Lalu-Lalang Angkutan Umum di Kota Kupang dengan Musik Kencang - Nasirullah Sitam

Lalu-Lalang Angkutan Umum di Kota Kupang dengan Musik Kencang

Share This
Angkot di Kupang
Salah satu pemandangan yang menarik selama di Kupang bukan lanskap pantainya. Tapi lalu-lalang angkutan umum yang hampir tiap menit melintas di ruas jalan kota Kupang. Sejak menginjakkan kaki di Kupang, aku acapkali berjumpa dengan angkutan tersebut.

Keberadaan angkutan umum yang ramai membuatku tertarik untuk mengabadikan. Di beberapa kesempatan, aku menyempatkan memotret angkutan umum yang melintas. Jika di kota-kota besar, angkutan ini disebut dengan angkutan kota, karena kendaraan yang digunakan semacam Carry.

Dari informasi yang kudapatkan di berbagai tulisan ataupun vlog, di Kupang angkutan tersebut dinamakan Bemo. Bemo di sini adalah angkutan itu sendiri, bukan kendaraan roda tiga yang kita ketahui pada umumnya. Menarik memang melihat angkutan di kota Kupang.

Layaknya angkutan umum di kota-kota besar pada umumnya, Bemo di Kupang ditandari dengan angka untuk mengidentifikasi. Tiap angka membedakan trayek tujuan. Jalur-jalur yang dilintasi bemo ada yang jurusan Kuanino, Oepura, Sikumana, dan sebaliknya dari jalur yang sama, yang akan berputar melalui Terminal Kupang sampai ke Oeba.

Contoh rute yang lainnya adalah Kuanino melewati depan Polda NTT, Pasar Inpres, dan Oepura, dengan jalur baliknya melewati Terminal Kupang dan Oeba. Ada juga yang dari Halte Kupang, Kuanino Bawah, Perempatan, Bakunase, dengan jalur baliknya melewati Tedis dan Terminal Kupang serta Oeba.
Salah satu angkot di Kupang melintas di jalan
Salah satu angkot di Kupang melintas di jalan
Selain contoh di atas, masih ada rute-rute yang lainnya. Pun dengan angkutan yang mendapatkan jalur luar lingkar. Rute biasanya menuju Bolok, Tenau, Noelbaki, Penfui, dan Baumata. Bemo-bemo ini diwarnai dengan warna apa saja dan tidak memiliki nomor, tetapi selalu menampilkan tujuan di atas kaca depan dengan huruf blok yang jelas.

Satu kesempatan, ketika aku sedang berkunjung ke Toko Oleh-Oleh Ibu Soekiran, melintas satu angkutan dengan warna putih dengan berbagai tulisan yang ada di samping kendaraan, maupun di bagian depan, serta belakang.

Salah satu tulisan yang sempat terabadikan adalah “Kalau Su Sayang, Jangan Sein Kiri Belok Kanan”. Ada juga tulisan “Jangan Sombong Kawan, Karena Orang Sombong Kemungkinan Diciptakan Dari Tanah Sengketa,”

Tentu saja tulisan-tulisan ini mengingatkan kita pada kalimat yang ada di belakang truk tiap melintasi jalur pantura atau sekitarnya. Tulisan yang yang kadang singkat, padat, serta mengena. Bahkan kadang juga tertulis akronim-akronim yang mengundang tawa.
Tulisan-tulisan yang ada di angkot
Tulisan-tulisan yang ada di angkot
Selama di Kupang, ada kesamaan hampir tiap angkutan yang melintas. Rata-rata angkutan yang melintas itu bodinya penuh dengan tulisan ataupun gambar. Hampir setiap angkutan di sini dipenuhi tulisan-tulisan besar sehingga terbaca dari jauh, ataupun gambar yang mencolok.

Layaknya transportasi idaman semua orang, angkutan di Kupang pun dipenuhi dengan aksesoris yang mencolok. Lampu-lampu dengan berbagai warna, hingga boneka atau apapun dimasukkan. Jika dilihat terasa lebih meriah.

Serta yang paling penting adalah musik kencang. Percayalah, dentuman musik tiap angkutan ini serasa saling bersaing. Bahkan ketika angkutnya belum terlihat, kadang suaranya sudah terdengar terlebih dahulu. Suatu hiburan bagi anak-anak muda kala naik angkut agar tidak bosan.

Pengguna angkutan umum ini masih sangat banyak. Hampir setiap angkutan yang melintas, pasti ada penumpangnya. Di pagi hari, rata-rata yang menaiki adalah anak-anak sekolah. Mereka berbaur dengan penumpang lain dalam satu angkot, dan tentunya diiringi lagu-lagu kencang.

Aku sempat berbincang dengan bapak-bapak di pinggiran jalan. Beliau bercerita bahwa beberapa tahun ini keberadaan angutan umum sudah berkurang. Era tahun 2000an, beliau menceritakan jauh lebih banyak angkutan dengan ciri yang sama.
Para penumpang duduk di angkot
Para penumpang duduk di angkot
“Kalau yang mobil bak terbuka dan ada atapnya itu biasanya tujuan kampung-kampung,” terangnya padaku.

Memang sempat beberapa kali kulihat mobil bak terbuka dengan tutup terpal bagian atas melintas. Pun diiringi musik yang kencang, hanya saja plat nomor kendaraan hitam, layaknya mobil pribadi. Bapak di sampingku bercerita mobil-mobil tersebut menjangkau daerah yang tidak ada rute angkotnya.

Angkutan umum atau Bemo di Kupang yang katanya sudah mulai berkurang saja terlihat ramai, tidak terbayangkan masa-masa melejitnya angkutan umum di sini. Persaingan makin banyak, terlebih masuknya ojek-ojek online.

Meski begitu, keberadaan Bemo di Kupang tak larut oleh waktu. Harapannya penumpang tetap setia, dan armada terus bertahan dengan waktu. Sewaktu aku mengunjungi pantai Tedis, terlihat beberapa angkutan sedang ngetem, dan baru kutahu ternyata terminalnya tak jauh dari sana.

Jika ada kesempatan kembali menyambangi Kupang, aku ingin menjajal naik angkutan umumnya. Menikmati dentuman lagu dengan volume kencang, klakson yang memanjang, dan tentunya rute-rute lintasan yang menyenangkan. Semoga angkutan di Kupang terus berjalan dan bertahan. *Kupang; 09 September 2025.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages