Menyambut Baskara Tenggelam di Sunset Beach Karimunjawa - Nasirullah Sitam

Menyambut Baskara Tenggelam di Sunset Beach Karimunjawa

Share This
Siluet di Sunset Beach Karimunjawa
Siluet di Sunset Beach Karimunjawa

Langit cerah menjelang sore hari. Aku sudah mempunyai agenda untuk memotret mahatari tenggelam dari tepian pantai. Kawan kampung mengusulkan kami memotret di Sunset Beach, katanya lokasinya strategis menghadap barat. 

Sore itu juga kami menaiki sepeda motor menuju destinasi pantai tujuan. Sebelumnya, aku sudah membawa perlengkapan kamera serta sarung. Harapannya nanti bisa aku gunakan saat salat magrib di Karimunjawa. 

Pandanganku tertuju pada anak-anak kecil yang bermain bola voli di lapangan halaman sekolah. Aku meminta kawan menghentikan sepeda motor, berhenti tepat di tepian jalan menikung Dusun Alang-alang. Di sini pula aku pernah memotret ibu-ibu yang menjemur ikan teri

Sekumpulan remaja tanggung sedang bermain bola voli di lapangan samping bangunan sekolah dasar. Sementara dua anak kecil tak mau kalah. Mereka duel bermain bola voli di lapangan kecil. Bola plastik melambung di atas net. Sekilas, net yang digunakan itu untuk bulatangkis atau sepak takraw. 

Pemandangan lapangan kecil kontras dengan sekelilingnya. Petakan pasir putih tanah lapang berbanding terbalik dengan hamparan rumput menghijau. Bisa kurasakan keseruan dua bocah tersebut. Aku masih memotret, lantas melanjutkan perjalanan menuju pantai. 
Anak-anak sedang bermain di halaman sekolah
Anak-anak sedang bermain di halaman sekolah

“Dekatnya Pantai Batu Topeng?” Aku masih penasaran dengan pantai yang sekarang kami tuju. 

Riki mengangguk. Matanya konsentrasi melintasi jalur kecil menuju pantai. Sederetan pantai ini berarti ada Pantai Batu Topeng, Sunset Beach, serta Pantai Tanjung Gelam. Deretan pantai di sini mengingatkanku barisan pantai yang ada di Gunungkidul. 

Sebelumnya, aku pernah mengetahui foto-foto Sunset Beach dari linimasa kawan di media sosial. Hanya saja waktu itu siang hari, sehingga aku tidak tahu bagaimana pemandangan kala senja. Biasanya, suasana senja di tepian pantai sama. 

Plang petunjuk arah ke pantai Batu Topeng kami lewati, motor masih lurus menuju arah pantai Tanjng Gelam. Kemudian plang tulisan Sunset Beach, motor belok kanan. Jalan lebih kecil dengan sedikit turunan, hingga sampai di area parkir. 

Area parkir tersebar di sini. Tak ada ketentuan sepeda motor harus sejajar. Selama motor tak menghalangi jalan, di situ bisa digunakan parkir. Spanduk lebar setengah meter dengan panjang 2.5 meter terpasang pada batang bambu. Tulisan besar “Welcome to Sunset Beach Karimunjawa”. 
Spanduk di Sunset Beach Karimunjawa
Spanduk di Sunset Beach Karimunjawa

Secara tersirat, pantai ini masih cukup sepi. Berbeda dengan pantai Tanjung Gelam yang biasanya sangat ramai wisatawan. Riki sudah menuju tepian pantai, sementara aku berusaha memotret spanduk kecil tersebut sebagai penanda. 

Pasir putih terhampar, tak banyak orang yang berkunjung di pantai ini. Gubuk-gubuk kecil terlihat tak terawat. Di dekat tempat parkir, sudah terdapat toilet bagi yang ingin membuang hajat. Butiran pasir di pantai ini lembut, ciri khas pasir di Karimunjawa pada umumnya. 

Raungan mesin boat terdengar kencang. Kucari sumber suara tersebut. Di kejauhan, tampak sebuah boat yang menarik benda kuning ditumpangi empat wisatawan. Tampaknya permainan Banana Boat menjadi opsi mereka untuk menghabiskan waktu di pantai. 

Laut yang teduh membuat boat berselancar dengan tenang. Sesekali bermanuver agar banana boat yang ditumpangi wisatawan berbelok tajam. Tentu adrenalin mereka terpacu. Teriakan keras melengking bersambut raungan boat. 

“Menarik juga,” Celetukku sembari memotret. 

Jika kuingat-ingat, terakhir aku bermain Banana Boat itu tahun 2013. Saat itu sedang berkunjung ke Lembongan, Bali. Di sana asyik menikmati wahana yang disediakan oleh Bounty Cruises, sebuah agen kapal pesiar yang menawarkan sensasi permainan di laut. 
Wisatawan bermain banana boat di Karimunjawa
Wisatawan bermain banana boat di Karimunjawa

Pengunjung pantai bersantai, mereka asyik berlarian di tepian pantai. Sesekali terlihat jingga di ufuk barat. Kapal wisatawan tenang terikat tali jangkar, tak ada keramaian. Senyap, hanya sayup-sayup raungan mesin boat menjauh. 

Sepertinya matahari hendak tenggelam. Aku melangkahkan kaki ke barat, berusaha mengabadikan sang baskara dari sudut pantai. Sayangnya, dari sini matahari tak terlihat, tertutup daratan yang agak menjorok ke laut. 

Jika aku pertahankan di Sunset Beach, aku pasti melewatkan mahatari tenggelam. Opsi yang mungkin kulakukan adalah mendaki bebatuan tersebut hingga bisa melihat matahari. Tak mungkin aku nekat seperti itu demi sebuah foto. 

“Sepertinya ini bukan bulan yang tepat memotret dari sini. Tertutup pepohonan,” Kataku ke Riki. 

“Jadi bagaimana?” 

Aku memberi isyarat pindah ke Pantai Tanjung Gelam. Aku tahu, dari sana pasti matahari ini bisa diabadikan dengan mudah. Sedikit berlari kami ke parkiran, memacu motor menuju pantai yang masih satu barisan. Di tengah perjalanan, matahari tampak merayu untuk diabadikan. 
Wisatawan menikmati waktu senja di pantai
Wisatawan menikmati waktu senja di pantai

Keberuntungan masih berpihak padaku. Sesampai pantai Tanjung Gelam, matahari tampak jelas. Aku bernafas lega, tingga mencari tempat yang nyaman untuk memotret tanpa terganggu pengunjung yang sedang asyik swafoto di bebatuan. 

Bebatuan yang menjorok ke laut menjadi spot berfoto para wisatawan. Di pantai Tanjung Gelam, selain pohon ikonik yang menjorok ke laut, bebatuan ini juga sering dijadikan tempat berfoto. Aku menuju jalan kecil agak ke selatan. 

Matahari masih terlihat, tampaknya belum hendak berlalu. Kulewati jalan setapak yang mengarahkan pada sisi lain pantai. Jaring nelayan tergantung pada batang pohon. Sebagian masyarakat di sini masih menyempatkan untuk menjaring ikan. 

Dilihat dari jaringnya, ini digunakan untuk menjaring ikan perairan dangkal. Rata-rata ikan yang didapatkan adalah jenis ikan karang. Nelayan di Karimunjawa biasanya memasang jaring pada sore hari, dan paginya melihat hasil tangkapan. 
Jaring ikan nelayan setempat
Jaring ikan nelayan setempat

Nun jauh di sana, bentangan garis imajiner membentuk warna gelap. Bisa jadi nanti tak ada pemandangan baskara tenggelam dengan jelas. Lamat-lamat, baskara bakal tertutup awan tebal dan menyisakan semburat jingga. 

Misalkan benar-benar tertutup awan, mungkin senja ini tampak biasa saja. Aku terus menunggu waktu yang tepat memotret. Kutunggu hingga ada objek yang lain. Satu-satunya harapanku adalah kapal wisatawan yang melaju pelan menuju Pelabuhan Lama Karimunjawa

Penantianku tiba. Sebelum matahari tertutup awan, kapal wisatawan melintas di arah matahari. Aku membidik berulang kali. Harapannya stok foto ini bagus untuk konten foto. Puas memotret, aku melihat hasilnya dan tersenyum. 

“Pantai yang bagus, sunset yang bagus,” Ujar wisatawan manca ke arahku. 

“Ya, seperti inilah Karimunjawa,” Jawabku. 
Sunset di Pantai Tanjung Gelam Karimunjawa
Sunset di Pantai Tanjung Gelam Karimunjawa

Kami berbincang santai, kutinggalkan Riki yang masih memotret menggunakan gawai. Meski bahasa Inggrisku tak lancar, setidaknya komunikasi kami cukup baik. Lelaki tanggung ini berasal dari Caen, Prancis. Dia sudah seminggu di Karimunjawa. 

Wisawatan manca ini bercerita tentang aktivitasnya selama di Karimunjawa. Dia mencari pantai untuk menikmati waktu sembari membaca buku. Dia memperihatkan sebuah buku tebal yang menemaninya selama di Karimunjawa. 

“Senang berjumpa denganmu. Semoga Karimunjawa mempunyai kesan yang menyenangkan,” Ucapku sambil berlalu. 

Lelaki tanggung tersebut tersenyum. Dia kembali menikmati waktu hingga gelap dari atas bebatuan. Aku dan Riki menuju parkir, kami berencana salat magirb di Masjid Karimunjawa. Sudah lama aku tak mengunjungi masjid tersebut. *Karimunjawa, 06 Desember 2019.

18 komentar:

  1. Foto kapal dan sunsetnya terasa syahdu Mas.
    Keren 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto merindu kala senja di sudut pantai Karimunjawa hahahahhaha

      Hapus
  2. Baca postingan ini terus kangen nyunset di pantai. Kayaknya daku terakhir nyunset di pantai tuh 2 tahun lalu deh. Lamanyooooo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sante mbak, ngtar kalau vaksin sudah ada dan mudah didapatkan, pandemi berakhir, mari kita main ke pantai haaaaa

      Hapus
  3. wah memang foto sunset di pantai selalu juara .... apalagi yang ada perahu lewat ... top deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kang, jadi fotonya serasa lebih bercerita

      Hapus
  4. Cakeeeep banget. Sunset ya keemasan. Biasanya kalo liat foto sunset, itu kebanyakan merah oranye. Baru kali jni aku liat hasilnya golden :D.

    Aku jg pasti betah duduk2 sambil baca buku di pantai begini, kayak si bule :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini karena agak mendung mbak, bakal kemerahan misalkan benar-benar tenggelam mataharinya

      Hapus
  5. bedanya apa antara jaring perairan dangkal dan dalam?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Panjang jaringnya mas, kalau dangkal ini cenderung lebih pendek ukurannya

      Hapus
  6. Keren.. Foto pantai di sore hari sangat syahdu dan menenangkan, mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali mas, foto sore di pantai pas cerah memang menyenangkan, apalagi ada suara mesin kapal yang menderu

      Hapus
  7. Momen matahari terbenam, meskipun langit berawan, entah kenapa buat saya selalu berkesan, Mas. Padahal tiap hari matahari terbenam. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya dikarenakan ada waktu untuk kita melihat terbenamnya matahari tersebut. Karena, biasanya kita larut dengan pekerjaan yang lain, hingga lupa pergantian hari

      Hapus
  8. Enaknya kalau tinggal di dekat pantai ya gini, mau motret sunset yang cantik gampang
    tinggal jalan sedikit udah bisa dapat hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pas cuaca kurang mendukung, tinggal datang lagi di waktu mendatang heeee

      Hapus
  9. waahhh cakep cakep sunsetnya. wes suwi aku ra nyunset :((

    BalasHapus

Pages