Untung Sariman Bukan Bapak Kos

Lebaran telah berlalu sebulan lalu, teman-teman kos hampir sebagian sudah balik ke Jogja. Hampir semua sudah lengkap, mulai dari Ritonga, Tobing, Pasaribu dan lainnya yang dari Medan sudah balik serambi membawa Buah Pinang. Sementara teman-teman yang dari Lampung dan Palembang bawa Empek-empek. Jangan tanya Sariman ya, dia kemarin nggak mudik dengan berbagai alasan.

Kondisi kos sudah mulai ramai, teman-teman mulai keluyuran entah ke mana. Biasa, abis pulang kampung kan dana masih segar, dompet masih nggak mau ditekuk lantaran uang masih tebal. Pokoknya beberapa minggu ini slogannya “Pantang pulang pagi sebelum dompet menipis”. Siang ini kami berkumpul di kamar Mius. Sepertinya hari ini nggak ada agenda yang membuat teman-teman kos pergi.
Bayar kos yang tertunda
Ilustrasi: Bayar kos yang tertunda (sumber: http://nyunyu.com/)

“Abang mau ke mana?” Tanya Sariman ke Pasaribu.

“Keluar bentar, Man.”

“Hati-hati bang, depan ada cegatan (razia).”

Mendengar info dari Sariman, secepat kilat Pasaribu mengambil helm dan mengecek kelengkapan suratnya.

“Bang, cegatannya bukan polisi loh,” Kata Sariman.

“Lah terus apa?”

“Ibu kos, di depan warung.”

Sontak Pasaribu turun dari motor dan kembali gabung dengan kami di kamar Mius.

“Kok nggak jadi, bang?” Sariman penasaran.

“Katamu di depan ada cegatan, mana berani lewat aku.”

“Kasian bu kos, nggak jadi dapat duit dari abang,” Ujar Sariman polos.

Serambi menikmati kopi dan makanan yang datang dari kampung masing-masing, kami melanjutkan aktifitas di kamar Mius. Hampir semua memceritakan tentang serunya mudik, sementara Sariman hanya bisa menceritakan bagaimana sepinya Jogja saat mudik.

“Ngomong-ngomong tentang kos-kosan. Kalau misalnya abang yang punya kos ini, bakalan abang bangun seperti apa tempat ini?” Tanya Sariman.

“Kalau aku, sudah aku bikin tiga lanti kos ini, Man. Biar mantap,” Jawab Pasaribu mantap.

“Kalau kau, Man?” Tanya dia balik.

“Kalau aku sih nggak seheboh itu, bang. Cukup aku ganti jadi kos-kosan cewek. Jadi biar abang dan yang lain aku usir semua dari sini.”

“Ndiasmu tenan kok, Man!”
Baca cerita yang lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

21 komentar :

  1. hanya itu yang diinginkan sariman :D sariman sariman :D hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sariman, ceritanya tiada akhir Pcopas dari patkai :-D

      Delete
  2. sariman memang inovasi bangett :)

    #save sariman :D

    ReplyDelete
  3. heuheu, sariman kesel karna belum pada bayar kosan.heuheu
    lucu juga tuh si sariman..

    ReplyDelete
  4. hahahaha super simple alesannya. tapi bikin lucu juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin sakit perut kalo ngobrol langsung sama dia :-D

      Delete
  5. haha :D sariman cuman ingin berdekatan dengan wanita kali jadinya dia bikin kayak gitu :D
    hadeeuh, sariman sariman :D

    ReplyDelete
  6. ahahahah, awas diusir beneran nanti XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sante, mas. Bu kos aman terkendali selama kita tersenyum sama beliau :-D

      Delete
  7. Replies
    1. Ingat, jangan ditiru yang terakhir ya :-D

      Delete