Napak Tilas di Museum Sudirman, Magelang

“Satu-satunya hak milik nasional republik yang masih tetap utuh tidak boleh berobah-obah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perobahan, adalah hanya angkatan perang republik Indonesia – Amanat Panglima Besar Jend. Sudirman”

Sebuah tulisan dalam pigura terpampang jelas pada satu ruangan di Museum Jenderal Sudirman yang terletak di Magelang. Bangunan rumah kecil yang berpagar dan tembok berwarna cat hijau, serta beralamatkan di Jl. Ade Erma Suryani c.7, Magelang ini adalah Museum Jenderal Sudirman. Rombongan kami di Magelang mengunjungi museum ini sebagai agenda terakhir Fam Trip Jateng Juni 2015 sebelum balik ke Semarang. Sebuah papan palang berwarna putih nan kusam berdiri dibalik pagar dan bertuliskan “ Museum Sudirman” lengkap dengan alamat, serta informasi jam buka bagi warga masyarakat yang ingin berkunjung.
Rombongan memasuki Museum Sudirman, Magelang
Rombongan memasuki Museum Sudirman, Magelang
“Di sini tujuh ruangan, namun hanya enam ruangan yang berkaitan dengan Jenderal Sudirman. Sedangkan satu ruangan khusus untuk galeri saja,” Terang petugas museum.

Oh, seperti itu ternyata. Jadi ruangan yang aku masuki tadi saat membaca sebuah pesan adalah ruang galeri. Sesampai dalam ruangan depan, aku dan rombongan disambut oleh seorang petugas yang menjaga museum ini. tanpa menunggu waktu lama, petugas pun memaparkan siapa Jenderal Sudirman, dan bagaimana bisa sampai di tempat ini. Aku pun antusias untuk mendengarkan, hanya sesekali mengambil gambar dengan kamera hp, lalu menyebarkan ke sosmed informasi yang aku dapatkan.
Mendengarkan keternagan dari petugas museum
Mendengarkan keternagan dari petugas museum
Dari ruang depan, rombongan pun memasuki ruang kerja sang jenderal. Ada sebuah meja dan kursi tempat beliau bekerja, tidak ketinggalan rak almari sedikit memanjang di tembok. Empat buah kursi kayu juga tersedia, di salah satu sudut meja terdapat miniatur tandu yang dipergunakan sang jenderal waktu berjuang sambil melawan penyakitnya. Tumpukan buku tebal nan kusam juga ada di sini, sebuah jendela besar terbuka membuat sirkulasi udara di ruangan kerja tetap berjalan.
Meja dan Kursi di ruangan
Meja dan Kursi di ruangan
Beranjak menuju ruang selanjutnya, tulisan alas kaki mohon dilepas terpajang di sana. Ruang instirahat (kamar) sang jenderal kali ini yang kami kunjungi. Sebuah sofa kecil berada di sudut ruangan, terdapat juga lemari agak tinggi dua pintu. Seperti lemari biasanya, di salah satu pintu ada cermin besar. Tidak ketinggalan ranjang beserta kasur  dan guling terpasang rapi. Tepat di ranjang diselimuti kelambu berwana putih. Bahan kasur pun terbuat dari kapuk, seperti kasur waktu aku masih kecil pada umumnya. Kemudian di ruangan yang lain, sebuah tandu diletakan pada lantai. Tandu yang di dalamnya sebuah kursi kayu, lalu ditopang dengan bambu-bambu yang terikat oleh tali. Agar tidak terkena panas, sebuah kain dijadikan atap. Ini adalah tandu yang digunakan oleh Jenderal Sudirman semasa berjuang melawan penjajah.
Ruangan tidur Jenderal Sudirman selama di Magelang
Ruangan tidur Jenderal Sudirman selama di Magelang
Replika tandu yang digunakan oleh Jenderal Sudirman
Replika tandu yang digunakan oleh Jenderal Sudirman
Penyelusuran ini berlanjut ke ruangan di sampingnya. Sebuah ruangan yang berukuran paling kecil di rumah ini. Meja kayu sederhana berwarna putih diletakkan di ruangan ini. Tertulis di atasnya “Meja Pensucian Jenasah”. Dari informasi petugas, meja inilah tempat dimandikannya sang jenderal sebelum disemayamkan. Sementara itu di depannya terapat ruangan untuk berkumpul bersama. Sebuah meja bulat dengan enam kursi sekelilingnya. Ini adalah ruangan untuk berkumpul sekaligus untuk makan bersama.
Meja untuk jenasah
Ruagan untuk berkumpul
Ruagan untuk berkumpul
Enam ruangan di museum ini sudah kami masuki semua. Namun kami tidak lantas pulang, di ruangan terakhir ada pintu belakang yang berujung pada halaman rumah belakang museum. Kami disuruh untuk ke belakang. Di sana ada ibu-ibu yang membatik menggunakan Canting. Disediakan kain putih yang sudah ada motifnya, tinggal mewarnai. Gegap-gembita para Mahasiswa Internasional ini antusias untuk membatik. Tanpa terasa, teman-temanku sudah asyik dengan kegiatannya membatik.
Mahasiswa Internasional sibuk membatik
Mahasiswa Internasional sibuk membatik
Mahasiswa Internasional sibuk membatik
Setengah jam berselang beberapa dari mereka sudah selesai. Sepertinya Ruqia sangat puas dengan hasil membatiknya. Dia menyelesaikan warna motif dengan garis-garis sederhana. Tidak lupa juga nama serta asal Negaranya tertuang di samping motifnya. Tidak mau ketinggalan, Yukina pun memamerkan hasilnya. Sebuah motif bunga pun dia selelsaikan. Di ujungnya terdapat tulisan Kanji (Jepang), katanya itu nama dia dan asal Negaranya. Pokoknya aku bilang iya saja, kan nggak bisa membaca tulisannya. Akhirnya teman-teman yang ikut berkreasi pun menyelesaikan semua karyanya. Ada delapan teman yang membatik, pokoknya bagus semua untuk mereka.
Memamerkan hasil batiknya, oalah luamayan bagus lah untuk pemula
Memamerkan hasil batiknya, oalah luamayan bagus lah untuk pemula
Memamerkan hasil batiknya, oalah luamayan bagus lah untuk pemula
Memamerkan hasil batiknya, oalah luamayan bagus lah untuk pemula
Seperti yang sudah-sudah, sebelum berpisah tentunya aku dan rombongan mengabadikan diri di depan museum. Tidak ketinggalan dua guide lokal yang salah satunya temanku pun ikut, juga banner tour serta batik-batik yang sudah diselesaikan oleh ibu-ibu di belakang. Aku pun mengabadikan diri seorang diri di sini.
Meninggalkan jejak foto dulu
Meninggalkan jejak foto dulu
Meninggalkan jejak foto dulu
Selesai mengunjungi museum, bis meluncur ke Semarang untuk pulang. Sebelum pulang, kami singgah dulu di Soropadan untuk melihat acara Festival di sana. Banyak hasil bumi dari Jawa Tengah yang dipamerkan. Sekitar dua jam di Soropadan, kami pun pulang ke Semarang dan berpisah dengan rombongan ini. Perjalanan tiga hari yang mengesankan, menyusuri sedikit tempat di Purworejo, Magelang, dan Soropadan (Temanggung). Berkenalan dengan teman-teman dari berbagai belahan dunia. Terima kasih untuk Disbudpar Jateng atas undangan acaranya. Semoga dilain kesempatan bisa diundang kembali untuk menyusuri wilayah Jateng di kota lainnya. *berharap. *Liputan ini difasilitasi oleh Dinpudpar Jateng tanggal 4-6 Juni 2015 dengan menggandeng Mahasiswa Internasional dan Traver Blogger.
Baca juga postingan yang lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

25 komentar :

  1. Kalo berkunjung ke Magelang kudu disamperin nih. Biar nambah ilmu dan wawasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget mas biar makin ofdol kunjungannya

      Delete
    2. Seru juga mengunjungi museum, jadi banyak hal yang kita tahu :-D

      Delete
  2. ngeri keranda sama tempat pemandian jenazahnya juga di masukin ke museum

    ReplyDelete
  3. jederal yang satu ini adalah salah satu tokoh idola saya mas. dalla keadaan sakit masih saja membara semangtanya untuk berjuang. hebat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat beliau, membuat kita malu dengan semangat kita yang mudah layu :-(

      Delete
  4. disana juga bisaa belajar ngebatik yaaa :)
    bagus bagus hasilnya :)

    ReplyDelete
  5. wah-wah! baru tahu ada museum sudirman! Berarti kalau main ke magelang ada yang bakal disamperin selain punthuk setumbu dan borobudur :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada banyak lokasi yang lain di Magelang, mas :-D

      Delete
  6. museum begini nih yg aku suka...ada sejarahnya... jd selama di dalam kita jg bisa bayangin perjuangan jend sudirman jaman dahulu..,komplit juga ya, ampe meja penyucian jenazahnya masih ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke Museum memang nggak cuma liat gambar, tapi juga bisa belajar dan tahu lebih banyak informasinya :-D

      Delete
  7. jadi musuem ini juga adalah rumah Jend. Sudirman ya..? Wih, asyik ya bisa mengenal sejarah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti itulah sejarahnya *gaya petugas museum :-D

      Delete
  8. Replies
    1. Batik hasil karyaku, aku sembunyikan di dalam hati :-D

      Delete
  9. bule aja mau tahu sejarah Indonesia,,, masa kita orang Indonesia tidak ingin tahu .....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang bule lebih ingin mempelajari :-)

      Delete
    2. malu saya malu... pada rumput merah,,,,

      Delete
  10. wah seru juga maen ke museum y ams apalgi ada temen asingnya melatih bahasa asingnya josh hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heee, walau bahasa Inggrisku jelek, tapi yang penting berani dulu :-D

      Delete