Pantai Tongaci dan Tempat Penangkaran Penyu di Bangka - Nasirullah Sitam

Pantai Tongaci dan Tempat Penangkaran Penyu di Bangka

Share This
Memberi makan penyu di pantai Tongaci Bangka
Memberi makan penyu di pantai Tongaci Bangka
Menjelang sore, aku menikmati perjalanan selama di Bangka. Rencananya, kali ini kami menuju salah satu pantai yang ada di pulau ini. Pantai Tongaci menjadi pilihan. Informasi dari Bu Hastuti, di sini ada tempat konservasi tukik. Ini yang membuatku tertarik mengunjunginya. 

Jalanan cukup lancar, sepertinya lokasi pantai Tongaci lumayan jauh dari pusat kota Bangka. Di dalam mobil, aku melihat sisi jalan. Ada beberapa tempat yang sudah kutandai, namun belum tahu apakah nantinya kukunjungi atau tidak. 

Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Bu Hastuti bercerita tentang pantai-pantai yang ada di Bangka. Beliau juga mengatakan jika di Bangka lebih lama bisa main sekalian ke beberapa pulau. Sayangnya, esok pagi aku harus terbang ke Belitung. 

Bapak yang menyetir mobil cukup paham medan. Beliau lantas memperlambat laju kendaraan, lalu belok kanan di sebuah gapura. Area parkir luas, mobil berhenti dan kami keluar. Di ujung arah ke pantai, ada tempat karcis. 

Masuk pantai Tongaci dikenakan tarif 5000 rupiah. Sepertinya pantai ini tidak hanya menawarkan pasir, namun juga beberapa spot untuk berfoto. Tepat di depan arah pintu masuk terpasang tulisan De Locomotief. 

Tiap sisi terdapat stand-stand yang menawarkan souvenir. Di atas bergelantungan payung warna-warni. Sepertinya payung yang bergelantungan seperti ini mulai banyak aku temui di beberapa destinasi wisata alam. 
Tempat foto ala-ala bernama Taman Bulakan
Tempat foto ala-ala bernama Taman Bulakan
Biasanya, jika ada gelantungan payung-payung nantinya ada spot foto ala-ala di sekitarnya. Rombonganku sudah menyebar ke arah pantai. Aku sendiri masih melihat stand souvenir yang menawarkan manik-manik. 

“Murah bang!” Teriak salah satu penjaga stand sembari memegang hasil kreasinya. 

Aku menggeleng, lalu melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari sini terdapat area yang disekat pagar kayu. Plang bertuliskan Taman Bulakan. Di dalamnya bebatuan putih tersebar. Tempat ini biasanya dijadikan spot foto dengan berdiri di atas bebatuan. 

Sepanjang menuju pantai Tongaci banyak juga spot ala-ala untuk berfoto. Berbagai spot foto hanya kulihat tanpa berfoto. Entahlah, beberapa tahun terakhir ini spot ala-ala seperti hal yang lumrah ditemui. Saat di Batam dan Padang pun pemandangan seperti itu banyak. 

Aku berjalan santai di pantai. Angin kencang, dan aku tidak memotret. Kamera masih tergelantung di leher. Kusapu pandangan, ada yang menarik di sini. Kulihat banyak patung kayu di tepian pantai yang agak di atas. 

Jika dilihat dari dekat, patung-patung ini seperti pasukan perang. Di depan sudah ada kuda perang. Pun dengan patung prajuritnya. Patung-patung ini mengingatkanku pada film-film dinasti Tiongkok masa lampau. 

Kulihat ada wisatawan yang berfoto di patung-patung tersebut. Aku juga sempat diminta tolong mengabadikan mereka. Ada banyak patung prajurit perang. Di belakang ada informasi jika ini adalah Terracotta Army. 
Patung Terracotta Army di pantai Tongaci, Bangka
Patung Terracotta Army di pantai Tongaci, Bangka
Referensi di Wikipedia menerangkan jika Pasukan Terakota berasal dari China yang dulunya ada di masa Dinasti Qin Shi Huang. Makam ini ditemukan tahun 1974 di Lintong. Kini, tempat ini menjadi situs warisan dunia UNESCO. 

Bisa jadi seniman yang membuat miniatur Pasukan Teratoka di pantai Tongaci ini memang ingin mengikuti miniatur-miniatur ikon di negara yang lainnya. Banyak tempat yang membuat miniature Menara Effiel dan Kincir Belanda. 

Tujuanku tentunya ke pantai Tongaci. Di sini sedang ada banyak orang yang membuat panggung. Mungkin malam nanti di sini ada acara. Pantai Tongaci lumayan luas, dari sini terlihat bebatuan granit yang agak jauh. 

Aku terdiam di tepian pantai. Di depan, bebatuan granit tersebar. Sepanjang pantai yang terlihat berjejeran bebatuan. Pemandangan berbeda dengan hamparan pasir di pantai Tongaci. Sepertinya pantai Tongaci memang didominasi pasir. 

Di bebatuan yang tidak jauh dari bibir pantai, tampak anak-anak yang duduk di salah satu bongkahan batu. Entah bagaimana caranya mereka sampai di sana, tidak terlihat ada sampan kecil yang mereka naiki. Padahal lokasinya lumayan berjarak dari daratan. 

“Kok bisa mereka sampai di sana,” Ujarku sendirian. 
Pemandangan di Pantai Tongaci Bangka
Pemandangan di Pantai Tongaci Bangka

Melihat Tempat Konservasi Tukik di Pantai Tongaci 

Aku terpisah dengan rombonganku. Mereka sudah menjelajah ujung pantai Tongaci. Di sana terdapat penangkaran Penyu. Pun terlihat petakan semacam keramba yang isinya penyu-penyu dewasa. Di sini tidak terlihat banyak penyu. 

Bebatuan tertata membentuk semacam kolam, di tengahnya terdapat keramba apung berjumlah lima petakan. Sesekali tampak penyu mengapung. Sepertinya kolam-kolam ini bukan untuk penangkaran banyak penyu. 

Dari atas jembatan kecil, aku dapat melihat dua penyu yang terlihat mengapung. Cukup besar dan terbiasa melihat orang berlalu-lalang. Aku penasaran dengan fungsi keramba ini. Tempat yang luas tapi hanya ada beberapa ekor penyu saja di dalamnya. 
Tempat penangkaran penyu Pantai Tongaci Bangka
Tempat penangkaran penyu Pantai Tongaci Bangka
Tidak ada petugas yang menerangkan. Sayang rasanya tempat penangkaran penyu ini tidak dilengkapi pemandu. Padahal, jika ada petugas yang menerangkan perihal penangkaran penyu di pantai Tongaci pasti jauh lebih menarik. 

Di satu tempat tidak jauh dari penangkaran penyu terdapat sebuah pagar sekatan bertuliskan Ruang Penetasan Telur. Pintu ruangan tanpa atap ini digembok. Di dalamnya berisi pasir layaknya di tepi pantai. 

Pada masa bertelur, penyu-penyu menuju daratan. Mereka menggali lubang di pasir dan bertelur. Usai bertelur, biasanya penyu kembali ke lautan. Sebelumnya, telur penyu tersebut ditimbun kembali dengan pasir. 
Tempat penetasan telur penyu milik Tukik Babel Sea Turtle Conservation
Tempat penetasan telur penyu milik Tukik Babel Sea Turtle Conservation
Aku pernah melihat penyu liar yang bertelur di daratan, tepatnya di pantai belakang rumah. Selama bertelur dan meninggalkan telurnya, hama yang paling sering datang adalah Biawak. Biasanya Biawak menggali kembali tempat penyu bertelur dan memakan telurnya. 

Di pantai Tongaci tentu keamanan telur penyu terjaga. Mereka sudah tahu alur yang harus dikerjakan. Pun ketika sudah menetas, tukik-tukik tersebut tidak langsung ke lautan lepas, tapi ditempatkan pada penangkaran khusus. 

Tidak jauh dari tempat penetasan, ada kolam yang diperuntukkan bagi penyu-penyu dewasa. Di kolam buatan ini ada banyak penyu di dalamnya. Sayangnya lagi-lagi tidak ada petugas yang menerangkan mengapa penyu-penyu tersebut berada di kolam buatan. 

Di dinding tertempel informasi berbagai jenis penyu yang ada di Indonesia. Termasuk tulisan Tukik Babel Sea Turtle Conservation. Di dalam kolam penyunya berukuran sedang, belum sepenuhnya besar atau dewasa. 
Penyu-penyu di Tukik Babel Sea Turtle Conservation
Penyu-penyu di Tukik Babel Sea Turtle Conservation
Informasi dalam bentuk tulisan yang dipasang sebenarnya sudah bagus. Hanya saja, lebih bagus lagi jika ada petugas khusus yang menerangkan tentang penyu. Bagaimana mereka berusaha untuk memelihara penyu dan kenapa penyu dilindungi. 

Bagi sebagian orang, informasi yang dituturkan langsung menjadi menyenangkan. Khususnya bagi anak-anak kecil yang masih belum begitu paham tentang populasi penyu di Indonesia yang mulai hampir punah (untuk jenis-jenis tertentu). 

Bisa jadi tempat ini dijadikan pihak pengelola untuk mengenalkan penyu kepada masyarakat umum yang datang ke pantai Tongaci. Selama di sini, aku melihat beberapa pengunjung bersama keluarga duduk melihat penyu-penyu berenang di kolam dangkal. 

Seingatku, di sini hanya ada tiga orang yang berjaga. Dua perempuan di warung yang lokasinya tepat di dekat kolam buatan untuk penangkaran penyu, dan satu orang yang menjaga kolam penangkaran di laut. 

“Abang bisa memberi makan, tapi beli makanan penyu-nya di warung itu,” Terang abang yang berjaga sambil menunjukkan warung kecil di seberangnya. 
Kolam penangkaran penyu di Pantai Tongaci, Bangka
Kolam penangkaran penyu di Pantai Tongaci, Bangka
Bergegas aku menuju warung dan membeli makanan penyu. Makanan penyu ini berupa pellet. Makanan yang biasa digunakan untuk memancing ikan. Satu bungkus pelet dihargai 10.000 rupiah. Nantinya kita bisa melihat puluhan penyu dalam satu kolam. 

Satu bungkus pelet sudah di tangan. Tinggal menunggu waktu untuk memberi makan. Sebenarnya aku sudah diperbolehkan menuju kolam penyu dewasa untuk memberi makan, namun sengaja aku tangguhkan sampai pengunjung yang masih di kolam selesai memberi makan. 

Untuk memberi makan, kita menuju jembatan kayu, dan tinggal berdiri atau duduk di atas papan. Jangan sampai seperti orang yang kuabadikan ini, mereka memberi makan dengan ikut turun ke dalam kolam. 

Memang tidak ada larangan untuk turun. Tetapi, di kolam tersebut ada puluhan penyu, sehingga malah membahayakan diri sendiri jika ikut terjun dan memberi makan di dekat kita. Lebih baik kita tetap berada di atas jembatan. 

Tampaknya empat pengunjung tersebut lama di keramba penyu. Aku turut menuju jembatan dan memberi makan penyu. Selain aku, di sini juga banyak pengunjung yang lain berdatangan. Dari informasi penjaga, di sini tidak hanya puluhan, malah lebih. 

Kutaburkan pelet di air, sontak penyu-penyu berukuran besar saling berebut makanan. Air keramba bergemericik. Untuk membagi kumpulan penyu, aku menyebar pelet di sudut yang lainnya. Tampaknya penyu-penyu di sini sudah biasa melihat pengunjung. 
Penangkaran penyu di Pantai Tongaci Bangka
Penangkaran penyu di Pantai Tongaci Bangka
Gerombolan penyu dalam penangkaran milik Tukik Babel Sea Turtle Conservation
Gerombolan penyu dalam penangkaran milik Tukik Babel Sea Turtle Conservation
Berkali-kali kusebar pelet di kedua sisi jembatan agar gerombolan penyu tidak menyatu di satu titik. Bahkan ada yang berada cukup dekat dengan bawah jembatan. Ingat, meski dekat, kalian jangan sampai memegang penyunya. 

Cangkang penyu mengkilat terkena sianar matahari. Warna gelap dengan bermotif menjadikannya terlihat indah. Hal ini pula yang membuat penyu banyak diburu hingga diambang kepunahan. Tidak sedikit yang mengambil cangkang penyu untuk souvenir. 

Bagi aku, pantai Tongaci ini sangat menarik untuk dikunjungi. Selain karena hamparan pasir luas, di sini aku juga bisa melihat tempat konservasi penyu. Tidak semua pantai ada tempat seperti ini. Itulah yang menjadikan pantai Tongaci menarik. 

Adanya konservasi penyu menjadikan tenpat ini direkomendasikan untuk keluarga. Sehingga anak-anak tahu jika penyu merupakan hewan yang dilindungi. Lebih bagus lagi jika di sini petugasnya aktif memberikan layanan trip edukasi tentang penyu. 

Aku kembali menuju parkiran. Masih ada satu pantai lagi yang rencananya aku kunjungi di Bangka. Konon pantai tersebut sudah terkenal Namanya. Serta banyak wisatawan yang ke Bangka menyempatkan singgah di pantai tersebut. *Pantai Tongaci Bangka; Jumat, 26 Oktober 2019.

12 komentar:

  1. iya bener dah, banyak tempat wisata yang ada payung payung untuk spot foto ala ala, heuheuheu

    BalasHapus
  2. Baru tahu kl makanan penyu itu kaya pelet gitu, wkwkwk
    Btw penyunya gede2 buanget sih, di karium ada penangkaran penyu juga nggak, Mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelet itu kalau buat yang mau ngasih makan. Hayi mesti pas sekolah SMA bolos ikih.

      Hapus
  3. trakhir kali melihat penangkaran penyu, aku liat di ujung genteng sukabumi. penyunya raksasa krn badannya gede banget. tp untungnya di sana ada guide yg menjelaskan ke kita ttg semuanya mas. dan kalo di sana, bahaya yg paling besar bukan biawak, tp maling telur penyu yg bakal diam2 masuk ke area pantai penangkaran . telur penyu itu mahal kalo dijual. Sayangnya kalo kata si guide, maling telur penyu kebanyakan banyak orgnya, sementara penjaga cm sedikit. jd kadang si penjaga jg ga terlalu berani menghadapi sendiri.

    Aku baru tau juga kalo tukik ini banyak predatornya. di pantai, juga di dalam laut lepas kalo mereka sudah bisa dilepas. :( ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjuangan dari tukik menjadi penyu memang luar biasa, mbak. Selain predator asli, manusia juga menjadi salah satunya loh.

      Hapus
  4. Saya pernah ke De Locomotief itu, tapi sore hari. Jadi penjual kerajinannya sudah tutup. Iya, sayang nggak ada petugas khususnya di sekitaran tempat penangkaran, jadi menebak-nebak saja fungsinya apa. Tapi saya mendukung tempat penangkaran penyu ini, karena jadinya masyarakat menjadi lebih sadar mengenai pentingnya melestarikan satwa, termasuk penyu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga apa yang kita harapkan bisa terealisasikan. Mengenalkan kepada anak kecil tentang hewan dilindungi adalah sesuatu yang menyenangkan

      Hapus
  5. Sekitar awal tahun 2000an, saya tinggal di Ujung Pandang (sekarang Makassar) Sulawesi Selatan. Kala itu saya masih kecil banget, belum sekolah. Tapi saya ingat banget tiap akhir pekan selalu main ke pantai bersama umik dan abi. Ntah cuma duduk-duduk sore, renang pagi-pagi, atau mancing ikan. Dapetnya pun ikan yang bagus-bagus warnanya.

    Trus juga beli telur penyu di penjual pinggir pantai. Sampai rumah ditanak umik, dan kami makan bersama di bale-bale depan rumah sore hari. Seingat saya kami beberapa kali beli satu beser (macem mangkok ukuran tanggung buat hajatan) telur penyu.

    Ini jadi memori berharga, karena kalau sekarang mana mungkin boleh beli telur penyu apalagi dimakan hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu memang informasi tentang Penyu dilindungi masih minim, sehingga masih banyak yang menjadikan penyu sebagai hewan yang dicari, khususnya telur penyu. Sekarang kita mulai tahu bahwa penyu adalah hewan yang dilindungi.

      Hapus
  6. wow penangkarannya sampai sebesar itu ya, jadi sewaktu2 bisa liat penyunya terus kan ya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas. Enaknya di sini kita dapat melihat penyu sewaktu-waktu.

      Hapus

Pages