Menjajal Rute Tanjakan ke Puncak Sosok Bawuran, Bantul - Nasirullah Sitam

Menjajal Rute Tanjakan ke Puncak Sosok Bawuran, Bantul

Share This
Gunung Merapi tampak dari Puncak Sosok
Puncak Sosok Bawuran bukan destinasi baru yang kudengar. Kurun waktu dua tahun terakhir ini, nama puncak tersebut sering disebut teman-teman pesepeda. Mereka tak hanya menceritakan pemandangan dari atas, rute yang penuh tanjakan pun menjadi penyedap cerita. 

Aku sendiri belum pernah ke Puncak Sosok. Beberapa kali merencanakan bersama kawan, tapi belum pernah terealisasikan. Hingga sebuah pesan dari Andar yang mengajak ke Puncak Sosok di awal tahun. Aku langsung mengiyakan, padahal belum tahu rutenya. 

Ardian pernah memosting foto sepeda di puncak tersebut. Aku langsung mengirimi pesan untuk bergabung. Pun dengan Yugo, kami putuskan hari sabtu menuju Puncak Sosok. Sedari pagi aku sudah menunggu Andar, kawannya, beserta Yugo di Janti. 

Perjalanan berlanjut, kami harus melebar dulu ke Giwangan menghampiri Ardian. Sebenarnya, Ardian sudah memintaku agar dia menunggu di Wiyoro. Aku yang kurang paham daerah tersebut memilih dia menunggu di Giwangan, karena lokasi ini sudah kuhafal. 

Rute masih datar, jalanan mulus. Aku sedikit ingat jalur ini, beberapa tahun yang lalu sempat melintas. Plang tulisan TPS Piyungan di depan, kami terus melaju sepeda. Tempat pembuangan sampah ini adalah yang terbesar di Jogja. 
Jalur menuju Puncak Sosok banyak tanjakan
Jalur menuju Puncak Sosok banyak tanjakan
Barisan bukit di sisi kiri. Menurut kawan, salah satu bangunan di atas bukit yang berwana putih adalah Puncak Sosok. Tak jauh dari sana juga tampak Puncak Gebang. Rute sedikit melebar, menjauh dari perbukitan, lalu belok kiri mengikuti plang bertuliskan Puncak Sosok. Dari berbagai referensi, Puncak Sosok ini berlokasi di Jambon, Bawuran, Kecamatan Pleret. 

Pada tulisan tertera jarak hanya 1 kilometer. Aku yakin, jarak yang ada di tulisan tersebut bisa lebih jauh. Pun dengan beberapa tanjakan yang nantinya kami lintasi. Melintasi gerbang utama, tanjakan sudah menyambut. Jalanan berlabur semen dengan sedikit basah membuat kita harus lebih hati-hati. 

Tanjakan pertama tidak panjang, sambutan berlanjut tikungan agak tajam. Di sini aku mengatur ritme kayuhan sepeda. Beberapa pesepeda berbarengan dengan kami, aku cukup menikmati jalur tersebut. Tak perlu mengikuti ego untuk lebih cepat. 

Lepas tanjakan pertama, jalan lebih santai dan berubah dua cor. Di sini sampailah pada Puncak Gebang. Destinasi ini menjadi opsi bagi pesepeda yang tidak ingin sampai di Puncak Sosok. Di tempat ini pula menjadi spot untuk istirahat sesaat. 
Rehat di area Puncak Gebang
Rehat di area Puncak Gebang
Kami duduk santai sembari melepas lelah, sesekali kawan memotret tulisan Puncak Gebang. Lokasinya di pinggir jalan, pemandangannya adalah panorama sawah dan rumah-rumah. Bagi beberapa pesepeda pemula, titik Puncak Gebang menjadi opsi paling tepat. 

Ketenaran Puncak Gebang kalah dengan Puncak Sosok. Mungkin karena lokasinya hanya berdekatan. Sekilas, Puncak Gebang memang hanya tulisan besar yang berlokasi di tebing. Tujuan tulisan ini memang dijadikan sebagai spot foto pesepeda ataupun yang lainnya. 

Tidak ada warung di sini. Pun tidak banyak yang menjadikan Puncak Gebang sebagai tujuan utama. Seperti aku dan rombongan pesepeda yang lainnya, puncak ini hanya dijadikan area transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak Sosok. 

Lepas jalur sepi, kami melintasi beberapa rumah warga. Plang informasi tanjakan tinggi terdapat di tepian jalan. Plang tersebut ditulis oleh Pokdarwis desa setempat. Puncak Sosok sepertinya dikelola dengan baik oleh Pokdarwis setempat. 
Tulisan Puncak Gebang di tepi jalan
Tulisan Puncak Gebang di tepi jalan
Masih ada beberapa tanjakan yang lumayan menguras tenaga hingga sampai area portal yang dijaga warga setempat. Untuk pesepeda tidak ada pemungutan tiket, bisa jadi tiket diperuntukkan bagi pengguna kendaraan motor dan mobil. 

Sepanjang dekat portal, imbauan penggunaan masker serta tempat cuci tangan tersedia berjejer. Kamu terus mengikuti jalur menuju puncak. Sisi kanan tampak jelas megahnya Gunung Merapi, pun dengan bukit putih yang merupakan TPS Piyungan. 

Area tebing sudah dibatasi dengan pagar cor. Berbagai undakan tersedia, pun dengan tempat duduk permanen. Di sini juga sudah ada panggung. Bisa jadi tempat ini dimanfaatkan untuk perform kala malam hari. Sebelum pandemi, tempat ini memang menjadi opsi untuk menikmati waktu malam. 

Sepeda tersebar di sudut-sudut, ada juga yang sudah terparkir memanfaatkan besi spanduk besar. Tidak sedikit sepeda dibawa hingga di samping warung-warung yang konsep bangunannya mirip Rumah Hobbit. Kami di sini memesan teh panas dan gorengan. 
Warung-warung di Puncak Sosok
Warung-warung di Puncak Sosok
Harga minuman masih terjangkau. Tentu ini menarik bagi pesepeda yang ingin berkunjung. Di tempat seperti ini, harga minuman ataupun makanan memang cukup diperhitungkan. Ketika harga dalam tarif wajar, banyak yang datang membeli. 

Pagi ini belum semua warung buka. Bahkan kedai kopi yang di sinipun masih tutup. Pesepeda belum begitu ramai. Rata-rata mereka memesan minuman hangat atauoun menikmati makanan instan seperti Pop Mie. Kami berlima melepas lelah sembari mengagendakan waktu mendatang. 

Idealnya, mengunjungi Puncak Sosok itu pada waktu sore hari. Konon pemandangannya indah karena menghadap sisi utara dan barat. Terbenamnya baskara menjadi momen yang menyenangkan untuk sebagian besar wisatawan. 

Aktivitas bersepeda menjadikan kami berkunjung pada pagi hari. Panorama alam tak kalah bagus saat pagi. Menjulang tinggi Gunung Merapi menarik diabadikan menggunakan sepeda. Andar meminta untuk diabadikan di sudut ini dengan latar belakang gunung. 
Spot foto di Puncak Sosok berlatarkan Gunung Merapi
Spot foto di Puncak Sosok berlatarkan Gunung Merapi
Rupanya, spot ini memang menjadi tempat berfoto para pesepeda. Selama aku bersantai, sudah banyak pesepeda yang menjadikan spot yang sama untuk berfoto. Selepas mereka berfoto, waktunya menuju warung untuk menikmati minuman dan kudapan. 

Aku menjejalah sudut area Puncak Sosok. Tidak hanya pesepeda, mulai ada rombongan yang datang menggunakan kendaraan lainnya. Enam muda-mudi sibuk foto bersama, sepertinya mereka menggunakan mobil. 

Bentangan alam menarik mataku untuk mengabadikannya. Dua sangkar burung merpati menjadi objek foto. Burung-burung ini cukup jinak. Ketika aku mendekat dan memotret, mereka tidak merasa terganggu. Hanya mengepakkan sayap, dan tetap bertengger santai. 

Selain rumah-rumah warga, pemandangan yang mencolok adalah bukit putih di bawah sana. Perbukitan tersebut bukanlah tanah tandus. Tampak sekali kontras dengan sekelilingnya yang hijau. Itu adalah gunungan sampah di TPS Piyungan. 
Burung merpati di sekitaran Puncak Sosok
Burung merpati di sekitaran Puncak Sosok
Tiga alat berat menggerus gunungan sampah. Hilir mudik truk sampah melintas. Puluhan hewan ternak mengais makanan di gunungan sampah. Aku terus mengamati kesibukan di bawah. Tempat tersebut sangat vital di Jogja. 

Seorang pesepeda mendekatiku, bertanya rute naikku ke Puncak Sosok. Aku menginformasikan melintasi pintu utama. Beliau mangut-mangut sembari menyeka keringat. Katanya, rute yang kami lintasi kurang menantang tanjakannya. Rute jalur pulang lebih cepat tapi tanjakannya lebih tinggi. 

Beliau berujar jika tidak turun di tanjakan tajam tersebut. Aku ganti tersenyum, obrolan kami berhenti saat kujawab bersepedaku hanya ingin bersantai. Bukan untuk mengikuti ego menjajal tanjakan lebih berat dan sejauh mana kekuatan kita. 

“Kalau kurasa tidak kuat ya kutuntun, pak. Toh yang penting saya menikmati perjalanannya,” Balasku. 

Kesanku tentang Puncak Sosok ini cukup bagus. Sudah tersedia toilet, warung terkonsep dengan baik, harga tidak mahal, serta peran serta Pokdarwis setempat menjadikan tempat ini lebih terjaga. Rute yang dilintasi juga menarik untuk mereka yang suka jalur ada tanjakannya. 
Aktivitas di TPS Piyungan
Aktivitas di TPS Piyungan
Lima tahun yang lalu, sekitaran jalur ini tidak asing bagiku. Aku pernah melintasi sekitaran sini waktu menuju DAM Walikukun, ataupun saat dulu mengunjungi Puncak Bucu. Meski jalurnya bukan jalan ini, setidaknya melintasi rute yang mirip. 

Jalur turun dari Puncak Sosok berbeda dengan jalur naik. Jalur inilah yang tadi diutarakan bapak pesepeda. Jalanan memang lebih curam, sehingga bagi pesepeda yang turun harus berhati-hati, terlebih kala selepas hujan. Jika dirasa takut turunan, lebih baik dituntun. 

Cukup sudah mengunjungi Puncak Sosok. Kami melanjutkan perjalanan pulang. Lalu mencari sarapan di sekitaran Pleret. Sarapan kami kali ini adalah Sate Kambing Pak BG. Satu rencana bersepeda sudah terealisasikan, tinggal mengagendakan bersepeda ke destinasi yang lainnya di Jogja. *Puncak Sosok; 02 Januari 2021.

12 komentar:

  1. Bagus tuh foto dengan latar belakang Gunung Merapi :) Ini kalo gowes rame2 atau sama pasangan berasa romantis ya. Jalanan berkelok di Puncak Sosok Bawuran trus jajan di tempat lucu kayak rumah The Hobbit, pengalaman yang mengasyikkan deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kegabutan anak gowes ya begini, mbak. Cari jalur buat gowes sekaligus nyari sarapan hahahahah

      Hapus
    2. Pop Mie menurut aku isinya irit jadi ga kenyang hahaha :) Kalo mau ya Indomiean telor bakso, sawi, rawit orens hihihihi tuh baru nendang :D Minumnya enakan milo dingin mas atau susu jahe :D Duh jadi kepengen ikutan gowes juga, tapi aku bagian pompom aja ya wkwkwkwkwwk :D

      Hapus
    3. Nah indomie memang godaan ahahhaha. Kalau saya gowes biasanya cari tempat seperti ini buat ngeteh. Abis itu nyari sarapan yang lain

      Hapus
  2. Aku menunggu tulisan saya kambing pak BG hahahhaah.

    Bener mas, kan yg ptg menikmati perjalanan, bukan nyari tanjakan paling terjal hihihi.. tanjakan segitu aja aku yakin bakal semaput, apalagi LBH terjal :p.

    Waah bisa kliatan TPS yaa dr atas.

    Tapi pemandangan hijau2nya aku suka banget. Setidaknya udh capek gitu, ngeliat ijo royo2 gini ya pasti lgs seger :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan kambing pak BG nanti postingnya di blog mengimla hahahahahha
      Tanjakannya asyik kok buat latihan fisik. Yap, TPS sudah mirip bukit

      Hapus
  3. Ya ampun mas, aku bacanya udah ngos-ngosan duluan.
    Aku pernah ke Puncak Sosok sekitar setahun lalu naik motor sore-sore. Rute nanjaknya biking tahan nafas, padahal aku mbonceng sepeda motor. Lah yang sepedaan. luar biasa kaliannnn.
    Iya kalo sore pemandangannya cakep. Lampu-lampu dari pemukiman mulai menyala dan waktu itu cuaca cerah. Menyenangkan.
    Yang kurang menyenangkan emang lihat TPS itu pas matahari masih ada. Trus lihat hewan ternak makan sampah. Duh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk ketinggian sebenarnya masih aman sih mbak. Memang ada tanjakan yg agak tinggi menjelang lokasi heeeee

      Hapus
  4. Sering liat puncak ini di Instagram, mas. Daya tariknya ternyata karena menghadap ke utara ya, jadi dapet view Gunung Merapi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Geser dikit kena tumpukan sampah, mas. Memang pas banget sih menghadap ke Merapi.

      Hapus
  5. Bagus ya mas pemandanganya, apalagi backgroundnya gunung merapi secantik itu, tapi waktu truk sampah hilir mudik itu aromanya sedap nggak mas?

    Aku kalau ke kantor kadang lewat jalan terobosan, disana ada pembuangn sampah, ga gitu luas, truknya banyak dan aromanya sedepppp banget mas, apalagi kalau kena macet disitu, mantep.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, benar juga mbak. Geser dikit bagus, dan geser lagi ada tempat pembuangan sampah.

      Hapus

Pages