapal besar melintasi perairan Cilacap. Aku kembali mengambil kamera dan mengabadikannya. Samar-samar, nun jauh di daratan sana tampak bangunan menjulang tinggi. Sepertinya itu adalah PLTU Cilacap. 

Pemandangan kapal-kapal seperti ini menjadi hal yang lumrah. Ketika mata kita jauh memandang ke samudra, kapal itu tersebar dengan berbagai ukuran. Berbeda halnya jika pandangan kita di sekitaran Segara Anakan. Semua didominasi kapal kayu milik nelayan atau kapal penumpang wisata penyeberangan. 
Kapal yang melintasi sekitaran Pulau Nusakambangan
Kapal yang melintasi sekitaran Pulau Nusakambangan
Tidak ada kapal kayu yang berlabuh di pantai Karang Pandan. Semua perahu sandar di pantai Karang Bolong. Mungkin memang sudah difokuskan bagi setiap kapal wajib sandar di pantai Karang Bolong. Kulepas sandal gunung, lalu melangkah menyusuri pantai. 

“Bisa minta tolong dipotretkan?” Pintaku pada wisatawan yang tidak jauh dari tempatku duduk. 

Beruntung salah satu wisatawan sukarela membantuku. Dari kejauhan, aku lihat dia menekan shutter beberapa kali. Tampaknya dia memberi kode bahwa sudah mengabadikan. Kuambil kembali kamera tersebut seraya mengucapkan terima kasih. Tidak lupa gantian memotret mereka menggunakan gawai. 

Sadar tidak membawa tripod mini, tentu aku harus puas dengan hasil dokumentasi orang lain. Alhasil, hanya satu foto ini yang lumayan bisa diposting. Selebihnya enam jepretan yang lainnya miring dan buram. Tak masalah, penting ada bukti dokumentasi. 

Menjelang sore, aku mulai mengantuk. Sepertinya ini isyarat agar aku kembali ke darat. Kuambil gawai dan menelpon pemilik sewa perahu. Dari seberang telepon, beliau menginformasikan jika sedang persiapan menjemput. 
Bermain gemericik ombak kecil
Bermain gemericik ombak kecil
Tuntas sudah perjalanan di Pulau Nusakambangan. Namun, ada beberapa pantai yang belum aku singgahi. Termasuk Mercusuar Cimiring. Hingga sekarang, keinginan untuk mengunjungi Pantai Kalipat, Mercusuar Cimiring, hingga menyusuri Segara Anakan, dan mendarat di Kampung Laut masih sebatas wacana. Semoga saja bisa terealisasikan. 

Satu jaum kemudian, aku sudah berada di salah satu kamar hotel di Cilacap. Malam nanti aku menginap di Grand Whiz Hotel Cilacap. Esok tidak ada agenda yang harus dilakukan. Mungkin cukup bangun agak siang, lantas pulang ke Jogja naik Kereta Api Wijayakusuma. *Pantai Karang Pandan Nusakambangan, 16 Februari 2018.

17 komentar:

  1. Sudah lama sekali nggak main ke pantai. Rindu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa lah diagendakan main ke pantai untuk sekali waktu.

      Hapus
  2. khas banget ya, warung di pantai menu nya pop mie. heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanan sejuta umat, tiap laper belinya itu ahhahahah

      Hapus
  3. bagus yaaa.. ke nusakambangan ga pernah piknik..pasti kerja masuk2 hutan.. lain kali kudu di sempetin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisalah besok pas survei lokasi sambil memotret pantainya, mas. Menarik juga kalau blusukan ke hutan di sana

      Hapus
  4. Bayanganku pas baca adek-adek bawa boneka : oh paling meh foto yearbook. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi hahahahha
      Aku sendiri tidak memperhatikan secara jelas. Pokoknya cukup lihat sekilas dan kelar.

      Hapus
  5. Sepertinya memang asik untuk wisata keluarga y

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya masih ada yang membuatku penasaran di sini, tapi kuputuskan untuk tanya-tanya nanti pas main ketiga kalinya di Cilacap.

      Hapus
  6. nusakambangan yaaa... kalo dgr nama pulau ini lgs pengen ke penjaranya.. aku penasaran ama itu :D.. tp pantainya bagus jugaaa... wlopun aku ttp ga akan berani berenang di pantai begini sih :). ga bisa berenang soalnya hihihihi...

    kalo minta difotoin org lain, memang hrs pasrah ama hasilnya.. aku prnh minta tolong ama turis korea yg bawa dslr dengan lensa gede. aku mikirnya jagooo dong pasti ;p. ternyataaaa, hasil foto dia ga secakep kameranya wkwkwkwkwk.... bangunan gereja dgn menara tinggi malah kepotong... sementara hasil foto ku motretin dia lbh bagus hahahaha..

    pantai ini pasirnya ga halus berarti yaaa... sbnrnya yg model gini aku agak kuatir ngelepas anak2, trutama si bungsu, yg sering jatuh :D.. kalo banyak pecahan cangkang, berarti pengawasan jd triple kali ngawasin mereka :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak, risiko difotoin orang lain. Mending bawa gorilaz untuk tripodnya ahahahha. Terkait pasir, memang kadang gak sengaja kena pecahan karang, jadi lebih baik pakai sandal yang nyaman

      Hapus
  7. Rindu ke pantai. Ya setidaknya aku masih ingat desiran ombak dan senja kala itu

    BalasHapus
  8. saya pernah main kepantai ini ... sudah lama ... jadi nostalgia lihat foto2 ini
    btw .. jangan ketiduran dipantai ini nanti dipindahin ke lapas ... hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ternyata sudah ke sini hahahahah.
      Berarti sudah main juga ke Kampung Laut, kang?

      Hapus

Pages