Gowes Kuliner Sate Kambing Mbah Margo Nanggulan - Nasirullah Sitam

Gowes Kuliner Sate Kambing Mbah Margo Nanggulan

Share This
Sate Kambing Mbah Margo Nanggulan
Sate Kambing Mbah Margo Nanggulan

Dua minggu berselang, aku kembali bersepeda ke arah Moyudan. Suasana di jejeran pohon kelapa ramai, padat merayap. Berbagai rombongan sepeda menjadikan jalur ini sebagai salah satu lintasan sebelum menuju destinasi tujuan. 

Biasanya aku hanya ditemani Ardian dan Yugo, kali ini ada satu personil tambahan. Rinda turut bergabung. Lengkap sudah berempat, kami memang ingin sepedaan, foto-foto, dan lanjut kulineran. Beruntung Ardian membawa kamera. 

Awal perjalanan, terlontar obrolan ingin kuliner di Mak Engking, lalu berubah menuju sate. Aku sendiri belum tahu, sayup-sayup terdengar nama Mbah Margo. Kucoba melihat gawai, ternyata nantinya opsi yang kami kunjungi adalah Sate Kambing Mbah Margo Nanggulan. 

Rombongan sepeda yang satu arah dengan jalur kami cukup banyak. bahkan, Ardian sempat diminta untuk memotret rombongan tersebut menggunakan kamera gawai salah satu pesepeda. Silih berganti kami salipan. Setiap menyalip, kami pasti bertegur sapa. 
Bersepeda menyusuri jalur di Moyudan
Bersepeda menyusuri jalur di Moyudan

Di jalan cor, jejeran kelapa masih cukup panjang. Di sini tidak ramai layaknya jalur yang beraspal. Aku meminta Ardian untuk mengabadikan satu foto bersepeda. Seperti yang sudah kubilang, jalur ini memang asyik untuk berfoto. 

Perjalanan terus berlanjut, Ardian dan Yugo sudah jauh di depan. Aku sendiri menemani Rinda yang baru awal-awal bersepeda jauh. Rute yang kami pilih tak menanjak tajam, hanya sesekali ada tanjakan panjang. 

Silih berganti kami disalip pesepeda. Ada yang melaju kencang, tak sedikit yang ritmenya pelan. Seperti rombongan yang bertemu dengan kami di Moyudan, mereka juga melaju santai. Kembali kami bertegur-sapa karena satu arah. 

Jalur yang kami pilih melintasi sepanjang selokan tak jauh dari arah Bukit Kleco. Ini kali pertama aku melintasi jalur tersebut. Nyatanya, jalur ini menjadi rute favorit para pesepeda. Konon, akhir pekan yang lalu, Luna Maya pun melintas di sekitaran sini kala bersepeda. 

Tak terasa perjalanan menyusuri sungai ini sampai pada ujungnya. Jembatan berwarna biru menjadi tempat istirahat sesaat sembari berfoto. Kubaca tulisan keterangan di jembatan tersebut. Tersemat nama “Talang Bowong.” 
Melintasi Selokan Mataram
Melintasi Selokan Mataram

Jembatan Talang Bowong ini berlokasi di Banjararum, Kalibawang. Konon jembatan tersebut merupakan ujung dari Selokan Mataram. Bahkan, kawan pun mempunyai rencana ingin menyusuri Selokan Mataram dari sini hingga ujung satunya. 

“Jam segini sate Mbah Margo sudah buka,” Terang Ardian sambil melihat gawai. 

“Berapa kilo lagi, pak?” Tanya Yugo memastikan. 

“Tinggal sedikit lagi.” 

Kami tertawa berbarengan. Seperti pengalaman waktu kuliner ke Bu Sriwanto, Ardian berujar jarak dari tempat rehat hingga lokasi tinggal 5 KM lagi. Nyatanya, waktu kami bersepeda jaraknya lebih dari 10 KM. 

Jalanan cenderung datar, di sudut tertentu ada tanjakan panjang. Aku tetap bersepeda di belakang Rinda, sementara dua kawan sudah menunggu di depan sembari memotret. Di sini, aku bertemu dengan Mas Tanaya yang menjadi road captain rombongan sepeda bersama Febri yang bertugas memotret peleton sepeda. 

Tak jauh dari tanjakan, kami sampai juga di warung Mbah Margo. Di sini sudah ada satu rombongan keluarga yang hendak menyantap sate. Sate Mbah Margo berlokasi di Jalan Wates Muntilan. Tepatnya di Boto Wetan, Nanggulan. Atau tidak jauh dari perempatan Kenteng. 

Sate Mbah Margo ada beberapa tempat, dan lokasinya saling berdekatan. Warung yang kami singgahi adalah Warung Sate Mbah Margo 1. Dari berbagai komentar kawan di media sosial, konon warung ini terkenal dengan tengklengnya. 
Melihat kesibukan di Sate Mbah Margo Nanggulan
Melihat kesibukan di Sate Mbah Margo Nanggulan

Buka mulai pukul 08.00 WIB, menu yang paling cepat disajikan adalah sate. Kami berempat memilih menu tersebut, karena menu yang lainnya belum tersedia. Sembari menunggu pesanan, aku meminta izin untuk mengambil gambar dari dapur. 

Menurut informasi yang aku dapatkan, Sate Mbah Margo merupakan salah satu warung legendaris di Kulon Progo. Konon warung ini sudah ada sejak pada zaman Jepang. Tidak bisa kugali lebih dalam informasinya karena kesibukan pemilik meladeni pengunjung. 

Kami memesan minuman dingin. Seperti biasa, aku pasti memesan minuman yan berbeda. Teh tawar hangat pesananku. Selain itu, di sini juga terdapat minuman Saparila, salah satu minuman kondang yang ada di Jogja. 

Tidak lama kemudian, makanan yang kami pesan diantar. Empat porsi sate sudah siap disantap. tidak ketinggalan nasinya. Percayalah, di sini nasinya cukup banyak. terlihat dari teksturnya, potongan sate lumayan besar, dan pembakarannya agak gosong. 
Kepulan asap pembakaran sate
Kepulan asap pembakaran sate

Ritual sebelum menyantap hingga habis adalah memotret. Aku sudah mewanti-wanti Ardian untuk mengambilkan beberapa gambar sate sebagai bahan blog. Beruntung, kawan satu ini bergerak cepat dalam memotret. 

Aku tidak tahu apakah pembakaran agak gosong ini memang menjadi ciri di sate tersebut. Untuk lidahku, rasa sate ini cenderung manis. Tapi masih bisa kunikmati. Dagingnya sedikit kenyal. Rasanya tetap enak. 

Aku tidak ingin membandingkan rasa, setidaknya selera itu berbeda-beda. Untuk para pecinta sate, sudah beberapa kali yang kutanyai memang merekomendasikan Sate Mbah Margo jika bersepeda di sekitaran Nanggulan. 

Jika kalian ingin menyantap menu seperti tengkleng ataupun gulai, aku rekomendasikan datang ke sini sekitar pukul 10 pagi. Setidaknya pada jam-jam tersebut menjelang siang menu lebih komplit. Karena pagi memang mendahulukan satenya. 

Seperti kata kawan, jika ke Sate Mbah Margo, seharusnya kami menyicipi tengkleng. Ini bakal menjadi catatanku untuk datang di lain kesempatan. Terus terang, aku penasaran dengan pengalaman kawan yang mengatakan tengklengnya enak. 
Menikmat sate kambing mbah Margo Nanggulan
Menikmat sate kambing mbah Margo Nanggulan

Waktu lumayan cepat, kami harus menuntaskan perjalanan pulang. kami pun bergegas membayar makanan yang sudah libas. Nasib kurang baik menimpaku, dua lembar uang lima puluh ribuanku terjatuh dari saku karena tidak membawa dompet. 

Beruntung Ardian dan kawan-kawan bergerak cepat. Bersepeda kali ini pun aku ditraktir kawan-kawan tersebut. Semoga mereka tetap lancar rezekinya dan aku bisa ditraktir terus kalau pas bersepeda di akhir pekan. 

Untuk rasa sate, meski cenderung agak masin tapi masih cocok di lidahku. Harga pun lumayan bersahabat menurutku. Tapi kembali lagi bahwa harga makanan itu tidak bisa disetarakan apakah itu mahal atau murah ke semua orang. 

Pada dasarnya, jika kalian ingin menikmati sarapan sate di sekitaran Nanggulan, aku rekomendasikan di Sate Mbah Margo. Satenya enak dan penyajiannya pun cepat. Jika ingin menu yang lainnya, bisa ke sini menjelang siang hari. *Sate Mbah Margo; 08 November 2020. 

Catatan: Sebagian besar foto ini adalah dokumentasi Ardian Kusuma, pemilik blog https://www.ardiankusuma.com/

22 komentar:

  1. wih legend banget, udah dari jaman penjajahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu yang terkenal di Kulon Progo kuliner sate ini, mas

      Hapus
  2. Wah, sate kambingnya Mbah Margo pasti memang enak, Mas. Teruji zaman. Nggak banyak tempat makan yang bisa tetap bertahan dari zaman Jepang sampai sekarang. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya heheheh, hanya saja menuurtku pas disajikan rada gosong. Bagi sebagian orang mungkin ini kurang pas. Tapi tetap enak

      Hapus
  3. Udah ada sejak zaman penjajahan Jepang, mantap juga bisa tetap bertahan sampe sekarang.
    Artinya rasanya emang cukup bisa diandalkan dan punya banyak penikmat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konsisten dengan rasa dan makin banyak pelanggan menjadi kunci utama

      Hapus
  4. Welah, lama nggak surving di blog. Mas.Sitam masih produktif nulis juga, jadi pengin hidupin blog lagi...hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhahhhaah, masih banyak gabut mas. Jadi ya begini

      Hapus
  5. Akhirnya aku sekeluarga batal jalan2 ke Jogja nih, Mas Sitam wkwkwkwkw :) Rencana wisata ke Kulon Progo dll tinggal mimpi hahaha. Ini sate kambing kelihatan enak..cara masaknya juga mengundang selera. Kalau orang Jawa hampir semua masakan jd super maniiiis ya, aku doyannya asin dikit, sate kambing ga suka, doyannya ayam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak masalah mbak, bisa diagendakan lain waktu. Pankapan bisa dicoba di sini

      Hapus
  6. Ini sate udh buka cabang di Bekasi mas, yg punya abangnya temenku :D. Aku sempet diajak nyobain, tp memang Bekasi lumayan jauh, kapan2 aku pasti datangin. Tapi Krn skr sdg di Jogja, aku mau coba tempat aslinya duluuu ;). Ntr aku pamerin ke temenku hahahahaha.

    Cm aku agak serem pas liat dagingnya agak gosong :D. Bisa ga ya minta jgn gosong gitu wkwkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oalah malah sudah merambah sampai Bekasi ahhahahaha.
      Gosong dikit, tapi tetap enak kok mbak

      Hapus
  7. mantap banget ... sesepedahan di pesawahan .. terus ditutup dengan makan sate yang negetop ... benar benar kemewahan .. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perut kenyang dan pulang pun menyenangkan pas gowes, kang

      Hapus
  8. Waah..sate kambing legendaris. Tampilan warungnya juga sederhana. Tapi punya banyak cabang. Pasti banyak yg cocok dengan satenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rata-rata sate yang enak itu warungnya malah sederhana hahahhahah, entahlah. Nggak mencolok

      Hapus
  9. Itu adegan uang jatuh dari saku bukan alasan doang kan? hahahaha
    Sehat terus ya mas, semoga nanti kita bisa ketemuan kalau saya ada kesempatan jalan ke Jogja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, sekarang sudah punya cara biar uangnya gak jatuh, selipin di pelindung gawai,
      Semoga kita semua sehat, daeng. Kami tunggu kedatangannya di Jogja

      Hapus
  10. busett isuk isuk wes nyate kambing. muantapp.
    langsung isi tenaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yen isuk-isuk mung turu yo gak bakal nyate, dab

      Hapus
  11. Wah seru banget bersepeda menyusuri jalan pedesaan, ditutup dengan sarapan di tempat yang terlihat traditional namun profesional dalam waktu bersamaan. Wah ingin rasanya kesana.

    Oh yah kak, jika kakak berminat untuk menulis di berbagai website, jangan lupa kunjungi web kami, ya kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang menyenangkan bisa seperti ini, olahraga sambil kulineran hehehehhe

      Hapus

Pages