Suatu Malam di Kedai Kopi Aksara Jogja - Nasirullah Sitam

Suatu Malam di Kedai Kopi Aksara Jogja

Share This
Secangkir Kopi Sumbawa
Selepas isya, kedai Aksara Kopi masih lengang. Deretan kursi kayu yang tersebar tampak sepi. Hanya ada satu pengunjung perempuan yang menyeduh minuman dingin. Dia tampak santai di meja panjang, seperti menunggu kawannya. 

Tadi sore aku sempat singgah di Kedai Kopi Aksara. Berlokasi di jalan Lembah UGM, Karang Gayam, Caturtunggal, kedai ini memanfaatkan lahan tanah yang cukup luas. Konsepnya pun berbeda dengan kedai kopi yang biasa aku kunjungi. Di sini lebih tampil sederhana. 

Pemilik kedai saat itu sedang membuat kursi yang agak tinggi. Rencananya kursi tersebut diperuntukan melengkapi meja yang menghadap ke jalan raya. Tentu menarik jika duduk santai melihat orang berlalu-lalang sembari menyesap kopi. 

Jika aku lihat model tempatnya, kedai kopi ini mirip dengan warung kopi seperti Bjong, Blandongan, dan warung kopi yang hanya menyediakan kopi tubruk ala Jawa Timuran. Namun, untuk kopi mereka menyediakan kopi seduh manual dan nonkopi. 
Kedai Kopi Aksara di Jogja
Kedai Kopi Aksara di Jogja
Pemuda tanggung sedang menyiapkan alat seduh. Dia menunggu tamu, tentu berharap malam ini banyak pengunjung yang datang. 

“Jadi kopi apa yang kamu rekomendasikan?” Tanyaku pada baristanya. 

“Kopi Sumbawa, mas. Menyeduhnya pakai V60,” Jawab barista tersebut meyakinkan. 

Aku mengiyakan. Selain aku, ada dua perempuan yang juga sibuk memesan minuman. Dari cara mereka berkomunikasi, aku merasa mereka berdua adalah pelanggan kedai kopi ini. Beda cara berkomunikasinya, jauh lebih santai dengan selingan canda. 

Arbain, lelaki tanggung yang merupakan adik dari pemilik kedai kopi Aksara membuatkan minuman. Sementara itu sang kakak (Bang Salmi) sedang di belakang. Tadi sempat menyapa sebelum dia ke belakang. 

Untuk sementara waktu, Arbain tampak sibuk. Aku mengambil kamera dari dalam tas, lantas menjelajah sudut ruangan kedai. Minumanku belum dibuatkan, dia harus memprioritaskan dua perempuan yang sudah lebih dulu memesan. 
Arbain, salah satu Barsita di Kedai Kopi Aksara
Arbain, salah satu Barista di Kedai Kopi Aksara
Secarik kertas menu terpasang di depan meja barista. Kutilik menu yang disediakan, cukup beragam. Terlebih bagi yang suka kopi seduh manual sepertiku. Harganya pun lebih murah. Jarang-jarang di Jogja ada kopi seduh manual dengan harga 15.000 rupiah. 

Kopi pesananku langsung dikerjakan Bang Salmi. Dia sengaja menyeduh kopi untuk dua gelas sekaligus. Sebelumnya, dia menanyakan apakah diperbolehkan langsung menyeduh dua gelas, atau harus satu gelas pesananku saja. 

“Santai saja, bang. Dibuat barengan pun tak masalah. Jadi ingat waktu di Java Coffee Festival,” Celetukku. 

Dari sini dia juga bercerita, jika yang memesan adalah kawan akrabnya, maka dia biasanya langsung membuatkan untuk dua gelas. Jika yang memesan pengunjung baru ataupun pelanggan namun belum akrab, dia tetap melayani pergelas. 
Daftar menu dan harga di kedai kopi Aksara
Daftar menu dan harga di kedai kopi Aksara
Tidak membutuhkan waktu lama membuat kopi manual seduh. Diselingi dengan bincang santai, segelas kopi Sumbawa sudah di depanku. Mumpung masih hangat, aku menyeduhnya. Menurutku rasanya jauh lebih padat, dan sedikit lebih tebal dari yang biasa aku nikmati. 

Hal ini sudah Bang Salmi utarakan. Sebelum menyajikan, dia memang bertanya bagaimana seleraku. Aku bilang suka yang tidak begitu tebal, tapi untuk kali ini sengaja pesan agak tebal rasanya. 

“Sesekali pesan yang agak berbeda,” Candaku. 

Kami tertawa bersama. Pun ketika dia tahu aku memilih kopi Sumbawa untuk diseduh, dia pun bilang bahwa ini pilihan yang tepat. 

“Kalau bukan kami yang mengenalkan kopi daerah asal kami, siapa lagi,” Tambahnya. 

Kami lantas menuju meja depan, mencoba menikmati seduhan kopi seraya berbincang santai. Niat awal, aku ke sini ingin membuka laptop, mengerjakan beberapa draf yang sempat terbengkalai. Namun, berbincang dengan pemilik Kopi Aksara jauh lebih mengasyikkan. 

Kedai kopi Aksara sebelumnya tidak di sini. Akhir tahun 2017, lahan milik warga yang berada di sekitaran Karangmalang bisa disewa. Secara bertahap, dibangun sedikit demi sedikit kedai kopi sesuai dengan konsepnya, lalu terbentuklah seperti sekarang. 

Bagi mereka yang hanya berlalu-lalang di jalan, mungkin mereka tidak mengetahui kalau ini adalah kedai kopi. Tidak ada plang nama kopi, yang ada hanya tanaman menjalar dengan pagar kayu dan bendera merah putih yang terpasang. 

Pengunjung baru silih berganti datang, tidak bisa diperkirakan kapan tempat ini ramai atau sepi. Kadang kala ramai, dan juga pernah lengang. Beberapa pengunjung langganan yang datang. Mereka menyeduh minuman dan berbincang dengan kawannya. 

Salah satu hal yang menarikmu datang ke sini adalah adanya rak buku. Meski koleksi bukunya tidak banyak, namun ini menjadi daya tarik tersendiri. Kita bisa meminjam buku yang ada di sini untuk dibawa pulang, maksimal seminggu lamanya. 
Koleksi buku yang bisa dipinjam
Koleksi buku yang bisa dipinjam
“Kamu harus meninggalkan satu buku pribadi ke sini untuk bisa meminjam buku. Buku yang kamu tinggalkan semacam pancingan untuk mendonasikan.” 

Di sini, kita bisa meminjam buku secara berkala. Aturan satu buku maksimal dipinjam selama satu minggu. Dan selama satu minggu, kita hanya diperbolehkan untuk meminjam satu eksemplar buku. 

Di beberapa kedai kopi, rak-rak buku memang disediakan. Tentu kita juga diperbolehkan membaca di tempat. Di sini, ketika ada pengunjung yang meluangkan waktu untuk membaca, dengan sigap Bang Salmi mengabadikan dengan kamera gawai. 

Dia berujar ada sesuatu yang menyenangkan jika pengunjung kedai kopi meluangkan untuk membaca buku di kedainya. Semacam rasa kepuasan tersendiri. Jarang memang ada pengunjung yang meluangkan waktu membaca di kedai kopi, rata-rata mereka yang datang memang fokus mengerjakan tugas ataupun sekadar berbincang santai. 

Mungkin ini salah satu alasan kenapa nama kedai kopi ini menggunakan kata “Aksara”. Konsep yang tidak hanya menginginkan pengunjung bergelut dengan aktivitasnya (membuka laptop ataupun gawai), tapi berharap ada yang membaca buku. 

Buka di Minggu Pagi kala Sunmor UGM 

Kopi Aksara ini tempatnya cukup strategis. Hanya sepelemparan batu dari Fakultas Bahasa dan Sastra UNY, pun dengan beberapa fakultas UGM. Pengunjung kedai kopi pun tak jauh-jauh dari mahasiswa sekitarnya. 

Tiap pekan di minggu pagi, jalanan Karangmalang mendadak ramai dengan lapak-lapak penjual pakaian maupun kuliner. Sunday Morning atau lebih dikenal dengan Sunmor di jalan antara UGM-UNY menjadi salah satu agenda rutin selama bertahun-tahun. 

Memanfaatkan waktu pagi yang ramai, Kopi Aksara juga tidak mau ketinggalan. Mereka sengaja buka khusus minggu pagi. Tentu harapannya dapat menggaet minat para pengunjung Sunmor yang ingin sekadar mengopi atau menyeduh minuman yang lainnya. 

Khusus minggu pagi, kedai kopi ini buka dari pukul 07.30 WIB hingga siang. Para pengunjung Sunmor adakalanya datang. Malah, terkadang penghasilan selama siang ini cukup banyak. Pernah ketika melebihi kedai saat buka dari sore hingga tengah malam. 

“Lebih banyak orangtua yang duduk di sini, mas. Mereka menunggu anaknya yang belanja dengan minum di kedai,” Ujar Bang Salmi. 

Suatu terobosan menarik menurutku. Bagi kalian yang mengunjungi Sunmor UGM, dan ingin mengopi dengan harga cukup murah, bisa singgah di Kopi Aksara. 

***** 

Waktu makin malam, setidaknya sudah ada beberapa pengunjung kopi yang lainnya berdatangan. Kursi-kursi yang tadinya sepi mulai ada penghuninya. Meski belum sepenuhnya banyak, setidaknya bisa menarik para calon pengunjung yang berlalu-lalang. 
Pengunjung mulai berdatangan
Pengunjung mulai berdatangan
Di sudut-sudut tertentu sudah tersedia colokan listrik bagi yang memerlukan. Bang Salmi juga menyediakan rol kabel bagi yang membutuhkan. Namun, dia hanya mengeluarkan rol kabel tersebut kala ada pengunjung yang meminta. 

Aku masih duduk kursi tinggi. Sepasang kursi yang baru jadi tadi sore dibuat Bang Salmi. Kami berbincang tentang literasi, hingga berkaitan dunia kopi yang rasanya melejit tanpa terkontrol. Di antara bermunculan kedai kopi, nyatanya ada kedai kopi yang tutup. 

Bincang-bincang ini pun sampai bagaimana nantinya ke depan Bang Salmi ingin membuat konsep kedai kopinya di salah satu ruangan yang lumayan luas. Dia ingin agar para pengunjungnya yang suka membaca tetap bisa menikmati waktu di kedai kopi dengan nyaman. 

Sementara aku sendiri menyarankan agar membuat plang kedai kopi. Entah tersemat pada dinding meja di bawah, agar terlihat dari jalan. Ataupun membuat papan kecil yang ditempelkan di dekat pagar. 
Menyesap kopi Sumbawa di Kedai Kopi Aksara
Menyesap kopi Sumbawa di Kedai Kopi Aksara
Kopi sudah dingin, rasanya memang sedikit berubah. Aku sesap sampai tandas, lantas meminta izin pulang. Aku suka dengan kedai kopi semacam ini. Tempat sederhana, nyaman, dan tentunya menyenangkan dapat berbincang dengan pemiliknya. 

Kunjungan ke Kopi Aksara ini bakal terus berlanjut. Mungkin awal bulan nanti bakal berkunjung lagi, atau malah akhir bulan ini. Siapa tahu teman-teman kumpulanku pun bisa ikutan main ke sini. Menyesap kopi dan berbicara tentang literasi. Menyenangkan sekali. *Kopi Aksara; 23 Agustus 2019.

14 komentar:

  1. tempatnya sederhana, tapi kelihatannya sih tetep nyaman
    dan harga kopinya itu lho, murah euy

    BalasHapus
  2. Bagus ya namanya Aksara. Baru tau juga alasan penamaannya.
    Kedai kopinya mengangkat konsep yang sederhana, membaur, iyaaa mirip-mirip Blandongan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kamu tahu Blandongan ternyata. Kukira cuma tau Pundong saja akakkakak

      Hapus
  3. nongkrong dan ngopi terus pokoknya ya mas..
    karimunjawa jg akeh tempat nongkrong kek gini..
    banyakan bule tapi hehe..
    tempat kek gini yang selalu bikin betah para mahasiswa belajar..

    BalasHapus
  4. Aku suka kopi tubruk. Suka juga dengan kedai kopi sederhana seperti ini. Cocok untuk membaca buku, ngobrol kalem, atau mencoret2 buku. Jenis mejanya kurang pas buat laptopan, jadi memang kurang kurang cocok juga kalau mau berlama-lama menulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada sih khusus kopi tubruk di ekdai yang lain. Belum aku tulis ahhahahah

      Hapus
  5. Wahh nongkrong bareng teman sambil ngopi-ngopi itu enak banget ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nongkrong bareng teman memang enak, sendirian pun enak selama bisa menikmati

      Hapus
  6. paslah untuk budget mahasiswa ... bisa ngopi enak dengan harga hemat .... btw jarang2 lho yang buka di minggu pagi ... bagus banget untuk membidik yang keluar olah raga pagi tapi pengen ngupi2 juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok kalau pengen menepi dengan suasana berbeda kang.

      Hapus
  7. Boleh dicoba nih kalau ke Jogja, sekalian nostalgia di lembah UGM, hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa sekalian membaca puisi di sini, mbak ahahhahaha

      Hapus

Pages