Menyusuri Sudut Replika Sekolah Dasar Laskar Pelangi Belitung - Nasirullah Sitam

Menyusuri Sudut Replika Sekolah Dasar Laskar Pelangi Belitung

Share This
Replika Sekolah Laskar Pelangi
Jalanan di Belitung cukup lengang. Dari bandara menuju Replika Sekolah Laskar Pelangi lumayan jauh. Aku terdiam mendengarkan cerita Bang Teguh. Dari obrolan ini, aku dapat memastikan jika beliau memang pemandu yang cakap. 

“Pokoknya Abang mau ke manapun hari ini, saya antar,” Ujar beliau meyakinkan. 

Tujuanku ke Belitung hanya untuk bersantai. Mencari konten yang bisa kutulis di blog. Beruntungnya, Bang Teguh sudah persiapan menentukan destinasi tujuan untuk orang yang tidak tahu mau ke mana seperti aku. 

Beliau mengajak aku menuju Replika Sekolah Laskar Pelangi. Tempat ini menjadi destinasi tujuan para wisatawan yang main ke Belitung. Memang benar, setelah film Laskar Pelangi dan novelnya membuncah. Belitung langsung menggeliat pariwisatanya. 

Secara detail Bang Teguh memberikan gambaran destinasi wisata di Belitung yang nantinya kukunjungi seharian. Cukup rinci dan menarik. Toh, kesalahanku saat ke sini hanyalah ingin bermain tanpa tujuan yang jelas. 

“Perjalanan lumayan jauh, bang. Kalau mau tidur bisalah,” Celetuknya kembali. 

Aku mengangguk. Sepanjang perjalanan melihat ada petakan lahan sawit. Lalu di satu sudut jalan terdapat tumpukan sampah di pinggir jalan. Tahu-tahu aku tertidur di mobil. Tak lagi tahu sekarang sampai mana. 

Selang beberapa waktu kemudian aku dibangunkan. Kami sudah berada di lokasi Replika Sekolah Laskar Pelangi. Berlokasi di Gantung, Belitung Timur, sekolah ini tidak jauh dari Museum Kata dan Rumah Ahok. Sekolah Laskar Pelangi ini dibuat sedemikian ruma sehingga mirip dengan pada masanya. 
Replika Sekolah Laskar Pelangi di atas lahan luas
Replika Sekolah Laskar Pelangi di atas lahan luas
Berlokasi di tanah lapang, tempat ini mempunyai area parkir yang luas. Di arah pintu masuk sudah terbangun bangunan seperti musola dan fasilitas umum yang lainnya. Aku tidak serta merta masuk, malah duduk di bangunan semi permanen dekat parkir mobil. 

Di sini ada banyak orang duduk. Rata-rata adalah pemandu mobil yang menunggu penumpangnya menjelajah replika sekolah SD Laskar Pelangi. Berjejer stand sebelum pintu masuk, di antaranya adalah tempat informasi dinas pariwisata dan juga tempat pembelian tiket. 

Pengunjung terlihat ramai. Mereka bergantian memasuki area sekolah dasar tersebut. Dari dekat parkir, bangunan yang berdinding papan serta atap seng ini disanggah dua batang kayu besar agar tidak roboh. Setidaknya begitulah sekolah Andrea Hirata masa lampau. 

Tiap wisatawan yang ingin masuk dikenai retribusi sebesar 5000 rupiah. Petugas yang berjaga di pintu masuk memberikan selembar kertas. Di sana tertera BUMDes Lenggang Membangun. Lenggang adalah nama desa di tempat replika sekolah tersebut dibangun. 

Dituturkan salah satu perempuan yang berada di tiket, tempat ini sepenuhnya dikelola oleh desa. Tidak ada kaitannya dengan pemerintah, khususnya Dinas Pariwisata setempat. Aku teringat banyak tempat yang memanfaatkan Dana Desa untuk membangun desanya. 
Tiket masuk dikelola oleh BUMDes setempat
Tiket masuk dikelola oleh BUMDes setempat
Sepasang umbul-umbul tersemat di gapura masuk. Lapak-lapak warga setempat yang menjual berbagai souvenir pun riuh. Silih berganti mereka menawarkan hasil karya olahan warga setempat. Aku menyusup di antara kerumunan orang yang hendak menuju replika sekolah. 

Pukul 10.45 WIB, cuaca di sini cerah. Tidak sedikit wisawatan yang datang duduk di bawah pohon untuk meneduh. Lahan yang berupa lautan pasir ini cukup panas. Aku bergegas mengenakan topi dan menuju gubuk replikas sekolah dasar. 

Replika Sekolah Dasar Laskar Pelangi ini cukup ramai. Di teras sudah banyak wisatawan yang berfoto. Mereka mengabadikan diri tepat di depan sekolah dengan latar belakang bangunan bertuliskan SD Muhammadiyah Gantong. 

Sebenarnya, lokasi asli SD Muhammadiyah Gantong tidak di sini. Hanya saja satu wilayah desanya. Replika sengaja di sini karena mempertimbangkan lahan yang luas. Sehingga, apa-apa yang kita lihat di film sedikit sama dengan di sini. 

Gundukan pasir, tiang bendera, atap seng yang kusam, meja dan kursi seadanya, hingga lantai bangunan yang tidak jelas konturnya. Nyaris sama, sehingga bayangan kita melesat jauh membayangkan kehidupan di sama lampau. 
Bendera merah putih berkibar di depan halaman sekolah
Bendera merah putih berkibar di depan halaman sekolah
Baluran cat kusam, di bagian bawah berwarna biru muda dan bagian atas putih. Ruangan terbagi menjadi dua kelas. Jendela kelas hanya disekat dengan bilah-bilah papan kecil yang dibuat menyilang. 

Para pengunjung tetap antusias. Mereka menjelajah tiap sudut ruangan. Sesekali berfoto di dalam kelas, depan kelas, hingga di halaman. Tepat di halaman tertancap tiang putih tinggi dengan kibaran sang saka merah putih. 

Dua kelas ini dibuat sedemikian rupa. Kursi dan meja kayu semacam tidak terawat dengan baik. Papan tulis terpasang di salah satu dinding. Bekas tulisan dari kapur tulis, rak kecil di sudut kosong tanpa ada koleksi buku. 

Bendera merah putih dengan tiang setinggi dua meter. Meja guru dan siswa seragam berwarna kuning. Cahaya matahari menerobos dari lubang jendela, dan foto yang berada di antara penyanggah bangunan. 
Bangku-bangku kosong di dalam kelas Replika Sekolah Laskar Pelangi
Bangku-bangku kosong di dalam kelas Replika Sekolah Laskar Pelangi
Berbeda halnya dengan kelas yang satunya. Tempat ini dipenuhi pengunjung yang ingin mengabadikan dua anak kecil bernyanyi. Sepasang anak kecil ini menyanyikan lagu Laskar Pelangi tanpa ada iringan musik. Mereka perfom di depan para pengunjung. 

“Mimpi adalah kunci” 
“Untuk kita menaklukkan dunia” 
“Berlarilah tanpa lelah” 
“Sampai engkau meraihnya” 
“Laskar pelangi” 
“Takkan terikat waktu” 

Sebaris lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji menjadi lagu wajib selama di dalam kelas. Bocah ini suaranya lantang bernyanyi diiringi tupuk tangan berirama dari tiap pengunjung. Sementara si putri masih malu-malu ikut bernyanyi. 

“Kau ikut nyanyi, jangan saya sendiri,” Ujar si Putra kepada yang putri. Sontak para pengunjung tertawa kencang. 

Sedari tadi memang terlihat anak putri ini sedikit pemalu. Dia hanya bersuara pelan saat bernyanyi. Sementara itu, hampir semua pengunjung yang berada di dalam kelas turut berdendang. 
Mendendangkan lagu Laskar Pelangi bersama wisatawan
Mendendangkan lagu Laskar Pelangi bersama wisatawan
Untuk kedua kalinya, suara dari alam kelar riuh bernyanyi bersama. Dua anak tersebut mulai santai, suara mereka lantang. Seorang pemandu menjadi dirijen dadakan. Dari luar jendela, aku turut berdendang sembari membayangkan bocah-bocah Laskar Pelangi berlarian layaknya di film. 

Kotak kardus di atas meja mulai ada yang mengisi. Satu persatu pengunjung dengan raut wajah sumringah turut memasukkan lembaran uang. Awalnya, pengunjung-pengunjung tersebut duduk di kursi, mirip siswa yang sedang bersekolah. 

Suara lantunan musik terdengar kencang. Kali ini dari halaman depan sekolah. Dia pemuda tanggung bertelanjang dada, mengenakan kolor, berbalur kapur putih, dan dilengkapi dengan daun Sukun mulai berdendang. Mereka menari tanpa alas kaki. 

Kalian yang pernah menonton film Laskar Pelangi tentu ingat bagaimana saat festival, Ikal dan kawan-kawan tampil mencolok menggunakan pakaian ala anak rimba saat bergoyang. Konsep inilah yang ketiga pemuda tanggung tersebut terapkan. 

Tak dirisaukan terik menyengat, mereka tampil enerjik. Tarian ala-ala tersebut membuat mata para pengunjung yang berteduh tertuju para mereka. Mulai dari berlari-lari kecil, membentuk putaran, bahkan yang lainnya. 
Berfoto di depan Replika Sekolah Laskar Pelangi
Berfoto di depan Replika Sekolah Laskar Pelangi
Aku tertarik untuk ikut. Sekadarnya saja bergoyang. Meski begitu, tetap terasa terik matahari. Usai bergoyang, mereka kembali berteduh sembari berbincang santai. Kulihat kotak kecil untuk uang, kuambil selembar dan memasukkan. 

“Bisa foto bareng?” Pintaku. 

Mereka bertiga berdiri, awalnya kami swafoto menggunakan gawai, lantas salah satu di antara mereka menawarkan diri untuk memotret. Ya, akhirnya kami berfoto dengan dengan pose sesukanya. 

Replika Sekolah Dasar Laskar Pelangi adalah destinasi wisata tambahan dan baru ada setelah film dan novelnya melejit di Indonesia dan dunia. Tempat seperti ini menjadi potensi yang dari awal tidak terpikirkan. 

Daripada banyak destinasi buatan dalam bentu spot foto ala-ala. Aku rasa destinasi buatan seperti ini jauh lebih menyenangkan. Kini, ketika kita bermain ke Belitung tidak hanya mengenal liang bekas timah yang menjadi tempat wisata, tapi juga Replika SD Laskar Pelangi. 

Puas menyusuri tiap sudut di sini, aku kembali menuju tempat para pemandu lokal mengunggu wisatawannya. Di sini kusempatkan membeli buah yang sudah dikupas, menikmati tiap irisan buah di tengah siang terik. Selanjutnya, aku ingin menuju Museum Kata. *Belitung; 27 Oktober 2018

16 komentar:

  1. Lokasi yang sekarang ini bukan lokasi pertama yang dijadikan syuting film. Aku pernah mampir ke sini. Tapi yang lokasi syutingnya. Itu di halaman salah satu sekolah beneran yang halamannya luas. Ada pohon juga tempat Mahar dengerin radio dan cari inspirasi. Tapi demi mengakomodasi pariwisata hehehe, replika ini dipindahin ke lokasi yang lebih luas. You know lah, urusan parkir, toilet, dan retribusi itu hehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memindahkan lokasi demi untuk perbaikan semacam parkir, toitel, dll itu sesuatu yang bijak mas. Memang harus seperti ini :-)

      Hapus
  2. Mengagumkan sekali bagaimana sebuah novel bisa mengubah sebuah daerah. Waktu ke sana dulu, saya terheran-heran sendiri mendapati bahwa nama dermaga kapal cepat di Tanjung Pandan adalah "Dermaga Laskar Pelangi." Sebelum novel itu keluar, Belitung seolah-olah cuma jadi pelengkap Bangka yang tenar karena tambah timah. Sekarang sepertinya kebalikan: orang lebih tahu soal Belitung ketimbang Bangka.

    Nice post, anyway. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah tidak mengunjungi pelabihan Tanjung Pandan karena mengejar waktu. Ingin kembali ke sini tapi fokus santai di rumah-rumah warga. Belitung sekarang benar-benar mencuat.

      Hapus
  3. hihihhi, auto nyanyi mimpi adalah kunci~~~
    sama, akupun lebih suka destinasi yang begini daripada yang ala2 warna warni banyak spot selfie yang malah terlihat aneh,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Swafoto di tempat ala-ala itu rasanya memaksakan diri bagi kita. Bagi pengelola, sebagai pendulang rupiah

      Hapus
  4. setuju banget mas Sitam .... spot foto ala ala tidak memiliki nilai history yang kuat untuk dijual ... dan sudah sangat kebanyakan ... mirip2 serta membosankan. Butuh kreatifitas supaya destinasi wisata yang ada tidak terjebak dari spot ala ala :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekadar untuk berfoto saja. Semoga tempat-tempat yang lain tidak ikutan membuat swafoto

      Hapus
  5. oh ternyata ini cuma replika toh, bukan yang sebenarnya buat syuting..
    tapi mirip bnget sih,

    mantap, semoga belitung smakin maju

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, sekarang replika ini menjadi semacam bukti jika sejarah itu memang ada. Kita dimainkan dengan tiruan yang menyenangkan untuk ditelusuri

      Hapus
  6. keren ya, ini salah satu efek booming-nya film Laskar Pelangi.
    seharusnya bisa lebih banyak yang seperti ini di Indonesia. sama kayak di Korea yang memanfaatkan popularitas film-film drama Korea mereka.

    tapi ini yang lebih keren karena dikelola oleh desa. bukti bahwa sebenarnya desa juga bisa berkembang bila ditata dengan baik, dengan manajemen yang rapih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar daeng, hal-hal seperti ini yang seharusnya diperbanyak. Bukan sekadar tempat foto biasa

      Hapus
  7. Film yang sangat menginspiratif ya mas,, dulu pas jaman SMP, pernah nobar nih film menjelang ujian nasional, biar kita semangat dan sadar untuk sekolah. WKwkw.

    BalasHapus
  8. gw gak nonton filmnya sih jadi gak tau ceritanya wkwk.. tapi dari foto-foto disitu. menunjukan kalo tempat sekolahnya memang sederhana banget, jadi mungkin yang bisa bersekolah ditempat yang bagus harus di sukuri kali ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di banyak tempat tahun-tahun 80an atau 90an masih banyak sekolah seperti ini. Sekarangpun masih ada sekolah yang mungkin kecil dan lainnya. Kita patut bersyukur beada di tempat yang sekolahnya jauh lebih baik.

      Hapus

Pages