Mengenalkan Warisan Budaya dengan Sentuhan Modern di Museum Sonobudoyo - Nasirullah Sitam

Mengenalkan Warisan Budaya dengan Sentuhan Modern di Museum Sonobudoyo

Share This
Museum Sonobudoyo Jogja
Museum Sonobudoyo Jogja
Museum Sonobudoyo adalah tempat yang tepat untuk belajar dan memahami budaya Jawa. Dengan wajah barunya yang modern dan interaktif, museum ini menjadi destinasi wisata budaya yang wajib dikunjungi oleh semua orang. Khususnya anak-anak.

Turun dari halte Transjogja depan benteng Vredeburg, kami berdua menyeberang ke arah museum Sonobudoyo. Di sepanjang trotoar sudah banyak rombongan anak sekolah yang melakukan studi tour. Mereka biasanya berjalan kaki menuju kraton.

Kami berdua berbelok mendekati arah museum Sonobudoyo. Tampak sekumpulan remaja sedang asyik berfoto menggunakan pakaian Jawa. Di sepanjang Malioboro hingga KM Nol, makin ramai jasa foto dengan kostum kebaya dan sebagainya.

“Tiket dua pak,” ujarku sembari memberikan selembar uang lima puluh ribuan.

Sebelum mengambil kembalian, aku menulis daftar di buku tamu. Kami lantas diarahkan untuk masuk pintu utama gedung museum Sonobudoyo yang lama. Terlihat dua bus heritage Jogja yang kembali beroperasi. Konon, beberapa waktu sebelumnya bus-bus ini sempat berhenti beroperasi.
Melihat berbagai koleksi di gedung lama Museum Sonobudoyo
Melihat berbagai koleksi di gedung lama Museum Sonobudoyo
Di bangunan yang lama, kami melihat berbagai koleksi patung dan peninggalan yang lainnya. Ruangan ini tak luas, dan langsung mengarah ke gedung baru yang ada di unit II. Kami cukup lama di gedung lama, melihat dan membaca keterangan yang sudah ada pada setiap pajangan.

Alur masuk sudah dibuat rapi, melintasi area terbuka yang dimanfaatkan para penyewa kebaya untuk berfoto, kami diarahkan menuju gedung baru. Berbagai tata tertib museum disebutkan. Salah satunya adalah tidak boleh memegang seluruh barang di museum.

“Motret sama merekam boleh?” tanyaku memastikan.

“Boleh kak,” terang salah satu dari empat remaja yang menjaga. Entah mereka ini pegawai museum atau mahasiswa yang sedang magang di museum. Sebagai catatan, kalaupun boleh memotret, tetap diwajibkan tanpa menggunakan lampu flash.

Sebenarnya pertanyaanku tadi hanya untuk memastikan, karena sebelum masuk pintu utama gedung baru, terdapat simbol kamera yang diplang merah. Takutnya, hanya boleh memotret menggunakan kamera ponsel, seperti di beberapa tempat.
Di lantai satu gedung baru Museum Sonobudoyo
Di lantai satu gedung baru Museum Sonobudoyo
Gedung baru museum Sonobudoyo tampilannya lebih modern. Bangunan empat lantai ini dilengkapi dengan lift, ruang pamer temporer dan auditorium. Perpaduan peninggalan benda-benda lama untuk edukasi dengan konsep modern agar lebih menarik.

Di lantai satu, kita langsung diarahkan pada meja perjamuan. Susunan meja makan tertata rapi yang dilengkapi dengan berbagai lampu menarik perhatian. Di momentum ini, lampu mulai bergerak, keindahan visual tersajikan. Pengunjung wajib berjarak lebih dari 1 meter dan ada larangan memegang seluruh benda.

Sementara sisi kiri yang berdekatan dengan tangga naik ruangan atas tertata rapi berbagai benda berkaitan dengan delman, andong, serta sejenisnya. Jika kalian ingin melihat banyak kereta di Jogja, mungkin bisa melanjutkan kunjungan ke museum Kareta yang lokasinya hanya sepelemparan batu dari sini.

Menaiki tangga disambut dengan suara gamelan. Sususan tempat untuk memainkan wayang menjadi ciri tempat ini. Aku memotret pajangan tokoh di pewayangan yang tersemat di tembok. Berbagai informasi tersajikan, termasuk jenis wayangnya.

Di tengah bangunan, terdapat etalase berbentu bulat yang terkurung dalam lingkaran raksasa. Berbagai topeng tertata di tiap sudutnya. Aku hanya melihat dari kejauhan, tempat itu menjadi salah satu spot favorit pengunjung untuk berfoto.
Mengabadikan koleksi di Museum Sonobudoyo
Mengabadikan koleksi di Museum Sonobudoyo
Pajangan senjata pun melengkapi etalase di sisi yang lainnya. Berbagai jenis keris dan senjata lokal ditampilkan. Bahkan termasuk ujung mata tombak. Sekali lagi, setiap tempat yang dipenuhi dengan beda, terdapat papan informasi yang menjelaskan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Kami berjalan pelan, memandang satu demi satu pajangan yang ada di museum Sonobudoyo. Dulu, ketika masih kuliah, aku pernah mengunjungi museum ini, dan didominasi naskah kuno serta peninggalan permainan daerah, memang ada senjata, tapi tampilannya jauh lebih sederhana.

Pada ruangan yang lainnya, berbagai koleksi batik nusantara dalam bingkai. Informasi perbedaan motif pun dijelaskan. Kami menikmati berbagai koleksi di museum Sonobudoyo yang lumayan ramai pengunjungnya. Di sini, kulihat muda-mudi tampaknya asyik menikmati waktu akhir pekan.

Setelah museum Sonobudoyo berbenah, kunjungan ke museum jauh signifikan. Kesan museum yang sepi kini jauh berubah. Anak-anak sekolah menjadikan museum Sonobudoyo sebagai salah satu destinasi tujuan kala liburan. Khususnya anak-anak sekolah di Jogja.
Salah satu inovasi di Museum Sonobudoyo
Salah satu inovasi di Museum Sonobudoyo
Dua ruangan terakhir yang ada di lantai atas merupakan inovasi terbaru museum Sonobudoyo. Keberadaan semacam audio visual ini yang menjadikan makin ramai para siswa berdatangan. Mereka berbondong-bondong ke museum Sonobudoyo ditemani orangtua ataupun guru.

Pintu terbuka secara otomatis, suasana semacam kami berada di dalam studio. Wahana interaksi menjadi pertunjukkan terakhir. Di ruangan ini, tembok menjulang tinggi dengan baluran warna kemerahan, berbagai mural sosok berpadu dengan pengenalan aksara Jawa.

Sementara yang di tengah, layar melengkung menayangkan animasi yang berkaitan dengan Jawa. Aku tidak melihat secara detail, apakah animasi ini merupakan film yang berkaitan dengan aksara Jawa atau tidak. Sekilas memang berkaitan, sayangnya aku tak memperhatikan dengan lebih detail.

“Silakan, kalau berdua masih bisa masuk teater,” terang petugas di museum.

Semacam bioskop di ruangan tertutup tirai sedang berlangsung pertunjukan. Kami berdua masuk, dan berbaur dengan sekumpulan anak sekolah yang berkunjung ke museum. Di sini, anak-anak duduk lesehan santai, melihat pertunjukan yang ada di layar besar.

Petugas dari museum memutarkan film animasi yang menceritakan sejarah Yogyakarya. Bagaimana proses pembentukan kraton, hingga hal-hal yang lainnya. Dikemas dengan lebih ringan agar anak-anak jauh lebih paham. Semacam ini mirip dengan media pembelajaran.
Museum Sonobudoyo dikunjungi keluarga
Museum Sonobudoyo dikunjungi keluarga
Tontonan di layar selesai, kami keluar dan menuju ruangan terakhir. Tak seperti awal yang lumayan sepi, kali ini berbarengan dengan rombongan anak sekolah. Lantai atas pun msih berpadu dengan konsep audio vidual.

Satu tempat terlihat pengunjung sedang antre, sepertinya sebuah permainan Jemparingan yang dikonsep dalam gim daring. Terlihat berapa poin yang didapatkan. Berhubung hanya dua alat, sehingga ramai yang mengantre karena penasaran.

Ruangan sekat sampingnya lebih gelap. Sisi kiriku tanpak semacam miniature Jogja yang dilengkapi dengan video informasi. Pada tempat ini menceritakan tentang sumbu filosofis Jogja. Bagaimana garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Pal, Kraton, Panggung Krapyak, hingga laut selatan.

Di sisi lainnya, sebuah permainan cahaya. Cahaya lampu membentuk pola di lantai, lantas anak-anak tinggal bermain Sunda Manda. Tentu saja keberadaan permainan Sunda Manda yang dibuat secara menarik visual ini menggaet keseruan pengunjung.

Kunjungan ke museum Sonobudoyo udah usai. Kami mengantre lift untuk turun. Dua lift dapat dimanfaatkan pengunjung. Sesampai di bawah, kami menuju pintu keluar. Melintasi sisi lain bangunan museum Sonobudoyo. Lantas memesan ojek daring pulang.

Museum Sonobudoyo menjadi salah satu destinasi menarik bagi anak-anak. Mereka tak hanya dapat belajar tentang budaya khususnya Jawa, tetapi bisa mengetahui banyak hal melalui media yang disuguhkan oleh museum. Benar-benar berkembang lebih baik museum Sonobudoyo Jogja.

Selain museum Sonobudoyo Jogja, sebenarnya masih ada satu museum ataupun arsip yang ingin aku sambangi di lain waktu. Namanya Diorama yang ada di Grhatama Jogja. Meski kenal dengan beberapa pengelolanya, tetapi belum ada waktu untuk menyambanginya. *Sabtu, 27 Januari 2024.

6 komentar:

  1. Wah, sepertinya seru juga ya eksplorasi museum ini. Aku sudah beberapa kali ke Yogya, tapi belum kesampaian kesini. Waktunya masukkan ini ke wishlist destinasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini menurutku yang murah tapi menyenangkan sekali, mas. Bisalah diagendakan

      Hapus
  2. Aku merasa kalau museum sonobudoyo ini mengalami banyak perubahan. Tempatnya jadi sangat nyaman untuk dikunjungi. Bahkan dari pintu depan sudah menarik perhatian. Beda banget ketika ke jogja sekitar tahun 2015. Saat itu terlihat sangat sepi. Beda dengan sekarang yang ramai dengan pengunjung. Museum sonobudoyo memang tempat yang tepat untuk menjaga kebudayaan dan warisan jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bentul, tahun 2015 mungkin masih banyak semacam dolanan anak-anak dan beberapa alat seperti keris dan lainnya. Sekarang jauh lebih bagus

      Hapus
  3. salah satu wishlist, pengen ke Museum Sonobudoyo :D semoga tercapai

    BalasHapus

Pages