Membeli Sarapan Nasi Pecel Madiun di Teras Rumah Simbah-Simbah - Nasirullah Sitam

Membeli Sarapan Nasi Pecel Madiun di Teras Rumah Simbah-Simbah

Share This

Sarapan nasi pecel di Madiun
Sarapan nasi pecel di Madiun
Sebungkus nasi pecel sudah kubuka. Aroma khas bumbu kacang langsung menyeruak. Menggugah selera untuk disantap kala pagi hari. Setengah jam yang lalu, aku mengikuti saudara untuk membeli sarapan nasi pecel khas Madiun dengan harga sangat murah.

Dari stasiun kota Madiun, aku memesan transportasi daring melalui aplikasi menuju desa Purworejo, kecamatan Geger. Di sini, aku menginap di rumah saudara. Sejak berkunjung ke Madiun, salah satu yang menjadi tujuanku adalah sarapan nasi pecel.

Kemarin, ketika aku berbincang dengan kenalan saat naik kereta api BIAS, dia mengatakan bahwa di Madiun, semua nasi pecel pasti enak, dan aku memercayai ucapan tersebut. Setidaknya, semalam aku sudah menikmati santap malam nasi pecel di salah satu arena pasar malam.

Pagi ini, aku diajak keliling desa. Kami berempat sengaja jalan kaki menyusuri jalan-jalan di desa. Tatanan rumah di desa ini mirip dengan perumahan, teratur dan rapi. Selain itu, banyak jalan dan persimpangan. Kami terus berjalan menuju lapangan di dekat jalan agak besar.
Tempat bermain anak di Taman Rekso Wijoyo Madiun
Tempat bermain anak di Taman Rekso Wijoyo Madiun
Sepanjang perjalanan, aku melihat ada banyak warung pecel yang buka. Di ujung jalan terlihat ada stand untuk jualan sayuran. Lokasinya di dekat taman Rekso Wijoyo. Salah satu taman yang ada di desa bersampingan dengan lapangan. Di sini ada beberapa fasilitas bermain untuk anak.

Keponakanku bermain di salah satu wahana permainan anak-anak. Aku sendiri sengaja berjalan menuju ujung lapangan. Terlihat seorang bapak pemilik ladang sedang menyiram palawija di pematang. Di sebelahnya, kebun tebu sedang dipanen.

Jalan kaki keliling area desa Purworejo di Madiun berlanjut. Kami berniat ingin membeli sarapan. Di sini ada banyak warung pecel yang sudah buka. Kami menyambangi salah satu warung jualan nasi pecel yang buka hanya di teras rumah. Tanpa ada tulisan warungnya.

Satu meja berukuran sedang hanya diletakkan di teras rumah. Di atasnya terlihat wadah bumbu kacang, mendoan, serta rempeyek. Simbah tersebut sedang melayani mbak-mbak yang membeli beberapa bungkus nasi pecel. Sepertinya, mbak-mbak ini salah satu pelanggannya.

Tiga bungkus dibawa mbak-mbak yang sedari tadi menunggu. Setelah itu, kami baru dilayani. Pagi ini, kami membeli enam porsi nasi pecel. Di sini, nasi pecel sudah termasuk dengan satu potong mendoan. Aku menambahkan enam potong rempeyek sebagai tambahan.
Simbah-simbah jualan nasi pecel di teras rumah
Simbah-simbah jualan nasi pecel di teras rumah
Simbah yang berjualan melayani dengan cekatan. Helaian daun pisang sebagai pembungkus menambah selera. Sesekali simbah menimpali perbincanganku. Sepertinya, warung simbah ini hanya buka pagi hari. Tentu saja dengan porsi yang terbatas.

Jika melihat tempat jualannya, sepertinya beliau hanya melayani para pembeli yang membungkus. Selama aku di sini, semua yang datang memang membungkus nasi pecelnya. Meski di kampung dan tanpa ada embel-embel warung, nasi pecel simbah ini banyak yang membeli.

“Enam bungkus nasi pecel ya mbah. Sama peyeknya juga enam,” ujar kakak ipar dalam bahasa Jawa halus.

Simbah tersenyum, beliau kembali membungkus nasi pecel lengkap dengan sayurannya. Aroma bumbu kacang semerbak. Sembari menunggu, aku mengambil beberapa video vlog untuk keperluan youtube. Di sini, ada banyak warung nasi pecel dengan harga sangat terjangkau.

Sebelum pesanan kami selesai dibungkus, kembali datang pelanggan tetap yang hendak membungkus tiga nasi pecel. Sepertinya memang pecel simbah ini sudah dikenal dengan harga murah dan citarasa yang otentik.
Membeli nasi pecel di teras rumah simbah
Membeli nasi pecel di teras rumah simbah
“Semuanya 27.000 rupiah,” terang simbah dalam bahasa Jawa halus.

Aku memberikan uang pas dengan sedikit mencerna. Kuulangi lagi pertanyaanku serta menginformasikan dengan peyek. Beliau menerangkan bahwa nominal tersebut sudah termasuk enam peyek yang kami tambahkan. Sebagai orang yang jarang makan pecel dengan harga segitu, aku masih tidak percaya.

Sembari jalan kaki ke rumah kakak ipar, aku kembali menghitung ulang, takutnya simbah tersebut salah hitung. Kakak ipar menjelaskan bahwa di tempat simbah tersebut satu porsi nasi pecel memang seharga 4000 rupiah, ini sudah termasuk dengan mendoan.

Sedangkan untuk peyeknya sendiri 500 rupiah, sehingga totanya 3000 rupiah untuk enam peyek. Jika diakumulasikan dengan jumlah nasi pecel yang kubeli memang benar totalnya 27.000 rupiah. Bagi kita, harga tersebut memang sangat murah, tapi di sini memang hal yang lumrah.
Sarapan nasi pecel murah di Madiun
Sarapan nasi pecel murah di Madiun
Sesampai di rumah, kami langsung sarapan. Porsi nasi pecel simbah tidak banyak, tapi sangat mengenyangkan untuk sarapan pagi ini. Rasa bumbu begitu khas, pedasnya juga pas untuk lidahku. Aku makin percaya bahwa nasi pecel di Madiun semuanya enak.

Sebungkus nasi pecel buatan simbah sudah tandas. Niat hati kulineran di Madiun terpenuhi. Sedari awal, aku memang ingin kuliner nasi pecel, dan nasi pecel rumahan yang dibuatkan simbah ini salah satu terbaik menurutku. Tanpa ada nama warungnya, hanya meja kecil, namun rasanya begitu lezat.

Keliling pagi ini memang hanya ingin menikmati sarapan nasi pecel. Setelah ini, aku berencana keliling di kota Magelang sembari menunggu jadwal kereta ke Solo. Percayalah, Madiun merupakan salah satu kota yang menyenangkan. Aku tidak sabar untuk keliling jalan kaki di Madiun. *Madiun; 06 Juli 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages