Kedai Kopi Pak Rohmat di Perbukitan Menoreh Kulon Progo - Nasirullah Sitam

Kedai Kopi Pak Rohmat di Perbukitan Menoreh Kulon Progo

Share This
Kopi dan kudapan di kedai kopi Pak Rohmat
Perbukitan menoreh tidak hanya menarik perhatian para pesepeda. Kontur tanah yang dominan perbukitan menjadi cukup menyita perhatian juga bagi pecinta kopi. Deretan bukit terdapat lahan-lahan yang subur tanaman kopi. 

Kopi Lanang menjadi ikon kopi menoreh. Di sana ada beberapa kedai kopi yang sudah terkenal, salah satunya adalah Kopi Pak Rohmat. Kedai kopi ini satu jalur jika kita ingin mengunjungi Puncak Suroloyo. 

Sebagai orang yang mulai menyukai kopi, tentu menyesap kopi di perbukitan menoreh menjadi hal yang menyenangkan. Terlebih di bulan Juli ini cuaca di Jogja cukup dingin. Menjelang malam bisa mencapai 180 Celcius. Hingga pagi pun hawa dingin masih merasuk. 

Hari masih cukup pagi, cuaca di Jogja dan sekitarnya dingin. Aku bersama Ardian melintasi jalan menuju Suroloyo. Tidak banyak pengendara yang berlalu-lalang. Hawa dingin agak menyeruak kala jalan berliku dan menanjak. 

Ada beberapa jalur yang bisa dilewati menuju kedai kopi Pak Rohmat. Kami mengikuti plang yang ada di jalanan. Jalanan makin menanjak, sesekali berpapasan dengan warga setempat. Sempat sekali berpapasan dengan truk. 

“Katanya tinggal 3 KM, tapi kok jauh ya?” Celetuk Ardian sembari menarik gas motor. 

“Kalau yang membuat plang itu warga setempat pasti jaraknya lebih jauh,” Timpalku tertawa. 

Baru saja menimpali, kami langsung menemukan gerbang besar bertuliskan Kopi Menoreh Pak Rohmat. Di halaman rumah sudah ada banyak kendaraan. Motor tertata rapi tepat di depan rumah, sementara mobil ada di halaman rumah depannya. 
Depan rumah Pak Rohmat
Depan rumah Pak Rohmat
Berlokasi di Madigondo RT. 26/10, Sidoharjo, Samigaluh, Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, tempat ini sudah dekat dengan Puncak Suroloyo. Tinggal beberapa kilometer lagi sampai di pintu masuk Puncak Suroloyo. Pastinya jalur ini sangat membuat pesepeda kudu ekstra tenaga. 

Awalnya aku mengira kedai kopi Pak Rohmat mencolok di depan rumah. Ternyata tidak. Rumah bagian depan layaknya rumah biasa, yang membuat berbeda adalah banyaknya tempelan sticker dari berbagai komunitas. Ini tandanya mereka sudah pernah singgah di sini. 

Selain itu, di sini juga terdapat musola. Pembangunan musola mengikuti bentuk tanah. Anak tangga musola tepat di tepian, bagian bawah digunakan sebagai area parkir serta akses menuju kedai kopi yang berada di belakang rumah. 

Baru sampai teras rumah, sang empunya keluar. Beliau langsung mengenakan blangkon, dan menyapa kami. Tidak disangka Pak Rohmat sedang luang dan setia menyapa tiap tamu yang datang dan pergi. 

“Sebelumnya sudah pernah singgah di sini?” Tanya Pak Rohmat. 

“Belum pak. Ini kali pertama singgah. Dulu sempat mengopi, tapi di kopi Mbak Mar.” 

“Oalah, tempat beliau (Mbak Mar) berdekatan dengan kedai ini,” Jawab beliau sembari mempersilakan untuk masuk. 

Suara di belakang rumah sedikit ramai. Kami mengikuti Pak Rohmat menuju belakang rumah. Melintasi jejeran motor yang terparkir. Tepat di belakang rumah, sudah banyak deretan meja dan kursi. Beberapa pengunjung juga sudah menikmati minuman. 
Pengunjung di kedai kopi Pak Rohmat
Pengunjung di kedai kopi Pak Rohmat
Ardian mengutarakan tujuan datang ke sini. Kami memang ada misi untuk mengulas kedai kopi. Ardian sendiri mempunyai tujuan khusus untuk mewawancarai Pak Rohmat. Sementara aku lebih pada mengulas kedai kopi seperti yang sering aku lakukan. 

Pak Rohmat menceritakan asal muasal beliau menggeluti dunia kopi. Mulai dari mitra yang meyakinkan, hingga yang lainnya. Tanpa terasa, kini Kopi Menoreh sudah dikenal. Bahkan, Pak Rohmat sendiri mempunyai kebun kopi yang beliau tanam sendiri. 

“Kalau mau ke kebun bisa kok, mas. Nanti jalan sekitar 20 menitan dari sini.” 

Kami tertawa mendengar tawaran beliau. Tentu jaraknya lumayan untuk jalan kaki. Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh ke lahan Pak Rohmat, untuk melihat biji kopi yang sudah merah pun bisa di sekitar rumah beliau. 

Di kesempatan yang lain, Pak Rohmat kami minta untuk berpose dengan pohon kopi yang berada di dekat dapur. Di sini ada beberapa pohon kopi dan berbuah. Proses pengambilan foto ini setelah beliau melakukan wawancara dengan Ardian. 
Pengunjung di kedai kopi Pak Rohmat
Pengunjung di kedai kopi Pak Rohmat
Pak Rohmat izin keluar terlebih dahulu, ada keperluan yang harus diselesaikan. Aku dan Ardian mulai mengelilingi kedai kopi yang sudah mulai ramai. Kedai kopi yang buka pukul 08.00 WIB ini sudah ditunggu calon pengunjung. Mereka rata-rata datang lebih awal.’ 

Ada banyak tempat duduk yang tersedia. Tiga meja panjang tepat di belakang rumah. Atau malah semacam tempat lebih luas lagi yang ada di sampingnya. Tiap tempat disekat dengan bilah-bilah bambu yang sudah dibelah. Seperti barisan pagar. 

Tempat tersebut dapat menampung rombongan yang datang lebih dari 10 orang. Tepat di tengahnya terdapat anak tangga menurun. Di bawah tempat atas, juga disediakan tempat duduk dengan luas yang lebih kecil. Semuanya sudah dilengkapi dengan stop kontak dan tikar. 

Jauh ke bawah lagi, terdapat dua meja panjang di area terbuka. Tempat ini langsung berbatasan dengan semacam jurang kecil. Selain itu, di atas kami juga ada gazebo kecil yang mencolok. Gazebo ini sepertinya menjadi tempat favorit bagi mereka yang datang lima orang. 
Gazebo kecil untuk pengunjung kopi
Gazebo kecil untuk pengunjung kopi
Seluruh bangunan di kedai kopi Pak Rohmat mengikuti kontur lahan. Beliau memanfaatkan lahan dengan baik untuk kedai kopinya. Tempat duduk kedai kopi terbagi menjadi beberapa bagian. Di atas dan bawah. Semua lokasinya terbuka. 

Usai memilih tempat, aku mencari kerta menu. Harga kopi di kedai kopi Pak Rohmat cukup murah. Memang ada dua jenis kopi yang harganya lebih mahal. Namun, secara keseluruhan cukup murah. Termasuk Kopi Lanang. 

Di sini tidak hanya untuk para pecinta kopi. Malah sebagian besar pengunjung adalah orang-orang yang belum tentu suka kopi. Kedai kopi Pak Rohmat juga menjual minuman yang lainnya, tentunya dengan menu makanan berat. Makanan ini yang sering mengundang pengunjung rombongan. 

Pagi ini, kami putuskan membeli paketan seharga 17.000 rupiah. Isi paketan tersebut adalah segelas kopi dan kudapan (geblek, kacang rebus, ubi goreng, dan tahu isi). Tentu harga yang ditawarkan sangat murah. 
Daftar menu dan harga kedai kopi Pak Rohmat
Daftar menu dan harga kedai kopi Pak Rohmat
Beruntungnya, Pak Rohmat mengizinkan kami untuk menjelajah tiap sudut kedai kopi beliau. Aku beranjak menuju dapur. Di sini, semua hidangan makanan dan minuman diracik. Empat perempuan sibuk di dapur. Untuk sesaat, aku mengabadikan aktivitas di dapur. 

Meski baru buka pukul 08.00 WIB, empat perempuan ini sudah datang lebih awal. Ada yang bertugas membuatkan kopi, menggoreng kudapan, hingga menyajikan menu untuk pengunjung. Setiap pengunjung menuliskan pesanan pada secarik kerta dilengkapi dengan nomor meja. 

Kesibukan pagi terlihat begitu luar biasa. Silih berganti pengunjung memesan makanan dan minuman, salah satu perempuan memastikan menu yang disajikan lengkap. lantas dia mencoret kertas tersebut. 

Pembuatan kopi di kedai ini sederhana. Layaknya kita membuat kopi di rumah sendiri. Air mineral dicampur dengan bubuk kopi, lantas dididihkan dalam wadah kecil. Sepersekian menit, kopi tersebut mendidih, dituangkan dalam gelas. Proses pembuatan kopi satu persatu. 
Pembuatan kopi masih sederhana
Pembuatan kopi masih sederhana
Di sini tidak tampak aturan baku pembuatan kopi. Tidak ada takaran. Perempuan yang meracik kopi sepertinya sudah tahu seberapa banyak bubuk yang digunakan. Belum juga lama, sudah beberapa kali beliau menuangkan kopi dalam gelas. 

Menurut salah satu perempuan yang di dapur, hampir tiap hari pengunjung ramai. Mulai dari pagi mereka bekerja hingga sore. Kedai tutup sore hari. Tidak ada tentu pukul berapa. Intinya, ketika pengunjung mulai sepi, mereka siap-siap membereskan dapur. 

Kopi yang sudah dituangkan dalam gelas diletakkan pada wadah terbuat dari kayu. Di sini, perempuan yang lain bertugas menata sajian. Kudapan dijadikan satu, tidak ketinggalan daun pisang sebagai alas. Lantas beliau meletakkan kopi serta gula. 

“Semua gula ini untuk kopi, bu?” Tanyaku penasaran. 

Sontak pertanyaanku mengundang tawa para penghuni dapur. Aku masih belum paham, di mana letak kesalahan pertanyaan tersebut. Pikirku, semua yang ada di dalam gelas itu gula. Siapa tahu memang untuk kopi semuanya. 
Kudapan dan kopi siap tersaji
Kudapan dan kopi siap tersaji
“Tidak mas. Gula jawa dan gula pasir ini untuk kopi. Kalau yang sudah cair ini untuk cocolan geblek dan ubi rebus,” Terang beliau. 

Aku ikut tertawa mendengar jawaban beliau. Tatanan pesanan sudah siap saji. Ibu yang bertugas mengantar menu mulai jalan. Ternyata ini adalah pesanan paketan kami. Lengkap dua paketan, satu menggunakan Kopi Lanang, dan satu gelas Kopi Arabika. 

Ritual mengabadikan menu sebelum disantap beraksi. Aku sudah dari tadi mengambil sedikit rekaman vlog, sementara Ardian masih sibuk dengan kameranya. Sembari menikmati kudapan, kami masih melihat-lihat menu. Siapa tahu nanti ingin sarapan. 

Sabtu dan minggu pengunjung di kedai kopi Pak Rohmat memang lebih banyak dibanding hari biasa. Hal ini juga mempengaruhi aktivitas beliau di kedai. Biasanya hari senin hingga jumat, ada aktivitas menyangrai (roasting) biji kopi. Sabtu dan minggu aktivitas tersebut tidak berlangsung. 
Mencari konten di kedai kopi Pak Rohmat
Mencari konten di kedai kopi Pak Rohmat
Roasting biji kopi dilakukan secara sederhana di dekat dapur. Tidak ada tempat khusus, aku juga pernah melihat proses tersebut di kedai kopi Mbak Mar. Sayang rasanya aki tidak bisa melihat proses sangrai. Padahal itu menjadi salah satu alasan kami ke sini. 

Biji kopi stok di kedai tidak hanya menggantungkan hasil kebun Pak Rohmat. Beliau juga membeli biji kopi dari petani yang lainnya. Hal ini dikarenakan belum banyak petani kopi di perbukitan Menoreh yang mempunyai kedai kopi. Mereka menjual biji kopi secara berkelompok ke orang tertentu. 

Di rak kayu depan, pun di rak kecil yang ada di dapur, terdapat bungkusan bubuk kopi kemasan siap jual. Kemasan bertuliskan Kopi Pak Rohmat berukuran 100 gram. Ada juga yang besar berukuran 250 gram. 

“Kalau yang 250 gram harganya sekitar 82.000 rupiah, mas.” Ujar Pak Rohmat. 

Ini bisa menjadi oleh-oleh yang menarik bagi kolega. Selain menikmati kopi, kita juga membeli kopi kemasan untuk dibawa pulang. Tidak hanya kopi kemasan, beliau juga menjual kaus bertuliskan kopi yang dibanderol sebesar 85.000 rupiah. 
Kopi dalam kemasan yang dijual Pak Rohmat
Kopi dalam kemasan yang dijual Pak Rohmat
Tanpa terasa, kami di sini sudah cukup lama. Usai menyeduh kopi, menyantap sarapan nasi ayam, hingga keliling kedai kopi, dan mewawancarai Pak Rohmat, kami berkemas. Perjalanan masih lumayan panjang, masih ada destinasi yang lain kami tuju. 

Tempat ini menjadi kedai kopi ketiga yang kusambangi di sekitaran perbukitan Menoreh. Pertama, aku menyeduh kopi di Kedai Kopi Mbak Mar; dan kedua menyeduh kopi di tempat Mas Nilakaca (Loe Goe Coffee). 

Semoga di lain kesempatan aku bisa mengunjungi kebun kopi milik masyarakat di sekitar Perbukitan Menoreh. Berinteraksi dengan mereka, bertukar cerita, dan tentunya menyesap kopi di bawah pohon. Sebuah pengharapan yang tidak muluk-muluk bagiku. *Kedai Kopi Pak Rohmat; 29 Juni 2019

13 komentar:

  1. uenake kopi anget plus ngemil geblek,,,,,,
    dadi kangen geblek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gorenge orak alot, mas. Enak banget hahahaha

      Hapus
  2. Wah kedai kopi dan kebun kopinya berdekatan jadi hal yang menarik untum wisata ngopi. Suasananya sejuk dan ada hangatnya seduhan kopi beuh. Ajib

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang, di Jogja ada beberapa konsep kedai kopi yang seperti ini.

      Hapus
  3. November mau ke Jogja mas, mau Nyobain Kopi Jos hehehehe

    BalasHapus
  4. mantep jiwa deh kalau soal kopi..
    ak tuh masih bingung sama jenis2 kopi mas hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, tetap msih awam tentang perkopian. Tahunya enak dan enak banget

      Hapus
  5. Gazebonya terlihat romantis ya, apalagi berduaan. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha, besok kalau aku pas berdua tak ke sana *eh

      Hapus
  6. mantap nih ... petani skaligus penjual akhir .... tempatnya juga nyaman dan betahin ... bagi yang suka kopi bangettt .. bisa skalian jlajah ke kebunnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menarik memang kalau seperti ini, kang. Langsung dikelola sendiri :-)

      Hapus

Pages