Talang Bowong, Jembatan Penghubung Menjadi Spot Foto Pesepeda di Jogja - Nasirullah Sitam

Talang Bowong, Jembatan Penghubung Menjadi Spot Foto Pesepeda di Jogja

Share This
Berfoto di Jembatan Talang Bowong Kalibawang
Berfoto di Jembatan Talang Bowong Kalibawang
Silih berganti pesepeda berpose di depan pondasi hitam bertuliskan Talang Bowong. Semacam tradisi para pesepeda yang datang di sana. Tanah lapang dengan latar belakang tulisan lokasi dijadikan spot foto. Aku pun melakukan hal yang sama.

Jalur menuju Talang Bowong sudah pernah kulintasi bersama Ardian dan Yugo saat kulineran di Sate Mbah Margo Nanggulan. Waktu itu, kami tidak sempat berfoto. Berhenti sebentar, lantas melanjutkan perjalanan melintasi jalan Degan.

Kali ini destinasi tersebut kami jadikan tujuan. Sepanjang diskusi kemarin, pilihan adalah rute yang datar dan mencari teh hangat. Di Jogja, rute datar itu identik menuju barat, sekitaran Nanggulan. Tanpa harus melintasi perbukitan Menoreh.

Kuambil pisang rebus dan melahapnya. Suasana pagi di sekitaran Terminal Jombor ramai. Pesepeda yang dominan menggunakan roadbike menjadikan tempat ini sebagai titik kumpul. Aku dan Ardian menyesap minuman hangat sembari menunggu Yugo.

Pukul 06.45 WIB, kami mulai berangkat. Langit mendung, suasana sejuk masih terasa. Sepanjang jalan utama agak menyempit, galian tepian jalan membuat kami harus lebih fokus. Lambat laun keriuhan pengguna jalan mulai sepi. Kami sampai di sekitaran Kalibawang.

Sepanjang jalan pemandangan berganti hamparan sawah. Sisi kanan selokan mataram, jalur ini dikenal dengan sebutan “Jalur Luna Maya”. Karena rute ini pernah dilintasi beberapa artis termasuk Luna Maya. Penyematan nama seperti ini memantik pesepeda ingin melintasi karena ramai di yang melintas.
Menyusuri Selokan Mataran yang dikenal dengan Jalur Luna Maya
Menyusuri Selokan Mataran yang dikenal dengan Jalur Luna Maya
Jalur Luna Maya memang menarik disusuri para pecinta sepeda. Jalan halus dengan pemandangan sawah dan aliran air. Tidak ada tanjakan tajam, sehingga semua sepeda bisa melintas di sini dengan aman. Hanya di salah satu titik sempat ada jalan hancur sekitar 50 meter.

Tiga sepeda melaju kencang, berkali-kali kami menyalip pesepeda yang searah. Ataupun sibuk menyapa balasan pesepeda lawan arah. Matahari mulai menampakkan diri. Sinar matahari menjadikan kulit lebih hangat.

Jembatan penghubung Talang Bowong berlokasi di Jalan Raya Dusun Klepu, Banjararum, Kulon Progo. Warna cat jembatan biru, kontras dengan pagar pembatas jalan berwarna kuning. Sesampai di jembatan Talang Bowong, kami berhenti sesaat melepas lelah.

Sepasang pesepeda hampir bersamaan sampainya di lokasi. Mereka langsung mengabadikan diri di tulisan Talang Bowong. Dua temanku menepi sambil melepas lelah. Kami semacam antre terselubung. Tatkala sepi, bergegas kami mengambil foto.

Jembatan Talang Bowong tak panjang. Di bawahnya aliran air mengalir tenang. Mungkin di musim penghujan, air di bawah lebih melimpah. Anak tangga curam sudah ada di beberapa sisi. Pun dengan jalur setapak yang dibuat warga setempat.
Jembatan Talang Bowong menjadi spot foto pesepeda di Jogja
Jembatan Talang Bowong menjadi spot foto pesepeda di Jogja
Pembangunan jembatan Talang Bowong selesai di akhir tahun 2019. Entahlah, bagaimana bisa tempat yang semestinya bias aini menjadi spot familiar tujuan pesepeda. Terkadang memang bukan tujuan utama, hanya dijadikan jalur lintasan.

Petakan kecil ladang warga ditanami singkong. Barisan tanah di dekat aliran air pun berjejer pohon pisang. Warga setempat memanfaatkan petakan sawah untuk menanam palawija. Aku sedari tadi melihat pemandangan sekitar, memperhatikan apa saja yang menarik mata untuk melihatnya.

Hari ini lumayan banyak yang bersepeda menyusuri Selokan Mataram. Sebagian besar dari mereka menyempatkan diri berfoto di tulisan Talang Bowong. Giliranku tiba. Aku meminta Ardian memotret. Sebelumnya, dia dan Yugo sudah terlebih dulu berfoto.

Seiringnya jembatan Talang Bowong menjadi persinggahan para pesepeda, di tepian jalan mulai berdiri warung-warung milik warga setempat. Bangunan sederhana ini menjadi penopang perekonomian mereka yang berjualan.

Di dekat tempat berfoto ada lima warung yang sejajar meski tidak berdekatan. Satu warung malah sedang dalam tahap pembangunan. Warung di sini buka bangunan permanen. Hanya bermodalkan penyanggah bambu dan atap terpal.
Ikut berfoto di Jembatan Talang Bowong
Ikut berfoto di Jembatan Talang Bowong
Tidak ada bangunan bata, semuanya dibuat seadanya oleh masyarakat setempat. Total warung yang ada di sekitar Jembatan Talang Bowong berjumlah enam. Satu warung yang bangunannya ada atap berada di sisi berbeda.

Masyarakat setempat jeli mengambil peluang. Meski hanya dijadikan persinggahan sesaat, nyatanya banyak pesepeda yang singgah di warung untuk sekadar mengeteh atau mengemil gorengan. Menu yang disajikan pun biasa.

Keberadaan warung ini mulai saat pandemi. Berawal dari satu warga yang membuka warung, lantas warga lain ikutan. Dua warung awalnya berdekatan, kemudian satunya pindah ke sisi yang lain. Lantas sekarang bermunculan warung lainnya.

Aku menghampiri salah satu warung yang mulai sepi. Kami bertiga memang mencari tempat agak berjauhan dengan rombongan yang lain. Nyatanya, warung yang kami singgahi ini merupakan warung pertama dibangun. Sembari menikmati pisang, aku berbincang dengan pemiliknya.

Warung ini berada di tepian jalan, belakangnya aliran air lumayan deras. Tiap warung sudah menyediakan parkir khusus sepeda, meski terbuat dari bambu. Menurutku, parkir dari bambu harus sering dirawat agar ketahuan jika bambu mulai lapuk.
Jejeran warung di sekitar Jembatan Talang Bowong
Jejeran warung di sekitar Jembatan Talang Bowong
Berbagai menu tersaji, mataku melirik nasi bungkus dan bakmi. Dua makanan yang dibungkus dengan kertas kubuka. Percayalah, dua menu kujadikan satu tempat. Porsinya besar, tetap saja kuhabiskan. Belum lagi gorengan menggoda.

Pemilik warung tidak seharian di sini. Ketika dirasa sudah sepi, mereka tutup lapak. Kemudian kembali membukanya menjelang sore. Targetnya memang para pengunjung Talang Bowong, lebih banyak lagi pesepeda. Tiap akhir pekan, pengunjung warung di sini melejit. Kontras dengan hari-hari biasa.

Adanya bangunan warung tentunya sudah berkoordinasi dengan desa. Pemilik warung di sini membayar iuran untuk kebersihan dan keperluan yang lainnya. Setiap minggu bayarnya dua kali, pada saat pasaran kalender Jawa Legi dan Pahing.

Biasanya ada petugas yang mendatangi warung pada pasaran kalender Jawa tersebut. Iurannya sebesar 2000 rupiah. Terkadang petugas tidak rutin mengambil, jadi pemilik warung mencatat dan memberikan secara akumulasi ketika petugasnya datang.

Teh tawar yang kuseduh sudah habis, aku kembali memesan teh yang sama. Bapak dan ibu pemilik warung tidak boleh membayar, beliau berujar kalau nambah air teh itu tidak bayar. Kami semua tertawa, kuucapkan terima kasih.

Hidangan di meja silih berganti pindah tempat. Dari atas meja menuju perut. Dua jeruk libas, pun dengan pisang, serta makanan yang lainnya. Waktunya pulang, kami mendata makanan yang sudah habis. Lantas membayarnya.

Aku, Ardian, dan Yugo sering bersepeda bareng. Jika makan seperti ini, kami silih berganti membayar. Kadang patungan, ataupun salah satu di antara kami membayarnya. Bahkan terbesit ide menabung sisa kembalian tiap selepas gowes untuk di waktu mendatang.
Parkir sepeda terbuat dari bambu
Parkir sepeda terbuat dari bambu
Perjalanan pulang tidak melintasi jalur yang sama. Kami terus menyusuri selokan mataram. Jalur ini sebenarnya sampai di Patung Sapi Nanggulan. Melewati rute hamparan sawah yang dulu sempat kupotret beberapa tahun yang lalu.

Sebelum sampai di patung Sapi, kami menuruni jalan kecil melintas jalanan yang membelah pematang sawah. Jalan ini menjadi salah satu ikon Nanggulan. Hamparan sawah menghijau bagus diabadikan, terlebih para pesepeda.

Jauh di sana, tersebar warung maupun kedai yang menarik para pengunjung dan wisatawan lokal. Mulai dari Geblek Pari, Kopi Ampirono, Kopi Ingkar Janji, Geblek Menoreh View, dan masih banyak kedai-kedai yang lainnya.

Salah satu jalur pematang sawah yang ramai dikunjungi adalah Pronosutan. Tiap bulan Agustus, jalanan tersebut dipenuhi deretan bendera Merah Putih. Pun dengan saat kami melintas, deretan bendera sudah terpasang rapi.

Sedikit yang menggelitik pikiranku, tepat di dekat deretan bendera, sepertinya ada tambahan bangunan. Entah membangun kedai atau tempat semacam swafoto. Waktu kami melintas, beberapa orang bangunan sibuk mengecor di sekitaran petakan sawah.
Melanjutkan foto di spot Pronosutan Kulonprogo
Melanjutkan foto di spot Pronosutan Kulonprogo
Melihat progresnya, bisa jadi tempat ini dijadikan destinasi wisata buatan. Meniru tempat-tempat yang sudah ada di daerah lain. Pikiranku malah melayang tempat yang tidak jauh dari Candi Borobudur. Lahan sawah yang dikonsep menjadi area destinasi wisata.

Hamparan sawah memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal, tapi jika semua petakan sawah dijadikan destinasi, tentu ini menjadikan petakan sawah tergerus sepetak demi sepetak. Hal yang pastinya harus dikaji lebih dalam.

Jauh sebelum ini, di Bantul dulu sempat viral jembatan yang melintang di tengah-tengah sawah. Kini, kita tidak tahu lagi bagaimana keberadaannya. Pembangunan masih di petakan sawah untuk destinasi wisata ini harus benar-benar dikaji lebih dulu. Agar tak semua tampak latah.

Aku hanya melihat sesaat, lantas kami pulang. Bukan tugasku untuk mendebat pembangunan yang masif. Hanya saja, jika harus memilih, tentu hamparan sawah, aktivitas menanam padi, burung-burung beterbangan itu jauh lebih menarik bagi wisatawan dibanding tempat swafoto. *Kulon Progo, Sabtu; 14 Agustus 2021.

8 komentar:

  1. target konsumennya memang para pesepeda ya
    sampai ada parkiran khusus sepeda dari bambu
    manteep

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, menggaet pesepeda pagi tentu lebih potensi daripada yang lainnya di warung kecil seperti ini

      Hapus
  2. Hahaha...lucu juga ya ada jalur Luna Maya :) Hebat juag dia pernah melewati jalanan itu wkwkwkw :) Ini sepiiii ya mas sepedaan di Kulon Progo. Fotoan di Jembatan Talang Bowong kayaknya istimewa. Kuat banget fisiknya mas sampai jauh begini. Lihat pemandangan sawah dengan bendera2, rasanya bahagia ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh, jalur ini menjadi rute favorit bagi pesepeda luar Jogja buat dilintasi. Jadi pas akhir pekan sekarang ruame

      Hapus
  3. Setuju mas, akupun lebih milih liat view sawah yg masih alami drpd tempat swafoto -_- .

    Dari dulu memang ga prnah tertarik ama temoat2 yg banyak diincer orang hanya Krn spot fotonya banyak dan bagus. Mungkin Krn aku memang ga suka berfoto juga 😅.

    Jalurnya aku suka tapi, apalagi melewati selokan bersih begitu. Tapi mungkin aku ga bakal nyebut itu selokan sih, melainkan kali kecil 🤣. Soalnya Krn lama di Aceh, selokan itu cendrung untuk got yang airnya juga ga banyak 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keinginan orang berbeda-beda, dan sekarang tempat seperti itu benar-benar menjamur. Bikin kita lupa kalau pada dasarnya orang ingin tampilan alami

      Hapus
  4. Soalnya habis sepedaan memang nikmat ngemil sambil ngeteh/ngopi mas :D

    Iya, aku juga gak suka dengan penambahan elemen artifisial di tempat-tempat alami. Daripada begitu, mending pengelolanya iuran buat perawatan tempat atau nyumbang armada bus umum buat wisatawan asing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenyataannya, setelah kita dulu lebih banyak orang yang memamerkan visual spot di alam, sekarang benar-benar terasa kalau itu malah membuat kurang baik. Semoga semua sadar

      Hapus

Pages