Bertemu Kawan Baru di Candi Gedong Songo - Nasirullah Sitam

Bertemu Kawan Baru di Candi Gedong Songo

Share This
Salah satu candi di Gedong Songo dari kejauhan

Waktu menjelang duhur, aku bertanya ke salah satu bapak ojek pangkalan terkait masjid terdekat dari area Candi Gedong Songo. Beliau menerangkan jika ada masjid yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Aku beserta kawan menuju masjid, rombongan yang lainnya menunggu di area Candi Gedong Songo. 

Akhir pekan ini aku mendapat tugas menemani kawan yang berserta keluarganya liburan di Semarang dan Salatiga. Tujuan pertama berkunjung ke Ayanaz Gedongsongo. Spot ala-ala foto yang berlokasi di area Candi Gedong Songo. 

Usai mereka masuk bersama keluarganya. Aku meminta izin keliling Candi Gedong Songo. Kubiarkan mereka menikmati waktu bersama keluarga, sementara aku memutuskan berkeliling candi. Tanpa target bisa berkeliling banyak candi. 

Suara kuda meringkik di ujung jalan. Idealnya, berkunjung dan mengelilingi Candi Gedong Songo menggunakan kuda. Sempat terpikirkan naik kuda, tapi kutangguhkan. Sepertinya jalan kaki cukup menyenangkan. Sesekali jalan kaki agak jauh. 

Selain sehat, jalan kaki juga membuatku lebih leluasa jika berlama-lama di salah satu candi. Toh tanpa ada target harus mengelilingi banyak tempat. Meskipun nantinya hanya sampai di candi dua atau tiga, tak masalah. Minimal bisa dapat foto. Sekaligus aku dapat menghemat pengeluaran. 

Portal jalan kulintasi, tak banyak wisatawan kala jumat siang. Muda-mudi tersebar duduk di bawah pohon. Plang imbauan peraturan menerbangkan drone terbaca. Aku meniti jalur yang sudah ada. Melihat Candi Gedong I tidak jauh dari landmark tulisan Candi Gedong Songo di undakan depan. 
Bangunan Candi Gedong I
Bangunan Candi Gedong I

Simbah-simbah menawarkan jualannya di bawah pohon. Aku menolak dengan halus, lalu menuju Candi Gedong I. Dari batas pagar, aku mengabadikan. Kita diperbolehkan masuk area candi sesuai dengan tulisan pada papan mengumuman. 

Dua perempuan asyik berfoto, aku menahan diri untuk melintas. Menunggu sampai mereka puas berswafoto. Aku mengelilingi candi gedong I, pada bagian sudut candi terdapat semacam besi penyanggah. Besi-besi ini mengingatkanku pada penyanggah di Candi Kalasan sewaktu hendak di renovasi. 

Ukuran candinya tidak besar, mirip dengan candi-candi di Jogja. Sekilas malah besarnya sama seperti Candi Gebang, atau malah lebih besar sedikit. Bangunannya tidak sepenuhnya utuh. Bagian puncak candi tampak sudah patah, meninggalkan tonggak lancip. 

Konon, Candi Gedong Songo ini ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1804. Sesuai dengan penamaannya, candi Hindu ini sebanyak sembilan bangunan dengan lokasi yang tersebar. Selain candi, di sini juga ada tempat air panas. 

Di belakang Candi Gedong I, terdapat banyak bongkahan batu yang tertata rapi. Aku tidak tahu persis ini bongkahan batu apa. Jika kulihat sekilas, mungkin dari bebatuan yang awalnya bagian dari candi tersebut. Lalu batu-batu tersebut ditata rapi di belakang candi. 

Satu batu berbentuk bulat besar dan ada reliefnya. Di atasnya ada yang meletakkan semacam bunga-bunga dalam wadah anyaman janur kuning. Aku tidak berani memegang bunga tersebut. Tapi aku coba mengabadikan dari dekat. Ada pula potongan rokok tak jauh dari bunga tersebut. 
Bunga-bunga yang ditinggal di atas batu candi
Bunga-bunga yang ditinggal di atas batu candi

Kali ini di Candi Gedong I mulai ada rombongan remaja. Mereka berfoto di undakan yang bawa. Berjejer lebih dari empat orang dengan pose beragam. Aku tersenyum melihat tingkah remaja putri ini. Lepas foto rombongan, mereka bergiliran satu-persatu. 

Anak panah di jalur jalan kaki mengantarkanku menuju Candi Gedong II. Sepertinya lokasi candi ini agak jauh dari yang pertama. Jalan sedikit naik, sesekali penuh rindang pepohonan. Aku menghela nafas sesaat, mengumpulkan tenaga untuk kembali berjalan. 

Lumayan capek juga setelah kian lama tidak jalan kaki. Melintasi semacam ladang warga di sisi kanan. Pandanganku tertarik pada sisi kiri. Ada gerbang tinggi dengan ornamen masa lampau. Area ini agak tertutup. Sekilas terbaca tulisan Vanaprastha Gedong Songo Park Perhutani. 

Ada banyak bangunan semacam villa serta berbagai tempat spot foto. Sembari berjalan, aku hanya sepintas melirik suasana di sana. Panas terik ini sedikit tertahan warna-warni terpal yang menjadi atap sepanjang pusat souvenir. 

Aneka warna terpal melintang di atas jalan ini menarik diabadikan jika ada orang yang berjalan. Sayangnya, siang ini banyak warung yang masih tutup. Mungkin tempat ini ramai saat akhir pekan. Selain untuk warung souvenir, di sini juga dimanfaatkan para pengunjung candi sebagai area istirahat sambil makan. 

Lepas dari deretan warung dengan aneka warna terpal, ada plang petunjuk arah menuju Candi Gedong II. Bagi yang tidak terbiasa jalan kaki, aku yakin menguras tenaga. Kurekomendasikan yang membawa anak kecil untuk menggunakan jasa kuda . 
Jalan cor menuju Candi Gedong II
Jalan cor menuju Candi Gedong II

Plang petunjuk arah kembali tertancap di ujung jalan. Melintasi jejeran pohon pinus menjulang tinggi, serta bangunan toilet. Aku terus mengikuti jalan setapak menuju candi selanjutnya. Genangan air menandakan hujan tadi agak lebat. 

Kontur lokasi sedikit berbukit, sebuah candi yang besarnya nyaris sama dengan candi pertama. Jalanan tidak luas, bongkahan batu besar di samping jalan. Aku berhenti sesaat untuk mengabadikan dari bawah. Rumput yang digundukan tanah sepertinya terpotong rapi. 

Di Candi Gedong II ini sedikit lebih ramai orang berfoto. Sepasang muda-mudi asyik swafoto. Berlanjut dengan dua perempuan. Mereka saling berganti memotret. Tatkala ingin foto berdua, salah satu dari mereka melirikku. 

“Sini aku bantu,” Ujarku mendekat. 

Mereka berdua tersenyum. Dari matanya sudah tersirat ingin meminta bantuan, namun sungkan. Tidak mungkin juga dia mengganggu dua sejoli yang sedari tadi foto bersama. Kuambil gawainya, lalu memotretnya beberapa kali. 

Di batas luar candi, seorang simbah sedang sibuk sendiri. Beliau menggendong wadah kecil mirip ember berwarna biru. Di depannya plastik lebar tergelar. Entah sedang menjemur sesuatu atau malah mengambil sesuatu. Tidak tampak jelas. 
Candi Gedong II menarik dibidik dari atas
Candi Gedong II menarik dibidik dari atas

Kami saling menyapa, dua perempuan ini nyatanya asyik diajak berbincang. Seingatku, salah satunya adalah dosen, satunya lagi ASN di Dinkes Jateng. Obrolan kami sedikit tentang Malaria, Demam Berdarah, dan topik yang berkaitan dengan kesehatan. 

Sedari awal kita ngobrol santai, mereka penasaran. Bagaimana aku sedikit paham tentang malaria ataupun penyakit tropis yang lainnya. Padahal pekerjaanku sedari awal berkaitan dengan tersebut. Hanya saja aku bilang baca-baca dari literatur di Pubmed dan yang lainnya. 

“Bisalah abang jadi jurufoto kami?” 

“Wani piro?” Jawabku tertawa. 

Nafas mereka jauh lebih ngos-ngosan dibanding aku. Akhirnya kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Candi Gedong III. Candi ini terlihat jelas dari Candi Gedong II. Tempatnya saja yang agak lebih tinggi. Secara jarak, sebenarnya tidak jauh. 

Sisa-sisa nafas tak beraturan. Mereka masih penasaran dengan pekerjaanku. Kubilang kalau aku ke sini karena mengantar rombongan yang bermain ke Ayanaz Gedongsongo. Sayangnya mereka agak lama baru percaya. Inipun karena ada yang menelponku. 

Candi Gedong III jauh lebih menyenangkan untuk difoto. Jika Candi Gedong II menarik diabadikan dari atas. Candi ini berjejer dua dengan di depannya ada bangunan lebih kecil. Untuk sesaat aku mencari sudut yang menurutku pas untuk berfoto. 
Bangunan Candi Gedong III
Bangunan Candi Gedong III

Berlokasi di dataran tinggi dengan latar pepohonan menghijau, candi ini memang menarik diabadikan. Tak kubaca papan informasi yang tertera. Aku fokus memotret, sesekali mengambil rekaman. Dua perempuan ini pun masih sibuk berfoto. Kubiarkan saja mereka memotret bergantian. 

Tugas baru kuemban. Aku memotret dua perempuan ini. Berkali-kali memotret, lalu mengirim foto melalui WA. Hari makin terik, sepertinya tidak memungkinkanku untuk melanjutkan ke candi yang lainnya. Tadi sudah ada permintaan dari rombongan jika pukul 14.00 WIB mereka menunggu di parkiran. 

Sama denganku. Dua perempuan ini pun balik kanan. Kami saling terkekeh, dari kejauhan sudah tampak salah satu candi di atas bukit. Hanya berbatasan dengan dataran rendah dari Candi Gedong III. Mungkin yang terlihat itu adalah Candi Gedong IV. 

Jika kulihat dari peta, dari Candi Gedong III ini ada jalan menuju Pemandian Air Panas Gedong Songo, lalu menuju Candi Gedong IV, berlanjut ke Candi Gedong V. Ada jalan lagi untuk sampai di Vanaprastha Gedong Songo Park Perhutani. Aku hanya melihat sekilas sebelum balik kanan. 
Bertemu kawan baru di Candi Gedong Songo
Bertemu kawan baru di Candi Gedong Songo

Kami bertiga turun, acapkali berpapasan dengan rombongan yang hendak ke Candi Gedong II atau malah menyusuri hingga pemandian. Menjelang pukul 14.00 WIB ini pengunjung lebih ramai. Rombongan didominasi para remaja. 

Sampai di Candi Gedong I, kami berpisah. Aku berlari kecil menuju parkiran, sementara dua perempuan ini berlanjut entah ke mana. Sebuah perkenalan yang singkat, tapi lingkaran pekerjaan yang mirip. Menyenangkan, aku dapat tambahan relasi baru. 

Mengunjung Candi Gedong Songo ini diperlukan waktu yang lebih lama. Menurutku, jika ingin menikmati area luas ini minimal tiga jam. Mungkin dengan waktu selama itu kita bisa menyusuri sebagian besar destinasi yang ada di sini. 

Jumat sore yang cerah setelah hujan waktu siang. Aku dan rombongan hendak menuju Cimory, lalu melanjutkan perjalanan dan istirahat di Hotel Grand Wahid Salatiga. Dua kawan baru tadi mengabarkan sedang melanjutkan tujuan destinasi ke Benteng Pendem Ambarawa. *Gedong Songo; 22 November 2019.

Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Wisatawan di Candi Gedong Songo

Semasa pandemi, tiap destinasi menerapkan protokol kesehatan dalam berkunjung ke destinasi wisata. Pun dengan Candi Gedong Songo. Pihak-pihak terkait pastinya sudah memberikan arahan dan tahapan terkait prosedur pengunjung yang datang.

Berdasarkan informasi yang dirilis media sosial Twitter @Ungaran_Wisata, destinasi wisata Candi Gedong Songo sudah siap untuk menerima pengunjung sejak awal bulan Juli 2020. Segala fasilitas yang berkaitan dengan penanda jarak antar pengujung masuk sudah terpasang di lantai.
Penanda jarak antar wisatawan yang masuk di Candi Gedong Songo
Penanda jarak antar wisatawan yang masuk di Candi Gedong Songo - Sumber Twitter @Ungaran_Wisata

Pihak pengelola juga sudah menyediakan tempat-tempat cuci tangan, pengecekan suhu badan dan yang lainnya. Sehingga nantinya semuanya dapat berjalan dengan baik, serta adaptasi kebiasaan baru ini menjadi lebih baik.

Dari sisi pengunjung, sudah pasti diimbau untuk tetap menggunakan masker, menjaga jarak, serta tidak bergerombol saat mengunjungi destinasi tersebut. Diharapkan juga mereka tidak memegang apapun di candi dan yang lainnya.


22 komentar:

  1. meskipun aku beberapa kali mengunjungi candi gedongsongo, aku tidak pernah merasa bosan. Trekking di candi gedongsongo itu sangat menyenangkan. Pernah dua kali camping di sana. Tentu saja menyenangkan karena bisa menikmati kabut pagi khas candi gedong songo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku lihat kontur perbukitan dan langsung mikir, kayaknya enak kemping di sini. Pagi-pagi dapat semburat cahaya berlapis kabut. huahahahhaha

      Hapus
  2. pernah sekali kesini, tapi cuma sampe di candi 1, heuheuheu. pas ujan, males naik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Risiko berkunjung ke destinasi terbuka mas, hujan adalah kendalanya ahahhahah

      Hapus
  3. masih berlanjut WA-an ngga sama dua teman baru itu? atau salah satunya saja mungkin? ahaha..

    kayanya naik kuda berkeliling candi seru , tapi gak usah pake pemandu,, tapi tentu gak bisa ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih semua kok ahhahaha.
      Bahasan seputaran covid. Terlebih teman yang salah satu ini bertugas mengurusi pasien juga, jadi sering diskusi

      Hapus
  4. wah keren candinya ... butuh perjuangan ... tapi ngga apa apa sih ... apalagi dapat "sesuatu" ... hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau daerahnya dekat udah kusamperin sepedaan, kang. Rutenya itu loh ahahhaha

      Hapus
  5. Suamiku udh ribut terus, "kelar pandemi ke Semarang lagi ya bu, sama si kecil", dulu ke semarang blm sempat ke gedong songo, padahal aku penasaran benget sama candi ini, duh mudah2an bisa segera kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhahaha, memang bener kok, semarang itu kadang menggoda *eh

      Hapus
  6. Aku suka banget berkeliling di candi ini menikmati pemandangan dan merasakan aura zaman dahulu kala...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, kalau aku mah pikirannya simpel mbak. Lihat candi, duduk santai, motret, dan mencatat hal-hal yang kukira menarik

      Hapus
  7. Sempat menjadi tour guide abal-abal kesini,haha rata-rata pengujung luar kota diajak kesini udah seneng, suasana yang adem dan tempat yg bagus untuk belajar sejarah. Biasanya habis dari sini langsung sidomukti, cuma selama pandemi ini cuma kemarin lewat aja sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar juga, setidaknya waktu jadi pemandu dadakan bisa meninggalkan kesan baik untuk orang yang kita pandu hehehehhe

      Hapus
  8. Pada dasarnya, bertemu teman baru itu menyenangkan, apalagi itu wanita.., dua pula... :D

    BalasHapus
  9. Waaah ada jalur khusus untuk jalan kakinya ya mas. Aku LBH milih jalan kalo memang ada. Secara aku memang terbiasa jalan kaki jauh kalo traveling, daaan aku takut naik kuda :p. Jd percuma kalo mau sewa kuda juga :p.

    2 orang cewe itu pasti seneng Krn kamu yg fotoin mereka. Hasil jepretanmu selalu baguuus :D.

    Tapi rata2 candi bnyak yg belum buka kan ya mas? Candi songo ini udah yaa. Kmrn temen cerita kalo candi2 yg dia mau datangin , banyak masih tutup. Jadi dia cuma lewat dan melihat2 dari balik pagar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalur jalan kaki enak mbak, selama kita tak tergantung waktu kunjungan. Candi Gedong Songo sudah buka sesuai protokol kesehatan, jadi aman mbak

      Hapus
  10. Yang paling saya suka dari Gedongsongo ini pemandangan pagi-pagi kalau sedang cerah, Mas Sitam. Dari bumi perkemahannya, semua gunung di Jawa Tengah (terkecuali Slamet, sepertinya) tampak jelas. Kabut paginya bikin suasana seperti dalam film-film silat dari Tiongkok. :D

    Soal tempat salat, sekali waktu saya pernah menginap semalam di musala dekat pintu masuk. Sekarang masih ada kah, Mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, pemandangan pas pagi katanya memang indah banget, ada kabut tipis.
      Tempat salat masih ada, mas. Cuma pas ke sini saya hari jumat, jadi nyari masjid hahahhaha

      Hapus
  11. ketok e enak ki ning gedong songo, sudah menerapkan protokol kesehatan pisan. jadi tenang. tinggal cari yang sepi. lokasinya yang agak tinggi jadi sejuk juga.

    itu temannya lanjut ke follow IG ra mas? haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah, tanpa berbagi IG aja udah ketemu di seminar kesehatan, malah mung ngakak

      Hapus

Pages