Melepas Penat di Hayati Coffee Jogja - Nasirullah Sitam

Melepas Penat di Hayati Coffee Jogja

Share This
Meja di sudut ruangan Hayati Coffee Jogja
Rutinitas mengopi sambil bekerja kembali aku lakukan. Lebih dari satu minggu, aku hanya sibuk mengopi, membaca buku, tanpa meluangkan waktu untuk menulis draft postingan blog. Ada masanya jenuh menulis, namun harus tetap dibatasi agar tidak berlarut-larut. 

Cara terbaik untuk menghapus rasa jenuh adalah mencari kedai kopi yang lain untuk bekerja. Ini yang aku lakukan dengan mengunjungi ke kedai kopi Hayati sebanyak dua kali kurun waktu sepekan. 

Hayati Coffee adalah sebuah kedai kopi yang berada di Demangan dan sudah sangat dikenal banyak orang. Banyak kawan ataupun blogger yang sudah pernah mengulas kedai kopi ini. Aku sendiri sudah lebih dari lima kali ke sini. Hanya saja belum sempat mengulasnya. 

Akhir pekan ini rencana berubah. Awalnya ingin bangun siang. Namun tetap saja bangun pagi. Belum juga kembali memejamkan mata, tetiba mendapat pesan mengopi pagi ini. Berhubung lokasinya dekat, aku langsung bergegas. 

Kurang dari setengah jam, aku sudah mandi. Memesan ojek meski jaraknya hanya sepelemparan batu. Di Hayati Coffee, Mak Indah sudah sibuk membuat draf tulisan. Sepertinya dia sedang ada job menulis. 
Mengunjungi Hayati Coffee Jogja kala akhir pekan
Mengunjungi Hayati Coffee Jogja kala akhir pekan
Sedikit terburu-buru, aku membuka pintu kedai kopi Hayati. Perempuan yang bertugas dikasir menyapa. Aku kebingungan memilih menu. Waktu masih pagi, belum sepenuhnya aku bisa menikmati kopi seduh manual jika masih pagi. Cenderung lebih pas dengan yang sedikit manis. 

“Aihh, kamu jadi di sini!?” Aku sedikit berteriak. 

“Iya bang,” Jawabnya sembari tertawa. 

Barista cowok yang berambut agak panjang menyapa. Kami berjabat tangan. Sebelum di Hayati Coffee, aku sudah mengenalnya di kedai kopi yang lainnya. Sebenarnya kabar dia bekerja di sini sudah sampai di telingaku. Saat itu ada kawannya yang bercerita jika kerja di Hayati Coffee. 

“Mungkin bisa latte, bang?” Baristanya menawari. 

Sempat kulihat menu yang disediakan. Awalnya ingin mencari yang kopi susu panas atau kalau ada Vietnam Drip. Namun tidak ada di daftar menu. Lantas kuiyakan tawaran latte. Di Hayati Coffee, latte yang ditawarkan ada dua “Haya” dan “Hati”. 

Berhubung aku tidak begitu paham dan membaca perbedaan yang tertera di daftar menu, pilihanku pada “Hati”. Usai memesan, aku menuju meja yang tidak jauh dari barista. Sedari tadi di meja ini Mak Indah sudah sibuk. 
Daftar menu dan harga Hayati Coffee Jogja
Daftar menu dan harga Hayati Coffee Jogja
Tidak perlu khawatir jika datang pagi, di sini ada menu makana berat bagi yang ingin sarapan. Selama di sini, aku hanya memesan kopi dan ada kudapan yang bisa dinikmati. Dory Sambal Matah menjadi teman yang tepat untuk mengganjal perut. 

Sejak awal ke sini niatnya memang ingin membangkitkan semangat menulis setelah seminggu berantakan. Laptop kubuka, kucari folder draft, dan langsung fokus menulis. Tidak seperti biasanya, kali ini belum terpikirkan untuk menjelajah sudut kedai kopi. 

Suasana baru, suara grinder menggiling biji kopi, aroma kopi yang menyebar, dan senyap-senyap perbincangan meja di belakang menjadi satu. Sedikit demi sedikit aku mulai menulis. Sayang rasanya jika sudah ke sini tapi tidak menghasilkan sesuatu. 

Hayati Coffee ini cukup luas. Bersampingan dengan butik, kedai kopi ini mempunyai area parkir khusus kendaraan roda dua. Ruangan yang di dalam memanjang, anak tangga menuju lantai dua. Lantai dua hanya untuk bagian dapur. 

Meja panjang menghadap ke jalan. Pengunjung bisa mengopi sambil melihat kendaraan yang berlalu-lalang dari balik kaca. Selain itu, kombinasi meja bulat dengan empat kursi tertata rapi. Pun dengan stop kontak. 

Tempat ini lumayan nyaman untuk menepi. Hanya saja, antara meja barista dengan deretan meja pengunjung adalah jalur para pengunjung yang ingin menuju belakang, ruang terbuka. Jadi kita bisa melihat orang silih berganti lewat atau memesan minuman. 
Meluangkan waktu untuk bekerja
Meluangkan waktu untuk bekerja
Lantunan musik pelan, selaras dengan pemilhan lagu yang tepat. Sesekali aku menyesap minuman sambil merangkai kata. Pengunjung silih berganti, rombongan perempuang, keluarga, hingga para pengemudi transportasi daring yang mendapatkan pesanan dari aplikasi. 

Sabtu sebelumnya, aku sudah menyesap kopi di sini. Waktu itu sengaja memilih minuman manual seduh, pilih biji kopi Ethiopia dengan metode V60. Minuman yang menurutku enak diseduh kala masih hangat. 

Satu pintu mengarahkanku ke ruangan terbuka yang di belakang. Tepat sebelum pintu, sisi kanan ada pintu untuk ke toilet. Area terbuka Hayati Coffee jauh lebih luas dibanding ruangan di dalam. Tempat ini pula yang menurutku jauh lebih asyik untuk menyepi. 

Terbagi menjadi dua tempat terbuka yang luas. Satu ruangan tepat di dekat batas pintu. Meja dengan kursi-kursi melingkar sudah disiapkan. Berbagai piring dan mangkuk bekas pengunjung masih terletak di atas meja, si empunya baru saja keluar dari kedai. 

Meja di sini jauh lebih beragam. Sisi yang berhadapan dengan tembok dilekatkan meja panjang dengan tambahan kursi. Bagian tengah dan sisi luar yang lainnya malah meja dan kursi permanen yang dibuat dari semen. Tempat inilah yang sering diduduki para pengunjung. 
Meja dan kursi di Hayati Coffee Jogja
Meja dan kursi di Hayati Coffee Jogja
Tiap meja permanen disediakan stop kontak di bagian bawah. Tujuannya untuk mereka yang memang ingin bekerja. Selama di sini, aku melihat beberapa orang yang menepi. Mereka lebih nyaman di tempat ini karena tidak ada pengunjung yang berlalu-lalang. 

Di sini juga banyak orang yang memotret. Ada yang memotret tiap spot kedai kopi, bersama kopi, ataupun yang lainnya. Rata-rata pengunjung yang rombongan sengaja memotret di beberapa sudut untuk diunggah di media sosial. 

Aku juga pernah memanfaatkan spot-spot ini untuk berfoto. Saat itu pulang dari upacara 17-an. Ketika ada kawan yang mengopi di sini, aku segera menyusul. Terlebih kawan yang datang sedang membawa buku barunya yang terbit. 

Toilet tidak hanya ada di ruangan dalam. Di area terbuka juga ada toilet yang berdekatan langsung dengan musola dan wastafel. Bagi yang ingin menunaikan salat, tidak usah khawatir. Musala bisa digunakan untuk dua orang. 

Setiap orang memang memilih kedai kopi dengan berbagai pertimbangan. Mulai dari kopinya hingga suasananya. Bagi orang seperti aku yang suka menulis di kedai kopi dengan suasana nyaman, menurutku kedai kopi Hayati bisa dikunjungi. 
Menyesap kopi sambil bersantai
Menyesap kopi sambil bersantai
Menariknya lagi, Hayati Coffee buka sejak pukul 08.00 WIB. Bagi yang bingung mencari tempat untuk menepi di pagi hari dengan harapan bisa bekerja, aku rasa Hayati Coffee bisa dipertimbangkan. Khususnya lagi yang ruangan terbuka. 

Sedikit demi sedikit kusesap kopi yang sudah dingin. Aku terus menulis, hingga tidak terasa sudah satu tulisan terselesaikan. Sesuai dengan rencana awal, setidaknya hari ini aku bisa menyelesaikan satu tulisan setelah seminggu diam tidak menulis. *Hayati Coffee, 24 Agustus 2019.

10 komentar:

  1. huaaa hayati..
    nyaman dan enak makanan nya
    cuma susah parkir kalo yg bawa mobil, untungnya dulu naik taksi online

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar heheheheh, makanya pas ke sini aku lebih asyik pakai ojek. Padahal jalan kakipun dekat sebenarnya kalau dari kosanku

      Hapus
  2. Emang paling bener ke Jogja sambil berburu kafe-kafe cantik sih ya kak. Banyak kofi favorit pula. Dan murahnya itu loh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saking banyaknya, sampai bingung pengen yang mana hahahahah

      Hapus
  3. namanya unik yaaa, jd kayak nama warkop khas indonesia sekali :D. dan aku lbh suka liat area yg terbuka, krn kyknya lbh terang aja.. ga terlalu suka makan di tempat yg minim cahaya kalo aku.

    sampe skr ini bisa dibilang aku jaraaaaaaang sekali ke kafe kopi utk bekerja.biasanya hanya utk hang out ama temen. susah utk konsentrasi kerja di tempat gini. bakalan lbh konsentrasi mulutku nyicipin aneka hidangannya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi ingat kata "Hayati Lelah" hahahahaha.
      Wah kalau aku malah kerja banyak di kedai kopi, mbak. Menyenangkan

      Hapus
  4. Nyaman bgt kayaknya buat tenang sambil baca.ini di mananya? Saya kemaren ke Jogja belum ke tempat tempat kayak gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempat baca ada di ruangan terbuka bagian belakang.

      Hapus
  5. wah jarang jarang kedai kopi buka jam 8 pagi .... di Jakarta aja susah kalau mau ngopi pagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Jogja juga tidak banyak kang. Tapi di sekitaran kos ada beberapa yang buka pagi

      Hapus

Pages