Kulineran di Mbulak Umpeng Daraman Piyungan - Nasirullah Sitam

Kulineran di Mbulak Umpeng Daraman Piyungan

Share This
Pesepeda yang mengunjungi Mbulak Umpeng
Pesepeda yang mengunjungi Mbulak Umpeng
Pesepeda mulai berdatangan, mereka mencari tempat yang kosong untuk bersantai di antara gazebo. Pagi ini, Mbulak Umpeng Daraman sudah dikunjungi masyarakat lokal yang rata-rata menggunakan sepeda. Mereka menjadikan Mbulak Umpeng ini sebagai tujuan bersepeda.

Semalam aku sudah mempelajari rute menuju Mbulak Umpeng. Patokanku adalah jalan menuju Candi Abang, nantinya tinggal melintas hingga tembus jalan Prambanan – Piyungan. Dari sana aku mulai mengayuh pedal pelan, sesekali melihat gawai.

Tiba di perempatan, sepeda kubelokkan kiri. Kembali lagi aku melaju pelan. Menurut informasi dari gawai, lokasinya tidak jauh dari sini. Di salah satu pertigaan kecil, tampak plang petunjuk arah menuju Mbulak Umpeng Daraman. Kupastikan jalur ini benar.

Meski yakin dengan jalan yang kulintasi, tetap saja belum ada tanda-tanda tempat ini tampak. Rumah-rumah warga ada di tiap sisi jalan, hingga pada satu jalan tampak area persawahan. Seingatku, diunggahan linimasa, lokasi destinasi ini berada di area persawahan.

Melintasi jalan kampung, di belakangnya petakan kolam ikan, tampaklah keramaian. Barisan bangunan terbuat dari bambu beratapkan anyaman daun kelapa. Keramaian pesepeda tampak, gapura penanda lokasi Mbulak Umpeng menyapa para pengunjung.

Berbagai plang mengarah di penjuru mata angin. Terlihat tiap anak panah menginformasikan destinasi wisata terdekat. Seperti candi Abang ataupun rumah Dome Teletubbies. Jika dilihat seksama, di sekitaran Mbulak Umpeng itu ada banyak destinasi yang jaraknya kurang dari 5 kilometer.
Bertemu pesepeda saat pagi hari
Bertemu pesepeda saat pagi hari
Awalnya kukira Mbulak Umpeng ini lebih besar dibanding Mbulak Wilkel. Nyatanya tidak sepenuhnya benar. Lokasi malah lebih kecil. Secara sekilas, keduanya mempunyai kemiripan. Sama-sama membuat konsep warung terpusat dengan berbagai kuliner yang disajikan.

Mbulak Umpeng Daraman sudah ada sekitar bulan maret atau april 2021. Dari keterangan masyarakat setempat, tempat ini sudah ada sebelum Ramadan. Secara spesifik aku tidak bertanya. Aku berhenti sesaat, mengambil gambar, lantas duduk santai.

Jalanan di sini terbuat dari semen cor. Bisa jadi jalanan tersebut merupakan hasil dari program padat karya pemerintah. Menariknya, tulisan Mbulak Umpeng sendiri ada di ujung jalan satunya. Bahkan terlihat juga tulisan perusahaan yang ikut memberi donatur terpampang.

Pukul 07.15 WIB sudah lumayan pengunjung di Mbulak Umpeng. Setidaknya, sudah ada lalu-lalang pesepeda ataupun mereka yang duduk santai di tiap bangunannya. Jalan ini menjadi akses bagi masyarakat setempat. Kulihat, sesekali bapak-ibu petani melintas.

Pemandangan dari sini merupakan hamparan sawah. Jauh di sana, perbukitan sekitaran Nglanggeran. Aku bisa melihat deretan tower pemancar televisi. Mbulak Umpeng lahannya kurang luas, ini menurutku. Tapi konsepnya sudah bagus.
Penduduk setempat melintas menaiki sepeda
Penduduk setempat melintas menaiki sepeda
Kulintasi jalan cor, sisi kanan warung dan tempat nongkrong, sisi kiri hamparan sawah dan tempat duduk permanen kecil yang tersebar. Tak ketinggalan spot foto berupa penyanggah-penyanggah pintu tanpa penutup. Spot ini menjadi favorit para pesepeda untuk diabadikan selain di tulisan besar Mbulak Umpeng.

Salah satu yang kusoroti adalah area parkir sepeda. Tidak luas, penyanggah sepeda yang terbuat dari bambu ini sepertinya hanya cukup untuk empat sepeda saja. Penyanggah bambunya sudah disemen bagian bawah. Mungkin agar bisa awet, lebih baik menggunakan besi.

Sebagian besar pengunjung yang membawa sepeda meletakkan sepedanya di tepian jalan agar tidak mengganggu pengguna jalan. Aku sendiri memarkir di dekat area parkir tanpa menguncinya, lantas kembali melihat menu yang ada di warung.

Kotak sumbangan sukarela terpasang di dekat parkir sepeda dan di depan warung. Setidaknya, tujuan adanya penarikan sukarela ini untuk memperbaiki berbagai fasilitas di Mbulak Umpeng. Jika tidak keberatan, kita bisa memasukkan lembaran uang untuk menyokong.
Area parkir Mbulak Umpeng yang terbatas
Area parkir Mbulak Umpeng yang terbatas
Desain warung-warung di sini sudah tertata rapi. Landmark tulisan Mbulak Umpeng, bangunan pertama adalah tempat duduk pengunjung. Lantas dua warung dalam satu bangunan. Setelah itu berjejer bangunan untuk pengunjung lagi.

Paling ujung merupakan bangunan panjang, stand warung paling banyak di sini. Bahkan ada juga kedai kopi. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau. Berbeda halnya dengan kopi-kopi di tengah kota yang biasanya jauh lebih mahal.

Jika tidak salah menghitung, sementara ini ada tujuh stand warung yang menjual kuliner. Berbagai jajanan pasar dan makanan-makanan tradisional tersaji. Jika ingin sarapan, ada nasi jagung di warung pojok, di sampingnya juga ada soto batok.

Kuliner tradisional lainnya juga tersedia, minimal yang paling banyak adalah jajanan pasar. Aku sendiri menuju dua warung yang menyediakan gorengan. Kuambil beberapa potong pisang goreng dan memesan teh tawar hangat. Minuman favorit setiap di warung.
Warung-warung milik warga di Mbulak Umpeng
Warung-warung milik warga di Mbulak Umpeng
Seperti yang kubilang di awal, tempat duduk di sini tidak banyak. Aku mencari tempat yang sekiranya kosong. Kursi-kursi permanen kulirik. Beruntung pengunjung belum begitu ramai, sehingga ada tempat yang masih kosong.

Di dekat warung kopi, ada tulisan sedia sewa tikar. Sewaktu aku memesan kopi, pemilik kedai kopi bercerita kalau sore pengunjung juga ramai. Mereka bersantai sambil melihat matahari terbenam, meski tak sepenuhnya tampak.

Beruntung aku ke sini saat musim tanam padi. Petakan sawah mulai menghijau, para petani setempat sedang menanam padi. Mereka tidak terganggu keramaian pengunjung Mbulak Umpeng. Bisa jadi, kegiatan menanam padi ini menarik bagi sebagian orang.

Hari makin siang, teh tawar dan pisang goreng sudah berganti dengan secangkir kopi. Aku sendiri sibuk berbincang dengan pemilik kedai kopi. Kami bercerita seputaran kopi, topik yang sedikit kupahami karena beberapa kali mengulas kedai kopi.
Melihat ibu-ibu petani menanam padi
Melihat ibu-ibu petani menanam padi
Di belakang kedai, tampak tiga orang sedang membuat empang. Konon nantinya empang tersebut tempat budidaya ikan bawal atau nila. Obrolan sempat terjeda sewaktu pemilik kedai membuatkan kopi untuk pesepeda.

Menurutku, Mbulak Umpeng Daraman ini mirip konsepnya dengan Mbulak Wilkel. Sama-sama membuat tempat jajanan terpusat dengan gubuk-gubuk dan spot foto sebagai daya tarik pesepeda. Konsep seperti ini bisa menggerakan perekonomian masyarakat setempat.

Semoga saja Mbulak Umpeng tetap bertahan dan bisa menjadi lebih baik. Sepengetahuanku, di banyak tempat mulai merintis usaha yang sama. Tentu harus ada strategi agar pengunjung tak menghilang. Mempertahankan itu memang jauh lebih penuh tantangannya.

Awalnya, aku hanya ingin mengeteh sebentar lantas melanjutkan perjalanan ke destinasi terdekat. Tetapi obrolan dengan pemilik kedai kopi mengubah rencanaku. Sampai akhirnya aku pamitan, memutuskan langsung pulang.
Kudapan dan minuman kala pagi di Mbulak Umpeng
Kudapan dan minuman kala pagi di Mbulak Umpeng
Selain area parkir kurang luas, mungkin semua pihak termasuk pengunjung harus peka dengan sampah. Kita bersama-sama membuang sampah pada tempatnya, sehingga tidak hanya mengandalkan pengelola atau pemilik warung untuk membersihan.

Tuntas semua minuman, aku kembali mengambil sepeda. Kulihat silih berganti orang datang dan pergi. Beberapa pesepeda cukup familiar wajahnya di media sosial. Aku memotret sepeda, lantas mengayuh. Melintasi jalur yang sama ketika berangkat tanpa melihat gawai. Pada akhirnya, jalurnya tampak berbeda. Jangan-jangan salah jalan.

Catatan: Penulis berkunjung pada hari Sabtu, 21 Agustus 2021. Kemungkinan besar sudah ada perbaikan di berbagai fasilitas atau yang lainnya saat ini. Terima kasih.

10 komentar:

  1. Orang Jogja karakternya mirip dengan orang Bali, kreatif. Memanfaatkan setiap sudut yang cantik untuk menarik wisatawan. Mbulak Umpeng ini cantik. Dengan deretan warung-warung menghadap sawah itu, duduk santai melepas lelah yang udaranya sejuk datang dari tempat terbuka. Phantasia para pesepeda betah mampir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurutku lebih asyik seperti ini dibanding banyak spot ala-ala yang malah menurutku kurang pas heeee

      Hapus
  2. iya dilihat lihat mirip mbulak wilkel ya
    target nya para pesepeda ya, sampe ada parkiran sepeda nya
    mantep lurrr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, pesepeda di Jogja itu salah satu pangsa paling besar

      Hapus
  3. Semoga semakin banyak pesepeda yang berkunjung ke Mbulak Umpeng ya mas, biar yg jualan juga makin rame.

    Minum teh + gorengan sambil memandangi hijaunya sawah emang nikmat lagi, apalagi buat aku yg tiap hari melihat macet jalanan ibukota, kangen suasana persawahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika sedang gabut, memang enaknya seperti ini, mbak. Bersantai sambil menikmati waktu

      Hapus
  4. Wah, iki esuk-esuk disambi mendoan karo teh anget nasgithel, jelas kemepyar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wes kemringet ngepit, lanjut ngeteh. Lali utang, dab

      Hapus
  5. Aku suka lihat suasana seperti ini. Warga mulai peduli dan semangat untuk mengembangkan segala potensi dari desa atau tempat dia tinggal. Tentu saja hal ini akan berimbas pada aktivitas dan perekonomian warga. Harapannya bisa berjalan berkesinambungan dan konsisten.

    Pengunjung juga mendapatkan destinasi dan pengalaman baru di tempat yang mereka kinjungi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, konsep seperti ini lebih baik daripada membuat sopt foto yang malah kurang tepat hahahaha. Ngeteh dan gorengan di sini, jos tenan

      Hapus

Pages